Negeri van Oranje

Waktu itu di sebuah toko buku.

Wah! ada buku baru. Seru nih.

Seperti biasa saya yang katanya hobi baca buku punya parameter dangkal dalam menilai buku bagus, cover-nya. Ada buku kecil berwarna oranye. Di atasnya ada lingkaran warna biru yang menghiasi hampir ¼ cover. Di dalam bulatan itu ada garis-garis putih membentuk rumah kincir angin.

Buku itu bercerita tentang pertemanan. Pertemanan 5 pemacul ilmu di negeri londo. Seperti layaknya buku bertema friendship, perbedaan latar belakang tokohnya menjadi sumber keseruan sekaligus konflik. Konflik batin maupun konflik percintaan. Membaca buku ini membawa saya ke jaman SD waktu rajin jadi follower kakak-kakak saya yang addicted by Enid Blyton dengan 5 sekawannya. Saya yakin kesukaan Lintang pada buku Enid Blyton adalah representasi dari salah seorang penulisnya. Oya, setelah sekian lama baca buku 5 sekawan, saya baru tau hari ini kalo Enid Blyton itu perempuan.

Kalo buat penilaian, saya yang lagunya masih kayak bocah SMP lugu ini yang masih gampang dibuai sebuah bacaan motivasi membuat buku ini berhasil menciptakan blink-blink di otak saya merasakan serunya sekolah di negeri orang. Belanda. Entah kenapa semenjak sebuah kejadian yang terjadi di hidup saya membuat orientasi saya berubah, dari yang awalnya pengen jadi seorang professional menjadi pengen sekolah ke Belanda. Untuk menuntut ilmu? Bisa iya, bisa tidak. Karena salah satu khayalan saya saat ke Belanda adalah:

Saat saya sedang boring membaca buku kuliah di perpustakaan, iseng-iseng saya bermain ke arena buku sejarah di sebuah perpustakaan tertua di Belanda. Deretan buku terlewati, sepertinya tidak ada yang menarik. Sampailah saya ke sebuah rak. Di sana ada buku tua dan tebal. Saya yang suka sama hal berbau jadul penasaran membukanya. Setelah mengebet beberapa halaman, saya tersadar ternyata buku ini berisi kumpulan surat jalan yang harus dibawa kapal-kapal VOC saat membawa komoditas dari Indonesia ke negerinya. Yang membuat saya bergidik adalah, selain buku itu memuat surat jalan juga memuat laporan tenggelamnya kapal mana saja dari Indonesia yang membawa komoditas ke Belanda berikut kemungkinan koordinatnya. Berbekal keterangan buku itu, saya balik ke Indonesia untuk menggalinya.

Ngayal banget ya. Dan jelas 5 sekawan banget ya. Pantas enggak pernah kesampean ke Belanda.

Novel berjudul Negeri van Oranje ini bercerita juga tentang tempat-tempat wisata di Belanda dan beberapa negara di Eropa yang menjadi buruan para pelancong. Cerita-cerita itu membuat saya geregetan pengen jagi menteri pariwisata. Karena apa yang ada di sana menurut saya jauh banget sama yang ada di Indonesia. Saya mencoba menglasifikasikan tempat-tempat wisata tersebut. Dan ternyata novel itu tidak baru, cetakan pertama tahun 2009. Berarti saya yang ketinggalan. hehe.

Pertama, wisata Bangunan. Orang-orang pada cabut ke Eropa paling banyak kayaknya emang pengen nemuin sebuah bangunan. Ada bangunan yang bernilai sejarah karena pernah dipakai buat ini dan itu. Atau bangunan yang pernah ditinggali si ini dan si itu. Atau lagi bangunan yang dirancang oleh seorang arsitek legendaris. Setelah menemukan bangunan itu mereka berfoto. Cukup dan mereka rasanya uda seneng bener bisa foto di depan bangunan itu. Ada beberapa bangunan yang bisa dimasuki karena menyajikan memorabilia tentang tokoh atau sejarah bangunan tersebut. Kalo gak ada ya cukup banci foto aja.

Kedua, wisata pertunjukan. Kayaknya pertunjukan paling banyak di Eropa berupa drama atau konser musik. Itu pun konon dengan harga tiket masuk yang selangit.

Ketiga, wisata alam. Entahlah, di novel itu tidak disebutkan jelas detail kenapa pantai ini bagus dan lainnya. Yang saya ketahui wisata alam di Eropa gak jauh dari salju, pantai, danau, dan sungai. Sama sih kayak di Indo, cuma di Indo kan lebih beragam.

Keempat, wisata festival. Di Eropa banyak sekali festival-festival yang diadakan dalam rangka menyambut hari ini dan itu. Seperti festival bunga tulip, festival nimpukin tomat di spanyol, festival matador, dan lainnya.

Sekarang kita bandingkan dengan Indonesia. Wuih, jauh banget brur! Indonesia ini kaya raya.  Mau wisata apa? Banyak bangunan bersejarah di Indonesia. Belum rumah adat asli Indonesia. Wisata pertunjukan? Berlimpah ruah. Dari musik saja contohnya, di Indonesia ini apapun genre musiknya baik asli Indonesia ataupun luar ada festivalnya. Jazz, ada Java Jazz. Blues, ada Jakarta International Blues Festival, Reggae ada tapi namanya saya gak tau. Belum lagi musik daerah yang amat sangat bisa menjadi wisata pertunjukan. Ada festival bambu nusantara yang sempat saya tonton di Bandung waktu itu. Segala hal bermaterial bambu dari mulai perkakas dapur sampai musik ada di sana. Angklung salah satunya yang kemarin berkolaborasi dengan Dwiki Darmawan.

Masih bicara masalah wisata pertunjukan. Pertunjukan drama, musik dan tari seperti tari barong di Bali dengan nilai seni tinggi kayaknya gak akan ditemui selain di Indonesia. Belum tari-tari lain yang amat bisa dan saya yakin menyedot banyak perhatian. Jaipong, Tayub, Bedhoyo Ketawang, Saman, dan banyak jenis tari lain amat bisa dijual menjadi konsumsi para wisatawan.

Belum lagi wisata minuman keras. Di Eropa sepertinya yang terkenal hanya bir, wine, dan aneka jenis minuman beralkohol berat lain seperti merek yang banyak beredar di club-club. Di Indonesia, walaupun minuman keras masih tabu dan tidak elok juga dosa, tapi perkembangannya cukup signifikan. Dari mulai minuman keras modern sampai yang tradisional ada.  Yang mulai campur Autan sampai campur buah juga ada. Tape ketan bekas lebaran tahun kemarin juga masih bisa buat kepala berat (iya, gak Niq?).

Ada lagi wisata budaya. Seperti acara Sekaten di Jogja dan Solo, upacara Kasodo di Bromo, dan Ruwatan Gembel di dataran tinggi Dieng Wonosobo. Nah, untuk masalah wisata ini saya agak kurang setuju. Acara-acara budaya dan adat macam itu di Indonesia erat kaitannya dengan konsep ketuhanan. Artinya leluhur dulu membuat acara itu dengan maksud ibadah. Seperti Sekaten dan Kasodo, maksudnya adalah bersyukur pada sang kuasa dengan rezeki-rezeki yang telah diberikan. Namun jika kita seorang muslim, maka tata cara ibadah, bersyukur salah satunya, sudah diajarkan oleh Sang Maha Menggemgam Alam Raya ini. Ibadah-ibadah di luar itu terancam mengurangi eklusivitas Tuhan. Sedangkan Tuhan itu harus eklusif.

Ibadah-ibadah tersebut diciptakan oleh manusia, berasal dari manusia. Seolah-olah Tuhan tidak mengajarkan bagaimana cara bersyukur. Nah, kalo begitu, Tuhan yang kita yakini dan percayai belum sempurna. Wong dia gak ngajarin kita bersyukur. Kalo Tuhan itu gak sempurna buat apa disembah? Kita percaya dan kita yakini segala hal di dunia ini dari bangun tidur sampai (maaf) cebok sudah ada aturan dan tata caranya. Jika hal kecil saja sudah diajarkan masak yang hal penting seperti bersyukur gak diajarin. 

Juga, coba kita perhatikan, ibadah-ibadah yang berbalut budaya ini dari tahun ke tahun berubah model dan harinya. Jangan heran karena ibadah ini berasal dari manusia, maka jika ada manusia lain yang punya ide lebih brilian maka akan dipakai. Hal itu bergantung pada penguasanya. Contoh di Jogja, Sekaten bisa saja ada atau tidak. Bisa dipangkas waktunya, bisa juga diperpanjang. Semua tergantung Ngersa Dalem. Sekarang, bandingkan dengna ibadah yang Tuhan ciptakan. Solat, misalnya. Waktu dan tata caranya jelas. Tidak bisa diganti, tidak bisa dikuarangi, tidak bisa ditiadakan dan lain sebagainya. Semua tata cara itu terpatri dalam buku-buku. Berbeda dengan ibadah dengan bentuk budaya, bisa ada silang pendapat antara orang satu dan lainnya karena tata cara ibadah ini bisa dimodifikasi. Maka ibadah dalam bentuk budaya ini rentan keos. Perbedaan pendapat yang berujung perpecahan. Berbeda dengan ibadah dari Tuhan Yang Maha Adil, tidak bisa keos dan tidak bisa ditawar-tawar karena semua sudah ada aturan dan termaktub dalam kitab.

 Jadi, acara-acara budaya tersebut amat dekat sekali dengan yang namanya kurafat. Kurafat itu kalo gak salah intinya bertentangan dengan keimanan. Namun jika kondisi keimanan masyarakat kita sudah sangat baik. Artinya dia melakukan hal itu hanya sebagai tontonan wisata. Dia tidak percaya tuah dan berkah yang diberikan benda-benda itu seperti kebo bule di Solo atau gunungan sekaten di Jogja. Dia beriman dan percaya hanya kepada Allah. Dan saat ditanya mengapa Anda melakukan hal itu, mereka menjawab: ini bukan apa-apa hanya untuk menghibur. Maka mungkin menurut saya itu sah-sah saja. Mereka melakukan sebagai satu jualan kepada turis yang berakhir pada pundi-pundi di kantong mereka.

Well, intinya Indonesia ini dengan segala kekurangannya lebih dinamis. Lebih berwarna dan lebih asik tentunya. Cuaca dan makanan cukup bersahabat. Hanya beberapa hal saja yang kurang bersahabat. Pejabat, masyarakat dan transportasi. Kalo pejabat mah gak usah diomong, dia sih emang ngeselin. Kita akui bahwa ada masyarakat kita yang masih menganggap turis sebagai ancaman sehingga mereka kurang helpful terhadap turis. Ada lagi yang menganggap turis sebagai peluang. Peluang untuk dikibulin. Seperti kecurangan yang terjadi di Bali saat para turis menukar uang. Dengan lincah sang penjaga money changer menyelipkan selembar uang rupiah yang seharusnya menjadi bagian si turis. Untuk lebih jelasnya bisa Anda nonton youtube.

Masalah transportasi juga jadi kendala. Kalo transportasi antar kota sudah oke. Banyak kota di Indonesia yang bisa dijajaki dengan kereta api dan pesawat. Yang jadi masalah adalah saat turis sampai di kota tersebut. Tidak ada transportasi yang rapi jali dan tepat jadwal yang bisa mengantarkan mereka ke tempat-tempat tujuan wisata. Kemudahan transportasi seperti ini baru bisa ditemui di kota Jogja dengan Trans Jogja nya. Salut deh sama Jogja. Btw, sudah lama juga nih gak nengokin bakmi jawa pak Harjogeno di pasar jalan Paris.  Bakmi dengan porsi jumbo dan wajib ngantri 10 sampai 20 orang setiap kali beli memang gak ada lawan. Apalagi bakmi goreng nyemeknya. Apalagi pas makan kegigit irisan ayam kampong yang besar-besar. Haduuhhh…

Dear temen-temen di kementerian pariwisata. Peluang sangat bannyak. Masalah ada di publikasi dan kemasan saja. Saya belum pernah nonton sendra tari Ramayana di Prambanan Jogja. Entah apakah sudah bilingual atau belum. Btw, jadi ngebayangin enaknya nonton Prambanan di malam hari dibawah sinar purnama.

Lanjut. Seandainya Ludruk atau Ketoprak di Surabaya bisa bilingual. Artinya ada sebuah teknologi yang bisa menyajikan ludruk dalam bahasa Inggris atau bahas lain. Yah semacan subtitle kalo neyetel dvd mah. Mungkin hal ini bisa jadi daya tarik sendiri. Kan kasian bule-bule nonton Ludruk cuma bisa liat kostum, dengar logat jawa timuran yang khas, tapi gak ngerti maksud lawakannya.

Walhasil, Indonesia masih punya kesempatan untuk menggaet turis lebih banyak. Dan jangan salah, nyamannya turis di Indonesia berkaitan secara tidak langsung dengan ekonomi kita. Semua itu saling berkait. Begitupun takdir. Seperti dalam bukunya Tere Liye. So, mari kita berdoa untuk Indonesia kita agar lebih nyaman lagi. Kalo turis sudah bisa nyaman, berarti masyarakatnya sudah semakin berkembang.

 PS:

Sebetulnya saya memang pengen menulis tulisan yang terinspirasi dari buku itu, namun karena pulang selalu tepar jadi gak sempet nulis. Tapi sebagi karena suport Njonja Momon alias Moniq, waktu keadaan mabok tape ketan, saya pun menyempatkan diri menulis ini tulisan. Now your turn to write, Madam.

Pengen Pulang Kampung!

Baru kemarin (17/06 ) saya beranjak ke Purworejo untuk mengahidiri pernikahan seorang teman lawas dan kental. Cerita hidup saya dan dia hampir sama. Itu yang membuat saya merasa punya kedekatan lebih. Selamat ya Sant, semoga berkah senantiasa menyelimuti kehidupan berumah tangga dan semoga tak ada lagi cerita sedih. Hehe.

Beranjak ke Purworejo menggunakan bus malam. Hitung-hitung nostalgia. Sepertinya terakhir saya naik bus malam itu tahun 2012. Sebelumnya saat menuntut ilmu di Jogja, bus malam adalah transportasi andalan pulang pergi saat libur tiba. Bus malam itu bagai sebuah text, dia memiliki makna yang beragam di dalamnya. Kadang bermakna baik kadang tidak. Ya, karena banyak sekali konteks yang terjadi saat saya naik bus malam. Ah, sudah, kita lanjut..

Kemarin saat beranjak ke purworejo rasanya cuma saya yang punya konteks liburan atau berkunjung. Yang lain koteksnya pulang. Seperti biasa saya selalu bercakap-cakap dengan seatmate / teman sebangku (haha. Ngarang) tentang segala hal. Yang paling terkini adalah pilpres dan salah satu pertanyaan adalah: Bapak pulang atau berkunjung?.

Kebanyakan penumpang adalah perantau yang mengadu nasib di Jakarta. Mereka ke daerah ya dalam rangka pulang. Bapak di sebelah saya, dia pulang dalam rangka istirahat menjelang puasa. Dia rehat sejenak dari kesibukan kerja dan menyapa keluarga di rumahnya di Klaten. Atau jika ada yang bisa dicat atau diberes-bereskan sedikit di rumahnya.

Mendengar kata-kata si bapak, saya pun makin yakin memang salah satu keuntungan punya kampung itu adalah kita punya tempat untuk benar-benar men-charge otak dan tenaga. Memang sih aktivitas itu semua bisa digantikan dengan jalan-jalan. Tapi bagi saya, jalan-jalan itu biasanya hasilnya capek. Otak fresh tapi tidak dengan tenaga.

Saat pulang kampung biasanya orang membuang semua atribut karier-nya. Otak otomatis disetting dalam keadaan off dari segala bentuk pekerjaan. Yang ada adalah saya ingin menikmati suasana ini. Tubuh dan otak serasa rileks. Mengobrol dengan orang tua tentang segala hal. Mencicipi masakan orang tua. Atau bagi yang punya keluarga bisa mengobrol dengan istri dan bercanda dengan anak. Benar-benar rileks.

Saya sendiri gak punya kampung. Gak ada rumah yang biasa saya kunjungi dalam waktu yang lama dan saya bebas berbuat apa saja tanpa perlu eweuh pkeweuh. Tanpa perlu merepotkan orang lain. Bukan tidak bersyukur, tapi wajar lah saya punya keinginan. Makanya kalo saya dikasih list spesifikasi jodoh sama Allah SWT salah satunya saya minta adalah yang berbeda kota atau daerah dengan saya. Biar saya dan insyaAllah anak saya bisa pulang kampung. Tapi kembali lagi, yang terbaik itu pilihan Allah SWT dan Dia amat sangat tahu mana yang terbaik untuk kita.

Kenapa Harus “Nyampah”

Tahun 2008 waktu itu facebook dan flickr, jejaring social berbasis foto, kalo sekarang instagram, sedang boming-bomingnya. Di tahun yang sama sebuah jejaring social buatan local mencoba ikut tampil, namanya Koprol.com. Bersyukur saya pernah menjadi bagian walaupun secara amat tidak langsung saat peluncuran Koprol.com.

Koprol.com

Koprol adalah jejaring sosial yang dibuat oleh Satya Witoelar, anak dari Pak Wimar Witoelar. Jika melihat model jejaring social sekarang ini, facebook, twitter, foursquare, dan instagram, Koprol.com pada tahun 2008 sudah mengadopsi teknologi yang dipakai jejaring social tersebut. Waktu itu, saat facebook masih tebatas pada berbagi status, koprol.com sudah memiliki fasilitas berbagi status dan check-in. Fasilitas ini yang membuat foursquare boming pada 2009.

Buat saya, koprol.com adalah beyond. Artinya di atas rata-ata. Kalo melihat tren jejaring social sekarang ini, saya berpikir bahwa Mas Satya waktu itu sangat kreatif. Mampu melihat kebutuhn dna minat manusia di waktu mendatang. Terbukti kini hampir semua jejaring social memiliki fasilitas check-in. Fasilitas- fasilitas yang koprol.com miliki pada saat itu sudah sekelas path saat ini. Kadang saya berpikir bahwa path adalah wujud penyempurnaan koprol. Lalu, apa latar belakang penanaman fasilitas check-in di koprol.com?

Check In

Saya mengetahui koprol.com dari pak Wimar. Ada hal yang menarik saat pak Wimar mengenalkan koprol kepada kami. Waktu itu pak Wimar bercerita bahwa orang memiliki banyak sekali teman dan kita juga sering bepergian, begitu pun teman kita. Suatu saat kita pasti pernah ngalamin berada di tempat yang sama dengan teman lama kita dalam waktu yang sama. Contoh, misalnya kita makan di PIM, seminggu setelah makan kita bertemu teman dan mengobrol. Teman kita kemudian bercerita bahwa dia juga ada di PIM pada waktu itu. Nah, ini lah kenapa koprol.com memiliki fasilitas check in.

Fasilitas check in pada waktu itu sangat berguna untuk mendeteksi keberadaan teman di dekat kita. Selain itu, kalau tidak salah, koprol.com punya fasilitas yang membuat kita bisa melihat teman-teman mana yang sedang berada di dekat tempat kita. Misal, saat kita pergi ke bandara ke terminal 1 C, lalu kita buka peta di koprol.com. Nanti di peta tersebut akan menunjukan siapa saja teman koprol kita yang sedang berada di terminal 1 C dan tidak hanya itu, jika peta di zoom out maka akan terlihat teman kita yang check in di tempat yang dekat dengan kita. Misalnya teman kita yang sedang berada di terminal 3.

Perbedaan koprol.com dengan facebook pada waktu itu adalah tujuan. Menurut saya koprol jauh lebih manusiawi dan lebih asik. Kenapa? Jika facebook menenggelamkan kita dalam dunia antah berantah atau dalam kata lain membuat kita anti-sosial, koprol.com justru sebaliknya. Koprol membuat dan memudahkan kita untuk bertemu muka atau bersosialisasi secara nyata. Simplenya, koprol itu memudahkan dan mendorong kita bersilaturahmi.

Nyampah yang Berguna

Beberapa waktu lalu seorang teman yang sudah lama tidak bertemu menelpon. Dalam sebuah percakapan dia bilang bahwa saya alay karena tukang “nyampah”. Nyampah itu maksdunya seringkali berbagi segala macam di jejaring sosial termasuk salah satunya check in.

Ada lagi seorang teman yang memutuskan untuk bermusuhan dengan jejaring sosial kemudian memilih hidup di dunia nyata. Bukan lagi di dunia maya. Karena menurut dia, dunia maya membuat kita menjadi anti-sosial.

Saya, memilih untuk tetap tinggal di dunia maya dan tetap nyampah. Buat saya, orang yang bilang alay orang yan nyampah adalah orang yang tidak tahu kenapa ada fasilitas nyampah di jejaring sosial. Seperti yang sudah saya tulis, fasilitas nyampah atau check in maksudnya adalah fasilitas yang disematkan dengna tujuan mulia. Yaitu membuat seseorang bertemu muka atau silaturahmi. Bukan sekadar pamer atau gaya-gayaan atau sohor-sohoran.

Hasilnya

Saya pernah mengalami dua kejadian yang berkaitan efek dari nyampah.

Pertama. Satu waktu ternyata saya pernah berada di satu tempat dan satu waktu dengan saudara sepupu saya. Saat itu saya sedang mengantar sepupu saya yang lain ke terminal 1 A Soetta untuk pulang ke Lampung sedangkan sepupu saya sedang di terminall 1 B untuk tebang ke Bali. Tapi akhirnya kami tidak bertemu. Nobody Check in.

Kedua. Seorang teman check in di sebuah tempat ngopi di daerah Pangpol dan tak lupa dia mengunggah foto tempat itu. Tempatnya asik sekali. Sangat vintage. Buat saya yang suka ngopi, check in teman saya tadi amat berguna untuk saya menambah daftar tempat ngopi yang asik. Jika teman saya gak check in, mungkin saya gak pernah tau.

Jadi, nyampah ternyata punya beragam manfaat, ya. Kalo orang ngatain alay buat orang yang tukang nympah, saya mau ngatain pelit buat orang yang jarang nyampah. Pelit informasi. Hehe.

Selamat nyampah.

 

Banderol Pertemanan

Pinjem dari: tumblr.com (entah punya siapa)

Ada satu teori komunikasi yang mengatakan bahwa komunikasi itu bersifat transaksional. Maksudnya, seseorang gak akan berkomunikasi kalor dia tidak punya kepentingan. Komunikasi dua arah akan terjadi jika masing-masing kepentingan tercover. Contoh, pernah kan anda ditanya seseorang lalu Anda tidak menjawab apa-apa. Diamnya Anda adalah karena Anda merasa pertanyaan atau pernyataan lawan bicara tersebut tidak penting. Tidak ada manfaat atau keuntungan yang diambil dari menjawab atau menimbalinya. Hal ini kemudian membuat simpulan bahwa informasi itu sangat mahal.

Informasi adalah salah satu dari tujuan dibangunnya komunikasi. Contoh, saat kita ingin menanyakan sebuah alamat maka yang kita butuhkan dari lawan bicara adalah informasi. Sedangkan tujuan kedua adalah tindakan / kepatuhan. Contoh, kita haus dan minta diambilkan minuman. Kedua hal itu, informasi dan tindakan, berharga amat mahal. Kembali lagi ke teori di atas, saking mahalnya orang gak akan memberikan informasi atau bertindak jika dari keduanya tidak menghasilkan apa-apa. Namun bagaimana dengan orang yang memberitahu alamat, dia kan tidak menerima apa-apa? Nah, bukankah saat kita memberitahu alamat tersebut ada terbesit di benak kita untuk menolong? Dan dari pertolongan itu kita berharap pahala atau dibalas dengan kebaikan setimpal oleh orang lain bila satu saat kita menanyakan alamat? Itu semua adalah kepentingan kita.

What Friends Are For

Pasti pernah mendengar kata-kata itu. Kemudian galau dengan kata-kata itu saat pertemanan kemudian harus dibatasi jarak. Jarak dalam artian sebenarnya dan artian tidak sebenarnya. Lalu, menganggap “pertemanan adalah ee-nya banteng”. Ini yang mungkin kita rasakan saat SMA dan mungkin sampai sekarang.

Fenomena tersebut biasanya muncul saat teman yang selalu ada saat kita butuhkan menjadi sulit diajak bicara karena kesibukannya. Sejurus kemudian teman tersebut seolah kita anggap ditelan bumi. Kita merasa hidup pada akhirnya memang masing-masing. Menyelamatkan diri masing-masing. Yang berharga hanyalah aku dan keluargaku. Begitulah kurang lebihnya.

Setelah beberapa lama sang teman tidak sengaja bertemu lalu mereka mengobrol tentang banyak hal. Tentang pekerjaannya, tentang rumah tangganya, tentang keluarganya, dan macem-macem obrolan. Kadang sampai segala macam rahasia perusahaan tempat dia bekerja diumbar. Bahkan sering kali teman membuka aib profesi, keluarga, dan usahanya demi menyelamatkan teman kita dari kejadian yang gak enak. Contoh, saat seorang pria meminta nasihat teman perempuannya terkait hubungan atau kelakuan pasangannya. Dalam kondisi ini, tidak jarang temannya yang wanita ini membuka trik-trik wanita saat menjalankan sebuah hubungan. Dan berlaku sebaliknya.

Segala macam informasi, aib dan rahasia yang diumbar pada saat ngobrol itu lah yang menunjukkan betapa mahalnya seorang teman. Bayangkan adakah orang yang sukarela membuka aibnya tanpa syarat. Tidak ada sedikit pun manfaat yang teman kita dapatkan dari tindakan membuka aibnya. Justru sebaliknya, kita yang mendapatkan manfaatnya. Hanya teman yang mau melakukan itu. Hal ini tidak akan pernah terjadi pada orang yang baru kita temui. Apalagi jika dikaitkan dengan teori komunikasi yang tadi disebutkan.

Jadi, menurut saya, pertemanan itu tidak hanya dinilai dari keberadaan dia saat kita butuhkan. Tapi juga dari bagaimana dia menjadikan informasi yang dia ketahui juga menjadi informasi yang harus kita ketahui.

Superrr sekali.. Hehehe.

 

Benar-Benar Baik atau Baik yang Sebenarnya

Suatu saat saya bertemu sebuah keluarga. Keluarga ini saya temui untuk tujuan memindah alihkan usaha yang gak kepegang. Senang sekali melihat keluarga ini. Keluarga yang hangat menerima setiap orang. Salah satu alasan saya menentukan keluarga ini adalah karena mereka baik. Beberapa kali saya ke rumahnya dan beberapa kali juga saya menemui beberapa tetangga yang sedang main ke rumahnya. Artinya, keluarga ini memiliki hubungan yang baik dengan tetangganya. Sekali lagi, mereka orang baik.

Keluarga ini memiliki anak buah yang nantinya akan menjalankan usaha yang akan dipindahalihkan ini. Saat sang istri mencoba memanggil anak buahnya. Namun si anak buah ini baru muncul setelah beberapa kali panggilan. Mungkin si istri kesal karena si anak buahnya tidak cepat menyahut. Keluarlah sebuah kata yang menurut saya tidak enak didengar.

Melihat perlakuan seperti itu membuat saya penasaran. Saya pribadi mewajarkan kemarahan si istri, mungkin saya pun akan begitu. Untuk menghilangkan rasa penasaran, saya mencoba ngobrol dengan si anak buah di waktu yang lain. Dia bercerita bahwa si istri jika ngomel bisa mengeluarkan seluruh isi kebun binatang. Saya gak langsung percaya, saya mencoba memberikan nasihat bahwa mungkin si istri sampai berkata seperti itu karena si anak buah melakukan kesalahan. Si anak buah pun kemudian membenarkan bawa memang dia yang salah. Namun ada hal yang tidak disukai adalah cara si istri marah.

“Kita sih ngeri kita salah, tapi ya jangan kayak itu dong. Emang kita baru kerja sebulan dua bulan” kata si anak buah.

Kebetulan si anak buah ini saya ketahui sendiri memang mengikuti si suami semenjak dia masih jaman kuliah.

The Point

Tadi malam saya ingat sebuah teori komunikasi bahwa manusia akan senantiasa tidak menunjukkan keasliannya kepada orang yang baru dia temui. Mungkin hal itu yang terjadi pada keluarga tadi. Keluarga dia dan anak buahnya sudah ribuan kali bertemu sehingga komunikasinya sudah tidak ada yang ditutup-tutupi lagi. Seandainya saya ada menjadi anak buahnya, mungkin perlakuannya akan sama.

Sekarang, coba kita hubungkan dengan usaha pencarian jodoh. Hehehe. Keluarga tadi adalah contoh di mana pasangan baik hanya kepada orang tertentu. Artinya, pasangan kita amat baik dengan kita tapi tidak dengan orang lain. Apapun yang kita mau dia turuti. Bagaimanapun keadaan kita dia terima tanpa mengeluh, tapi itu hanya berlaku untuk kita bukan untuk orang lain. Seneng sih punya pasangan seperti itu hanya kita mungkin harus tahan dengan omongan orang.

Selain itu, pasangan yang amat baik dengan kita bisa sebetulnya terikat status. Misalnya anak buah sangat baik dengan majikannya. Atau Suami yang baik dengan istrinya karena dia galak. Atau sebaliknya. Artinya baik seperti ini adalah baik dengan syarat. Jika dalam posisi yang terbalik maka terbalik juga kebaikannya. Orang yang baik seperti ini saya coba kategorikan sebagai baik yang gak ikhlas. Dia baik cuma kalo di sana ada kepentingannya. Jadi bisa dibilang baiknya palsu.

Semua orang punya kekurangan dan kelebihan. Beruntung orang yang mendapatkan pasangan yang benar-benar baik dengan kita walaupun dia tidak baik dengan orang lain. Kenapa beruntung? Karena ada pasangan yang justru amat baik dengan orang lain tapi tidak dengan kita.

Namun lebih beruntung lagi orang yang mendapat pasangan yang baik dengan sebenarnya. Dengan kita ataupun dengan orang lain dia tetap baik. Orang seperti ini saya kategorikan sebagai baik yang ikhlas. Apapun kondisi orang yang dia temui, apapun pangkatnya dia tetap baik.

Mendapatkan pasangan yang baik dengan sebenarnya berarti kita mendapatkan dua kenikmatan. Nikmat melihat betapa baiknya dia terhadap kita dan nikmat mendengar komentar baik orang lain dengan pasangan kita.

Semoga saya dan anda mendapatkan pasangan yang baik dengan sebenarnya. Manusia model begini susah dan langka ditemui tapi  at least pasangan kita senantiasa belajar dan berusaha menjadi baik yang sebenarnya.. Amiiin.

Ps. Tulisan ini hanya sekadar analisa dan kategorisasi. Intinya tulisan cuma iseng.

 

 

Untung, Jawa!

Akhir Maret 2014 kemarin saya memutuskan untuk melangkahkan kaki mencari sedikit pencerahan di utara Tangerang. Sebenarnya sih uda aras-arasen untuk pergi ke sana karena memang tujuannya gak sesuai. Awalnya tujuan ke gugusan pulau di utara Jakarta itu untuk berkemah. Menikmati bintang di langit Jakarta dari Pulau Seribu. Tapi ya sudahlah daripada bête liburan panjang gak kemana-mana untung jawa pun gak masalah.

Untung jawa adalah sebuah pulau yang masuk dalam administrasi DKI Jakarta, tapi lebih dekat dengan Tangerang. Di pulau ini hidup lah manusia pada umumnya. Gak beda jauh dengan desa-desa lain yang ada di darat. Ada sekolah, puskesmas, masjid,  dermaga, dan yang pasti ada pantai dan kapal-kapal.

Mungkin dulu untung jawa ini dihuni oleh para nelayan, namun semenjak tahun 1997 para nelayan di untung jawa mulai banting stir ke bisnis wisata. Dari menyewakan kamar-kamar, sampai berbisnis water sport macam di Tanjung Benoa Bali. Salah seorang warga sekitar, namanya Pak Jalal, mengatakan bahwa semenjak krismon orang-orang mulai melirik untung jawa menjadi destinasi wisata. Pak Jalal juga bilang kalo dulu lebih mudah cari ikan daripada wisatawan, tapi sekarang lebih mudah cari wisatawan daripada cari ikan.

Hal yang saya suka dan menurut saya unik dari Pulau Untung Jawa adalah burung-burungnya. Namanya Pulau Rambut. Sebuah pulau yang terletak bersebelahan dengan pulau untung jawa. Di pulau rambut ini tidak ada penghuninya. Karena pulau ini digunakan untuk swaka marga satwa khusunya burung. Jadi, kalo kita berada di pulau Untung Jawa, terutama saat sunrise dan sunset menjelang, kita bisa liat sekawanan burung terbang bebas di langitnya. Haduuuh. Saya jadi inget saat pulang snorkeling dari pulau rambut. Merebahkan badan dengan pelampung menunggu sunset. Di atas saya langit biru dan kawanan burung berseliweran. Alamaaak…

Hal lain yang saya suka dari Untung Jawa adalah masyrakatnya yang asik. Mereka murah senyum dan senang bercerita. Intinya, mereka senang menerima tamu. Pernah kan ke tempat wisata yang orang di tempat itu memperlakukan tamu seperti musuh. Nah, saya tidak menemukannya di Untung Jawa. Pada saya sudah cakep, artinya saya sudah bangun dari laut, berbilas dengan air tawar dan ganti baju plus pake sarungan, saya nongkrong di warung pak jalal untuk menyantap indomie rebus soto. Babeeuuhhh. Mantap pisan bro. Saya benar-benar nongkrong. DUduk sembari ngobrol ngalor-ngidul dengan Pak Jalal yang notabene saya kenal karena beli indomie.

Warung pak jalal masuk dalam kategori warung paling happening di Untung Jawa. Yang bikin happening adalah tv 29 inch yang ditaro di depan warung beserta sound sistemnya yang besar. Pada jam 7 malam, warung ini biasa menyetel sinetron TBNH, tau kan? Tapi berbeda urusan kalo ada pertandingan bola. Pas banget waktu saya ke sana ada pertandingan Liverpool kontra Tottenham. Keduanya bukan club favorit, tapi tetep asik ditonton. Nah, saya nonton pertandingan itu beserta wisatawan lain dan penduduk sekitar. Karena saya make sarung saya sampe dikira yang punya warung. Tapi satu lagi yang asik, harga makanan dan minuman di sini cm beda 1000 sampai 2000. Bahkan cemilan model bengbeng dan chocolatos harganya sama.

Malam itu saya menginap di sebuah kamar dengan harga 250 ribu saat long weekend. Katanya kalo hari biasa, 50 ribu juga disabet. Untuk menimati makan malam ala laut, saya harus berjalan kea rah pantai barat. Di sinilah ada semacam plasa yang pinggirnya semuanya tukang ikan bakar. Harganya semua hampir sama. Yang membedakan adalah rasa. Beruntung saya makan di tempat yang hasil olahannya cukup enak. Namanya Ikan Bakar Bu Basri, Spesial Bumbu 1000 Goyangan. Unik ya? Ini sebenarnya bukan nama resmi. Nama itu muncul saat kami tawar menawar dengan ibu Basri ini.

“Bu, kalo di Pulau Seribu gini yang khas ikannya dimasak apa?” Tanya saya.

“Dibakar dong..,” jawab si ibu.

“Wah, bu kalo dibakar mah uda biasa”

“Beda.. di sini mah bumbunya paling sedep”

“Bedanya dmn bu?”

“Bumbunya special!!”

“Wah… Spesial bumbu pulau seribu, Bu, ya?”

“Pasti! Spesial seribu goyangan…” Hahah. Si Ibu terbahak.

“Hahaha. Masih kuat goyang emang, bu?”

Begitulah kira-kira percakapan saya dengan bu Basri.

 

Esok Pagi di Pulau Untung Jawa

Subuh buta saya bangun. Ya. Mau gak mau bangun karena kamar saya persis di sebelah masjid. Tapi saya bersyukur saya bisa melihat sunrise. Pagi itu mungkin pagi pertama saya melihat dengan jelas bagaimana salah satu ciptaan Tuhan Yang Maha Baik ini menyapa bumi Pulau Untung Jawa. Saya melihat matahari muncul dari horizon di sebelah timur. Nah, tempat melihat sunrise paling kece adalah di pantai timur.

Selepas melihat sunrise, saya berajalan mengelilingi pulau. Menyusuri jalan kon-blok lebar 80 cm. Melihat aktivitas warga pulau dan wisatawan yang sepertinya punya ketertarikan yang sama dengan saya. Dan langkah kaki pun menjejak pantai barat setelah badan bercucuran peluh. Di sana ada sebuah gedung serba guna bergaya kolonial.  Di dekatnya ada deretan sepeda. Di salah satu sepeda ada sebuah bacaan yang berbunyi ” SEWA SEPEDA. RP 5000/ JAM”. Tau gitu mah, naik sepeda aja.

Lelah berjalan-jalan, saya kembali ke kamar. Yang lain bangun mendengar saya masuk kamar. Setelah bangun mereka pun beranjak keluar mencari sarapan.  Saya, kembali tidur. Tapi baru saja 30 menit tidur, mereka sekonyong-konyong masuk kamar dan bangunin saya.

“Mar, bangun! Siap-siap kita snorkeling di Pulau Pari. Kapalnya uda nungguin!”