Untung, Jawa!

Akhir Maret 2014 kemarin saya memutuskan untuk melangkahkan kaki mencari sedikit pencerahan di utara Tangerang. Sebenarnya sih uda aras-arasen untuk pergi ke sana karena memang tujuannya gak sesuai. Awalnya tujuan ke gugusan pulau di utara Jakarta itu untuk berkemah. Menikmati bintang di langit Jakarta dari Pulau Seribu. Tapi ya sudahlah daripada bête liburan panjang gak kemana-mana untung jawa pun gak masalah.

Untung jawa adalah sebuah pulau yang masuk dalam administrasi DKI Jakarta, tapi lebih dekat dengan Tangerang. Di pulau ini hidup lah manusia pada umumnya. Gak beda jauh dengan desa-desa lain yang ada di darat. Ada sekolah, puskesmas, masjid,  dermaga, dan yang pasti ada pantai dan kapal-kapal.

Mungkin dulu untung jawa ini dihuni oleh para nelayan, namun semenjak tahun 1997 para nelayan di untung jawa mulai banting stir ke bisnis wisata. Dari menyewakan kamar-kamar, sampai berbisnis water sport macam di Tanjung Benoa Bali. Salah seorang warga sekitar, namanya Pak Jalal, mengatakan bahwa semenjak krismon orang-orang mulai melirik untung jawa menjadi destinasi wisata. Pak Jalal juga bilang kalo dulu lebih mudah cari ikan daripada wisatawan, tapi sekarang lebih mudah cari wisatawan daripada cari ikan.

Hal yang saya suka dan menurut saya unik dari Pulau Untung Jawa adalah burung-burungnya. Namanya Pulau Rambut. Sebuah pulau yang terletak bersebelahan dengan pulau untung jawa. Di pulau rambut ini tidak ada penghuninya. Karena pulau ini digunakan untuk swaka marga satwa khusunya burung. Jadi, kalo kita berada di pulau Untung Jawa, terutama saat sunrise dan sunset menjelang, kita bisa liat sekawanan burung terbang bebas di langitnya. Haduuuh. Saya jadi inget saat pulang snorkeling dari pulau rambut. Merebahkan badan dengan pelampung menunggu sunset. Di atas saya langit biru dan kawanan burung berseliweran. Alamaaak…

Hal lain yang saya suka dari Untung Jawa adalah masyrakatnya yang asik. Mereka murah senyum dan senang bercerita. Intinya, mereka senang menerima tamu. Pernah kan ke tempat wisata yang orang di tempat itu memperlakukan tamu seperti musuh. Nah, saya tidak menemukannya di Untung Jawa. Pada saya sudah cakep, artinya saya sudah bangun dari laut, berbilas dengan air tawar dan ganti baju plus pake sarungan, saya nongkrong di warung pak jalal untuk menyantap indomie rebus soto. Babeeuuhhh. Mantap pisan bro. Saya benar-benar nongkrong. DUduk sembari ngobrol ngalor-ngidul dengan Pak Jalal yang notabene saya kenal karena beli indomie.

Warung pak jalal masuk dalam kategori warung paling happening di Untung Jawa. Yang bikin happening adalah tv 29 inch yang ditaro di depan warung beserta sound sistemnya yang besar. Pada jam 7 malam, warung ini biasa menyetel sinetron TBNH, tau kan? Tapi berbeda urusan kalo ada pertandingan bola. Pas banget waktu saya ke sana ada pertandingan Liverpool kontra Tottenham. Keduanya bukan club favorit, tapi tetep asik ditonton. Nah, saya nonton pertandingan itu beserta wisatawan lain dan penduduk sekitar. Karena saya make sarung saya sampe dikira yang punya warung. Tapi satu lagi yang asik, harga makanan dan minuman di sini cm beda 1000 sampai 2000. Bahkan cemilan model bengbeng dan chocolatos harganya sama.

Malam itu saya menginap di sebuah kamar dengan harga 250 ribu saat long weekend. Katanya kalo hari biasa, 50 ribu juga disabet. Untuk menimati makan malam ala laut, saya harus berjalan kea rah pantai barat. Di sinilah ada semacam plasa yang pinggirnya semuanya tukang ikan bakar. Harganya semua hampir sama. Yang membedakan adalah rasa. Beruntung saya makan di tempat yang hasil olahannya cukup enak. Namanya Ikan Bakar Bu Basri, Spesial Bumbu 1000 Goyangan. Unik ya? Ini sebenarnya bukan nama resmi. Nama itu muncul saat kami tawar menawar dengan ibu Basri ini.

“Bu, kalo di Pulau Seribu gini yang khas ikannya dimasak apa?” Tanya saya.

“Dibakar dong..,” jawab si ibu.

“Wah, bu kalo dibakar mah uda biasa”

“Beda.. di sini mah bumbunya paling sedep”

“Bedanya dmn bu?”

“Bumbunya special!!”

“Wah… Spesial bumbu pulau seribu, Bu, ya?”

“Pasti! Spesial seribu goyangan…” Hahah. Si Ibu terbahak.

“Hahaha. Masih kuat goyang emang, bu?”

Begitulah kira-kira percakapan saya dengan bu Basri.

 

Esok Pagi di Pulau Untung Jawa

Subuh buta saya bangun. Ya. Mau gak mau bangun karena kamar saya persis di sebelah masjid. Tapi saya bersyukur saya bisa melihat sunrise. Pagi itu mungkin pagi pertama saya melihat dengan jelas bagaimana salah satu ciptaan Tuhan Yang Maha Baik ini menyapa bumi Pulau Untung Jawa. Saya melihat matahari muncul dari horizon di sebelah timur. Nah, tempat melihat sunrise paling kece adalah di pantai timur.

Selepas melihat sunrise, saya berajalan mengelilingi pulau. Menyusuri jalan kon-blok lebar 80 cm. Melihat aktivitas warga pulau dan wisatawan yang sepertinya punya ketertarikan yang sama dengan saya. Dan langkah kaki pun menjejak pantai barat setelah badan bercucuran peluh. Di sana ada sebuah gedung serba guna bergaya kolonial.  Di dekatnya ada deretan sepeda. Di salah satu sepeda ada sebuah bacaan yang berbunyi ” SEWA SEPEDA. RP 5000/ JAM”. Tau gitu mah, naik sepeda aja.

Lelah berjalan-jalan, saya kembali ke kamar. Yang lain bangun mendengar saya masuk kamar. Setelah bangun mereka pun beranjak keluar mencari sarapan.  Saya, kembali tidur. Tapi baru saja 30 menit tidur, mereka sekonyong-konyong masuk kamar dan bangunin saya.

“Mar, bangun! Siap-siap kita snorkeling di Pulau Pari. Kapalnya uda nungguin!”

Mendadak Lampung

Sebuah kerjaan hinggap di depan mata. Dicium dari baunya, kerjaan ini semerbak bau-bau luar kota. Dan benar saja, kerjaannya ke Lampung.  Siapa yang nolak dapet kerjaan ke Lampung walaupun Cuma satu hari. Setelah dapet konfirmasi dari partner perjalanan, saya segera bersiap. Alat snorkeling tak lupa dibawa. Niatnya mau menengok nemo dan kawan-kawan di Pulau Tangkil. Menjelang tengah malam kami berangkat. Keberangkatan tengah malam begini adalah hal yang seru. Kita macam mau operasi rahasia. Segala macam amunisi untuk perut dibawa. Dan yang paling penting adalah kopi.

Perjalanan ke Lampung cukup lancar. Hanya ada satu kendala, yakni ngantuk. Maklum, di kapal kami tidak terlalu bisa tidur nyenyak. Ditambah posisi keberangkatan pada hari biasa, hari beraktivitas. Untuk itu kami rehat sejenak sambil foto-foto di sebuah jalan yang punya pemandangan bagus.

Umk ???????????????????????????????

Alhamdulillah, kami tiba di lampung esok pagi. Tepat saat warga Lampung memulai aktifitasnya. Sesampainya di Lampung, saya segera ketempat tujuan untuk segera menyelesaikan tugas. Berharap semakin cepat selesai pekerjaannya semakin lama senorklingnya. Tapi ternyata alamat yang kami tuju sulitnya minta ampun. Kami sudah sampai di jalan yang benar, tinggal mencari nomor rumahnya. Sudah 7 orang kami tanyakan, tidak ada satu pun yang tahu di mana letak rumah bernomor 20 itu. Sudah hampir 3 jam mencari, rumah yang dituju pun tak kunjung ketemu. Sampai akhirnya, kami singgah di tukang penjual kue Rangi. Tau kue Rangi? Itu kue campuran adonan tepung dan parutan kelapa yang dicetak di cetakan bentuk setengah lingkaran.

Tempat Beli Kue Rangi

Penjual Kue Rangi Bertopi Gaul

Si Abang ini mangkal di sebuah mulut gang. Hampir 3 set kue rangi kita habiskan. Alamat tak kunjung ketemu dan nomor hp orang tersebut tidak diangkat. Si tukang kue rangi pun tidak tahu di mana rumah bernomor 20. Padahal sudah hampir 2 tahun dia jualan di sana. Akhirnya kami sepakat untuk menelpon kembali selepas jam 12 siang. Barangkali orang yang kita tuju sudah bangun. Kami berspekulasi mungkin dia anak dugem yang bangunnya selalu siang. Untuk menunggu jam 12 kami putuskan mencari masjid dan tidur di dalamnya. Dari sini saya simpulkan bahwa saya harus menggantung alat snorkeling.

Masjid Saksi Bisu Kelelahan Kami

Adzan dzuhur membangunkan tidur nyenyak. Kami segera beranjak. Pinginnnya sih beranjak cari tempat lain untuk nerusin tidur. Tapi, kalo kata stiker di masjid IKJ, adakah panggilan yang lebih penting dari panggilan Allah, maka kami pun ikut sholat. Selesai sholat saya berdoa agar orang ini bisa segera di telepon. Saya pun mencoba menelpon kembali. Alhamdulillah gak diangkat lagi. Saat itu juga ingin rasanya menangis. Bener-bener gak jadi snorkeling. Saat itu saya masih berharap, setidaknya ada waktu setengah jam untuk bersatu dengan air laut.  Daripada berlarut dalam kekesalan, akhirnya saya putuskan untuk makan siang.

5 menit mengendarai mobil, kami bertemu sebuah warung nasi kecil. Sederhana sekali. Letaknya agak di atas. Saya harus menaiki beberapa anak tangga. Saya memesan kopi dan teman saya makan nasi. Saya duduk si sebuah kursi dan mager. Di depan saya pemandangan indah barisan bukit-bukit kecil di Lampung. Apa lagi saat sebuah gelas berisi kopi yang wangi mendarat di depan hidung saya. Tau kan gimana rasanya orang baru bangun tidur dengan penuh rasa kecewa disuguhi pemandangan dan kopi nikmat. Ngablau dah kalo begini. Saya hanya diam menikmati pemadangan dan bau-bau khas daerah Lampung. Di tengah keheningan hp saya berbunyi. Pencerahan datang. Saya disuruh kembali ke jalan itu dan menunggu di seberang sebuah rumah sakit.

Makan Siang dulu Bos

Acara makan siang segera diselesaikan. Saya langsung kembali ke jalan tadi dan mencari rumah sakit yang dituju yang sebenarnya dari awal saya sampai di pagi hari sudah saya lihat. Sampai di seberang rumah sakit, saya diperintah menunggu orang tersebut datang . Dia nanti akan menuntun kami ke rumah yang dituju. Gak lama orang itu pun datang, kurang-lebih setengah jam berlalu. Dia menggunakan motor dan saya mengikuti dia dari belakang. Alhamdulillah, kami sampai di rumah yang kami tuju. Sebuah rumah dalam gang yang terletak kurang-lebih 50 meter dari tukang kue rangi. Masya Allah, tukang kue rangi uda 2 tahun apa 2 hari dagang di situ.

Cukup satu jam saya merampungkan pekerjaan. Sore hari ini juga saya harus kembali ke Jakarta. Sisa waktu yang saya miliki saya gunakan untuk mengelilingi kota Lampung. Kota lampung itu unik. Terletak di tidak jauh dari laut namun di dataran yang tinggi. Dari beberapa jalan dan titik di kota lampung kita dapat melihat dengan jelas eloknya laut di teluk Bandar lampung. Mobil kami meliak-liuk menyusuri kota Lampung di siang hari yang tidak terlalu panas.

Salah Satu Jalan di Lampung

Tujuan berikutnya adalah berbelanja oleh-oleh, terutama satu hal yaitu kopi. Saya memang sudah niat untuk melunturkan kangen dengan si Ulu Belu. Kopi pure robusta bean dari Lampung yang tempo hari saya pernah tulis juga. Selain kopi, pastinya kemplang dan pempek. Untuk membeli kopi ulu belu saya harus turun ke Bandar Lampung. Tepatnya ke daerah Tepekong. Daerah Tepekong ini bisa dibilang masuk kawasanan pecinan. Dinamakan Tepekong karena memang di sana ada tempat ibadah orang konghucu yang sering disebut Tepekong. Toko penjual kopi ini tepat berada persis sebelah toko oleh-oleh paling popular di Lampung yakni Toko Yen-yen. Nama tokonya adalah rumah kuning. Di toko ini menjual aneka macam kopi local dan oleh-oleh seperti kemplang. Cuma entah mengapa kondisi toko ini lebih sepi ketimbang sebelahnya. Namun varian kopi yang dijual lebih banyak.

Beres berburu kopi, saatnya berburu pempek. Pempek yang banyak di jual di Lampung umumnya dalam bentuk mini. Di jual dengan harga 1.000 sampai 2.000 rupiah persatuan. Biasanya penjualnya berkeliling membawa pempek di keranjang, beberapa piring kecil plastic, dan sederigen cuka. Namun tukang model keliling ini sudah sulit ditemui. Mereka kebanyakan sudah menempati tempat permanen. Macam tukang gorengan gitu kalo di Jakarta. Saya pun beranjak ke sebuah pasar untuk mencari pempek. Di pertigaan saya lihat ada penjual pempek di gerobak. Saya pun turun dan membelinya untuk dibawa pulang dan gak lupa makan juga di situ. Nah, ada satu dari keunikan tukang pempek di Lampung. Mereka dengan setengah hati memberi kita cuka untuk di bawa pulang, namun sepenuh hati memberikan cuka kepada kita asal makan di situ. Padahal orang Lampung punya tradisi makan pempek dengan menguyup cukanya. Maksudnya, pempek itu tidak dicocol dengan cuka. Tapi dimakan dulu pempeknya baru diminum cukanya. Gak heran jika satu buah pempek bisa menghabiskan 3 piring kecil cuka. Begitulah cara orang Lampung menjual dan menikmati pempek. Masalah rasa mah jangan di tanya. Namanya kota dekat laut, ikannya berlimpah. Makan pempek di Lampung, ya rasa ikan beneran.

Selesai makan pempek berarti waktunya pulang. Namun karena sebentar lagi ashar saya putuskan untuk sholat dulu di masjid Lungsir. Masjid ini adalah masjid raya di kota Lampung. Berada di ketinggian juga. Dari jendela-jendela di masjid ini kita bisa melihat kembali kemolekan teluk Bandar Lampung.

Pemandangan Masjid Lungsir Bandar Lampung

Pemandangan Masjid Lungsir Bandar Lampung

Pemandangan Masjid Lungsir Bandar Lampung

Pemandangan Masjid Lungsir Bandar Lampung

Pemandangan Masjid Lungsir Bandar Lampung

Pemandangan Masjid Lungsir Bandar Lampung

Ajaibnya di masjid ini saya menemukan tukang pempek keliling yang tadi saya bilang sudah sulit ditemui.

?????????????????

Pempek Asli Lampung

Pempek Asli Lampung

Pempek Asli Lampung

Pempek Asli Lampung

Pempek Asli Lampung

Cara Makan Pempek Asli Lampung

Cara Makan Pempek Asli Lampung

Well, waktunya pulang. Wait! Narsis sebentar boleh dong.

?????????????????

?????????????????

?????????????????

Oke, saatnya membelah jalan lintas sumatera Bandar Lampung – Bakauheni ditemani sang senja dan hingar santai lagu-lagu Float.

“Jelajahi waktu ke tempat berteduh hati kala biru…”

1

Membelah Senja

2

Senja di Lampung

Eh, Adzan Maghrib. Kami pun berhenti dulu sejenak bersyukur kepada Sang Khalik untuk rezeki dan kebahagiaan hari ini, kemarin, dan besok. Ahhey!!

Masjid Tempat Sholat Maghrib

Cerita Valentine

Sepulang nguli saya berkunjung ke sebuah pertemuan. Bertemu teman-teman yang khusuk dengerin ceramah. Bahasa gampangnya pengajian.

Beres pengajian seperti biasanya ada kebiasaan buka forum teras. Forum teras ini ajang ngobrol ngalor ngidul para peserta ngaji. Sedang asyik ngobrol, saya lupa bahwa saya bawa coklat di tas. Malam itu pas tanggal 14 Februari. Waktu saya ngambil cokelat untuk memeriksa leleh atau tidak, seorang teman melihat. Namanya Ikhsan.

“ Ente Valentinan, Mar?”

“Yoi dong. Gaul gitu.” Jawab saya enteng

“Orang mah, kalo ente emang bener cinta, kasih mahar, jangan dikasih cokelat!,” kata teman saya meledek.

Mendengar kata-katanya saya langsung terdiam. Kerasa banget keselepet to the max. Saya gak jawab apa-apa dan emang gak bisa jawab apa-apa. Apa yang teman saya bilang adalah kebenaran tertinggi. Tidak bisa dibantah atau diakal-akali jawabannya.

Namun satu hal lagi yang membuat saya terdiam. Cokelat itu buat keponakan saya yang masih TK.

Tahun Baru dengan Ibu

Malam pergantian tahun 2013. Malam itu adalah malam yang paling berkesan untuk saya. Setelah banyak malam perhantian tahun saya nikmati di berbagai kota dan daerah. Melebur bersama hingar bingar manusia dengan berbagai logat dan dialek. Bersyukur saya dapat menikmati malam pergantian tahun di banyak tempat. Banyak pengalaman yang saya rasakan. Uniknya, setelah ditelisik ulang, kebanyakan malam pergantian tahun saya habiskan di jalan protokol di daerah yang saya singgahi. Jadi kepikirian buat ngumpulin foto setiap malam pergantian tahun yang sudah dilewati. Dan mudah-mudahan tahun-tahun berikutnya dapat merasakan pengalaman di kota yang lain.

Sebenarnya saya termasuk orang yang tidak setuju dengan perayaan tahun baru. Bayangkan, jauh di sana ada orang yang sedang membutuhkan bantuan dana untuk biaya pengobatan sedangkan di sini orang membakar uang bahkan sampai miliyaran rupiah untuk kembang api. Entah apa rasanya jika kita yang ada dalam posisi mereka yang membutuhkan. Tapi masalahnya keelokan atraksi kembang api sulit sekali ditolak. Saya tidak habis pikir begitu pintarnya manusia membuat kembang api dengan berbagai efek. Akhirnya, daripada pusing, saya menposisikan diri hanya sebagai penikmat kembang api. Sebisa mungkin menolak memasang bahkan membeli kembang api. That’s small step for ordinarypeople like me.

Yang kedua, karena tanggal 1 adalah tangggal merah. Waktu yang tepat untuk berkumpul bersama teman atau keluarga. Jika saja tanggal 1 tidak merah, saya lebih memilih ada di rumah istrahat. Kita berkumpul bukan karena tahun baru tapi karena libur. Namun tetap saja kadang jadi terkesan merayakan.

Malam tahun baru kali itu malas membalut tubuh dengan kuat. Ajakan untuk keluar dengan ringan ditolak. Hanya ada saya dan ibu di rumah. Cuaca waktu itu cukup dingin dan berangin. Ibu memakai jaket warna kuning favoritnya. Semalaman hanya diisi dengan nonton tv. Sampai jam 12 tiba, saya dan ibu beranjak ke balkon rumah di lantai 2. Berbagai jenis kembang api lalu lalang di langit. Kembang api agak besar ditembakkan dari mall yang terletak di sebelah uatara rumah. Saya mengambil kamera dan memotret beberapa kembang api sedang ibu duduk di kursi plastik menikmati kembang api sambil mendekap tubuhnya sendiri.

Selesai memotret saya lalu duduk di pilar balkon menikmati kembang api bersama ibu. Kami berdua lebih banyak diam. Kadang berbicara sebatas komentar tentang kembang api.

Menikmati malam tahun baru bersama ibu. adalah malam paling berkesan.

10 menit kemudian, ibu pamit turun ke bawah untuk tidur. Saya masih di balkon menikmati sisa-sisa kembang api dan tersadar akan sesuatu.

?????????????????

?????????????????

?????????????????

Anbiya Faisal Haris; Kartu Ucapan Aqiqah untuk Keponakan Baru

Tidak ada yang spesial dari nama itu. Yang spesial adalah perjuangan sang ibu untuk mengeluarkannya dari rumah pertama secara normal. Sang ibu yang sudah mengalami lahiran dengan cara operasi sebanyak dua kali membuat kehamilan ketiga ini mengharuskan operasi juga. Namun sang ibu bersih keras untuk melahirkannya dengan normal. Beberapa dokter telah disambangi untuk meminta kepastian bisa-tidaknya melahirkan secara normal, namun sayang semuanya bilang terlalu beresiko. Namun ada seorang dokter senior yang memberikan angin segar “secara normal memang beresiko, namun kita tidak tahu jika Allah berkehendak lain. Tidak ada salahnya diikhtiarkan” Sang dokter praktek senior ini sudah menjadi langganan keluarga. Sayangnya tempat prakteknya di Jakarta. Jauh dari rumah sang ibu.

Sudah lebih dari 9 bulan 10 hari bayi masih betah bertahan di rahim. Tidak ada sedikitpun kontraksi. Hal ini membuat sang ibu santai tidak segera beranjak ke dokter tersebut. Menurutnya saat kontraksi pertama/bukaan pertama ada jeda waktu cukup panjang ke kontraksi berikutnya. Jeda waktu tersebut dapat digunakan untuk perjalanan ke Jakarta. Namun Allah berkehendak lain. Pagi hari  Selasa, 10 desember 2013 sang ibu kontraksi hebat, sehebat-hebatnya. Sang ibu segera dilarikan ke jakarta namun sepertinya kontraksi dari pertama ke kontraksi selanjutnya berjalan begitu cepat. Sang ibu sudah tidak kuat dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Akhirnya dibawalah sang ibu ke rumah sakit bersalin terdekat. Sampai di sana pak dokter bilang ini sudah bukaan 8, kepala sang bati sudah keluar. Apa daya pak dokter tidak berani mengambil resiko. Sang ibu akhirnya dioperasi.

Operasi berjalan sekitar satu jam lebih. Alhamdulillah bayi telah keluar dan sang ibu selamat. Namun kami mulai curiga saat sang ibu tidak beranjak keluar setelah dua jam. Kecurigaan kami benar. Pak dokter bilang sang ibu mengalami pendarahan, rahimnya harus diambil. Alhamdulillah kami memiliki sepupu seorang dokter. Sepupu kami berbicara dengan pak dokter agar mengusahakan yang terbaik. Namun setelah percakapan agak panjang dengan sang dokter di telepon, sepupu kami mengatakan jika pengangkatan rahim adalah yang terbaik. Sebenarnya dalam hati yang paling dalam saya dan keluarga sangat menyayangkan, tapi apa boleh buat. Sekarang yang kami pikirkan adalah keberhasilan operasi dan keselamatan si ibu dan anaknya.

Alhamdulillah setelah melewati berbagai kejadian yang menegangkan, kini bayi yang akhirnya bernama Anbiya Faisal Haris telah di-aqiqah-kan bersama ibunya. Anbiya dan ibunya kembali hidup bersama dengan dua kakak anbiya.

Anbiya Faisal Haris | Kartu Ucapan Aqiqah

Anbiya Faisal Haris | Kartu Ucapan Aqiqah

Anbiya Faisal Haris | Kartu Ucapan Aqiqah

Anbiya Faisal Haris | Kartu Ucapan Aqiqah

Anbiya Faisal Haris | Kartu Ucapan Aqiqah

Anbiya Faisal Haris | Kartu Ucapan Aqiqah

Saya dimintai tolong untuk membuat kartu ucapan aqiqah. Kartu yang ditempel di box nasi. Jujur, saya amat bersemangat membuatnya. Hadiah kecil untuk keponakan baru. Hehe. Mengapa? Saya mengikuti proses kelahiran Anbiya. Dalam proses yang penuh ketegangan saya belajar banyak. Sepanjang proses kelahiran itu saya tidak henti-hentinya berandai-andai jika saya yang dalam situasi ini, maksudnya jika kelak istri saya yang mengalami hal itu. Dan sepanjang proses kelahiran itu juga saya senantiasa berdoa agar kelak istri saya nanti diberikan kemudahan dan kelancaran dalam persalinannya.

Saya juga belajar dari kejadian ini, bahwa ternyata persalinan dengan cara operasi lebih beresiko untuk pendarahan ketimbang normal. Kalo kata ibu dari Anbiya, dua-duanya sama-sama beresiko pendarahan, tapi kalaupun harus mengalami pendarahan ada kepuasaan sendiri sudah berjuang melahirkan normal. Intinya jika bukan karena faktor fisik, jangan  sekali-kali mau dioperasi. Selain itu, Anak adalah milik Allah SWT, ibu hanya diberikan amanah/dititipi. Allah SWT menumpang badan sang ibu, yang sejatinya milik-Nya juga,  untuk merealisasikan ciptaan-Nya. Jadi jangan pernah takut bersalin normal karena Allah yang akan campur tangan dan Allah akan memudahkan persalinan itu.

Kembali ke desain kartu aqiqah. Saya agak sulit mencarikan desain kartu yang bagus di internet. Semua terasa monoton. Untuk itu saya bikin yang satu ini agak berbeda.  Nah, karena sulitnya mencari desain kartu maka saya akan bagikan desain kartu yang saya buat.

Selamat beraqiqah

Kartu Ucapan Aqiqah | Dayak Style

Kartu Ucapan Aqiqah 1 | Dayak Style

Kartu Ucapan Aqiqah 1 | Dayak Style

Template Kartu Ucapan Aqiqah 1 RGB:

http://adf.ly/bMwF6

Template Kartu Ucapan Aqiqah 1 CMYK:

http://adf.ly/bMxWw

 

Kartu Ucapan Aqiqah 2 | Maroco Style

Kartu Ucapan Aqiqah  2 | Maroco Style

Kartu Ucapan Aqiqah 2 | Maroco Style

Kartu Ucapan Aqiqah Maroco RGB:

http://adf.ly/bMyNo

Kartu Ucapan Aqiqah Maroco CMYK:

http://adf.ly/bMyLJ

Atau kalo mau download file vectornya bisa di sini:

Dayak Style:

http://adf.ly/bMyUn

Maroco Style:

http://adf.ly/bMyRs

Karena Buah gak Semuanya Matang Sempurna

Karena Buah gak Semuanya Matang Sempurna

WORKHARD

“Work Hard and Stay Humble” adalah sebuah stiker yang baru saja saya temukan di salah satu forum online. Menjadi sederhana atau rendah hati adalah perkara yang susah-susah gampang. Keberhasilan, jabatan, tingkat ekonomi, pasangan yang sempurna, anak yang pintar dan prestasi adalah secuil dari ribuan faktor yang dapat membuat orang jadi belagu.

Kalo boleh  gw simpulkan, kesombongan biasanya timbul saat apa yang kita inginkan dan kita perjuangkan untuk mendapatkannya kemudian berbuah manis. Harapan terwujud. Merasa seolah-olah kerja keras dan hasil pemikiran kita tepat. Berkat ilmu dan pengalaman yang ada.

Sah-sah saja seseorang bangga dengan hasil kerja kerasnya. Itu normal. Baik dalam pandangan agama dan dunia. Kata agama juga nasib gak akan berubah kalo kita gak mau merubahnya. Well, berubah itu perlu kerja keras. Menjadi sombong itu pilihan, tapi efeknya jelas mutlak. Gak bisa dipilih-pilih.

Sekarang bagaimana jika apa yang kita harapkan dan sudah diusahakan dengan maksimal tidak berbuah manis atau boleh dibilang nihil. Efeknya jelas membuat galau, misuh-misuh, komplen atau bahkan minum baigon, menyayat urat nadi, tidur di atas rel, gerus-gerus aspal, ngais-ngais sampah  dan berbagai bentuk aktivitas negativ lain. Namun dibalik itu, sebenarnya ada pelajaran yang berharga. Dari sini, yuk mari mulai bersyukur karena memperoleh kegagalan atau hasil nihil. Mengapa? Nah ini lah poin penting tulisan ini. Karena ternyata Allah SWT sedang menyelamatkan kita dari menjadi sombong.

Begini rumusnya. Saat usaha gagal mencapai harapan maka kita merasakan kelemahan diri sendiri. Tidak semua apa yang kita harapkan dapat tercapai. Tidak semua yang kita usahakan mencapai hasil yang sesuai. Hal ini menghindarkan diri dari sikap jumawa. Eits, saya gak ngajarin jadi pesimis. Jelas manusia itu punya potensi yang sangat hebat, namun jelas pula bahwa potensi sehebat apapun tanpa usaha akan nihil. Usaha apapun tanpa ijin dari Allah juga sama nihilnya. Intinya, di atas langit masih ada langit.

Nampaknya akan sulit untuk bisa stay humble and always hard work bagi mereka yang belum pernah merasakan gagal. Itu.

PERHATIAN:

Saya bukan ustadz, Cuma kebetulan aja lagi lurus aja. Haha.