Jadi, Mau yg Gimana?

“Jadi, Mau yg Gimana?” adalah pertanyaan seorang teman yang umurnya lebih tua dari saya. Katakanlah paruh baya. Tapi dia teman.  Dia adalah salah satu teman yang seringkali menggambarkan tentang bagaimana enaknya menikah. Bukan enak yang macem-macem ya. Tapi enak dalam artian menikah membuat menjalani hidup jauh terasa lebih mudah dan lebih hidup. Inget selogan rokok, bikin hidup jadi hidup.

Saya yang ditanya seperti itu cuma bisa diam. Bukan tidak punya jawaban tapi bingung mau mulai menjawabnya dari mana. Sebenarnya  jawaban laki-laki tentang wanita idaman semua sama. Tapi semua itu Cuma keinginan. Kenyataannya jodoh itu Tuhan  yang ngatur.

Jawabannya sebenarnya Saya terbuka dengan siapa pun wanita yang memang ditentukan Tuhan jadi jodoh saya. Terus kok kenapa sulit banget kayaknya. Sebetulnya tidak sulit Cuma saya dalam keadaan yang membuat saya ada dalam posisi penuh pertimbangan.

Satu, Ibu saya sudah ditinggal suaminya dan sudah semakin menua. Tentu seorang Ibu memiliki persaan tersendiri terhadap pasangan anaknya. Saya ingin pasangan saya nanti bisa berbaur bahkan menjadi teman ibu saya. Saya ingin keberadaan istri saya nanti menjadi kebahagaiaan buat ibu saya. Terlebih melihat kondisi beliau, agak berat bagi saya untuk berpisah rumah dengan beliau.  Walaupun jujur saat berumah tangga saya tidak ingin menyatu dengan keluarga manapun. Itu jika kondisi finansial memadai. Hehe

Lalu, ada ponakan saya yang baru dintinggal ibunya. Ibunya itu kakak kandung saya. Ponakan saya masih smp dan sd. Masih dalam umur-umur yang membutuhkan perhatian. Saya sebagai paman setidaknya memiliki kewajiban untuk memantau mereka. Namun saya kurang cekatan dalam bergaul dengan anak-anaka. Nah makanya saya ingin sekali punya istri yang bisa berbaur dengan anak-anak. Gimana ya? Contoh singkatnya, saya ingin istri yang kalo dia dateng ke rumah ponakan saya, mereka merasa senang.

Memang tidak semua yang Kita inginkan menjadi kenyataan. Saya juga tidak ngoyo untuk mencari yang dapat memenuhi semua keinginan. Kalo pun tidak mendapatkan yang seperti itu ya mau gimana lagi. Yang terpenting dia berjodoh dengan saya. Terus jadi yang seperti apa? Cari yang jodoh.

Sekali lagi saya terbuka-terbuka saja. Karena permit-nya sudah terbuka.  Cuma jadi agak lucu saja, saat saya masih tidak banyak pertimbangan, saat ayah dan kakak saya masih hidup, kriteria jodoh saya terbatas. Sekarang saat tidak ada batasan memilih jodoh, pertimbangannya sudah banyak. Yaa mau gimana lagi, cuma  sayang  aja “dulu” permit-nya terbatas. Tapi sudah lah saya cuma bisa heran dan amaze, hidup itu benar-benar unik cara kerjanya.

Oya saran saya, bagi yang masih jomblo dan masih punya orang tua lengkap, nikah dah buru-buru karena nanti jika sudah tidak ada salah satunya terutama Ibu akan timbul banyak pertimbangan.

“Ah itu mah lo aja terlalu lebay?”

Oke lah, let say saya emang lebay. Tapi coba dah tanya yang senasib seperti saya. Walaupun akhirnya nikah juga pasti terbesit pertimbangan-pertimbangan seperti saya.

Riziq Minallah (Rezeki Datangnya dari Allah)

Riziq Minallah (Rezeki Datangnya dari Allah)

gambar: pinjem dari http://hidayahzolkiffly.blogspot.com/

Frasa Riziq Minallah adalah hal yang tidak asing bagi saya dan orang lain berketurunan arab khusunya Yaman  di Indonesia. Frasa ini seringkali diucapkan saat kami mendapatkan nikmat. Misalnya, beli mobil, beli rumah, usaha sukses, dapet penghargaan dari perusahaan dan lainnya. Contoh:

Seorang bernama Jamal datang ke acara kondangan (resepsi pernikahan) menggunakan mobil baru. Saat selesai memarkir mobilnya, Jamal bertemu dengan Hasan dan terjadilah percakapan.

Hasan: Wah…!!! mobil baru nih, Mal!

Jamal     : Alhamdulillah, Riziq Minallah..

Contoh 2:

Jamal datang ke toko hasan yang lagi hectic banget sama costumer. Dan terjadilah percakapan:

Jamal     : MasyaAllah, toko ente rame ya, San!

Hasan    : Riziq Minallah..

Saat saya masih kecil, kata-kata ini seringkali saya dengar dari Ayah saya saat ia bertemu teman-temannya. Dulu, saat saya bertanya tentang arti Riziq Minallah, Ayah Cuma menjawab bahwa jawaban itu adalah jawaban yang bagus yang diajarkan kakek saya. Intinya kata-kata itu gak jauh sama Alhamdulillah. Ayah saya menjelaskan sebatas itu saja. Tidak menjelaskan filosofinya.

Setelah besar dan bertemu banyak orang yang mengerti dalam berbagai hal terutama agama, saya baru tahu apa filosofi Riziq Minallah.

Menurut orang yang ngerti agama itu, manusia itu sebenarnya hidup dalam keadaan miskin.  Kemudian Allah lah yang membuat kita kaya lewat rezeki yang diberikan. Pada dasarnya, saat kita membeli sesuatu sebenarnya kita membeli menggunakan uang Allah. Artinya rezeki yang Allah berikan.

Ucapan Riziq Minallah adalah ucapan yang agung. Ucapan itu sebagai bentuk pengakuan bahwa mobil yang baru dan usaha yang lancar adalah semata-mata datang atau diberikan oleh Allah.  Ucapan itu adalah bentuk pengakuan bahwa kami ini orang kecil dan lemah yang tanpa izin dari Allah kami tidak bisa berbuat apa-apa.  Ucapan itu adalah alternatif untuk menurunkan kadar riya dan kesombongan. Dan, yang terpenting adalah ucapan itu sebagai bentuk akidah paling tinggi. Bahwa segala yang miliki di dunia ini sejatinya milik Allah. Seperti ucapan Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun. Segala sesuatu adalah milik Allah dan kembali ke Allah.

Hasilnya, saya seneng lahir dalam keluarga keturunan yang punya budaya yang begitu agung. Walaupun ada beberapa budaya yang masih gak masuk di hati, seperti budaya dalam perjodohan tetapi saya tetap salut dengan budaya mengucapkan Riziq Minallah. Kata-kata singkat tetapi dalam makna.

Terakhir, saya bingung dengan teman-teman yang skeptis dengan  Arab dan budayanya. Kalo memang budaya itu baik, kenapa ditentang?! Iya gak?!

Orang Jakarta di Mata Orang Jawa

Orang Jakarta di Mata Orang Jawa

Gak kerasa, baru kemarin (03/04) saya melakukan perjalanan ke Jogja dan Solo. Perjalanan dalam rangka kerja dan cari inspirasi. Perjalanan yang harus ditempuh selama 15 jam membuat struktur tulang-belulang bergeser, mungkin, 0,5 mm dari tempatnya. Maklum, perjalanan kali ini saya lakuka dengan membawa mobil pribadi. Menggunakan kendaraan minibus, tepatnya Kijang Kapsul seri LGX bensin yang sukses menguras kocek bensin setara tiket pesawat, yakni Rp. 450.000. Tapi berapa pun kocek yang harus keluar, karena perjalanan dilakukan bareng-bareng tetap jadi seru.

Keseruan lain adalah saat kami berhenti di alun-alun kota Berebes. Di kota yang terkenal denga telor asin dan bawang ini saya beristirahat sambil menyeruput sajian khas di sana, teh poci. Sajian teh di dalam poci yang kita tuangkan sendiri ke cangkir kecil berisi gula batu sebagai pemanis ini punya harga yang gak masuk akal. Bukan tentang mahalnya saja tapi tentang pengaturan harganya. Sepoci teh dengan dua cangkir kosong berisi gula batu dihargai Rp. 14.000. Nah, pas saya tanya berapa harga satu teh poci, eh si penjual menjawab harga diatur per cangkir. Satu cangkir seharga 7.000 perak. Hah?! Saya jadi geleng-geleng sendiri. Idealnya, satu poci teh plus satu cangkir kosong dihargai 10.000. Kemudian cangkir berikutnya dihargai 3000 perak. Dengan perhitungan seperti ini harga terlihat masuk akal, karena satu poci teh secara logika visual lebih besar ketimbang cangkir. Dengan harga yang si mas jual, logika saya masih gak bisa jalan. Berarti kalo saya pesen cangkir 4 buah, saya harus membayar Rp 28.000 untuk sepoci teh. Harga yang fantastis untuk sepoci teh yang isinya Cuma daun teh sama air panas.

alun-alun kota berebes. Gambar pinjem dari: http://andinibrebes.blogspot.com/2010/04/brebes-malam-hari.html

Harga-harga fantastis untuk benda sepele memang sering terjadi di kawasan wisata. Bahasa kasarnya “ngegetok harga”. Karena lihat yang beli mobilnya pelat B, wajarlah kalo dikasih harga agak tinggi. Para wisatawan pun tampaknya memang ikhlas bin pasrah dengan harga yang digetok. Alasannya Cuma satu, “yah, sekali-kali. Gak tiap hari ini. Itung-itung bagi-bagi rejeki”. Maka dari itu, saya yakini pada saat itu saya lagi digetok harga. Saya pun sama seperti wisatawan lain, “yah, sekali-kali. Gak tiap hari ini. Itung-itung bagi-bagi rejeki”. Tapi, ada satu hal yang bikin saya gak ikhlas. Pada saat saya pertama kali memesan dan mulai obrolan basa-basi, “buka sampe jam berapa?” dan obrolan lain, si penjual mulai kepo dengan status saya. Jalan-jalan kah atau kerja kah, dari mana kah, dan lainnya. Setelah dia mengetahui status saya sebagai orang jakarta,  si penjual pun mulai ceramah tentang orang jawa tengah yang apik-apik.

“kalo orang jawa tengah mah kalo mas tanya pasti dikasi tahu yang bener. Kalo orang Jakarta mah, kalo kita nanya disasarin,” kata si Penjual.

Dan ada seabrek aib orang Jakarta yang dia lontarkan. Termasuk cerita dia dipalak, duit abis, ditolong orang, yang nolong orang jawa, dia dikasih makan, terus dikasih ongkos pulang, dan diujung cerita dia bilang kalo Jakarta itu kota kejam. Dia lebih memilih hidup kota kelahirannya yang menurut dia lebih bersahabat. Persis seperti film Alm Benyamin S yang episode sepatu yang bawa sial. Yang di film itu terkenal lagu “eh, abang pulang bakul nasi goyang-goyang” dan seterusnya.

Buat saya yang lahir di Jakarta, saya gak terima kalo orang yang tinggal di Jakarta dinilai gak punya itikad baik. Jakarta memang tidak nyaman untuk hidup, bagi saya. Tapi tidak berarti orag Jakarta tidak baik. Saya kok malah cenderung menilai si Penjual dengan dua hal. Pertama, dia looser. Gak kuat hidup di bawah tekanan. Kedua, itu gimmick marketting. Dengan cerita sedih dan menyedihkan itu dia berharap kami gak keberatan bayar lebih barang dagangnnya, karena satu, kami kasihan atau berempati dengan nasibnya. Dua, kami membayar harga lebih karena kekejaman kami, orang Jakarta, yang pernah malak dia.

Hmmm…. Logika si penjual emang gak jalan. Harusnya kalo mau ngegetok harga, kita sebagai pembeli dibaik-baik-in. Ini sih udah diomongin, digetok pulak.  Nah kita yang beli mau-mau aja bayar. Yaa.. mungkin kami sedang lelah.

Hai Kamu..

Hai Kamu.

Hai kamu.. Iya. Kamu. Kamu yang entah ada di mana. Kamu yang entah kapan datang. Kamu yang entah kapan tak sengaja bertemu. Kamu yang entah sudah bertemu namun pura-pura tidak tahu. Di mana pun kamu, jelasnya saya belum bertemu kamu.

Entah saya yang kurang gigih mencari atau kamu yang bersembunyi sepenuh hati.

Kamu yang entah di mana saya akan menemukanmu. Entah di sini, atau di sana di tempat hidup yang mulai abadi.

Mungkin saya terlalu hati-hati sehingga kamu sulit untuk dicari. Tidak. Saya tidak hati-hati.Tapi ada hal yang memiliki nama serupa. Dia memiliki syarat yang tidak bisa saya cerna denga akal. Dia memang akan selalu kontra denga akal, tapi saya tak mengapa mengikuti dia kali ini. Karena memang untuk hal ini dia adalah penentu. Ya. Masalah persaan itu buka domain akal. Tahu kan area siapa itu?

Siapapun kamu, kamu adalah orang yang mampu menaklukan sang pemilik domain perasaan. Seperti apa kamu, dia tidak bisa mendekripsikan karena hati tidak seperti akal. Tidak bisa berpikir logis. Hati tidak tahu seperti apa kamu, hobi apa, seperti apa wajah kamu, dari keluarga mana, kerja di mana, dan pertanyaan lain tentang kamu. Hati hanya tahu kamu adalah orang yang bisa meluruhkanya dengan berbagai sisi baik mu.
Tidak ada kriteria, tidak ada syarat. Hati memilih dengan caranya.
Siapapun kamu, saya yakin kamu ada. Saya yakin kamu pun mencari saya. Atau kamu sudah bertemu namun tidak melihat saya.
Siapapun kamu, saya berdoa dan berharap bisa bertemu di sini. Di dunia ini. Menikmati hidup layaknya manusia biasa. Menghadapai masalah layaknya manusia biasa.
Hai kamu.. Baik-baik di sana. Di mana pun kamu berada.

Bandung-Semarang

Bandung-Semarang

Dua kota yang dulu saya tidak pernah berpikir bisa merasakan hidup di sana. Namun berpikir untuk menjelajah kota tesebut ada. Bersyukur karena Tuhan Yang Maha Baik sudah menakdirkan saya bisa menikmati hidup di dua kota itu.

Keduanya punya keunikan masing-masing. Semarang itu kota yang menyenangkan karena banyak tempat bersejarah. Buat saya yang suka segala hal berbau antik dan jadul, Semarang itu menyenangkan. Ada berbagai tempat nongkrong dan tempat makan yang erat kaitannya sama jaman kolonial dulu. Ada Tugu Muda dengan latar Lawang Semu, ada gereja Belenduk, ada IBC (ikan Bakar Cianjur) yang memakai bangunan lama di daerah kota tua, ada brux the bistro yang menggunakan rumah jaman dulu di kawasan jalan rinjani. Kawasan rinjani ini ada di dataran tinggi, sehingga dari sini bisa melihat gemerlap lampu kota Semarang.

Satu hal yang saya suka dari Semarang, kontur kota Semarang seperti Kota Lampung, berundak-undak. Sehingga kita mudah menemui spot asik untuk nongkrong melihat keriuhan di kota. Spot yang paling saya suka di Semarang adalah kalo jalan dari Tembalang menuju ke Undip bawah yaitu daerah Gombel dan jalan Diponegoro yang meliuk-liuk yang di kanan-kiri nya tersebar banyak bangunan rumah belanda. Dan satu lagi, Semawis. Semawis adalah singkatan dari Semarang Wisata. Semawis adalah jalananan yang disulap jadi pusat kuliner kaki lima. Uniknya, jalan yang dipakai adalah jalana yang berada di pecinan. Sayang foto-foto saya waktu di Semarang banyak yang hilang.

Semawis Sumber Foto: tilulas.com

Bandung itu kota yang penuh pengalaman. Ada banyak aktivitas di kota ini. Di kota ini menurut saya ada banyak orang yang memiliki kesenanga aneh dan mereka berkumpul. Jadi, hobi yang awalnya terlihat aneh menjadi unik karena ternyata banyak peminatnya. Di kota ini saya tahu musik Shoegaze jadi ada selalu dalam playlist. Saya tahu skinhad, britpop, gank motor, bobotoh, dan lain-lain di kota ini. Tidak hanya itu, saya pun tahu istilah Gigs dari kota ini. Maka saya kadang menjuluki Bandung itu New York-nya Indonesia. Segala macam komunitas dari yang “benar” sampe “enggak bener” ada di situ dan mereka saling tahu dan saling maklum sehingga semua terkesan bebas.

Bandung dan Semarang memang penuh kesan. Punya banyak cerita. Tapi cerita itu gak bisa tercipta kalo enggak melewati hal-hal yang biasa saja.

____

Akhir-akhir ini orang rumah sudah jarang di rumah. Rumah berkamar 5 ini sudah seperti bangunan kost. Tidak ada maka bersama, tidak ada keluar bersama, konsumsi air masing-masing. Kalaupun penduduknya datang biasanya sibuk di kamar masing-masing. Kalo jam waktu makan, paling titip-titipan makanan.

Kondisi tersebut membuat saya inget jama kost. Terutama jaman tinggal di Bandung. Kondisinya hampir mirip. Saya tinggal di rumah kakak dan keluarga kecilnya yang kalo pulang kampung ke Jakarta bisa sebulan. Sama seperti sekarang, kalo kondisi rumah lengkap masalah makan bukan persoalan. Sudah tersedia, sudah ada yang masak, dan yang pasti sudah ada yang beliin. Hehe. Tapi kalo kondisi sepi, mau gak mau kembali jadi anak kost.

Kemarin saat saya ke mini market, saya melihat nuget. Makanan yang pernah menemani waktu masih ngekost.

Bandung dan Semarang adalah dua kota yang tinggal di masa yang sama, masa kuliah. Dengan status anak kuliah otomatis masalah financial pun mepet. Saya harus berputar otak untuk bisa hidup di Bandung dan tetap bisa berkunjung ke semarang. Karena tanpa penghasilan tambahan maka agar yang nge-pas tersebut bisa ada selisih diperlukan usaha pengurangan konsumsi. Baik itu konsumsi nongkrong dan konsumsi makan.

Yang paling seru adalah saat mengurangi konsumsi makan. Saya tetap makan 3 kali sehari namun saya hanya beli makan untuk satu kali makan. Saya inget saat beli rendang dan soto ayam yang harus saya bagi tiga bagian. Satu bagian untuk masing-masing waktu makan. Bagi saya saat itu yang penting makan nasi. Misalnya, hari Senin saya beli rendang dan kuah ayam seharga 7ribu perak. Nasi masak sendiri. Beli rendang jam 10 dimakannya jam 12, jam 4 sore menjelang kuliah dan sepulang kuliah.Begitu pun yang terjadi pada soto ayam.

Kadang saya juga suka memanjakan lidah dengan makan ayam goreng atau sate ayam. Untuk sate ayam saya membaginya menjadi tiga bagian juga. Tiga tusuk buat makan malam, empat tusuk buat makan pagi, tiga tusuk buat makan siang. Nanti makan malam setelah sampai kampus sekitar jam 7. Proses ini saya lakukan jika saya mau makan enak di kampus sembari nongkrong sama teman-teman.

Semua makan tersebut bisa bertahan dengan teknik pendinginan dan pemanasan. Hehe. Jadi setiap selesai makan langsung masuk kulkas. Nanti kalo mau dimakan lagi baru dihangatkan.

Yang paling geli itu kalo uda menu nuget. Sebungkus nuget itu saya jatah perhari 3 nuget untuk satu kali makan. Makannya ya Cuma nasi, nuget sama saos biar ada rasaya. Kadang saya bikin nuget asam manis. Tumis bawang putih (kebetulan kalo bumbu dapur selalu disediakan), masukan saos tomat, masukan sedikit air, terus masukan nuget dalam potonga dadu yang uda digoreng sebelumnya. Dengan teknik itu, satu bungkus nuget itu bisa dikonsumsi 1,5 – 2 hari. Kegelian saat makan nuget itu terjadi pada saat perut dan mulut masih pengen ngunyah tapi jatah nuget untuk makan kali itu sudah habis. Rasanya ingin nambah satu lagi, tapi inget jatah. Jadinya, untuk nambah satu nuget itu rasaya seperti mau nambah istri lagi (padahal satu aja belum), penuh pertimbangan.

Over all, saya bersykur banget pernah melewati masa-masa itu. Masa-masa yang melahirkan cerita, masa-masa yang penuh kesan, masa-masa yang menambah warna dalam hidup saya, masa-masa yang penuh pelajaran. Masa-masa yang melahirka kenangan. Masa-masa yang penuh pengalaman. Mungkin tidak menyenangkan saat harus mengatur konsumsi, tapi pengalaman hidup di dua kota itu lunas membayarnya. Pengalaman hidup di dua kota itu selalu menyenangkan.

Bukan Sekadar Tajuk Rencana

Buku "Pers Orde Baru; Tinjauan Isi Kompas dan Suara Kaya" tulisan Rizal Mallarangeng

Buku “Pers Orde Baru; Tinjauan Isi Kompas dan Suara Kaya” tulisan Rizal Mallarangeng

Ngulik-ngulik tentang media dan segala atributnya adalah hal yang menyenangkan. Bagaimana tidak,  media adalah bentuk penyihir moderen. Hanya saja media tidak bisa serta merta merubah kelinci menjadi kerbau atau merubah daun menjadi uang. Media memiliki power untuk menjadikan orang ganteng yang tadinya Cuma jadi pajangan saat jadi pager bagus di kondangan mejadi orang yang senantiasa diminta foto bersama setiap ketemu masyarakat. Begitulan media. Saat orang ganteng main sinetron semuanya tetiba berubah.

Hal yang tidak kalah menarik adalah konflik. Inget konflik jaman SMA atau jaman kuliah saat kita ber-gank? Konflik sekecil apapun menjadi hal yang menarik untuk dibahas. Media pun dalam menjalankan operasionalnya tidak terlepas dari berbagai konflik. Yang paling hangat dan seksi adalah tentang tingkat objektivitas media terhadap realitas yang berkaitan baik secara langsung maupun tidak dengan pemilik media atau orientasi ideologi dan politik pemiliknya. Contoh mudahnya adalah perang Baratayudha media biru dan merah saat Pemilu 2014 lalu.

Bentuk lain dari konflik operasional media adalah tentang keberadaan tajuk rencana dalam sebuah media terutama koran. Sebuah buku berjudul “Pers Orde Baru; Tinjauan Kompas dan Suara Karya” adalah buku yang berisi skripsi Rizal Malarangeng yang dibimbing oleh Ashadi Siregar. Kedua orang ini  dan skripsinya adalah produk yang lahir dari sebuah Kampus di Jalan Sosio-Yustisia di Jogjakarta. Sebuah yang setiap sudut nongkrongnya punya cerita berbeda-beda namun punya satu kenangan, BERKESAN.

Buku tersebut di sala satu bab-nya menuliskan tentang perlunya keberadaan tajuk rencana dalam sebuah koran. Tajuk rencana menurut bapak Taylor mengingatkan saya dengan fungsi dan tugas logo. Logo adalah mahluk dengan bentuk paling kecil berukutan 1×1 cm yang bentuk dan warnanya wajib merepresentasikan perusahaan atau organisasi atau orang yang diwakilinya.  Pun tajuk rencana. Tajuk rencana adalah “reflects the reputation and integrity of the publication, as well as the will of corporations”  (Taylor, 1995).

Logo dan tajuk rencan bak saudara kembar. Fungsi dan tujuannya hampir sama. Bedanya, tajuk rencana berbentuk tulisan sedang logo berbentuk bidang dan warna. Keberadaan logo begitu penting bagi organisasi, selain sebagai identitas yang tujuannya adalah membedakan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lain, logo juga  sebagai model representasi dari organisasi. Maskudnya, seorang dapat melihat perusahaan dan segala isinya dari logonya. Logo mencerminkan kualitas dan asal organisasi. Tak heran jika perusahaan rela merogoh kocek dalam-dalam demi logo. Perusahaan menginginkan logo dibuat oleh orang atau perusahaan pembuat logo terpercaya.

Sama seperti logo, tajuk rencana juga menjadi cerminan media tersebut. Jika kita ingin melihat bagaimana pandangan media tersebut terhadap sebuah isu, bacalah tajuk rencana. Teks-teks yang dimuat dalam tajuk rencana juga dapat menunjukan bagaimana kecendrungan ideologi dan politik media tersebut. Begitu pentingnya tajuk rencana, maka perlakuan perusahaan media terhadapnya tidak berbeda dengan perlakuan media terhadap logo. Tajuk rencana harus dibuat oleh orang-orang profesional. Lagi-lagi menurut Taylor, “… you won’t get to write editorials until your hair begin to gray”. Artinya, hanya wartawan-wartawan senior dan loyal yang dapat dipercaya menulis editorial.

you won’t get to write editorials until your hair begin to gray

you won’t get to write editorials until your hair begin to gray

Konflik Tajuk Rencana

Pertanyannya adalah penting kah tajuk rencana dimuat sebuah media? Penting atau tidak pentingnya tajuk rencana adalah diskusi menarik karena hal ini berkaitan dengan duit dan idealisme.

Pertanyaan selanjutnya, seberapa besar efek muat-tidaknya tajuk rencana dengan oplah koran? Salah satu tujuan media dalah mencari keuntungan. Jika tidak memakai tajuk rencana saja laris lalu buat apa memuatnya.

Tajuk rencana adalah views. Artinya berisi opini media tentang sebuah isu yang berfungsi mendorong daya pikir pembaca dan mengajaknya berbincang-bincang tentang sesuatu sebelum pendapat umum mengenai sesuatu itu terbentuk (Arpan dalam Malarangeng, 2010). Selain pendapar Prof. Arpan ada pendapat lain terkait funsgi tajuk rencana. Namun kita tetap dapat menyimpulkan bahwa fungsi tajuk rencana terutama memang membentuk opini pembaca ke arah yang dianggap benar, baik dan perlu oleh penulis dan institusi pers bersangkutan. Jadi, jadi yang dilakukan melalui tajuk rencana bukan hanya to express melainkan juga to impress, bahkan terkadang to supress (Mallarangeng, 2010)

Dengan fungsi yang begitu mulia tajuk rencana seharusnya menjadi rubrik paling penting dan paling laris untuk dibaca. Sehingga berkonsekuensi dengan oplah media. Semakin baik media menulis tajuk rencan, semakin baik oplahnya. Itu logika sederahananya. Namun, menurut Arpan (dalam Mallarangeng, 2010) tajuk rencana adalah rubrik yang paling sedikit diperhatikan pembaca. Namun tajuk memiliki efektivitas yang tidak bisa diabaikan. Meskipun pembacanya sedikit, tajuk bisa berpengaruh dalam proses pembuatan keputusan, dan para pemimpin masyarkat sadar akan kehadirannya sehingga para pemimpinlah yang pertama-tama memberikan perhatian kepada isi tajuk (Hohenberg dalam Mallarangeng, 2010).

Melihat tajuk lebih banyak dibaca oleh para pemimpin, maka tajuk rencana seperti berlian. Hanya orang-orang tertentu yang punya selera tinggi yang menginginkannya. Kalo parodi slogan rokok, “Tajuk Rencan, Pemimpin Punya Selera”.

Kembali ke pertanyaan. Apakah tajuk rencana penting dimuat? Menurut Tjipta Lesmana bentuk tajuk yang terlalu akademis tidak memperlihatkan sikap tegas hanya membawakan “opini karet”:

Hasil dari cara penulisan yang analitis, panjang dan kurang mampu menunjukkan sikap biasanya adalah opini yang tidak tegas atau “opini karet”. Mungkin ada motif bagi penulisnya untuk menyembunyikan sikap sebenarnya terhadap masalah yang ditulis di balik analisa yang bertele-tele itu (Lesmana, 1985)

Dalam buku tersebut Rizal memberikan gambaran yang baik mengenai mengapa tajuk ditulis dengan bertele-tele. Salah satunya adalah faktor situasi politik yang berlaku di tempat media itu berada. Di Indonesia, situasi politik masa orde baru membuat sangat  mempersulit ruang gerak media. Sehingga hal ini berimbas pada gaya penulisan tajuk. Bagaimanapun dapur harus tetap mengepul. Maka mengaburkan sikap menjadi strategi untuk tetap mengepulkan asap di dapur namun tidak  menggadaikan idealisme dengan harga obral.

Maka tidak heran jika dalam Nazaruddin Najib mengakhiri polemik tentang perlu tidaknya tajuk dimuat di media dengan pernyataan berikut:

“Titik pangkal saya menyarankan agar supaya tajuk rencana tidak ada ialah karena terbata-batanya kemerdekaan pers dirasakan dewasa ini sehingga membikin tajuk overbodig, berlebih-lebihan, tak  berguna” (dalam Mallarengeng, 2010)

Pernyataan Nazaruddin tersebut memperlihatkan bahwa yang menjadi masalah bukan pada keberadaan tajuk rencana, namun pada situasi politik yang berlaku. Situasi politik yang berlaku yang mengekang kebebasan pers adalah penyakit yang mempengaruhi kesehatan isi tajuk rencana. Logo yang menggunakan warna merah itu tidak salah, namun menjadi masalah saat negara Bojong Koret mengharamkan warna merah.

Keberadaan tajuk rencana saja menimbulkan polemik. Namun dengan memandang sesuatu tidak dari satu arah saja, maka polemik tersebut bisa diminimalisir konfliknya.  Begitu pun masalah hidup. Milih-milih jodoh itu menimbulkan polemik, tapi coba lihat dari arah lain. Misalnya dari arah seorang tukang masak masakan padang.

“Kalo mau dapet rendang yang bagus itu masaknya lama, perlu kesabaran”

Terus hubungannya??

Kota Itu dan Waktu Maghrib

Waktu beranjak maghrib. Suasana kota itu masih memperlihatkan keteduhan. Kalian pasti menebak hujan baru saja turun bukan. Lalu jalan-jalan basah memantulkan cahaya lampu jalanan. Bukan –  bukan. Sore itu langit bersih. Para awan nan menawan sedang asik mengobrol santai di ufuk barat. Menutupi sinar  matahari yang akan tenggelam. Tidak ada rona merah senja. Yang ada hanya warna biru mendominasi langit. Lalu memantul ke permukaan. Warnanya membuat ego manusia terjun. Tenang sekali. Semua manusia terlihat tersenyum. Mereka tidak ingin melewatkan senja yang begitu apik. Bukan tak bisa marah atau cemberut. Tapi eman-eman rasanya melewati maghrib begini indah dengan omelan atau bahkan gerutu dalam hati.

Maghrib itu khas sekali. Kota itu seringkali membuncahkan maghrib seperti itu. Membuat orang betah berlama-lama duduk melihat langit. Membuat para maniak game yang berdekam dalam kamar sepanjang hari tergerak untuk keluar rumah. Maghrib seperti itu membuat orang tua marah karena anaknya enggan masuk rumah. Mereka lebih memilih berada di luar sampai warna biru itu berubah menjadi gelap.

Saya pun menikmati itu tapi tidak ikut tersenyum. Saya hanya bisa membayangkan saat senyum saya mengembang waktu itu, saat masih bisa menikmati maghrib di kota itu dengan mudahnya. Waktu mata saya masih menatap semua objek dalam warna yang beragam. Tidak semua memang. Kadang satu warna saja, kadang hitam-putih, kadang bahkan hitam saja. Tapi maghrib di kota itu bisa membuat warna itu kembali muncul dengan mudah.

Kota itu penuh dengan crayon alami. Saya bisa memilih warna sesuka hati. Crayon itu berserakan di alun-alun, di batas kota, di pasar, dan tempat lain. Kala mata saya hanya bisa melihat satu warna, maka saya akan pergi ke salah satu tempat itu dan saya pastikan akan ada warna tambahan di mata saya.  Mudah sekali.

Menyenangkan sekali membayangkan saya menikmati maghrib itu. Hari ini saat melewati maghrib di kota itu mata saya kembali penuh warna, tapi tidak dengan otak saya. Otak saya berwarna abu-abu. Mata ini nyaman menimati maghrib itu tapi tidak dengan otak saya. Saya berusaha keras memerintah otak agar segera sinkron dengan mata. Tapi hal itu enggan terwujud.  Saya rindu, rindu otak dan mata ini bisa sinkron.

Kota itu dan maghrib itu segera meninggalkan saya. Oh, tidak. Saya yang segera meninggalkan kota itu. Ban mobil itu terus berputar. Karet  yang melingkar di dalam mata saya sepertinya mulai afkir. Ada air yang rembas di sela-selanya. Walau begitu saya tetap berharap ban mobil itu bisa berhenti. Tak apalah otak dan mata ini tidak bisa sinkron, tapi setidaknya saya bisa membayangkan bibir saya yang mudah mengembang. Mungkin ini resikonya. Saat umur dan karakter sama tidak imbangnya dengan mata dan otak. Bayangkan saat kita harus menikmati sesuatu yang kita tidak suka. Karena penolakan kita akan hal itu membuat kita mati. Ini bukan lagi tuntutan umur, ini tuntutan perut dan tuntutan sosial.

Tuntutan-tuntutan itu datang karena manusia diberikan tuhan sebuah kemampuan. Kemampuan menganalisis, kemampuan memprediksi. Kita bisa membacanya dengan kemampuan menilai buruk atau kemampuan berprasangka buruk. Andai Tuhan tidak memberi itu kepada manusia, maka tidak akan ada tuntutan sosial macam begini. Termasuk tidak akan ada juga pekerjaan yang saya geluti ini. Tapi sampai kapan mau menuntut Tuhan, Dia benar-benar otoriter. Dia tidak bisa diatur. Bahkan sampai kita merengek-rengek menangis tujuh hari tujuh malam, Dia tetap tidak bisa diatur. Pun karena hal itu Dia disebut Tuhan. Jika dia mudah sekali berubah pikiran. Maksud saya merubah takdir, maka apa bedanya Dia dengan kita. Tahu kan galau? Tuhan itu antigalau. So, tidak ada kelakuan yang dapat bisa kita lakukan selain menerima.

Entah apa karet di dalam mata saya mulai membaik. Air nya berhenti merembas. Sekarang mata dan perasaan saya mulai tidak sinkron. Seharusnya perasaan-persaan itu terpilah. Yang satu berjalan menuju otak yang satu menuju mata. Kini keduanya lumpuh. Tak ada lagi rembas air. Sudah tidak ada lagi yang bisa rembas. Untunglah perasaan ini masih ada.

Saya masih berharap ban itu berhenti. Biarkan saya menikmati bayangan senyum mengembang di wajah saya saat menikmati maghrib itu. Setidaknya mata saya berwarna saat membayangkan itu. Dan saya semakin sadar, tampaknya saat saya bisa menikmati maghrib di kota itu, saat itu lah puncak kebahagiaan saya. Saat tidak ada tuntutan umur, tuntutan sosial, tuntutan perut. Saat mata sinkron dengan otak, perasaan sinkron dengan mata.

Catatan:

Tulisan hanya fiksi belaka. *percaya gak? Hehe.