Bapak Tua yang Memikat

Kondisi cuaca yang gak menentu (mulai nyalahin cuaca) membuat banyak gerombolan semut yang makin lincah mondar-mandir di tenggorokan saya. Gatell abisss.Praktek  menyalahkan cuaca ini jangan ditiru ya. Karena mungkin yang bikin tenggorokan gatel adalah beberapa malam kemarin saya sempat begadang. Begadang dengerin curhatan teman lama.

Kondisi tenggorokan yang gak enak itu mulai menjalar ke seluruh tubuh. Entahlah, semacam mau flu gak jadi, seluruh badan saya berasa gak enak. Perasaan suhu tubuh panas tapi enggak. Perasaan hawa dingin tapi enggak juga. Pokoknya badan jadi gak enak. Mau ngapa-ngapain males. Bawaannya pengen goler-goleran di kasur sambil kepoin instagram. Hehe.

Tapi saya harus tetap berusaha ngurangin sakitnya. Minum madu, jamu, makanin jeruk, dan berbagai cara saya lakukan. Ada efeknya tapi ga terlalu. Kebetulan, suatu malam saya ketemu seorang teman. Saya ceritakan apa yang saya rasakan. Mendengar cerita saya, teman saya langsung menyarankan saya untuk mengonsumsi jahe.

Aha!! Itu dia jawabannya, Jahe!. Walaupun tetap yang menyembuhkan adalah Allah, bukan jahe.

Saat teman saya menyarankan itu, saya berpikir kok bisa ya saya lupa. Padahal saya adalah orang yang sering menyarankan mengonsumsi jahe kepada siapa saja yang lagi terjangkit model begini. Yaaa begitulah manusia kadang lupa. dan itulah guna silaturahmi  dan teman-teman yang baik.

Saya pun mencari yang jual wedang jahe. Kebetulan tidak jauh dari rumah ada yang jual STMJ. Artinya dia pasti jual wedang jahe.

Gerobak wedang jahe ini nangkring di depan sebuah toko yang setengah tutup. Gerobaknya tidak besar. Di depan gerobaknya ditempel spanduk yang bertuliskan “STMJ” yang menutupi hampir seluruh bagian depan gerobak. Jadi si penjualnya tidak bisa terlihat dari depan.

Saya pun masuk ke working spacenya. DI atas gerobaknya tidak terdapat banyak macam alat. Ada beberapa butir telur ayam kampung, madu di botol sedang, beberapa gelas bergagang,  ciduk deri batok kelapa, dan sekaleng susu kental manis.  Working space yang sangat sederhana. Saya membatin, semudah ini jualan STMJ.

DI sana saya dilayani seorang Bapak yang usianya mungkin 50an. Berawak sedikit gemuk. Tingginya pas dengan gerobaknya. Rambut cukuran ala jaman dulu yang ga pernah mau dicukur cepak atau mohawk. Kata mbah saya, orang yang cukur gaya anak sekarang itu pada jaman dia cuma tentara doang. Mbah saya juga bilang, kalo ada orang yang cukur model begitu tapi bukan tentara bisa ditangkep. Haha. Mbah saya ini emang kreatif.

Saya langsung memesan segelas wedang jahe untuk dibawa pulang. Di sana ada seorang pelanggan yang cukup intens ngeliatin saya. Setelah sepertinya dia mengumpulkan tenaga, niat, dan keberanian akhirnya dia menyapa saya.

Singkat cerita dia adalah teman kakak saya waktu SMA. Dia terakhir liat saya mungkin waktu saya kelas 3 SD. Percakapan saya dengan dia berakhir dengan saling bertanya nama. Oh iya, pada saat saya bercakap dengan dia, si penjual wedang hanya duduk mendengarkan.  Tidak ikut bersuara. Dia baru bersuara setelah saya berucap tentang dunia yang tidak selebar daun kelor. Karena kejadian seperti ini pernah saya alami di Bandara. Saat saya dan Ibu saya akan menjemput saudara yang baru pulang umroh, seorang satpam menghampiri saya dan ibu. Dia langsung bertanya kepada Ibu saya apakah Ibu saya itu ibu dari temannya (ribet amat ya, banyak kata-kata ibunya). Temannya di sini ternyata lagi-lagi kakak saya. Satpam tersebut adalah teman kakak saya sekolah waktu masih tinggal di sebuah daerah di Sumatera.

 

Saya pun pulang dari sana. Tentu dengan berucap terima kasih. Besok malamnya saya kembali lagi ke sana. Tentunya untuk membeli wedang jahe lagi. Baru saja saya turun dan belum bicara sepatah kata pun, dia langsung menyapa dengan sedikit senyum.

“Mas, Mar. Bungkus atau minum disini?” ujar si Bapak penjual wedang dengan suara berat dan logat jawa yang kental.

Mendengar dia menyebut nama saya, saya jadi berpikir kapan saya kenalan sama si Bapak itu. Setahu saya malam yang lalu saya tidak pernah kenalan. Setelah saya telaah dengan seksama dan hati-hati (gaya anggota DPR) saya baru inget, rupanya dia curi dengar percakapan saya kemarin. Hmmmm (sudah kuduga).

Pada saat dia menyapa saya, ada semacam sinyal nyaman dan kebaikan yang saya tangkap. Begini, pernah kan kita senang mengenal seseorang. Kemudian jika seorang itu datang kita dengan penuh sumringah menyapanya. Nah, perasaan itula yang dia lemparkan kepada saya saat menyapa. Seperti seorang Mbah menyapa cucunya.

Lalu, apa yang saya rasakan? Saya merasa nyaman sekali membeli wedang jahe di situ. Saya merasa dia peduli dengan saya, pelanggannya. Menyebut nama memang membuat suatu trik komunikasi yang sudah lama dilakukan untuk mengakrabkan diri. Trik itu kadang berhasil, tapi kadang tidak. Terutama buat yang menyebut nama dengan tidak ikhlas. Keliatan dan kerasa pasti kalo apa yang dia lakukan menyimpan maksud-maksud tertentu.

Tapi, apa yang si Bapak lakukan ini beda. Pada saat dia menyebut nama saya ada pesan khusu yang tertangkap. Sebuah pesan rindu. Maksudnya rindu kedatangan saya untuk membeli sebagai motif bisnis dan rindu kedatangan saya karena saya akan membeli dagangan dia yang mana keuntungannya bisa untuk menghidupi keluarganya. Ngerti gak?  Gini, simpelnya si Bapak itu bilang begini:

“Alhamdulillah Mas Mar datang. Hari ini dagangan saya laku. Artinya saya bisa kasih makan untuk keluarga saya. Secara tidak langsung kedatangan mas Mar membuat keluarga saya bisa makan. Terima kasih, Mas”

Jadi, si Bapak itu merasa kedatangan kita sebagai sebuah bala bantuan untuk menghidupi keluarganya. Sehingga Ia sangat senang dan ikhlas melayani kita. Tidak seperti pedagang lain yang sepertinya butuh tidak butuh dengan pelanggannya.

Hikmahnya, kesederhanaan itu memang membuat segalanya jadi indah. Bapak itu dagang dengan sederhana dan dengan tujuan sederhana, memenuhi kewajiban sebagai suami menghidupi keluarganya. Ia tidak berniat beli Harley, kamera mirrorless, dari hasil keuntungannya.

Hikmah yang lain adalah, memang personal itu more selling then corporations. Saya tidak peduli dengan bentuk gerobak, penataan tempat duduk atau bahkan nama dari usaha STMJ si Bapak itu. Asal dan karena tahu yang jual saya In syaa Allah membelinya. Sekalipun ia mengganti nama usahanya dan bentuk gerobaknya.

Gak heran kan kalo kita kadang pernah mengejar seseorang sampai ke daerah lain hanya karena cocok. Contohnya tukang pijet. Banyak tukang pijet yang skill-nya sama tapi kita tetap memburu tukang pijet langganan karena hanya satu kata, cocok.  Dan itulah salah satu keistimewaan gaya jualan ala timur. Menjadikan kesederhanaan dan keramahan sebagai alasan tertinggi keputusan membeli.

Para Penyuka Hujan

Tidak semua orang suka dengan hujan. Beberapa orang malah menggerutu jika hujan turun. Padahal hujan adalah berkah.  Saya teringat kata-kata teman saya sang penangkap air hujan. Beliau adalah pegiat lingkungan hidup yang sedang fokus menangkap air hujan dengan membuat banyak lubang biopori dan mengajarkan ke orang-orang di lingkungan dia.

Dia pernah bilang banyak orang mengeluh saat hujan turun karena ketakutan banjir melanda. Selain orang awam, aparat pemerintah juga sama. Kalo jakarta banjir pasti yang disalahkan curah hujan. Padahal menurut dia yang salah itu manusianya yang tidak bisa menggunakan air hujan dengan bijak. Well, sampai saat ini saya setuju dengan pendapat dia.

Berbeda lagi dengan sebagian orang yang saya panggil dengan sebutan para penyuka hujan. Mereka adalah orang yang senang dan mendapat kebahagiaan saat hujan turun. Buat saya, mereka, para penyuka hujan adalah orang diberikan Tuhan kenikmatan luar biasa.Saat hujan turun mereka akan dihinggapi sebuah perasaan yang sulit untuk dideskripsikan. Sebuah perasaan nyaman, tenang, relaks. Walopun diawal biasanya mereka juga mengeluh dalam hati tapi kelamaan mereka bisa menikmati hujan dengan relaks.

dsc_0796

Sehabis Hujan di Thirty Three Brew Surabaya

Selain perasaan yang hinggap, saat melihat titik air hujan jatuh membentur bumi atau saat melihat begitu banyaknya air yang turun di langit, ada semacam pikiran yang mengawang terbang.  Anehnya pikiran itu secara otomatis terset dalam kondisi yang menyenangkan dan menenangkan. Seruwet apapun masalah yang dihadapi,  saat hujan turun otak ini seolah enggan diajak berpikir keras dan njilmet.

Beberapa juga ada yang teringat masa lalu saat hujan turun. Ada beberapa orang yang beruntung mendapati momen-momen bahagianya selalu ditemani hujan. Belum lagi momen tersebut terselip sebuah soundtrack. Sehingga momen tersebut sangat melekat di pikiran. Momen itu tersimpan terus dan menunggu untuk di-callback saat hujan dan soundtrack itu berputar. Itu memang masa lalu namun tidak bisa dipungkiri dan tidak bisa dibohongi bahwa saat itu lah kita sedang dalam kondisi paling nyaman dan paling bahagia. Gak heran kalo masa lalu itu tersimpan terus.

Dalam salah satu lagu musical Laskar Pelangi ada lirik seperti ini:

Hmmm.. aku suka sekali bau hujan

Mengapa bau hujan bisa wangi ya?

(sing)

Sumber bau harum dari minyak aksiri

Diproduksi tumbuhan kemudian diserap

Oleh bebatuan dan tanah lalu dilepas keudara

Pada saat hujan turun.. Oooh..

Hujan secara ilimiah memang membawa rasa nyaman. Makanya saya bilang beruntung orang yang bisa menikmati hujan. Artinya orang itu dipersilakan tuhan untuk menikmati karyanya yang ajaib. Tidak heran jika banyak artis yang memakai kata-kata hujan sebagai liriknya. Dan, semua lagunya yang memakai hujan sebagai tema adalah lagu yang memang cocok didengar saat hujan. Contohnya Efek Rumah Kaca menggunakan hujan dalam dua lagunya, Desember dan Hujan Jangan Marah. Hujan itu jika diibaratkan dengan bumbu adalah garam. Hujan memiliki pengaruh signifikan untuk setiap momen. Momen-momen yang kita lalui akan semakin terekam dan teringat ketika hujan turun.

dsc_0789

Selagi Hujan di Thirty Three Brew Soerabaja

Kembali, mereka para penyuka hujan biasanya akan memfokuskan melihat titik air saat menghantam bumi, atau saat titik air di jendela, atau jalanan yang basah. Mereka tidak melakukan apa-apa hanya melihat dan terdiam. Menikmati dan meresapi cuaca sejuknya, suara rintiknya, dan bau tanah yang tersiram air hujan. Menerawang tentang sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan namun hanya bisa dirasakan, menenangkan…

*mohon maaf kalo alurnya agak ga jelas.

Jadi, Mau yg Gimana?

“Jadi, Mau yg Gimana?” adalah pertanyaan seorang teman yang umurnya lebih tua dari saya. Katakanlah paruh baya. Tapi dia teman.  Dia adalah salah satu teman yang seringkali menggambarkan tentang bagaimana enaknya menikah. Bukan enak yang macem-macem ya. Tapi enak dalam artian menikah membuat menjalani hidup jauh terasa lebih mudah dan lebih hidup. Inget selogan rokok, bikin hidup jadi hidup.

Saya yang ditanya seperti itu cuma bisa diam. Bukan tidak punya jawaban tapi bingung mau mulai menjawabnya dari mana. Sebenarnya  jawaban laki-laki tentang wanita idaman semua sama. Tapi semua itu Cuma keinginan. Kenyataannya jodoh itu Tuhan  yang ngatur.

Jawabannya sebenarnya Saya terbuka dengan siapa pun wanita yang memang ditentukan Tuhan jadi jodoh saya. Terus kok kenapa sulit banget kayaknya. Sebetulnya tidak sulit Cuma saya dalam keadaan yang membuat saya ada dalam posisi penuh pertimbangan.

Satu, Ibu saya sudah ditinggal suaminya dan sudah semakin menua. Tentu seorang Ibu memiliki persaan tersendiri terhadap pasangan anaknya. Saya ingin pasangan saya nanti bisa berbaur bahkan menjadi teman ibu saya. Saya ingin keberadaan istri saya nanti menjadi kebahagaiaan buat ibu saya. Terlebih melihat kondisi beliau, agak berat bagi saya untuk berpisah rumah dengan beliau.  Walaupun jujur saat berumah tangga saya tidak ingin menyatu dengan keluarga manapun. Itu jika kondisi finansial memadai. Hehe

Lalu, ada ponakan saya yang baru dintinggal ibunya. Ibunya itu kakak kandung saya. Ponakan saya masih smp dan sd. Masih dalam umur-umur yang membutuhkan perhatian. Saya sebagai paman setidaknya memiliki kewajiban untuk memantau mereka. Namun saya kurang cekatan dalam bergaul dengan anak-anaka. Nah makanya saya ingin sekali punya istri yang bisa berbaur dengan anak-anak. Gimana ya? Contoh singkatnya, saya ingin istri yang kalo dia dateng ke rumah ponakan saya, mereka merasa senang.

Memang tidak semua yang Kita inginkan menjadi kenyataan. Saya juga tidak ngoyo untuk mencari yang dapat memenuhi semua keinginan. Kalo pun tidak mendapatkan yang seperti itu ya mau gimana lagi. Yang terpenting dia berjodoh dengan saya. Terus jadi yang seperti apa? Cari yang jodoh.

Sekali lagi saya terbuka-terbuka saja. Karena permit-nya sudah terbuka.  Cuma jadi agak lucu saja, saat saya masih tidak banyak pertimbangan, saat ayah dan kakak saya masih hidup, kriteria jodoh saya terbatas. Sekarang saat tidak ada batasan memilih jodoh, pertimbangannya sudah banyak. Yaa mau gimana lagi, cuma  sayang  aja “dulu” permit-nya terbatas. Tapi sudah lah saya cuma bisa heran dan amaze, hidup itu benar-benar unik cara kerjanya.

Oya saran saya, bagi yang masih jomblo dan masih punya orang tua lengkap, nikah dah buru-buru karena nanti jika sudah tidak ada salah satunya terutama Ibu akan timbul banyak pertimbangan.

“Ah itu mah lo aja terlalu lebay?”

Oke lah, let say saya emang lebay. Tapi coba dah tanya yang senasib seperti saya. Walaupun akhirnya nikah juga pasti terbesit pertimbangan-pertimbangan seperti saya.

Riziq Minallah (Rezeki Datangnya dari Allah)

Riziq Minallah (Rezeki Datangnya dari Allah)

gambar: pinjem dari http://hidayahzolkiffly.blogspot.com/

Frasa Riziq Minallah adalah hal yang tidak asing bagi saya dan orang lain berketurunan arab khusunya Yaman  di Indonesia. Frasa ini seringkali diucapkan saat kami mendapatkan nikmat. Misalnya, beli mobil, beli rumah, usaha sukses, dapet penghargaan dari perusahaan dan lainnya. Contoh:

Seorang bernama Jamal datang ke acara kondangan (resepsi pernikahan) menggunakan mobil baru. Saat selesai memarkir mobilnya, Jamal bertemu dengan Hasan dan terjadilah percakapan.

Hasan: Wah…!!! mobil baru nih, Mal!

Jamal     : Alhamdulillah, Riziq Minallah..

Contoh 2:

Jamal datang ke toko hasan yang lagi hectic banget sama costumer. Dan terjadilah percakapan:

Jamal     : MasyaAllah, toko ente rame ya, San!

Hasan    : Riziq Minallah..

Saat saya masih kecil, kata-kata ini seringkali saya dengar dari Ayah saya saat ia bertemu teman-temannya. Dulu, saat saya bertanya tentang arti Riziq Minallah, Ayah Cuma menjawab bahwa jawaban itu adalah jawaban yang bagus yang diajarkan kakek saya. Intinya kata-kata itu gak jauh sama Alhamdulillah. Ayah saya menjelaskan sebatas itu saja. Tidak menjelaskan filosofinya.

Setelah besar dan bertemu banyak orang yang mengerti dalam berbagai hal terutama agama, saya baru tahu apa filosofi Riziq Minallah.

Menurut orang yang ngerti agama itu, manusia itu sebenarnya hidup dalam keadaan miskin.  Kemudian Allah lah yang membuat kita kaya lewat rezeki yang diberikan. Pada dasarnya, saat kita membeli sesuatu sebenarnya kita membeli menggunakan uang Allah. Artinya rezeki yang Allah berikan.

Ucapan Riziq Minallah adalah ucapan yang agung. Ucapan itu sebagai bentuk pengakuan bahwa mobil yang baru dan usaha yang lancar adalah semata-mata datang atau diberikan oleh Allah.  Ucapan itu adalah bentuk pengakuan bahwa kami ini orang kecil dan lemah yang tanpa izin dari Allah kami tidak bisa berbuat apa-apa.  Ucapan itu adalah alternatif untuk menurunkan kadar riya dan kesombongan. Dan, yang terpenting adalah ucapan itu sebagai bentuk akidah paling tinggi. Bahwa segala yang miliki di dunia ini sejatinya milik Allah. Seperti ucapan Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun. Segala sesuatu adalah milik Allah dan kembali ke Allah.

Hasilnya, saya seneng lahir dalam keluarga keturunan yang punya budaya yang begitu agung. Walaupun ada beberapa budaya yang masih gak masuk di hati, seperti budaya dalam perjodohan tetapi saya tetap salut dengan budaya mengucapkan Riziq Minallah. Kata-kata singkat tetapi dalam makna.

Terakhir, saya bingung dengan teman-teman yang skeptis dengan  Arab dan budayanya. Kalo memang budaya itu baik, kenapa ditentang?! Iya gak?!

Orang Jakarta di Mata Orang Jawa

Orang Jakarta di Mata Orang Jawa

Gak kerasa, baru kemarin (03/04) saya melakukan perjalanan ke Jogja dan Solo. Perjalanan dalam rangka kerja dan cari inspirasi. Perjalanan yang harus ditempuh selama 15 jam membuat struktur tulang-belulang bergeser, mungkin, 0,5 mm dari tempatnya. Maklum, perjalanan kali ini saya lakuka dengan membawa mobil pribadi. Menggunakan kendaraan minibus, tepatnya Kijang Kapsul seri LGX bensin yang sukses menguras kocek bensin setara tiket pesawat, yakni Rp. 450.000. Tapi berapa pun kocek yang harus keluar, karena perjalanan dilakukan bareng-bareng tetap jadi seru.

Keseruan lain adalah saat kami berhenti di alun-alun kota Berebes. Di kota yang terkenal denga telor asin dan bawang ini saya beristirahat sambil menyeruput sajian khas di sana, teh poci. Sajian teh di dalam poci yang kita tuangkan sendiri ke cangkir kecil berisi gula batu sebagai pemanis ini punya harga yang gak masuk akal. Bukan tentang mahalnya saja tapi tentang pengaturan harganya. Sepoci teh dengan dua cangkir kosong berisi gula batu dihargai Rp. 14.000. Nah, pas saya tanya berapa harga satu teh poci, eh si penjual menjawab harga diatur per cangkir. Satu cangkir seharga 7.000 perak. Hah?! Saya jadi geleng-geleng sendiri. Idealnya, satu poci teh plus satu cangkir kosong dihargai 10.000. Kemudian cangkir berikutnya dihargai 3000 perak. Dengan perhitungan seperti ini harga terlihat masuk akal, karena satu poci teh secara logika visual lebih besar ketimbang cangkir. Dengan harga yang si mas jual, logika saya masih gak bisa jalan. Berarti kalo saya pesen cangkir 4 buah, saya harus membayar Rp 28.000 untuk sepoci teh. Harga yang fantastis untuk sepoci teh yang isinya Cuma daun teh sama air panas.

alun-alun kota berebes. Gambar pinjem dari: http://andinibrebes.blogspot.com/2010/04/brebes-malam-hari.html

Harga-harga fantastis untuk benda sepele memang sering terjadi di kawasan wisata. Bahasa kasarnya “ngegetok harga”. Karena lihat yang beli mobilnya pelat B, wajarlah kalo dikasih harga agak tinggi. Para wisatawan pun tampaknya memang ikhlas bin pasrah dengan harga yang digetok. Alasannya Cuma satu, “yah, sekali-kali. Gak tiap hari ini. Itung-itung bagi-bagi rejeki”. Maka dari itu, saya yakini pada saat itu saya lagi digetok harga. Saya pun sama seperti wisatawan lain, “yah, sekali-kali. Gak tiap hari ini. Itung-itung bagi-bagi rejeki”. Tapi, ada satu hal yang bikin saya gak ikhlas. Pada saat saya pertama kali memesan dan mulai obrolan basa-basi, “buka sampe jam berapa?” dan obrolan lain, si penjual mulai kepo dengan status saya. Jalan-jalan kah atau kerja kah, dari mana kah, dan lainnya. Setelah dia mengetahui status saya sebagai orang jakarta,  si penjual pun mulai ceramah tentang orang jawa tengah yang apik-apik.

“kalo orang jawa tengah mah kalo mas tanya pasti dikasi tahu yang bener. Kalo orang Jakarta mah, kalo kita nanya disasarin,” kata si Penjual.

Dan ada seabrek aib orang Jakarta yang dia lontarkan. Termasuk cerita dia dipalak, duit abis, ditolong orang, yang nolong orang jawa, dia dikasih makan, terus dikasih ongkos pulang, dan diujung cerita dia bilang kalo Jakarta itu kota kejam. Dia lebih memilih hidup kota kelahirannya yang menurut dia lebih bersahabat. Persis seperti film Alm Benyamin S yang episode sepatu yang bawa sial. Yang di film itu terkenal lagu “eh, abang pulang bakul nasi goyang-goyang” dan seterusnya.

Buat saya yang lahir di Jakarta, saya gak terima kalo orang yang tinggal di Jakarta dinilai gak punya itikad baik. Jakarta memang tidak nyaman untuk hidup, bagi saya. Tapi tidak berarti orag Jakarta tidak baik. Saya kok malah cenderung menilai si Penjual dengan dua hal. Pertama, dia looser. Gak kuat hidup di bawah tekanan. Kedua, itu gimmick marketting. Dengan cerita sedih dan menyedihkan itu dia berharap kami gak keberatan bayar lebih barang dagangnnya, karena satu, kami kasihan atau berempati dengan nasibnya. Dua, kami membayar harga lebih karena kekejaman kami, orang Jakarta, yang pernah malak dia.

Hmmm…. Logika si penjual emang gak jalan. Harusnya kalo mau ngegetok harga, kita sebagai pembeli dibaik-baik-in. Ini sih udah diomongin, digetok pulak.  Nah kita yang beli mau-mau aja bayar. Yaa.. mungkin kami sedang lelah.

Hai Kamu..

Hai Kamu.

Hai kamu.. Iya. Kamu. Kamu yang entah ada di mana. Kamu yang entah kapan datang. Kamu yang entah kapan tak sengaja bertemu. Kamu yang entah sudah bertemu namun pura-pura tidak tahu. Di mana pun kamu, jelasnya saya belum bertemu kamu.

Entah saya yang kurang gigih mencari atau kamu yang bersembunyi sepenuh hati.

Kamu yang entah di mana saya akan menemukanmu. Entah di sini, atau di sana di tempat hidup yang mulai abadi.

Mungkin saya terlalu hati-hati sehingga kamu sulit untuk dicari. Tidak. Saya tidak hati-hati.Tapi ada hal yang memiliki nama serupa. Dia memiliki syarat yang tidak bisa saya cerna denga akal. Dia memang akan selalu kontra denga akal, tapi saya tak mengapa mengikuti dia kali ini. Karena memang untuk hal ini dia adalah penentu. Ya. Masalah persaan itu buka domain akal. Tahu kan area siapa itu?

Siapapun kamu, kamu adalah orang yang mampu menaklukan sang pemilik domain perasaan. Seperti apa kamu, dia tidak bisa mendekripsikan karena hati tidak seperti akal. Tidak bisa berpikir logis. Hati tidak tahu seperti apa kamu, hobi apa, seperti apa wajah kamu, dari keluarga mana, kerja di mana, dan pertanyaan lain tentang kamu. Hati hanya tahu kamu adalah orang yang bisa meluruhkanya dengan berbagai sisi baik mu.
Tidak ada kriteria, tidak ada syarat. Hati memilih dengan caranya.
Siapapun kamu, saya yakin kamu ada. Saya yakin kamu pun mencari saya. Atau kamu sudah bertemu namun tidak melihat saya.
Siapapun kamu, saya berdoa dan berharap bisa bertemu di sini. Di dunia ini. Menikmati hidup layaknya manusia biasa. Menghadapai masalah layaknya manusia biasa.
Hai kamu.. Baik-baik di sana. Di mana pun kamu berada.

Bandung-Semarang

Bandung-Semarang

Dua kota yang dulu saya tidak pernah berpikir bisa merasakan hidup di sana. Namun berpikir untuk menjelajah kota tesebut ada. Bersyukur karena Tuhan Yang Maha Baik sudah menakdirkan saya bisa menikmati hidup di dua kota itu.

Keduanya punya keunikan masing-masing. Semarang itu kota yang menyenangkan karena banyak tempat bersejarah. Buat saya yang suka segala hal berbau antik dan jadul, Semarang itu menyenangkan. Ada berbagai tempat nongkrong dan tempat makan yang erat kaitannya sama jaman kolonial dulu. Ada Tugu Muda dengan latar Lawang Semu, ada gereja Belenduk, ada IBC (ikan Bakar Cianjur) yang memakai bangunan lama di daerah kota tua, ada brux the bistro yang menggunakan rumah jaman dulu di kawasan jalan rinjani. Kawasan rinjani ini ada di dataran tinggi, sehingga dari sini bisa melihat gemerlap lampu kota Semarang.

Satu hal yang saya suka dari Semarang, kontur kota Semarang seperti Kota Lampung, berundak-undak. Sehingga kita mudah menemui spot asik untuk nongkrong melihat keriuhan di kota. Spot yang paling saya suka di Semarang adalah kalo jalan dari Tembalang menuju ke Undip bawah yaitu daerah Gombel dan jalan Diponegoro yang meliuk-liuk yang di kanan-kiri nya tersebar banyak bangunan rumah belanda. Dan satu lagi, Semawis. Semawis adalah singkatan dari Semarang Wisata. Semawis adalah jalananan yang disulap jadi pusat kuliner kaki lima. Uniknya, jalan yang dipakai adalah jalana yang berada di pecinan. Sayang foto-foto saya waktu di Semarang banyak yang hilang.

Semawis Sumber Foto: tilulas.com

Bandung itu kota yang penuh pengalaman. Ada banyak aktivitas di kota ini. Di kota ini menurut saya ada banyak orang yang memiliki kesenanga aneh dan mereka berkumpul. Jadi, hobi yang awalnya terlihat aneh menjadi unik karena ternyata banyak peminatnya. Di kota ini saya tahu musik Shoegaze jadi ada selalu dalam playlist. Saya tahu skinhad, britpop, gank motor, bobotoh, dan lain-lain di kota ini. Tidak hanya itu, saya pun tahu istilah Gigs dari kota ini. Maka saya kadang menjuluki Bandung itu New York-nya Indonesia. Segala macam komunitas dari yang “benar” sampe “enggak bener” ada di situ dan mereka saling tahu dan saling maklum sehingga semua terkesan bebas.

Bandung dan Semarang memang penuh kesan. Punya banyak cerita. Tapi cerita itu gak bisa tercipta kalo enggak melewati hal-hal yang biasa saja.

____

Akhir-akhir ini orang rumah sudah jarang di rumah. Rumah berkamar 5 ini sudah seperti bangunan kost. Tidak ada maka bersama, tidak ada keluar bersama, konsumsi air masing-masing. Kalaupun penduduknya datang biasanya sibuk di kamar masing-masing. Kalo jam waktu makan, paling titip-titipan makanan.

Kondisi tersebut membuat saya inget jama kost. Terutama jaman tinggal di Bandung. Kondisinya hampir mirip. Saya tinggal di rumah kakak dan keluarga kecilnya yang kalo pulang kampung ke Jakarta bisa sebulan. Sama seperti sekarang, kalo kondisi rumah lengkap masalah makan bukan persoalan. Sudah tersedia, sudah ada yang masak, dan yang pasti sudah ada yang beliin. Hehe. Tapi kalo kondisi sepi, mau gak mau kembali jadi anak kost.

Kemarin saat saya ke mini market, saya melihat nuget. Makanan yang pernah menemani waktu masih ngekost.

Bandung dan Semarang adalah dua kota yang tinggal di masa yang sama, masa kuliah. Dengan status anak kuliah otomatis masalah financial pun mepet. Saya harus berputar otak untuk bisa hidup di Bandung dan tetap bisa berkunjung ke semarang. Karena tanpa penghasilan tambahan maka agar yang nge-pas tersebut bisa ada selisih diperlukan usaha pengurangan konsumsi. Baik itu konsumsi nongkrong dan konsumsi makan.

Yang paling seru adalah saat mengurangi konsumsi makan. Saya tetap makan 3 kali sehari namun saya hanya beli makan untuk satu kali makan. Saya inget saat beli rendang dan soto ayam yang harus saya bagi tiga bagian. Satu bagian untuk masing-masing waktu makan. Bagi saya saat itu yang penting makan nasi. Misalnya, hari Senin saya beli rendang dan kuah ayam seharga 7ribu perak. Nasi masak sendiri. Beli rendang jam 10 dimakannya jam 12, jam 4 sore menjelang kuliah dan sepulang kuliah.Begitu pun yang terjadi pada soto ayam.

Kadang saya juga suka memanjakan lidah dengan makan ayam goreng atau sate ayam. Untuk sate ayam saya membaginya menjadi tiga bagian juga. Tiga tusuk buat makan malam, empat tusuk buat makan pagi, tiga tusuk buat makan siang. Nanti makan malam setelah sampai kampus sekitar jam 7. Proses ini saya lakukan jika saya mau makan enak di kampus sembari nongkrong sama teman-teman.

Semua makan tersebut bisa bertahan dengan teknik pendinginan dan pemanasan. Hehe. Jadi setiap selesai makan langsung masuk kulkas. Nanti kalo mau dimakan lagi baru dihangatkan.

Yang paling geli itu kalo uda menu nuget. Sebungkus nuget itu saya jatah perhari 3 nuget untuk satu kali makan. Makannya ya Cuma nasi, nuget sama saos biar ada rasaya. Kadang saya bikin nuget asam manis. Tumis bawang putih (kebetulan kalo bumbu dapur selalu disediakan), masukan saos tomat, masukan sedikit air, terus masukan nuget dalam potonga dadu yang uda digoreng sebelumnya. Dengan teknik itu, satu bungkus nuget itu bisa dikonsumsi 1,5 – 2 hari. Kegelian saat makan nuget itu terjadi pada saat perut dan mulut masih pengen ngunyah tapi jatah nuget untuk makan kali itu sudah habis. Rasanya ingin nambah satu lagi, tapi inget jatah. Jadinya, untuk nambah satu nuget itu rasaya seperti mau nambah istri lagi (padahal satu aja belum), penuh pertimbangan.

Over all, saya bersykur banget pernah melewati masa-masa itu. Masa-masa yang melahirkan cerita, masa-masa yang penuh kesan, masa-masa yang menambah warna dalam hidup saya, masa-masa yang penuh pelajaran. Masa-masa yang melahirka kenangan. Masa-masa yang penuh pengalaman. Mungkin tidak menyenangkan saat harus mengatur konsumsi, tapi pengalaman hidup di dua kota itu lunas membayarnya. Pengalaman hidup di dua kota itu selalu menyenangkan.