Indienesia

Selain novel yang mulai berteman, kini musik juga sudah memulainya. Jarang tapi saya cukup menikmatinya. Musik menemani saya khusunya pada saat saya bekerja. Selain waktu itu, saya jarang mendengarkannya.

Tisak sengaja saya mendownload aplikasi Spotify karena dapet bonusan dari paket data. Di halaman utama aplikasi itu ada beberapa pilihan playlist yang mencoba mengakomodir mood kita. Ada ada kilas balik, putus cinta, calm vibe, music asyik 2000, evening acoustic, dan playlist lainnya. Ada satu playlist yang menarik hati saya. Saya klik dan saya dengarkan.

(saya ga diendorse Spotify)

Playlist itu berisi lagu-lagu yang membawa kita memutar berbagai  film kehidupan yang pernah kita lalui. Lagu yang bertabur kunci-kunci minor. Lagu yang cocok dipakai menjadi backsound film-film perjalnan atau film yang bercerita tentang kehidupan. Lagu yang liriknya dipilih dengan seksama yang menyoal cinta dan kehidupan dari sisi lain. Bukan lagu mainstream yang sering kita dengar di radio atau televisi. Nama playlist itu adalah Indinesia.

Lagu-lagu itu lagi-lagi membawa saya untuk memutar film saya ketika di Bandung. Saya pernah juga menggambarkan bandung versi saya di tulisan saya yang lalu. Bandung adalah momen di mana saya berkenalan lagu-lagu Indie. Yang kalo kata kakak saya lagu ga jelas. Memang, sekilas terdengar tidak jelas tapi telinga saya nyaman mendengarnya. Awal mendengar lagu-lagu indie saya seperti berkata: “nah, ini yang saya cari”

Saya mengawali mengenal lagu-lagu indie dimulai dengan ERK, Sore, Float, L’alphalpha, The Milo, Endah Rhesa, Adhitya Sofyan. Sebenarnya waktu di Jogja saya mengenal juga Mocca. Namun di Bandung saya mengenal lebih banyak. Makin kesini semakin banyak lagu-lagu indie yang enak didengar, macam Semenjana, Fletch, Banda Neira, Fourtwnty, dan lainnya. Semuat itu terangkum di palyist Indienesia.

(Sekali lagi, saya tidak diendorse Spotify)

Lagu-lagu indie menurut saya lebih cocok menjadi backsound film. Lagu-lagu indie itu menghadirkan suasana yang berbeda. Membawa kita ke suasana yang tidak bisa yang sepertinya asik untuk dilewati. Suasana yang membuat mood kita menjadi lebih cerah. Tidak menjadi mood booster tapi juga tidak membuat kita baper maksimal.

Susah sebenarnya menjelaskan perasaan yang hadir saat mendengar lagu-lagu itu. Coba lah dengarkan R14-nya Sore, Menjemput Pagi-nya Fia & Duta Pamungkas, Hujan di Mimpinya-nya Banda Neira, atau yang agak poluler Sesuatu di Yogyakarta-nya Adhitya Sofyan.

Oh iya salah satu yang membuat lagu indie menjadi menarik adalah cara mereka memilih judul. Judulnya menarik dan menantang untuk didengarkan. Seperti Rebahan-nya Bin Idris, Bandara Terbesar di Tokyo-nya Semenjana, Bila Bulan Tak Hadir-nya Matter Halo, dan banyak judul lain yang menarik. Dan lagi, mereka dalam liriknya sering menawarkan cerita-cerita lain. Tidak cinta melulu. Walaupun cinta, tapi dipotret dari sisi yang tidak biasa.

Jadi saat ini lengkap sudah. Setelah novel dilan yang membawa saya terbang lagi ke Bandung, kini musik-musik indie memperkuatnya. Satu jalan dan dua tempat yang kuat terbayang saat mendengar petikan solo gitar atau denting piano, kunci-kunci yang tidak biasa, dan lirik-lirik yang menggeltik dari musik Indie adalah, Wiki Koffie,  Toko You dan Jalan menuju toko itu yang basah sehabis hujan.

stock-photo-blur-night-cityscape-the-ancient-center-of-the-city-at-night-after-rain-night-urban-street-with-496865632

Ilustrasi Jalan Menuju Toko You

Tidak ada cinta, kegalauan, atau keseruan yang tertinggal di sana. Hanya sebuah tempat dan jalan di mana saya, merasa, dapat menikmati Bandung yang sejuk berteman riuh rendahnya suara daun dari pohon-pohon besar dan tua disekitar jalan itu yang bergesekan tertiup angin.

Dan sebuah tempat untuk menikmati Bandung dengan kopi di dalam bangunan kolonial. Menikmati udaranya, mengamati aktivitas mereka, menikmati logat sunda yang terlempar dari obrolan mereka beserta fashion-nya, dan membiarkan mata menerawang ke jalan paling ekostis di kota Bandung.

picture5

pinjem dari: http://awangesti.blogspot.co.id/2014/06/foodspot-10-wiki-koffie.html

BTW, setelah saya tahu ternyata Dilan dan Milea tidak menikah. Maka dengan ini saya putuskan untuk tidak ingin benar-benar menjadi Dilan seutuhnya. Saya mau jadi Mas Herdi karena saya ingin menikahi Milea-nya saya – semoga Allah Yang Maha Rahman Meridhoi –  yang sedang temporary inactive. Tapi saya juga tetap mau jadi Dilan yang selalu mendapat porsi lebih di hati Milea.  *Urik! :p

Advertisements

Novel Mulai Mau Berteman Lagi

Sebelum membaca tulisan ini, Anda boleh dengarkan lagu Adhitya Sofyan yang Sesuatu di Yogyakarta. Atau Bersenjagurau, atau Sampai jadi Debu, atau Tiga Pagi.

Saya baru saja membereskan membaca novel Dilan. Norak ya?! Padahal udah dari kapan-kapan nge-hits tapi baru dibaca sekarang. Oke, biar gak terlalu norak saya mau bikin pembenaran atau.. ah ga tau apa itu namanya tapi yang jelas begini:

Saya itu sudah familiar dengan karya Pidi Baiq dari jaman sejak pindah ke Bandung. Saya berkenalan dengan Pidi Baiq (biar keliatan akrab) berawal dari The Panas Dalam. Perkenalan saya berlanjut dengan membaca buku-bukunya. Drunken monster dan lain-lain yang sebenernya saya sendiri ga pernah baca bukunya. Saya beli tapi saya ga baca. 

Cukup. Cukup saya membuat pembenaran.

Beberapa bulan ini saya mulai akrab lagi dengan novel. Dulu pernah akrab tapi karena dia pernah bikin masalah, saya jadi musuhan dengan novel. Sekarang sudah baikan lagi.

Beberapa minggu ini saya sudah menghabiskan 3 novel. Lumayan tebal. Yang terakhir novel Dilan yang baru saja selesai saya baca. Tahu apa yang saya rasakan setelah membaca novel-novel tersebut? Nah ini sebenarnya yang saya mau bahas.

Sudah 3 novel saya baca dan sudah 3 kali saya merasakan hal yang sama. Saat saya akan segera selesai membaca setiap novel saya merasa seperti liburan seru bareng teman yang akan segera berakhir. Senang tapi ada perasaan bgmn yaa.. Kalo tidak salah saya pernah menulisnya di blog ini tentang waktu maghrib setelah jalan-jalan.

Apapun, perasaan itu adalah perasaan tidak terlalu mengenakkan. Lebaynya: seprti sepi mulai menempel di ujung kaki. Semakin halaman demi halaman dibuka, sepi itu semakin menjalar manuju kepala. Saya merasakan sepi berjalan dari ujung jari kaki, melwati betis, naik ke perut, kemudian ke ulu hati. Di ulu hati yang paling menyengat terasa.  Sampai akhirnya dia naik ke dada dan sampai lah dia ke kepala berbarengan dengan habisnya halaman novel terebut. Dan  di situ juga akal kita seolah menepuk-nepuk pipi. Dia bilang: sadar woy! Mungkin kykanya elo emang kesepian deh.

Begitu kurang lebihnya kalo dari sisi lebay. Tapi yang mau saya katakan adalah novel kini menjadi teman saya. Saat novel itu habis saya merasa kehilangan teman. Mungkin kamu yang baca ini  melihat saya seperti kesepian. Kalo memang seperti itu, kamu salah besar. Saya tinggal dan hidup di tengah keluaga yang hangat tapi  memang saya suka mengeksplorasi sisi lain dari diri saya.  Ngerti gak?! Gini  perhatikan paragraf berikut:

Kamu tau Glen Fredly? Kalo ga tau berarti kamu ga asik. Lanjut aja ke paragraf di bawah ini. Kamu pikir mentang-mentang Glen sering nyiptain lagu galau terus seluruh hidupnya galau terus. Ya kagak lah. Hidup Glen bahagia (kayaknya). Dia punya banyak teman, banyak kerjaan, banyak karya, banyak manggung. Tapi memang dia suka menggali sisi mellownya dia. Paham kan sekarang.

Saya lebih senang bercerita dan mendengarkan cerita ketimbang membaca. Tapi sekarang, tak ada telinga yang mau mendengar cerita saya. Tak ada juga cerita yang bisa saya dengar.

Lah! Katanya tinggal di keluarga yang hangat? Kok ga punya telinga?

Kamu yang bertanya itu pasti yang ga tau Glen Fredly. Gini, bukan telinga asal telinga, bukan cerita sembarang cerita. Yang saya mau dengar itu cerita dari Milea. Dan telinga yang saya butuhkan itu telinganya Milea. Milea-nya saya.

Milea saya sekarang lagi Temporary Inactive. Akibatnya jadi lah saya sekarang memilih untuk bercerita ke telinga saya sendiri. Dan otomatis telinga saya hanya mendengar cerita dari mulut saya. Ceritanya ya yang ada di novel itu.

Oh iya biar ada gambarnya, sekarang saya punya tempat baca novel baru. Bisa sambil ngopi plus bisa liat sungai. Asyik kan. Ini tempatnya.

By The Way, sebenarnya saya sedikit malu. Di umur yang tidak remaja lagi ini masih saja (kadang) curhat lewat tulisan. Macam ABG yang nulis diary. Biarlah. Anda anggap saja masa remaja saya kurang bahagia. Santai saja..

Emergency Call

Kita selalu punya emergency call kita sendiri. Seseorang yang kita datangi atau hubungi hanya disaat pundak dan kepala kita terbebani dengan berat yang sepertinya kita tidak sanggup untuk memikulnya.

emergencycall-300x200

Sebenarnya bukan kita tidak sanggup memikulnya, bukankah Allah sudah memberi cap paten bahwa manusia akan senantiasa bisa menghadapi masalahnya. Tetapi memilih mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu adalah yang membuat beban makin besar dan menumpuk. Semua terasa penting untuk diselesaikan.

Saat sudah memilih mana yang harus diselesaikan tidak serta merta masalah menjadi berkurang. Barang tentu masalah berikutnya yang harus diselesaikan tetap terpikirkan. Saat itulah kita mulai merasa bahwa sepertinya masalah tidak kunjung usai.  Saat itu juga kita butuh siraman air sejuk yang membuat langkah menjadi lebih mantap dan pikiran menjadi lebih tenang. Di saat itu kita butuh emergency call.

Kita selalu memiliki seseorang yang kita datangi untuk memberikan guyuran air itu. Orang itu memang aneh. Dia selalu punya cara membuat kita menjadi teduh. Dia juga selalu tidak pernah keberatan untuk mendengar keluh kesah. Tanpa dibayar.  Dan yang lebih aneh lagi dia seperti tidak pernah punya masalah dalam hidupnya. Entah terbuat dari apa manusia itu. Dan yang lebih membuat saya berpikir hebat adalah apa saja yang telah dia hadapi dalam hidupnya sehingga bisa sampai level seperti itu. Ada hal yang lebih aneh lagi, semua kata-katanya kita dengar dan kita turuti.

Beruntung saya memiliki emergency call yang sangat baik. Nasehatnya tidak pernah menjauhkan saya dari Tuhan. Seorang emergency call yang sederhana. Tinggal di rumah petakan bersama istri dan anaknya. Yang jika kita lihat hanya dari fisiknya dan materi yang ia miliki rasanya tidak pas dia untuk memberikan nasehat kepada kita. Plafon kontrakannya saja ditutupi terpal. Dia bilang, “ kalo pakai triplek mahal dan ribet. Kalo ini tinggal dibentang, ketutup semuanya. Anti air lagi.” Ujarnya sambil sedikit bercanda. Namun saya yakin bukan tentang mahalnya sebuah triplek. Di raknya berjejer buku-buku agama tebal yang harganya tidak murah.

Terkadang aga sedih melihatnya. Tapi bagaimana bisa saya sedih, dia saja yang bertahun tinggal di sana tidak pernah menunjukkan kesedihannya. Dia terlihat enjoy dengan kehidupannya. Sikap postifinya menular kepada siapa pun yang datang. Sehingga walaupun amat sangat sederhana, saya betah berlama-lama di rumah petak itu.

1032147-animaccord-s-masha-and-bear-worldwide-multi-platform-hit

Ga ide lagi mau kasih foto apa. Kasih foto ini aja, entah nyambung atau enggak.

Dari sana saya selalu pulang membawa oleh-oleh. Sebuah energi baru untuk mengarungi kehidupan. Ini dia uniknya, dia tidak pernah memberi energi yang meletup-letup atau membakar. Energi yang dia berikan semacam keteduhan.

Sepulang dari sana kita kan dibuatnya menurunkan standar yang kadang berlebih.  Standar berlebih untuk sesuatu yang akhirnya kita sadar amat sangat tidak penting untu menentukan standar begitu tinggi untuk hal itu. Dan dia akan membuat kita sangat kecil dan lemah. Dengan merasa kecil dan lemah kita otomatis akan berada dalam kondisi bersyukur. Dari sana  kita bisa melangkah lebih tenang tidak dengan kepala menunduk atau mendongak. Biasa saja, lurus ke depan.

Bapak Tua yang Memikat

Kondisi cuaca yang gak menentu (mulai nyalahin cuaca) membuat banyak gerombolan semut yang makin lincah mondar-mandir di tenggorokan saya. Gatell abisss.Praktek  menyalahkan cuaca ini jangan ditiru ya. Karena mungkin yang bikin tenggorokan gatel adalah beberapa malam kemarin saya sempat begadang. Begadang dengerin curhatan teman lama.

Kondisi tenggorokan yang gak enak itu mulai menjalar ke seluruh tubuh. Entahlah, semacam mau flu gak jadi, seluruh badan saya berasa gak enak. Perasaan suhu tubuh panas tapi enggak. Perasaan hawa dingin tapi enggak juga. Pokoknya badan jadi gak enak. Mau ngapa-ngapain males. Bawaannya pengen goler-goleran di kasur sambil kepoin instagram. Hehe.

Tapi saya harus tetap berusaha ngurangin sakitnya. Minum madu, jamu, makanin jeruk, dan berbagai cara saya lakukan. Ada efeknya tapi ga terlalu. Kebetulan, suatu malam saya ketemu seorang teman. Saya ceritakan apa yang saya rasakan. Mendengar cerita saya, teman saya langsung menyarankan saya untuk mengonsumsi jahe.

Aha!! Itu dia jawabannya, Jahe!. Walaupun tetap yang menyembuhkan adalah Allah, bukan jahe.

Saat teman saya menyarankan itu, saya berpikir kok bisa ya saya lupa. Padahal saya adalah orang yang sering menyarankan mengonsumsi jahe kepada siapa saja yang lagi terjangkit model begini. Yaaa begitulah manusia kadang lupa. dan itulah guna silaturahmi  dan teman-teman yang baik.

Saya pun mencari yang jual wedang jahe. Kebetulan tidak jauh dari rumah ada yang jual STMJ. Artinya dia pasti jual wedang jahe.

Gerobak wedang jahe ini nangkring di depan sebuah toko yang setengah tutup. Gerobaknya tidak besar. Di depan gerobaknya ditempel spanduk yang bertuliskan “STMJ” yang menutupi hampir seluruh bagian depan gerobak. Jadi si penjualnya tidak bisa terlihat dari depan.

Saya pun masuk ke working spacenya. DI atas gerobaknya tidak terdapat banyak macam alat. Ada beberapa butir telur ayam kampung, madu di botol sedang, beberapa gelas bergagang,  ciduk deri batok kelapa, dan sekaleng susu kental manis.  Working space yang sangat sederhana. Saya membatin, semudah ini jualan STMJ.

DI sana saya dilayani seorang Bapak yang usianya mungkin 50an. Berawak sedikit gemuk. Tingginya pas dengan gerobaknya. Rambut cukuran ala jaman dulu yang ga pernah mau dicukur cepak atau mohawk. Kata mbah saya, orang yang cukur gaya anak sekarang itu pada jaman dia cuma tentara doang. Mbah saya juga bilang, kalo ada orang yang cukur model begitu tapi bukan tentara bisa ditangkep. Haha. Mbah saya ini emang kreatif.

Saya langsung memesan segelas wedang jahe untuk dibawa pulang. Di sana ada seorang pelanggan yang cukup intens ngeliatin saya. Setelah sepertinya dia mengumpulkan tenaga, niat, dan keberanian akhirnya dia menyapa saya.

Singkat cerita dia adalah teman kakak saya waktu SMA. Dia terakhir liat saya mungkin waktu saya kelas 3 SD. Percakapan saya dengan dia berakhir dengan saling bertanya nama. Oh iya, pada saat saya bercakap dengan dia, si penjual wedang hanya duduk mendengarkan.  Tidak ikut bersuara. Dia baru bersuara setelah saya berucap tentang dunia yang tidak selebar daun kelor. Karena kejadian seperti ini pernah saya alami di Bandara. Saat saya dan Ibu saya akan menjemput saudara yang baru pulang umroh, seorang satpam menghampiri saya dan ibu. Dia langsung bertanya kepada Ibu saya apakah Ibu saya itu ibu dari temannya (ribet amat ya, banyak kata-kata ibunya). Temannya di sini ternyata lagi-lagi kakak saya. Satpam tersebut adalah teman kakak saya sekolah waktu masih tinggal di sebuah daerah di Sumatera.

 

Saya pun pulang dari sana. Tentu dengan berucap terima kasih. Besok malamnya saya kembali lagi ke sana. Tentunya untuk membeli wedang jahe lagi. Baru saja saya turun dan belum bicara sepatah kata pun, dia langsung menyapa dengan sedikit senyum.

“Mas, Mar. Bungkus atau minum disini?” ujar si Bapak penjual wedang dengan suara berat dan logat jawa yang kental.

Mendengar dia menyebut nama saya, saya jadi berpikir kapan saya kenalan sama si Bapak itu. Setahu saya malam yang lalu saya tidak pernah kenalan. Setelah saya telaah dengan seksama dan hati-hati (gaya anggota DPR) saya baru inget, rupanya dia curi dengar percakapan saya kemarin. Hmmmm (sudah kuduga).

Pada saat dia menyapa saya, ada semacam sinyal nyaman dan kebaikan yang saya tangkap. Begini, pernah kan kita senang mengenal seseorang. Kemudian jika seorang itu datang kita dengan penuh sumringah menyapanya. Nah, perasaan itula yang dia lemparkan kepada saya saat menyapa. Seperti seorang Mbah menyapa cucunya.

Lalu, apa yang saya rasakan? Saya merasa nyaman sekali membeli wedang jahe di situ. Saya merasa dia peduli dengan saya, pelanggannya. Menyebut nama memang membuat suatu trik komunikasi yang sudah lama dilakukan untuk mengakrabkan diri. Trik itu kadang berhasil, tapi kadang tidak. Terutama buat yang menyebut nama dengan tidak ikhlas. Keliatan dan kerasa pasti kalo apa yang dia lakukan menyimpan maksud-maksud tertentu.

Tapi, apa yang si Bapak lakukan ini beda. Pada saat dia menyebut nama saya ada pesan khusu yang tertangkap. Sebuah pesan rindu. Maksudnya rindu kedatangan saya untuk membeli sebagai motif bisnis dan rindu kedatangan saya karena saya akan membeli dagangan dia yang mana keuntungannya bisa untuk menghidupi keluarganya. Ngerti gak?  Gini, simpelnya si Bapak itu bilang begini:

“Alhamdulillah Mas Mar datang. Hari ini dagangan saya laku. Artinya saya bisa kasih makan untuk keluarga saya. Secara tidak langsung kedatangan mas Mar membuat keluarga saya bisa makan. Terima kasih, Mas”

Jadi, si Bapak itu merasa kedatangan kita sebagai sebuah bala bantuan untuk menghidupi keluarganya. Sehingga Ia sangat senang dan ikhlas melayani kita. Tidak seperti pedagang lain yang sepertinya butuh tidak butuh dengan pelanggannya.

Hikmahnya, kesederhanaan itu memang membuat segalanya jadi indah. Bapak itu dagang dengan sederhana dan dengan tujuan sederhana, memenuhi kewajiban sebagai suami menghidupi keluarganya. Ia tidak berniat beli Harley, kamera mirrorless, dari hasil keuntungannya.

Hikmah yang lain adalah, memang personal itu more selling then corporations. Saya tidak peduli dengan bentuk gerobak, penataan tempat duduk atau bahkan nama dari usaha STMJ si Bapak itu. Asal dan karena tahu yang jual saya In syaa Allah membelinya. Sekalipun ia mengganti nama usahanya dan bentuk gerobaknya.

Gak heran kan kalo kita kadang pernah mengejar seseorang sampai ke daerah lain hanya karena cocok. Contohnya tukang pijet. Banyak tukang pijet yang skill-nya sama tapi kita tetap memburu tukang pijet langganan karena hanya satu kata, cocok.  Dan itulah salah satu keistimewaan gaya jualan ala timur. Menjadikan kesederhanaan dan keramahan sebagai alasan tertinggi keputusan membeli.

Para Penyuka Hujan

Tidak semua orang suka dengan hujan. Beberapa orang malah menggerutu jika hujan turun. Padahal hujan adalah berkah.  Saya teringat kata-kata teman saya sang penangkap air hujan. Beliau adalah pegiat lingkungan hidup yang sedang fokus menangkap air hujan dengan membuat banyak lubang biopori dan mengajarkan ke orang-orang di lingkungan dia.

Dia pernah bilang banyak orang mengeluh saat hujan turun karena ketakutan banjir melanda. Selain orang awam, aparat pemerintah juga sama. Kalo jakarta banjir pasti yang disalahkan curah hujan. Padahal menurut dia yang salah itu manusianya yang tidak bisa menggunakan air hujan dengan bijak. Well, sampai saat ini saya setuju dengan pendapat dia.

Berbeda lagi dengan sebagian orang yang saya panggil dengan sebutan para penyuka hujan. Mereka adalah orang yang senang dan mendapat kebahagiaan saat hujan turun. Buat saya, mereka, para penyuka hujan adalah orang diberikan Tuhan kenikmatan luar biasa.Saat hujan turun mereka akan dihinggapi sebuah perasaan yang sulit untuk dideskripsikan. Sebuah perasaan nyaman, tenang, relaks. Walopun diawal biasanya mereka juga mengeluh dalam hati tapi kelamaan mereka bisa menikmati hujan dengan relaks.

dsc_0796

Sehabis Hujan di Thirty Three Brew Surabaya

Selain perasaan yang hinggap, saat melihat titik air hujan jatuh membentur bumi atau saat melihat begitu banyaknya air yang turun di langit, ada semacam pikiran yang mengawang terbang.  Anehnya pikiran itu secara otomatis terset dalam kondisi yang menyenangkan dan menenangkan. Seruwet apapun masalah yang dihadapi,  saat hujan turun otak ini seolah enggan diajak berpikir keras dan njilmet.

Beberapa juga ada yang teringat masa lalu saat hujan turun. Ada beberapa orang yang beruntung mendapati momen-momen bahagianya selalu ditemani hujan. Belum lagi momen tersebut terselip sebuah soundtrack. Sehingga momen tersebut sangat melekat di pikiran. Momen itu tersimpan terus dan menunggu untuk di-callback saat hujan dan soundtrack itu berputar. Itu memang masa lalu namun tidak bisa dipungkiri dan tidak bisa dibohongi bahwa saat itu lah kita sedang dalam kondisi paling nyaman dan paling bahagia. Gak heran kalo masa lalu itu tersimpan terus.

Dalam salah satu lagu musical Laskar Pelangi ada lirik seperti ini:

Hmmm.. aku suka sekali bau hujan

Mengapa bau hujan bisa wangi ya?

(sing)

Sumber bau harum dari minyak aksiri

Diproduksi tumbuhan kemudian diserap

Oleh bebatuan dan tanah lalu dilepas keudara

Pada saat hujan turun.. Oooh..

Hujan secara ilimiah memang membawa rasa nyaman. Makanya saya bilang beruntung orang yang bisa menikmati hujan. Artinya orang itu dipersilakan tuhan untuk menikmati karyanya yang ajaib. Tidak heran jika banyak artis yang memakai kata-kata hujan sebagai liriknya. Dan, semua lagunya yang memakai hujan sebagai tema adalah lagu yang memang cocok didengar saat hujan. Contohnya Efek Rumah Kaca menggunakan hujan dalam dua lagunya, Desember dan Hujan Jangan Marah. Hujan itu jika diibaratkan dengan bumbu adalah garam. Hujan memiliki pengaruh signifikan untuk setiap momen. Momen-momen yang kita lalui akan semakin terekam dan teringat ketika hujan turun.

dsc_0789

Selagi Hujan di Thirty Three Brew Soerabaja

Kembali, mereka para penyuka hujan biasanya akan memfokuskan melihat titik air saat menghantam bumi, atau saat titik air di jendela, atau jalanan yang basah. Mereka tidak melakukan apa-apa hanya melihat dan terdiam. Menikmati dan meresapi cuaca sejuknya, suara rintiknya, dan bau tanah yang tersiram air hujan. Menerawang tentang sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan namun hanya bisa dirasakan, menenangkan…

*mohon maaf kalo alurnya agak ga jelas.

Jadi, Mau yg Gimana?

“Jadi, Mau yg Gimana?” adalah pertanyaan seorang teman yang umurnya lebih tua dari saya. Katakanlah paruh baya. Tapi dia teman.  Dia adalah salah satu teman yang seringkali menggambarkan tentang bagaimana enaknya menikah. Bukan enak yang macem-macem ya. Tapi enak dalam artian menikah membuat menjalani hidup jauh terasa lebih mudah dan lebih hidup. Inget selogan rokok, bikin hidup jadi hidup.

Saya yang ditanya seperti itu cuma bisa diam. Bukan tidak punya jawaban tapi bingung mau mulai menjawabnya dari mana. Sebenarnya  jawaban laki-laki tentang wanita idaman semua sama. Tapi semua itu Cuma keinginan. Kenyataannya jodoh itu Tuhan  yang ngatur.

Jawabannya sebenarnya Saya terbuka dengan siapa pun wanita yang memang ditentukan Tuhan jadi jodoh saya. Terus kok kenapa sulit banget kayaknya. Sebetulnya tidak sulit Cuma saya dalam keadaan yang membuat saya ada dalam posisi penuh pertimbangan.

Satu, Ibu saya sudah ditinggal suaminya dan sudah semakin menua. Tentu seorang Ibu memiliki persaan tersendiri terhadap pasangan anaknya. Saya ingin pasangan saya nanti bisa berbaur bahkan menjadi teman ibu saya. Saya ingin keberadaan istri saya nanti menjadi kebahagaiaan buat ibu saya. Terlebih melihat kondisi beliau, agak berat bagi saya untuk berpisah rumah dengan beliau.  Walaupun jujur saat berumah tangga saya tidak ingin menyatu dengan keluarga manapun. Itu jika kondisi finansial memadai. Hehe

Lalu, ada ponakan saya yang baru dintinggal ibunya. Ibunya itu kakak kandung saya. Ponakan saya masih smp dan sd. Masih dalam umur-umur yang membutuhkan perhatian. Saya sebagai paman setidaknya memiliki kewajiban untuk memantau mereka. Namun saya kurang cekatan dalam bergaul dengan anak-anaka. Nah makanya saya ingin sekali punya istri yang bisa berbaur dengan anak-anak. Gimana ya? Contoh singkatnya, saya ingin istri yang kalo dia dateng ke rumah ponakan saya, mereka merasa senang.

Memang tidak semua yang Kita inginkan menjadi kenyataan. Saya juga tidak ngoyo untuk mencari yang dapat memenuhi semua keinginan. Kalo pun tidak mendapatkan yang seperti itu ya mau gimana lagi. Yang terpenting dia berjodoh dengan saya. Terus jadi yang seperti apa? Cari yang jodoh.

Sekali lagi saya terbuka-terbuka saja. Karena permit-nya sudah terbuka.  Cuma jadi agak lucu saja, saat saya masih tidak banyak pertimbangan, saat ayah dan kakak saya masih hidup, kriteria jodoh saya terbatas. Sekarang saat tidak ada batasan memilih jodoh, pertimbangannya sudah banyak. Yaa mau gimana lagi, cuma  sayang  aja “dulu” permit-nya terbatas. Tapi sudah lah saya cuma bisa heran dan amaze, hidup itu benar-benar unik cara kerjanya.

Oya saran saya, bagi yang masih jomblo dan masih punya orang tua lengkap, nikah dah buru-buru karena nanti jika sudah tidak ada salah satunya terutama Ibu akan timbul banyak pertimbangan.

“Ah itu mah lo aja terlalu lebay?”

Oke lah, let say saya emang lebay. Tapi coba dah tanya yang senasib seperti saya. Walaupun akhirnya nikah juga pasti terbesit pertimbangan-pertimbangan seperti saya.

Riziq Minallah (Rezeki Datangnya dari Allah)

Riziq Minallah (Rezeki Datangnya dari Allah)

gambar: pinjem dari http://hidayahzolkiffly.blogspot.com/

Frasa Riziq Minallah adalah hal yang tidak asing bagi saya dan orang lain berketurunan arab khusunya Yaman  di Indonesia. Frasa ini seringkali diucapkan saat kami mendapatkan nikmat. Misalnya, beli mobil, beli rumah, usaha sukses, dapet penghargaan dari perusahaan dan lainnya. Contoh:

Seorang bernama Jamal datang ke acara kondangan (resepsi pernikahan) menggunakan mobil baru. Saat selesai memarkir mobilnya, Jamal bertemu dengan Hasan dan terjadilah percakapan.

Hasan: Wah…!!! mobil baru nih, Mal!

Jamal     : Alhamdulillah, Riziq Minallah..

Contoh 2:

Jamal datang ke toko hasan yang lagi hectic banget sama costumer. Dan terjadilah percakapan:

Jamal     : MasyaAllah, toko ente rame ya, San!

Hasan    : Riziq Minallah..

Saat saya masih kecil, kata-kata ini seringkali saya dengar dari Ayah saya saat ia bertemu teman-temannya. Dulu, saat saya bertanya tentang arti Riziq Minallah, Ayah Cuma menjawab bahwa jawaban itu adalah jawaban yang bagus yang diajarkan kakek saya. Intinya kata-kata itu gak jauh sama Alhamdulillah. Ayah saya menjelaskan sebatas itu saja. Tidak menjelaskan filosofinya.

Setelah besar dan bertemu banyak orang yang mengerti dalam berbagai hal terutama agama, saya baru tahu apa filosofi Riziq Minallah.

Menurut orang yang ngerti agama itu, manusia itu sebenarnya hidup dalam keadaan miskin.  Kemudian Allah lah yang membuat kita kaya lewat rezeki yang diberikan. Pada dasarnya, saat kita membeli sesuatu sebenarnya kita membeli menggunakan uang Allah. Artinya rezeki yang Allah berikan.

Ucapan Riziq Minallah adalah ucapan yang agung. Ucapan itu sebagai bentuk pengakuan bahwa mobil yang baru dan usaha yang lancar adalah semata-mata datang atau diberikan oleh Allah.  Ucapan itu adalah bentuk pengakuan bahwa kami ini orang kecil dan lemah yang tanpa izin dari Allah kami tidak bisa berbuat apa-apa.  Ucapan itu adalah alternatif untuk menurunkan kadar riya dan kesombongan. Dan, yang terpenting adalah ucapan itu sebagai bentuk akidah paling tinggi. Bahwa segala yang miliki di dunia ini sejatinya milik Allah. Seperti ucapan Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun. Segala sesuatu adalah milik Allah dan kembali ke Allah.

Hasilnya, saya seneng lahir dalam keluarga keturunan yang punya budaya yang begitu agung. Walaupun ada beberapa budaya yang masih gak masuk di hati, seperti budaya dalam perjodohan tetapi saya tetap salut dengan budaya mengucapkan Riziq Minallah. Kata-kata singkat tetapi dalam makna.

Terakhir, saya bingung dengan teman-teman yang skeptis dengan  Arab dan budayanya. Kalo memang budaya itu baik, kenapa ditentang?! Iya gak?!