Pantai di Balik Hutan

Saya sudah sampai di depan hutan yang tidak terlalu pekat. Diujung hutan ada pantai yang terlihat samar. Saya ingin ke pantai itu. Dari kejauhan dan kesamaran saja aura menyengkannya sudah berhembus. Tapi hutan itu lumayan membuat saya ragu. Mungkin nanti di perjalanan ada macan menerkam atau ular yang mematuk. Tapi bukankah semua itu hanya kemungkinan yang bisa terjadi dan tidak.

Saya sudah di sini. Saya sudah memilih. Memilih untuk mengunjungi pantai ini. Saya tidak tahu apakah dia benar indah atau hanya hoax.

______

Selepas subuh, seperti biasa, saya iseng membuka instagram mellihat berbagai foto berseliweran di linimasa. Melihat apakah ada yang menarik. Dan ternyata memang masih sama saja. Biasa saja. Tidak ada yang menarik. Dan bukankah memang akan selalu begitu. Sesuatu yang terus menerus kita lihat atau berada di samping kita lama kelamaan akan biasa saja.

Tapi ini berbeda. Saat saya melihat sebuah foto pantai yang bersmbunyi dibalik batang-batang pohon pinus. Pantai itu terlihat Indah walaupun dipotret dari kejauhan. Ah, tapi jangan-jangan hoax. Mungkin saja editan. Tapi ada sebuah bisikan yang memaksa.

“Ayo kesana. Lihat pantai itu. Itu indah. Pasti.”

Sebentar. Saya harus betul-betul yakin dulu jika bisikan datang dari kanan, bukan dari kiri. Saya siapkan perbekanalan dahulu baru saya bawa bisikan itu ke malam yang sangat larut. Di tengah malam yang larut. Di saat kepala merendah, serendah-rendahnya, biasanya otak lebih ramah diajak berpikir. Tidak cukup sehari-dua hari. Sampai 10 hari, barulah otak dan hati sinkron. Butuh waktu begitu lama untuk sinkron karena bukan saya yang melakukannya, melainkan DIA yang memiliki pantai itu, sehingga akal dan hati tidak memiliki jawaban lain.  Mereka (berarti saya) sudah memilih. Memilih pantai itu untuk dihampiri.

______

Saya belum bisa memastikan hutan itu hoax atau bukan terkecuali jika saya sudah melewati hutan itu. Keraguan pun muncul, namun akal dan hati yang sudah bersepakat, mereka mengingatkan kembali. Kami (berati saya) sudah memilih. Tidak pernah ada kamus mundur kecuali jika itu kehendak-Nya.

Perbekalan sudah siap. Bismillah.

Hutan sudah saya masuki. Tidak ada macan dan ular apalagi singa. Hutan itu memerintahkan rengit-rengit bernama keraguan untuk mengeroyok secara membabi-buta dari sana dan sini. Syukur, akal dan hati selalu mengingatkan. Mereka berkata:

Dia yang memiliki pantai itu sudah meyakinkan kami untuk memilih. Jalan terus!

Semakin rengit itu mengigit semakin keras suara mereka berkata: Jalan Terus!

Rengit menyerah. Saya pun sampai di ujung hutan. Perbatasan antara hutan dan pantai. Senyum saya mengembang lebar sekali.

Pantai Oke

Pantai itu berpasir putih halus tanpa satu pun jejak kaki, seperti tak pernah terjamah. Air lautnya membiru bening, meneduhkan mata yang melihatnya. Tidak ada ombak besar. Hanya riak-riak kecil yang mempermanis bentuk airnya. Di sebelah kanan, ada pohon kelapa yang lebat daunnya dan penuh buahnya. Meneduhkan siapapun orang yang ada di bawahnya dan menghilangkan dahaga orang yang meminum buahnya.

Suara burung bersautan tidak lebay. Manis terdengar telinga. Juga suara gesekan pohon kelapa yang tertiup angin sepoi. Angin yang dapat membuat orang tertidur. Di ufuk barat, matahari mulai akan tenggelam. Sinarnya tidak menusuk mata tapi sebaliknya membuat betah berlama-lama melihatnya.

Intuisi saya tidak salah. Oh, bukan, DIA sang pemilik pantai yang memberikan intuisi itu yang tidak salah. Pantai itu menyenangkan, dan bukan sekadar itu. Matahari, pohon kelapa, dan angin sepoi membuat keindahannya hampir sempurna.

Semakin menyenangkan rasanya jika saya bisa bersandar di bawah pohon kelapa, di atas hamparan pasir putih yang halus, menikmati kelapa dan senja berteman angin sepoy, sembari seperempat membiarkan telapak kaki saya terhempas riak-riak kecil air laut. Tapi saya tidak bisa. Saya tidak bisa menikmati kesenangan itu. Ada plang, yang ukurannya tidak besar, bertuliskan

PENGUNJUNG DILARANG KE PANTAI.

Seketika itu akal dan hati menjadi riweuh. Mereka bersautan menawarkan berbagai alibi, alasan, jawaban, cerita dan segala hal kepada saya. Sampai akhirnya tidak terbendung lagi dan saya blank. Tidak ada apa-apa. Tidak ada yang saya pikirkan. Saya hanya bisa menatap plang itu dalam-dalam.

Sampai akhirnya sang pemilik pantai datang. DIA berkata lembut,

Bukankah kau sudah melihat keindahan di sini? Lebih indah daripada apa yang selama ini kau lewati?

Syukrilah..

Syukurilah.. Intuisi mu tak salah. Pantai ini memang ada, indah dan menyenangkan.

AKU tahu dan mengerti apa yang kau inginkan, karena semua itu AKU yang memberikannya kepadamu.

Tapi syukurilah kesenangan dan keindahan yg seadanya saat ini. Nanti aku tambahkan kesenangamu. Mungkin nanti AKU akhirnya akan menyabut plang itu.

Tapi Syukurilah dulu..  Intuisimu tak salah. Bukankah kau sudah melihat keindahan di sini? Ini lebih menyengkan dan indah daripada apa yang selama ini kau lewati, kan?

Intuisi saya tidak salah. Oh, bukan. Ralat. Dia yang memberi intuisi dan yang tidak salah. Keyakinan saya tidak sia-sia. Senyum saya masih mengembang.

Bekal ini masih utuh. Tidak tersentuh. Ini untuk pantai itu dan masih untuk pantai itu.

SIP

 

Advertisements

Nenteng Peci

Ceritanya selepas shalat ashar. Langit sangat cerah tapi hujan turun. Tidak deras, tapi butir hujannya sepertinya besar-besar sehingga saat membentur bumi sebentar saja sudah basah. Tapi langit masih tetap cerah, terang menderang.

Dari kejauhan saya lihat seorang kakek tua pulang dari surau. Dia berjalan agak cepat untuk menghindari hujan yg mungkin saja bisa jadi sangat deras sebentar lagi. Ya! Dia ingin sampai di rumah lebih awal agar jika hujan akhirnya turun deras dia tidak kena basahannya. Artinya dia sedang menghindari air.

Sebagaimana orang menghindari air hujan, seharusnya orang berusaha untuk menghalau kepalanya agar tidak terkena air hujan dengan bermacam cara. Pakai kantong kresek atau benda lain. Syukur-syukur ada payung. Tapi, si kakek tua malah melakukan hal yg bertentangan. Saat hujan itu turun saya melihat kepala si kakek terbuka tanpa penutup apa pun sedangkan di tangannya dia memegang pecinya. 

Kita punya kesimpulan. Pertama, si kakek tua sedang menghindari hujan. Kedua, normalnya manusia kalo mau menghindari hujan dia akan menutup kepala. Ketiga, si kakek punya peci. Jadi, apa pasal si kakek yg sedang menghindari hujan yg seharusnya menutup kepalanya, dan dia memiliki peci yg bisa menutup kepalanya, tapi tidak digunakan?  

Pensaran? Saya sih enggak. Karena udah tau jawabannya.

Peci M Iming (url: bisnis.com/bandung/posts/2014/04/03/505688/kopiah-m-iming_ilustrasi_bisnisjabar)

Lelaki yg sering ke masjid buat Shalat Jumat biasanya familiar dengan peci ini. Tentu familiar karena banyak orang yg pake. Tapi bukan itu yg saya maksud. Pada saat shalat jumat banyak pedagang dadakan yg menjual asesoris ibadah salah satunya peci itu. Biasanya peci ditata sedenikian rupa, ditumpuk selang-seling  seperti display makanan padang, kemudian si pedagang seringkalo menyikat peci dengan sikat halus. Sedemikian berharganya peci itu sampai harus ditritmen seperti itu. Pasti ada sesuatu yg spesial dari peci itu. 

Telisik punya telisik, ternyata peci hitam puny perasaan yg sensitif. Saking sensitifnya harus disikat dengan sikat yg lembut. Bukti sensitif yg lain adalah peci itu ga boleh kena air. Sekali kena air berantakan sudah pola beludrunya. Sehingga hitamnya tidak lagi merata tapi blentang-blentong dan ga bisa balik lagi mau diapain juga.. Nah ini dia kenapa si kakek tersebut lebih rela rambutnya terkena air. 

Seberharga itukah sebuah peci sampai harus mengorbanakan kepala? Saya juga bingung pada awalnya tapi akhirnya saya mengerti. Harga peci hitam beludru yg sangat simpel itu, yg biasa dipakai Soekarno dan Ridwan Kamil, tertanyata harga tembus 200.000 lebih. Jadi yaa wajar..

Rekreasi Murah via Film Televisi

Jika kemarin akibat bonusan paket data saya sudah “teracuni” dengan musik indie sekarang giliran saya kembali “teracuni” dengan film televisi (FTV) yang syutingnya banyak di luar Jakarta, semacam di Jogja, Solo,  Bali, Magelang, dan Wonosobo.  Tapi tunggu dulu, FTV yang saya tonton yang keluaran tahun 2005 sampai 2014. Mengapa? Nah, ini yang perlu disimak.

FTV yang tayang pada tahun-tahun tersebut diproduksi oleh DSX (Dharmawangsa Studi 10) Production atau Screenplay  yang mana menurut saya agak serius dalam menyusun naskah ceritanya dan urusan pengambilan gambar (DOP). Gak seperti FTV saat ini yang ceritanya terlalu monoton. Selalu bertema remaja, bercerita tentang si kaya dan miskin, banyak diperankan artis berwajah blasteran, dan asal ketika ngambil gambar. Saya selalu perhatikan dari bagaimana mereka menata lampu yang, ah sudahlah.. menurut saya mah ga banget. Dan cenderung asal dalam urusan setting.

Berbeda dengan FTV karya dua rumah produksi yang saya sebutkan barusan. Saya cukup concern dengan bagaimana cara mereka mengambil gambar. Cara mereka mengambil gambar sangat menarik. Mereka dapat mengeksplorasi sudut-sudut yang dapat menggambarkan keunikan tempat tersebut. Contohnya saat syuting di jogja, mereka sering syuting di tempat-tempat yang khas dan dapat menunjukkan ke khas-annya. Seperti bagaimana mereka mengambil gambar saat si artis sedang makan di angkringan, alun-alun, Maliboro, Stasiun Tugu dan tempat lain. Cara mengambil gamabarnya tidak asal, cukup dipikirkan agar-agar penonton bisa menikmati atmosfer tempat tersebut.

Scene Makan Gudeg

Selain itu, ceritanya pun menurut saya lebih dewasa. Walaupun kadang ga masuk akal. Tetapi inti dari cerita itu mengajarkan sesuatu kepada penontonnya. Kemudian, dari sisi pemain juga cukup mendukung. Pemain-pemainnya bisa mewakili kedewasaan cerita yang dibuat seperti Ramon Y Tungka, Surya Saputra, Atiqah Hasiholan, Prisia Nasution, Kinariyosih, dan lainnya. Dan kebanyakan pemainnya berwajah sangat nusantara. Juga, para pemainnya cukup total terlihat dari bagaimana mereka menggunakan logat jawa yang bisa dibilang hampir sama dengan aslinya.

Scene Keluarga Kusir Delman sedang Ngobrol di Teras Rumah

 

Dari segi backsound-pun cukup baik tidak asal-asalan karena menggunakan backsound yang khas sesuai dengan daerah tersebut. Backsound-nya ya, bukan OST-nya. Kalo OST-nya mah kadang gak banget. Yang paling menarik buat saya adalah bagaimana mereka mengambil karakter sederhana tapi mengena. Seperti kusir andong, penjual gudeg, kurir, supir taksi, pengamen, dan lain-lain. Juga bagaimana mereka memilih rumah pemian utama pria dan wanita yang sangat jawa sekali. Kesemua itu barpadu menjadi tontonan menarik.

Interior Rumah Surya Saputra dalam FTV

Kebetulan saya pernah beberapa kali ngobrol dengan salah satu sutradara FTV tersebut. Kata beliau, bukti keseriusan menggarap FTV ditunjukkan dengan bagaimana mereka bekerjasama dengan seniman-seniman yang ada di tempat tersebut menjadi pemeran pembantu. Makanya tidak heran jika ada karakter-karakter yang tidak terlalu terkenal namun sangat total perannya, ya gimana gak total mereka seniman bro.

Waktu dan Roda yang Berputar

Kadang waktu begitu luang kadang juga sangat sempit. Kadang kita harus 16 jam di luar rumah. Kadang hampir 20 jam ada di rumah. Semuanya tentu karena keperluan dan berbagai urusan yang membuat kita harus ada di rumah atau di luar rumah.

Ada beberapa kondisi yang membuat kita selalu ada di rumah. Ga bisa engga memang harus di rumah karena urusannya harus diselesaikan di rumah. Dalam kondisi demikian rumah kadang sudah tidak berasa rumah lagi, tapi berasa seperti kantor. Sebagaimana normalnya manusia normal, orang butuh hiburan. Lagi-lagi karena paketan data yang membonusi streaming berbagai video di sebuah aplikasi membawa saya ke film-film FTV tersebut. Film FTV kini menjadi teman dikala malam menjelang istirahat. Biar rumah masih terasa sebagai rumah ga lagi sebagai kantor.

Menonton FTV itu cukup menghibur, cukup mengurangi stress kerena selain ya emang kita seneng nonton sandiwara, kita juga dibawa ke daerah-daerah yang menarik. Seolah-olah seperti sedang mengajak kita jalan-jalan. Dan entah mengapa saya selalu teringat ritme hidup normal seseorang pekerja atau orang di desa-desa. Saya ingat ketika ke sebuah desa di sebuah kecamatan di Lampung, kecamatan Pringsewu. Di sana semua televisi menyala pada rata-rata pada malam hari. Biasanya yang mereka tonton hiburan yang berbau sandiwara seperti sinetron atau film box office yang diulang-ulang. Bagi mereka yang tidak punya televisi biasanya nimbrung dengan yang punya.

Kita kaum urban mungkin lebih akrab dengan internet sebagai media penghibur, tapi televisi bagi mereka yang di desa menjadi hiburan utama. Bagi mereka menonton televisi itu rekreasi. Dan itu yang saya rasakan saat ini. Kadang saya senyum-senyum sendiri melihat polah saya. Tapi memang ga bohong, saya suka sekali saat malam menjelang karena saya tahu pekerjaan akan segera selesai dan sebentar lagi saya akan rekreasi jalan-jalan ke Jogja atau Bali lewat FTV.

Btw sebetulnya inti dari tulisan adalah sekarang saya sedang gandrung nonton ftv. Cerita tentang ngobrol dengan sutradara ftv dan membuat analisa perbandingan kualitas FTV A dengan FTV B itu cuma biar kelihatan keren aja..

 

Indienesia

Selain novel yang mulai berteman, kini musik juga sudah memulainya. Jarang tapi saya cukup menikmatinya. Musik menemani saya khusunya pada saat saya bekerja. Selain waktu itu, saya jarang mendengarkannya.

Tisak sengaja saya mendownload aplikasi Spotify karena dapet bonusan dari paket data. Di halaman utama aplikasi itu ada beberapa pilihan playlist yang mencoba mengakomodir mood kita. Ada ada kilas balik, putus cinta, calm vibe, music asyik 2000, evening acoustic, dan playlist lainnya. Ada satu playlist yang menarik hati saya. Saya klik dan saya dengarkan.

(saya ga diendorse Spotify)

Playlist itu berisi lagu-lagu yang membawa kita memutar berbagai  film kehidupan yang pernah kita lalui. Lagu yang bertabur kunci-kunci minor. Lagu yang cocok dipakai menjadi backsound film-film perjalnan atau film yang bercerita tentang kehidupan. Lagu yang liriknya dipilih dengan seksama yang menyoal cinta dan kehidupan dari sisi lain. Bukan lagu mainstream yang sering kita dengar di radio atau televisi. Nama playlist itu adalah Indinesia.

Lagu-lagu itu lagi-lagi membawa saya untuk memutar film saya ketika di Bandung. Saya pernah juga menggambarkan bandung versi saya di tulisan saya yang lalu. Bandung adalah momen di mana saya berkenalan lagu-lagu Indie. Yang kalo kata kakak saya lagu ga jelas. Memang, sekilas terdengar tidak jelas tapi telinga saya nyaman mendengarnya. Awal mendengar lagu-lagu indie saya seperti berkata: “nah, ini yang saya cari”

Saya mengawali mengenal lagu-lagu indie dimulai dengan ERK, Sore, Float, L’alphalpha, The Milo, Endah Rhesa, Adhitya Sofyan. Sebenarnya waktu di Jogja saya mengenal juga Mocca. Namun di Bandung saya mengenal lebih banyak. Makin kesini semakin banyak lagu-lagu indie yang enak didengar, macam Semenjana, Fletch, Banda Neira, Fourtwnty, dan lainnya. Semuat itu terangkum di palyist Indienesia.

(Sekali lagi, saya tidak diendorse Spotify)

Lagu-lagu indie menurut saya lebih cocok menjadi backsound film. Lagu-lagu indie itu menghadirkan suasana yang berbeda. Membawa kita ke suasana yang tidak bisa yang sepertinya asik untuk dilewati. Suasana yang membuat mood kita menjadi lebih cerah. Tidak menjadi mood booster tapi juga tidak membuat kita baper maksimal.

Susah sebenarnya menjelaskan perasaan yang hadir saat mendengar lagu-lagu itu. Coba lah dengarkan R14-nya Sore, Menjemput Pagi-nya Fia & Duta Pamungkas, Hujan di Mimpinya-nya Banda Neira, atau yang agak poluler Sesuatu di Yogyakarta-nya Adhitya Sofyan.

Oh iya salah satu yang membuat lagu indie menjadi menarik adalah cara mereka memilih judul. Judulnya menarik dan menantang untuk didengarkan. Seperti Rebahan-nya Bin Idris, Bandara Terbesar di Tokyo-nya Semenjana, Bila Bulan Tak Hadir-nya Matter Halo, dan banyak judul lain yang menarik. Dan lagi, mereka dalam liriknya sering menawarkan cerita-cerita lain. Tidak cinta melulu. Walaupun cinta, tapi dipotret dari sisi yang tidak biasa.

Jadi saat ini lengkap sudah. Setelah novel dilan yang membawa saya terbang lagi ke Bandung, kini musik-musik indie memperkuatnya. Satu jalan dan dua tempat yang kuat terbayang saat mendengar petikan solo gitar atau denting piano, kunci-kunci yang tidak biasa, dan lirik-lirik yang menggeltik dari musik Indie adalah, Wiki Koffie,  Toko You dan Jalan menuju toko itu yang basah sehabis hujan.

stock-photo-blur-night-cityscape-the-ancient-center-of-the-city-at-night-after-rain-night-urban-street-with-496865632

Ilustrasi Jalan Menuju Toko You

Tidak ada cinta, kegalauan, atau keseruan yang tertinggal di sana. Hanya sebuah tempat dan jalan di mana saya, merasa, dapat menikmati Bandung yang sejuk berteman riuh rendahnya suara daun dari pohon-pohon besar dan tua disekitar jalan itu yang bergesekan tertiup angin.

Dan sebuah tempat untuk menikmati Bandung dengan kopi di dalam bangunan kolonial. Menikmati udaranya, mengamati aktivitas mereka, menikmati logat sunda yang terlempar dari obrolan mereka beserta fashion-nya, dan membiarkan mata menerawang ke jalan paling ekostis di kota Bandung.

picture5

pinjem dari: http://awangesti.blogspot.co.id/2014/06/foodspot-10-wiki-koffie.html

BTW, setelah saya tahu ternyata Dilan dan Milea tidak menikah. Maka dengan ini saya putuskan untuk tidak ingin benar-benar menjadi Dilan seutuhnya. Saya mau jadi Mas Herdi karena saya ingin menikahi Milea-nya saya – semoga Allah Yang Maha Rahman Meridhoi –  yang sedang temporary inactive. Tapi saya juga tetap mau jadi Dilan yang selalu mendapat porsi lebih di hati Milea.  *Urik! :p

Novel Mulai Mau Berteman Lagi

Sebelum membaca tulisan ini, Anda boleh dengarkan lagu Adhitya Sofyan yang Sesuatu di Yogyakarta. Atau Bersenjagurau, atau Sampai jadi Debu, atau Tiga Pagi.

Saya baru saja membereskan membaca novel Dilan. Norak ya?! Padahal udah dari kapan-kapan nge-hits tapi baru dibaca sekarang. Oke, biar gak terlalu norak saya mau bikin pembenaran atau.. ah ga tau apa itu namanya tapi yang jelas begini:

Saya itu sudah familiar dengan karya Pidi Baiq dari jaman sejak pindah ke Bandung. Saya berkenalan dengan Pidi Baiq (biar keliatan akrab) berawal dari The Panas Dalam. Perkenalan saya berlanjut dengan membaca buku-bukunya. Drunken monster dan lain-lain yang sebenernya saya sendiri ga pernah baca bukunya. Saya beli tapi saya ga baca. 

Cukup. Cukup saya membuat pembenaran.

Beberapa bulan ini saya mulai akrab lagi dengan novel. Dulu pernah akrab tapi karena dia pernah bikin masalah, saya jadi musuhan dengan novel. Sekarang sudah baikan lagi.

Beberapa minggu ini saya sudah menghabiskan 3 novel. Lumayan tebal. Yang terakhir novel Dilan yang baru saja selesai saya baca. Tahu apa yang saya rasakan setelah membaca novel-novel tersebut? Nah ini sebenarnya yang saya mau bahas.

Sudah 3 novel saya baca dan sudah 3 kali saya merasakan hal yang sama. Saat saya akan segera selesai membaca setiap novel saya merasa seperti liburan seru bareng teman yang akan segera berakhir. Senang tapi ada perasaan bgmn yaa.. Kalo tidak salah saya pernah menulisnya di blog ini tentang waktu maghrib setelah jalan-jalan.

Apapun, perasaan itu adalah perasaan tidak terlalu mengenakkan. Lebaynya: seprti sepi mulai menempel di ujung kaki. Semakin halaman demi halaman dibuka, sepi itu semakin menjalar manuju kepala. Saya merasakan sepi berjalan dari ujung jari kaki, melwati betis, naik ke perut, kemudian ke ulu hati. Di ulu hati yang paling menyengat terasa.  Sampai akhirnya dia naik ke dada dan sampai lah dia ke kepala berbarengan dengan habisnya halaman novel terebut. Dan  di situ juga akal kita seolah menepuk-nepuk pipi. Dia bilang: sadar woy! Mungkin kykanya elo emang kesepian deh.

Begitu kurang lebihnya kalo dari sisi lebay. Tapi yang mau saya katakan adalah novel kini menjadi teman saya. Saat novel itu habis saya merasa kehilangan teman. Mungkin kamu yang baca ini  melihat saya seperti kesepian. Kalo memang seperti itu, kamu salah besar. Saya tinggal dan hidup di tengah keluaga yang hangat tapi  memang saya suka mengeksplorasi sisi lain dari diri saya.  Ngerti gak?! Gini  perhatikan paragraf berikut:

Kamu tau Glen Fredly? Kalo ga tau berarti kamu ga asik. Lanjut aja ke paragraf di bawah ini. Kamu pikir mentang-mentang Glen sering nyiptain lagu galau terus seluruh hidupnya galau terus. Ya kagak lah. Hidup Glen bahagia (kayaknya). Dia punya banyak teman, banyak kerjaan, banyak karya, banyak manggung. Tapi memang dia suka menggali sisi mellownya dia. Paham kan sekarang.

Saya lebih senang bercerita dan mendengarkan cerita ketimbang membaca. Tapi sekarang, tak ada telinga yang mau mendengar cerita saya. Tak ada juga cerita yang bisa saya dengar.

Lah! Katanya tinggal di keluarga yang hangat? Kok ga punya telinga?

Kamu yang bertanya itu pasti yang ga tau Glen Fredly. Gini, bukan telinga asal telinga, bukan cerita sembarang cerita. Yang saya mau dengar itu cerita dari Milea. Dan telinga yang saya butuhkan itu telinganya Milea. Milea-nya saya.

Milea saya sekarang lagi Temporary Inactive. Akibatnya jadi lah saya sekarang memilih untuk bercerita ke telinga saya sendiri. Dan otomatis telinga saya hanya mendengar cerita dari mulut saya. Ceritanya ya yang ada di novel itu.

Oh iya biar ada gambarnya, sekarang saya punya tempat baca novel baru. Bisa sambil ngopi plus bisa liat sungai. Asyik kan. Ini tempatnya.

By The Way, sebenarnya saya sedikit malu. Di umur yang tidak remaja lagi ini masih saja (kadang) curhat lewat tulisan. Macam ABG yang nulis diary. Biarlah. Anda anggap saja masa remaja saya kurang bahagia. Santai saja..

Emergency Call

Kita selalu punya emergency call kita sendiri. Seseorang yang kita datangi atau hubungi hanya disaat pundak dan kepala kita terbebani dengan berat yang sepertinya kita tidak sanggup untuk memikulnya.

emergencycall-300x200

Sebenarnya bukan kita tidak sanggup memikulnya, bukankah Allah sudah memberi cap paten bahwa manusia akan senantiasa bisa menghadapi masalahnya. Tetapi memilih mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu adalah yang membuat beban makin besar dan menumpuk. Semua terasa penting untuk diselesaikan.

Saat sudah memilih mana yang harus diselesaikan tidak serta merta masalah menjadi berkurang. Barang tentu masalah berikutnya yang harus diselesaikan tetap terpikirkan. Saat itulah kita mulai merasa bahwa sepertinya masalah tidak kunjung usai.  Saat itu juga kita butuh siraman air sejuk yang membuat langkah menjadi lebih mantap dan pikiran menjadi lebih tenang. Di saat itu kita butuh emergency call.

Kita selalu memiliki seseorang yang kita datangi untuk memberikan guyuran air itu. Orang itu memang aneh. Dia selalu punya cara membuat kita menjadi teduh. Dia juga selalu tidak pernah keberatan untuk mendengar keluh kesah. Tanpa dibayar.  Dan yang lebih aneh lagi dia seperti tidak pernah punya masalah dalam hidupnya. Entah terbuat dari apa manusia itu. Dan yang lebih membuat saya berpikir hebat adalah apa saja yang telah dia hadapi dalam hidupnya sehingga bisa sampai level seperti itu. Ada hal yang lebih aneh lagi, semua kata-katanya kita dengar dan kita turuti.

Beruntung saya memiliki emergency call yang sangat baik. Nasehatnya tidak pernah menjauhkan saya dari Tuhan. Seorang emergency call yang sederhana. Tinggal di rumah petakan bersama istri dan anaknya. Yang jika kita lihat hanya dari fisiknya dan materi yang ia miliki rasanya tidak pas dia untuk memberikan nasehat kepada kita. Plafon kontrakannya saja ditutupi terpal. Dia bilang, “ kalo pakai triplek mahal dan ribet. Kalo ini tinggal dibentang, ketutup semuanya. Anti air lagi.” Ujarnya sambil sedikit bercanda. Namun saya yakin bukan tentang mahalnya sebuah triplek. Di raknya berjejer buku-buku agama tebal yang harganya tidak murah.

Terkadang aga sedih melihatnya. Tapi bagaimana bisa saya sedih, dia saja yang bertahun tinggal di sana tidak pernah menunjukkan kesedihannya. Dia terlihat enjoy dengan kehidupannya. Sikap postifinya menular kepada siapa pun yang datang. Sehingga walaupun amat sangat sederhana, saya betah berlama-lama di rumah petak itu.

1032147-animaccord-s-masha-and-bear-worldwide-multi-platform-hit

Ga ide lagi mau kasih foto apa. Kasih foto ini aja, entah nyambung atau enggak.

Dari sana saya selalu pulang membawa oleh-oleh. Sebuah energi baru untuk mengarungi kehidupan. Ini dia uniknya, dia tidak pernah memberi energi yang meletup-letup atau membakar. Energi yang dia berikan semacam keteduhan.

Sepulang dari sana kita kan dibuatnya menurunkan standar yang kadang berlebih.  Standar berlebih untuk sesuatu yang akhirnya kita sadar amat sangat tidak penting untu menentukan standar begitu tinggi untuk hal itu. Dan dia akan membuat kita sangat kecil dan lemah. Dengan merasa kecil dan lemah kita otomatis akan berada dalam kondisi bersyukur. Dari sana  kita bisa melangkah lebih tenang tidak dengan kepala menunduk atau mendongak. Biasa saja, lurus ke depan.

Bapak Tua yang Memikat

Kondisi cuaca yang gak menentu (mulai nyalahin cuaca) membuat banyak gerombolan semut yang makin lincah mondar-mandir di tenggorokan saya. Gatell abisss.Praktek  menyalahkan cuaca ini jangan ditiru ya. Karena mungkin yang bikin tenggorokan gatel adalah beberapa malam kemarin saya sempat begadang. Begadang dengerin curhatan teman lama.

Kondisi tenggorokan yang gak enak itu mulai menjalar ke seluruh tubuh. Entahlah, semacam mau flu gak jadi, seluruh badan saya berasa gak enak. Perasaan suhu tubuh panas tapi enggak. Perasaan hawa dingin tapi enggak juga. Pokoknya badan jadi gak enak. Mau ngapa-ngapain males. Bawaannya pengen goler-goleran di kasur sambil kepoin instagram. Hehe.

Tapi saya harus tetap berusaha ngurangin sakitnya. Minum madu, jamu, makanin jeruk, dan berbagai cara saya lakukan. Ada efeknya tapi ga terlalu. Kebetulan, suatu malam saya ketemu seorang teman. Saya ceritakan apa yang saya rasakan. Mendengar cerita saya, teman saya langsung menyarankan saya untuk mengonsumsi jahe.

Aha!! Itu dia jawabannya, Jahe!. Walaupun tetap yang menyembuhkan adalah Allah, bukan jahe.

Saat teman saya menyarankan itu, saya berpikir kok bisa ya saya lupa. Padahal saya adalah orang yang sering menyarankan mengonsumsi jahe kepada siapa saja yang lagi terjangkit model begini. Yaaa begitulah manusia kadang lupa. dan itulah guna silaturahmi  dan teman-teman yang baik.

Saya pun mencari yang jual wedang jahe. Kebetulan tidak jauh dari rumah ada yang jual STMJ. Artinya dia pasti jual wedang jahe.

Gerobak wedang jahe ini nangkring di depan sebuah toko yang setengah tutup. Gerobaknya tidak besar. Di depan gerobaknya ditempel spanduk yang bertuliskan “STMJ” yang menutupi hampir seluruh bagian depan gerobak. Jadi si penjualnya tidak bisa terlihat dari depan.

Saya pun masuk ke working spacenya. DI atas gerobaknya tidak terdapat banyak macam alat. Ada beberapa butir telur ayam kampung, madu di botol sedang, beberapa gelas bergagang,  ciduk deri batok kelapa, dan sekaleng susu kental manis.  Working space yang sangat sederhana. Saya membatin, semudah ini jualan STMJ.

DI sana saya dilayani seorang Bapak yang usianya mungkin 50an. Berawak sedikit gemuk. Tingginya pas dengan gerobaknya. Rambut cukuran ala jaman dulu yang ga pernah mau dicukur cepak atau mohawk. Kata mbah saya, orang yang cukur gaya anak sekarang itu pada jaman dia cuma tentara doang. Mbah saya juga bilang, kalo ada orang yang cukur model begitu tapi bukan tentara bisa ditangkep. Haha. Mbah saya ini emang kreatif.

Saya langsung memesan segelas wedang jahe untuk dibawa pulang. Di sana ada seorang pelanggan yang cukup intens ngeliatin saya. Setelah sepertinya dia mengumpulkan tenaga, niat, dan keberanian akhirnya dia menyapa saya.

Singkat cerita dia adalah teman kakak saya waktu SMA. Dia terakhir liat saya mungkin waktu saya kelas 3 SD. Percakapan saya dengan dia berakhir dengan saling bertanya nama. Oh iya, pada saat saya bercakap dengan dia, si penjual wedang hanya duduk mendengarkan.  Tidak ikut bersuara. Dia baru bersuara setelah saya berucap tentang dunia yang tidak selebar daun kelor. Karena kejadian seperti ini pernah saya alami di Bandara. Saat saya dan Ibu saya akan menjemput saudara yang baru pulang umroh, seorang satpam menghampiri saya dan ibu. Dia langsung bertanya kepada Ibu saya apakah Ibu saya itu ibu dari temannya (ribet amat ya, banyak kata-kata ibunya). Temannya di sini ternyata lagi-lagi kakak saya. Satpam tersebut adalah teman kakak saya sekolah waktu masih tinggal di sebuah daerah di Sumatera.

 

Saya pun pulang dari sana. Tentu dengan berucap terima kasih. Besok malamnya saya kembali lagi ke sana. Tentunya untuk membeli wedang jahe lagi. Baru saja saya turun dan belum bicara sepatah kata pun, dia langsung menyapa dengan sedikit senyum.

“Mas, Mar. Bungkus atau minum disini?” ujar si Bapak penjual wedang dengan suara berat dan logat jawa yang kental.

Mendengar dia menyebut nama saya, saya jadi berpikir kapan saya kenalan sama si Bapak itu. Setahu saya malam yang lalu saya tidak pernah kenalan. Setelah saya telaah dengan seksama dan hati-hati (gaya anggota DPR) saya baru inget, rupanya dia curi dengar percakapan saya kemarin. Hmmmm (sudah kuduga).

Pada saat dia menyapa saya, ada semacam sinyal nyaman dan kebaikan yang saya tangkap. Begini, pernah kan kita senang mengenal seseorang. Kemudian jika seorang itu datang kita dengan penuh sumringah menyapanya. Nah, perasaan itula yang dia lemparkan kepada saya saat menyapa. Seperti seorang Mbah menyapa cucunya.

Lalu, apa yang saya rasakan? Saya merasa nyaman sekali membeli wedang jahe di situ. Saya merasa dia peduli dengan saya, pelanggannya. Menyebut nama memang membuat suatu trik komunikasi yang sudah lama dilakukan untuk mengakrabkan diri. Trik itu kadang berhasil, tapi kadang tidak. Terutama buat yang menyebut nama dengan tidak ikhlas. Keliatan dan kerasa pasti kalo apa yang dia lakukan menyimpan maksud-maksud tertentu.

Tapi, apa yang si Bapak lakukan ini beda. Pada saat dia menyebut nama saya ada pesan khusu yang tertangkap. Sebuah pesan rindu. Maksudnya rindu kedatangan saya untuk membeli sebagai motif bisnis dan rindu kedatangan saya karena saya akan membeli dagangan dia yang mana keuntungannya bisa untuk menghidupi keluarganya. Ngerti gak?  Gini, simpelnya si Bapak itu bilang begini:

“Alhamdulillah Mas Mar datang. Hari ini dagangan saya laku. Artinya saya bisa kasih makan untuk keluarga saya. Secara tidak langsung kedatangan mas Mar membuat keluarga saya bisa makan. Terima kasih, Mas”

Jadi, si Bapak itu merasa kedatangan kita sebagai sebuah bala bantuan untuk menghidupi keluarganya. Sehingga Ia sangat senang dan ikhlas melayani kita. Tidak seperti pedagang lain yang sepertinya butuh tidak butuh dengan pelanggannya.

Hikmahnya, kesederhanaan itu memang membuat segalanya jadi indah. Bapak itu dagang dengan sederhana dan dengan tujuan sederhana, memenuhi kewajiban sebagai suami menghidupi keluarganya. Ia tidak berniat beli Harley, kamera mirrorless, dari hasil keuntungannya.

Hikmah yang lain adalah, memang personal itu more selling then corporations. Saya tidak peduli dengan bentuk gerobak, penataan tempat duduk atau bahkan nama dari usaha STMJ si Bapak itu. Asal dan karena tahu yang jual saya In syaa Allah membelinya. Sekalipun ia mengganti nama usahanya dan bentuk gerobaknya.

Gak heran kan kalo kita kadang pernah mengejar seseorang sampai ke daerah lain hanya karena cocok. Contohnya tukang pijet. Banyak tukang pijet yang skill-nya sama tapi kita tetap memburu tukang pijet langganan karena hanya satu kata, cocok.  Dan itulah salah satu keistimewaan gaya jualan ala timur. Menjadikan kesederhanaan dan keramahan sebagai alasan tertinggi keputusan membeli.