Hai Kamu..

Hai Kamu.

Hai kamu.. Iya. Kamu. Kamu yang entah ada di mana. Kamu yang entah kapan datang. Kamu yang entah kapan tak sengaja bertemu. Kamu yang entah sudah bertemu namun pura-pura tidak tahu. Di mana pun kamu, jelasnya saya belum bertemu kamu.

Entah saya yang kurang gigih mencari atau kamu yang bersembunyi sepenuh hati.

Kamu yang entah di mana saya akan menemukanmu. Entah di sini, atau di sana di tempat hidup yang mulai abadi.

Mungkin saya terlalu hati-hati sehingga kamu sulit untuk dicari. Tidak. Saya tidak hati-hati.Tapi ada hal yang memiliki nama serupa. Dia memiliki syarat yang tidak bisa saya cerna denga akal. Dia memang akan selalu kontra denga akal, tapi saya tak mengapa mengikuti dia kali ini. Karena memang untuk hal ini dia adalah penentu. Ya. Masalah persaan itu buka domain akal. Tahu kan area siapa itu?

Siapapun kamu, kamu adalah orang yang mampu menaklukan sang pemilik domain perasaan. Seperti apa kamu, dia tidak bisa mendekripsikan karena hati tidak seperti akal. Tidak bisa berpikir logis. Hati tidak tahu seperti apa kamu, hobi apa, seperti apa wajah kamu, dari keluarga mana, kerja di mana, dan pertanyaan lain tentang kamu. Hati hanya tahu kamu adalah orang yang bisa meluruhkanya dengan berbagai sisi baik mu.
Tidak ada kriteria, tidak ada syarat. Hati memilih dengan caranya.
Siapapun kamu, saya yakin kamu ada. Saya yakin kamu pun mencari saya. Atau kamu sudah bertemu namun tidak melihat saya.
Siapapun kamu, saya berdoa dan berharap bisa bertemu di sini. Di dunia ini. Menikmati hidup layaknya manusia biasa. Menghadapai masalah layaknya manusia biasa.
Hai kamu.. Baik-baik di sana. Di mana pun kamu berada.

Bandung-Semarang

Bandung-Semarang

Dua kota yang dulu saya tidak pernah berpikir bisa merasakan hidup di sana. Namun berpikir untuk menjelajah kota tesebut ada. Bersyukur karena Tuhan Yang Maha Baik sudah menakdirkan saya bisa menikmati hidup di dua kota itu.

Keduanya punya keunikan masing-masing. Semarang itu kota yang menyenangkan karena banyak tempat bersejarah. Buat saya yang suka segala hal berbau antik dan jadul, Semarang itu menyenangkan. Ada berbagai tempat nongkrong dan tempat makan yang erat kaitannya sama jaman kolonial dulu. Ada Tugu Muda dengan latar Lawang Semu, ada gereja Belenduk, ada IBC (ikan Bakar Cianjur) yang memakai bangunan lama di daerah kota tua, ada brux the bistro yang menggunakan rumah jaman dulu di kawasan jalan rinjani. Kawasan rinjani ini ada di dataran tinggi, sehingga dari sini bisa melihat gemerlap lampu kota Semarang.

Satu hal yang saya suka dari Semarang, kontur kota Semarang seperti Kota Lampung, berundak-undak. Sehingga kita mudah menemui spot asik untuk nongkrong melihat keriuhan di kota. Spot yang paling saya suka di Semarang adalah kalo jalan dari Tembalang menuju ke Undip bawah yaitu daerah Gombel dan jalan Diponegoro yang meliuk-liuk yang di kanan-kiri nya tersebar banyak bangunan rumah belanda. Dan satu lagi, Semawis. Semawis adalah singkatan dari Semarang Wisata. Semawis adalah jalananan yang disulap jadi pusat kuliner kaki lima. Uniknya, jalan yang dipakai adalah jalana yang berada di pecinan. Sayang foto-foto saya waktu di Semarang banyak yang hilang.

Semawis Sumber Foto: tilulas.com

Bandung itu kota yang penuh pengalaman. Ada banyak aktivitas di kota ini. Di kota ini menurut saya ada banyak orang yang memiliki kesenanga aneh dan mereka berkumpul. Jadi, hobi yang awalnya terlihat aneh menjadi unik karena ternyata banyak peminatnya. Di kota ini saya tahu musik Shoegaze jadi ada selalu dalam playlist. Saya tahu skinhad, britpop, gank motor, bobotoh, dan lain-lain di kota ini. Tidak hanya itu, saya pun tahu istilah Gigs dari kota ini. Maka saya kadang menjuluki Bandung itu New York-nya Indonesia. Segala macam komunitas dari yang “benar” sampe “enggak bener” ada di situ dan mereka saling tahu dan saling maklum sehingga semua terkesan bebas.

Bandung dan Semarang memang penuh kesan. Punya banyak cerita. Tapi cerita itu gak bisa tercipta kalo enggak melewati hal-hal yang biasa saja.

____

Akhir-akhir ini orang rumah sudah jarang di rumah. Rumah berkamar 5 ini sudah seperti bangunan kost. Tidak ada maka bersama, tidak ada keluar bersama, konsumsi air masing-masing. Kalaupun penduduknya datang biasanya sibuk di kamar masing-masing. Kalo jam waktu makan, paling titip-titipan makanan.

Kondisi tersebut membuat saya inget jama kost. Terutama jaman tinggal di Bandung. Kondisinya hampir mirip. Saya tinggal di rumah kakak dan keluarga kecilnya yang kalo pulang kampung ke Jakarta bisa sebulan. Sama seperti sekarang, kalo kondisi rumah lengkap masalah makan bukan persoalan. Sudah tersedia, sudah ada yang masak, dan yang pasti sudah ada yang beliin. Hehe. Tapi kalo kondisi sepi, mau gak mau kembali jadi anak kost.

Kemarin saat saya ke mini market, saya melihat nuget. Makanan yang pernah menemani waktu masih ngekost.

Bandung dan Semarang adalah dua kota yang tinggal di masa yang sama, masa kuliah. Dengan status anak kuliah otomatis masalah financial pun mepet. Saya harus berputar otak untuk bisa hidup di Bandung dan tetap bisa berkunjung ke semarang. Karena tanpa penghasilan tambahan maka agar yang nge-pas tersebut bisa ada selisih diperlukan usaha pengurangan konsumsi. Baik itu konsumsi nongkrong dan konsumsi makan.

Yang paling seru adalah saat mengurangi konsumsi makan. Saya tetap makan 3 kali sehari namun saya hanya beli makan untuk satu kali makan. Saya inget saat beli rendang dan soto ayam yang harus saya bagi tiga bagian. Satu bagian untuk masing-masing waktu makan. Bagi saya saat itu yang penting makan nasi. Misalnya, hari Senin saya beli rendang dan kuah ayam seharga 7ribu perak. Nasi masak sendiri. Beli rendang jam 10 dimakannya jam 12, jam 4 sore menjelang kuliah dan sepulang kuliah.Begitu pun yang terjadi pada soto ayam.

Kadang saya juga suka memanjakan lidah dengan makan ayam goreng atau sate ayam. Untuk sate ayam saya membaginya menjadi tiga bagian juga. Tiga tusuk buat makan malam, empat tusuk buat makan pagi, tiga tusuk buat makan siang. Nanti makan malam setelah sampai kampus sekitar jam 7. Proses ini saya lakukan jika saya mau makan enak di kampus sembari nongkrong sama teman-teman.

Semua makan tersebut bisa bertahan dengan teknik pendinginan dan pemanasan. Hehe. Jadi setiap selesai makan langsung masuk kulkas. Nanti kalo mau dimakan lagi baru dihangatkan.

Yang paling geli itu kalo uda menu nuget. Sebungkus nuget itu saya jatah perhari 3 nuget untuk satu kali makan. Makannya ya Cuma nasi, nuget sama saos biar ada rasaya. Kadang saya bikin nuget asam manis. Tumis bawang putih (kebetulan kalo bumbu dapur selalu disediakan), masukan saos tomat, masukan sedikit air, terus masukan nuget dalam potonga dadu yang uda digoreng sebelumnya. Dengan teknik itu, satu bungkus nuget itu bisa dikonsumsi 1,5 – 2 hari. Kegelian saat makan nuget itu terjadi pada saat perut dan mulut masih pengen ngunyah tapi jatah nuget untuk makan kali itu sudah habis. Rasanya ingin nambah satu lagi, tapi inget jatah. Jadinya, untuk nambah satu nuget itu rasaya seperti mau nambah istri lagi (padahal satu aja belum), penuh pertimbangan.

Over all, saya bersykur banget pernah melewati masa-masa itu. Masa-masa yang melahirkan cerita, masa-masa yang penuh kesan, masa-masa yang menambah warna dalam hidup saya, masa-masa yang penuh pelajaran. Masa-masa yang melahirka kenangan. Masa-masa yang penuh pengalaman. Mungkin tidak menyenangkan saat harus mengatur konsumsi, tapi pengalaman hidup di dua kota itu lunas membayarnya. Pengalaman hidup di dua kota itu selalu menyenangkan.

Bukan Sekadar Tajuk Rencana

Buku "Pers Orde Baru; Tinjauan Isi Kompas dan Suara Kaya" tulisan Rizal Mallarangeng

Buku “Pers Orde Baru; Tinjauan Isi Kompas dan Suara Kaya” tulisan Rizal Mallarangeng

Ngulik-ngulik tentang media dan segala atributnya adalah hal yang menyenangkan. Bagaimana tidak,  media adalah bentuk penyihir moderen. Hanya saja media tidak bisa serta merta merubah kelinci menjadi kerbau atau merubah daun menjadi uang. Media memiliki power untuk menjadikan orang ganteng yang tadinya Cuma jadi pajangan saat jadi pager bagus di kondangan mejadi orang yang senantiasa diminta foto bersama setiap ketemu masyarakat. Begitulan media. Saat orang ganteng main sinetron semuanya tetiba berubah.

Hal yang tidak kalah menarik adalah konflik. Inget konflik jaman SMA atau jaman kuliah saat kita ber-gank? Konflik sekecil apapun menjadi hal yang menarik untuk dibahas. Media pun dalam menjalankan operasionalnya tidak terlepas dari berbagai konflik. Yang paling hangat dan seksi adalah tentang tingkat objektivitas media terhadap realitas yang berkaitan baik secara langsung maupun tidak dengan pemilik media atau orientasi ideologi dan politik pemiliknya. Contoh mudahnya adalah perang Baratayudha media biru dan merah saat Pemilu 2014 lalu.

Bentuk lain dari konflik operasional media adalah tentang keberadaan tajuk rencana dalam sebuah media terutama koran. Sebuah buku berjudul “Pers Orde Baru; Tinjauan Kompas dan Suara Karya” adalah buku yang berisi skripsi Rizal Malarangeng yang dibimbing oleh Ashadi Siregar. Kedua orang ini  dan skripsinya adalah produk yang lahir dari sebuah Kampus di Jalan Sosio-Yustisia di Jogjakarta. Sebuah yang setiap sudut nongkrongnya punya cerita berbeda-beda namun punya satu kenangan, BERKESAN.

Buku tersebut di sala satu bab-nya menuliskan tentang perlunya keberadaan tajuk rencana dalam sebuah koran. Tajuk rencana menurut bapak Taylor mengingatkan saya dengan fungsi dan tugas logo. Logo adalah mahluk dengan bentuk paling kecil berukutan 1×1 cm yang bentuk dan warnanya wajib merepresentasikan perusahaan atau organisasi atau orang yang diwakilinya.  Pun tajuk rencana. Tajuk rencana adalah “reflects the reputation and integrity of the publication, as well as the will of corporations”  (Taylor, 1995).

Logo dan tajuk rencan bak saudara kembar. Fungsi dan tujuannya hampir sama. Bedanya, tajuk rencana berbentuk tulisan sedang logo berbentuk bidang dan warna. Keberadaan logo begitu penting bagi organisasi, selain sebagai identitas yang tujuannya adalah membedakan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lain, logo juga  sebagai model representasi dari organisasi. Maskudnya, seorang dapat melihat perusahaan dan segala isinya dari logonya. Logo mencerminkan kualitas dan asal organisasi. Tak heran jika perusahaan rela merogoh kocek dalam-dalam demi logo. Perusahaan menginginkan logo dibuat oleh orang atau perusahaan pembuat logo terpercaya.

Sama seperti logo, tajuk rencana juga menjadi cerminan media tersebut. Jika kita ingin melihat bagaimana pandangan media tersebut terhadap sebuah isu, bacalah tajuk rencana. Teks-teks yang dimuat dalam tajuk rencana juga dapat menunjukan bagaimana kecendrungan ideologi dan politik media tersebut. Begitu pentingnya tajuk rencana, maka perlakuan perusahaan media terhadapnya tidak berbeda dengan perlakuan media terhadap logo. Tajuk rencana harus dibuat oleh orang-orang profesional. Lagi-lagi menurut Taylor, “… you won’t get to write editorials until your hair begin to gray”. Artinya, hanya wartawan-wartawan senior dan loyal yang dapat dipercaya menulis editorial.

you won’t get to write editorials until your hair begin to gray

you won’t get to write editorials until your hair begin to gray

Konflik Tajuk Rencana

Pertanyannya adalah penting kah tajuk rencana dimuat sebuah media? Penting atau tidak pentingnya tajuk rencana adalah diskusi menarik karena hal ini berkaitan dengan duit dan idealisme.

Pertanyaan selanjutnya, seberapa besar efek muat-tidaknya tajuk rencana dengan oplah koran? Salah satu tujuan media dalah mencari keuntungan. Jika tidak memakai tajuk rencana saja laris lalu buat apa memuatnya.

Tajuk rencana adalah views. Artinya berisi opini media tentang sebuah isu yang berfungsi mendorong daya pikir pembaca dan mengajaknya berbincang-bincang tentang sesuatu sebelum pendapat umum mengenai sesuatu itu terbentuk (Arpan dalam Malarangeng, 2010). Selain pendapar Prof. Arpan ada pendapat lain terkait funsgi tajuk rencana. Namun kita tetap dapat menyimpulkan bahwa fungsi tajuk rencana terutama memang membentuk opini pembaca ke arah yang dianggap benar, baik dan perlu oleh penulis dan institusi pers bersangkutan. Jadi, jadi yang dilakukan melalui tajuk rencana bukan hanya to express melainkan juga to impress, bahkan terkadang to supress (Mallarangeng, 2010)

Dengan fungsi yang begitu mulia tajuk rencana seharusnya menjadi rubrik paling penting dan paling laris untuk dibaca. Sehingga berkonsekuensi dengan oplah media. Semakin baik media menulis tajuk rencan, semakin baik oplahnya. Itu logika sederahananya. Namun, menurut Arpan (dalam Mallarangeng, 2010) tajuk rencana adalah rubrik yang paling sedikit diperhatikan pembaca. Namun tajuk memiliki efektivitas yang tidak bisa diabaikan. Meskipun pembacanya sedikit, tajuk bisa berpengaruh dalam proses pembuatan keputusan, dan para pemimpin masyarkat sadar akan kehadirannya sehingga para pemimpinlah yang pertama-tama memberikan perhatian kepada isi tajuk (Hohenberg dalam Mallarangeng, 2010).

Melihat tajuk lebih banyak dibaca oleh para pemimpin, maka tajuk rencana seperti berlian. Hanya orang-orang tertentu yang punya selera tinggi yang menginginkannya. Kalo parodi slogan rokok, “Tajuk Rencan, Pemimpin Punya Selera”.

Kembali ke pertanyaan. Apakah tajuk rencana penting dimuat? Menurut Tjipta Lesmana bentuk tajuk yang terlalu akademis tidak memperlihatkan sikap tegas hanya membawakan “opini karet”:

Hasil dari cara penulisan yang analitis, panjang dan kurang mampu menunjukkan sikap biasanya adalah opini yang tidak tegas atau “opini karet”. Mungkin ada motif bagi penulisnya untuk menyembunyikan sikap sebenarnya terhadap masalah yang ditulis di balik analisa yang bertele-tele itu (Lesmana, 1985)

Dalam buku tersebut Rizal memberikan gambaran yang baik mengenai mengapa tajuk ditulis dengan bertele-tele. Salah satunya adalah faktor situasi politik yang berlaku di tempat media itu berada. Di Indonesia, situasi politik masa orde baru membuat sangat  mempersulit ruang gerak media. Sehingga hal ini berimbas pada gaya penulisan tajuk. Bagaimanapun dapur harus tetap mengepul. Maka mengaburkan sikap menjadi strategi untuk tetap mengepulkan asap di dapur namun tidak  menggadaikan idealisme dengan harga obral.

Maka tidak heran jika dalam Nazaruddin Najib mengakhiri polemik tentang perlu tidaknya tajuk dimuat di media dengan pernyataan berikut:

“Titik pangkal saya menyarankan agar supaya tajuk rencana tidak ada ialah karena terbata-batanya kemerdekaan pers dirasakan dewasa ini sehingga membikin tajuk overbodig, berlebih-lebihan, tak  berguna” (dalam Mallarengeng, 2010)

Pernyataan Nazaruddin tersebut memperlihatkan bahwa yang menjadi masalah bukan pada keberadaan tajuk rencana, namun pada situasi politik yang berlaku. Situasi politik yang berlaku yang mengekang kebebasan pers adalah penyakit yang mempengaruhi kesehatan isi tajuk rencana. Logo yang menggunakan warna merah itu tidak salah, namun menjadi masalah saat negara Bojong Koret mengharamkan warna merah.

Keberadaan tajuk rencana saja menimbulkan polemik. Namun dengan memandang sesuatu tidak dari satu arah saja, maka polemik tersebut bisa diminimalisir konfliknya.  Begitu pun masalah hidup. Milih-milih jodoh itu menimbulkan polemik, tapi coba lihat dari arah lain. Misalnya dari arah seorang tukang masak masakan padang.

“Kalo mau dapet rendang yang bagus itu masaknya lama, perlu kesabaran”

Terus hubungannya??

Kota Itu dan Waktu Maghrib

Waktu beranjak maghrib. Suasana kota itu masih memperlihatkan keteduhan. Kalian pasti menebak hujan baru saja turun bukan. Lalu jalan-jalan basah memantulkan cahaya lampu jalanan. Bukan –  bukan. Sore itu langit bersih. Para awan nan menawan sedang asik mengobrol santai di ufuk barat. Menutupi sinar  matahari yang akan tenggelam. Tidak ada rona merah senja. Yang ada hanya warna biru mendominasi langit. Lalu memantul ke permukaan. Warnanya membuat ego manusia terjun. Tenang sekali. Semua manusia terlihat tersenyum. Mereka tidak ingin melewatkan senja yang begitu apik. Bukan tak bisa marah atau cemberut. Tapi eman-eman rasanya melewati maghrib begini indah dengan omelan atau bahkan gerutu dalam hati.

Maghrib itu khas sekali. Kota itu seringkali membuncahkan maghrib seperti itu. Membuat orang betah berlama-lama duduk melihat langit. Membuat para maniak game yang berdekam dalam kamar sepanjang hari tergerak untuk keluar rumah. Maghrib seperti itu membuat orang tua marah karena anaknya enggan masuk rumah. Mereka lebih memilih berada di luar sampai warna biru itu berubah menjadi gelap.

Saya pun menikmati itu tapi tidak ikut tersenyum. Saya hanya bisa membayangkan saat senyum saya mengembang waktu itu, saat masih bisa menikmati maghrib di kota itu dengan mudahnya. Waktu mata saya masih menatap semua objek dalam warna yang beragam. Tidak semua memang. Kadang satu warna saja, kadang hitam-putih, kadang bahkan hitam saja. Tapi maghrib di kota itu bisa membuat warna itu kembali muncul dengan mudah.

Kota itu penuh dengan crayon alami. Saya bisa memilih warna sesuka hati. Crayon itu berserakan di alun-alun, di batas kota, di pasar, dan tempat lain. Kala mata saya hanya bisa melihat satu warna, maka saya akan pergi ke salah satu tempat itu dan saya pastikan akan ada warna tambahan di mata saya.  Mudah sekali.

Menyenangkan sekali membayangkan saya menikmati maghrib itu. Hari ini saat melewati maghrib di kota itu mata saya kembali penuh warna, tapi tidak dengan otak saya. Otak saya berwarna abu-abu. Mata ini nyaman menimati maghrib itu tapi tidak dengan otak saya. Saya berusaha keras memerintah otak agar segera sinkron dengan mata. Tapi hal itu enggan terwujud.  Saya rindu, rindu otak dan mata ini bisa sinkron.

Kota itu dan maghrib itu segera meninggalkan saya. Oh, tidak. Saya yang segera meninggalkan kota itu. Ban mobil itu terus berputar. Karet  yang melingkar di dalam mata saya sepertinya mulai afkir. Ada air yang rembas di sela-selanya. Walau begitu saya tetap berharap ban mobil itu bisa berhenti. Tak apalah otak dan mata ini tidak bisa sinkron, tapi setidaknya saya bisa membayangkan bibir saya yang mudah mengembang. Mungkin ini resikonya. Saat umur dan karakter sama tidak imbangnya dengan mata dan otak. Bayangkan saat kita harus menikmati sesuatu yang kita tidak suka. Karena penolakan kita akan hal itu membuat kita mati. Ini bukan lagi tuntutan umur, ini tuntutan perut dan tuntutan sosial.

Tuntutan-tuntutan itu datang karena manusia diberikan tuhan sebuah kemampuan. Kemampuan menganalisis, kemampuan memprediksi. Kita bisa membacanya dengan kemampuan menilai buruk atau kemampuan berprasangka buruk. Andai Tuhan tidak memberi itu kepada manusia, maka tidak akan ada tuntutan sosial macam begini. Termasuk tidak akan ada juga pekerjaan yang saya geluti ini. Tapi sampai kapan mau menuntut Tuhan, Dia benar-benar otoriter. Dia tidak bisa diatur. Bahkan sampai kita merengek-rengek menangis tujuh hari tujuh malam, Dia tetap tidak bisa diatur. Pun karena hal itu Dia disebut Tuhan. Jika dia mudah sekali berubah pikiran. Maksud saya merubah takdir, maka apa bedanya Dia dengan kita. Tahu kan galau? Tuhan itu antigalau. So, tidak ada kelakuan yang dapat bisa kita lakukan selain menerima.

Entah apa karet di dalam mata saya mulai membaik. Air nya berhenti merembas. Sekarang mata dan perasaan saya mulai tidak sinkron. Seharusnya perasaan-persaan itu terpilah. Yang satu berjalan menuju otak yang satu menuju mata. Kini keduanya lumpuh. Tak ada lagi rembas air. Sudah tidak ada lagi yang bisa rembas. Untunglah perasaan ini masih ada.

Saya masih berharap ban itu berhenti. Biarkan saya menikmati bayangan senyum mengembang di wajah saya saat menikmati maghrib itu. Setidaknya mata saya berwarna saat membayangkan itu. Dan saya semakin sadar, tampaknya saat saya bisa menikmati maghrib di kota itu, saat itu lah puncak kebahagiaan saya. Saat tidak ada tuntutan umur, tuntutan sosial, tuntutan perut. Saat mata sinkron dengan otak, perasaan sinkron dengan mata.

Catatan:

Tulisan hanya fiksi belaka. *percaya gak? Hehe.

Negeri van Oranje

Waktu itu di sebuah toko buku.

Wah! ada buku baru. Seru nih.

Seperti biasa saya yang katanya hobi baca buku punya parameter dangkal dalam menilai buku bagus, cover-nya. Ada buku kecil berwarna oranye. Di atasnya ada lingkaran warna biru yang menghiasi hampir ¼ cover. Di dalam bulatan itu ada garis-garis putih membentuk rumah kincir angin.

Buku itu bercerita tentang pertemanan. Pertemanan 5 pemacul ilmu di negeri londo. Seperti layaknya buku bertema friendship, perbedaan latar belakang tokohnya menjadi sumber keseruan sekaligus konflik. Konflik batin maupun konflik percintaan. Membaca buku ini membawa saya ke jaman SD waktu rajin jadi follower kakak-kakak saya yang addicted by Enid Blyton dengan 5 sekawannya. Saya yakin kesukaan Lintang pada buku Enid Blyton adalah representasi dari salah seorang penulisnya. Oya, setelah sekian lama baca buku 5 sekawan, saya baru tau hari ini kalo Enid Blyton itu perempuan.

Kalo buat penilaian, saya yang lagunya masih kayak bocah SMP lugu ini yang masih gampang dibuai sebuah bacaan motivasi membuat buku ini berhasil menciptakan blink-blink di otak saya merasakan serunya sekolah di negeri orang. Belanda. Entah kenapa semenjak sebuah kejadian yang terjadi di hidup saya membuat orientasi saya berubah, dari yang awalnya pengen jadi seorang professional menjadi pengen sekolah ke Belanda. Untuk menuntut ilmu? Bisa iya, bisa tidak. Karena salah satu khayalan saya saat ke Belanda adalah:

Saat saya sedang boring membaca buku kuliah di perpustakaan, iseng-iseng saya bermain ke arena buku sejarah di sebuah perpustakaan tertua di Belanda. Deretan buku terlewati, sepertinya tidak ada yang menarik. Sampailah saya ke sebuah rak. Di sana ada buku tua dan tebal. Saya yang suka sama hal berbau jadul penasaran membukanya. Setelah mengebet beberapa halaman, saya tersadar ternyata buku ini berisi kumpulan surat jalan yang harus dibawa kapal-kapal VOC saat membawa komoditas dari Indonesia ke negerinya. Yang membuat saya bergidik adalah, selain buku itu memuat surat jalan juga memuat laporan tenggelamnya kapal mana saja dari Indonesia yang membawa komoditas ke Belanda berikut kemungkinan koordinatnya. Berbekal keterangan buku itu, saya balik ke Indonesia untuk menggalinya.

Ngayal banget ya. Dan jelas 5 sekawan banget ya. Pantas enggak pernah kesampean ke Belanda.

Novel berjudul Negeri van Oranje ini bercerita juga tentang tempat-tempat wisata di Belanda dan beberapa negara di Eropa yang menjadi buruan para pelancong. Cerita-cerita itu membuat saya geregetan pengen jagi menteri pariwisata. Karena apa yang ada di sana menurut saya jauh banget sama yang ada di Indonesia. Saya mencoba menglasifikasikan tempat-tempat wisata tersebut. Dan ternyata novel itu tidak baru, cetakan pertama tahun 2009. Berarti saya yang ketinggalan. hehe.

Pertama, wisata Bangunan. Orang-orang pada cabut ke Eropa paling banyak kayaknya emang pengen nemuin sebuah bangunan. Ada bangunan yang bernilai sejarah karena pernah dipakai buat ini dan itu. Atau bangunan yang pernah ditinggali si ini dan si itu. Atau lagi bangunan yang dirancang oleh seorang arsitek legendaris. Setelah menemukan bangunan itu mereka berfoto. Cukup dan mereka rasanya uda seneng bener bisa foto di depan bangunan itu. Ada beberapa bangunan yang bisa dimasuki karena menyajikan memorabilia tentang tokoh atau sejarah bangunan tersebut. Kalo gak ada ya cukup banci foto aja.

Kedua, wisata pertunjukan. Kayaknya pertunjukan paling banyak di Eropa berupa drama atau konser musik. Itu pun konon dengan harga tiket masuk yang selangit.

Ketiga, wisata alam. Entahlah, di novel itu tidak disebutkan jelas detail kenapa pantai ini bagus dan lainnya. Yang saya ketahui wisata alam di Eropa gak jauh dari salju, pantai, danau, dan sungai. Sama sih kayak di Indo, cuma di Indo kan lebih beragam.

Keempat, wisata festival. Di Eropa banyak sekali festival-festival yang diadakan dalam rangka menyambut hari ini dan itu. Seperti festival bunga tulip, festival nimpukin tomat di spanyol, festival matador, dan lainnya.

Sekarang kita bandingkan dengan Indonesia. Wuih, jauh banget brur! Indonesia ini kaya raya.  Mau wisata apa? Banyak bangunan bersejarah di Indonesia. Belum rumah adat asli Indonesia. Wisata pertunjukan? Berlimpah ruah. Dari musik saja contohnya, di Indonesia ini apapun genre musiknya baik asli Indonesia ataupun luar ada festivalnya. Jazz, ada Java Jazz. Blues, ada Jakarta International Blues Festival, Reggae ada tapi namanya saya gak tau. Belum lagi musik daerah yang amat sangat bisa menjadi wisata pertunjukan. Ada festival bambu nusantara yang sempat saya tonton di Bandung waktu itu. Segala hal bermaterial bambu dari mulai perkakas dapur sampai musik ada di sana. Angklung salah satunya yang kemarin berkolaborasi dengan Dwiki Darmawan.

Masih bicara masalah wisata pertunjukan. Pertunjukan drama, musik dan tari seperti tari barong di Bali dengan nilai seni tinggi kayaknya gak akan ditemui selain di Indonesia. Belum tari-tari lain yang amat bisa dan saya yakin menyedot banyak perhatian. Jaipong, Tayub, Bedhoyo Ketawang, Saman, dan banyak jenis tari lain amat bisa dijual menjadi konsumsi para wisatawan.

Belum lagi wisata minuman keras. Di Eropa sepertinya yang terkenal hanya bir, wine, dan aneka jenis minuman beralkohol berat lain seperti merek yang banyak beredar di club-club. Di Indonesia, walaupun minuman keras masih tabu dan tidak elok juga dosa, tapi perkembangannya cukup signifikan. Dari mulai minuman keras modern sampai yang tradisional ada.  Yang mulai campur Autan sampai campur buah juga ada. Tape ketan bekas lebaran tahun kemarin juga masih bisa buat kepala berat (iya, gak Niq?).

Ada lagi wisata budaya. Seperti acara Sekaten di Jogja dan Solo, upacara Kasodo di Bromo, dan Ruwatan Gembel di dataran tinggi Dieng Wonosobo. Nah, untuk masalah wisata ini saya agak kurang setuju. Acara-acara budaya dan adat macam itu di Indonesia erat kaitannya dengan konsep ketuhanan. Artinya leluhur dulu membuat acara itu dengan maksud ibadah. Seperti Sekaten dan Kasodo, maksudnya adalah bersyukur pada sang kuasa dengan rezeki-rezeki yang telah diberikan. Namun jika kita seorang muslim, maka tata cara ibadah, bersyukur salah satunya, sudah diajarkan oleh Sang Maha Menggemgam Alam Raya ini. Ibadah-ibadah di luar itu terancam mengurangi eklusivitas Tuhan. Sedangkan Tuhan itu harus eklusif.

Ibadah-ibadah tersebut diciptakan oleh manusia, berasal dari manusia. Seolah-olah Tuhan tidak mengajarkan bagaimana cara bersyukur. Nah, kalo begitu, Tuhan yang kita yakini dan percayai belum sempurna. Wong dia gak ngajarin kita bersyukur. Kalo Tuhan itu gak sempurna buat apa disembah? Kita percaya dan kita yakini segala hal di dunia ini dari bangun tidur sampai (maaf) cebok sudah ada aturan dan tata caranya. Jika hal kecil saja sudah diajarkan masak yang hal penting seperti bersyukur gak diajarin. 

Juga, coba kita perhatikan, ibadah-ibadah yang berbalut budaya ini dari tahun ke tahun berubah model dan harinya. Jangan heran karena ibadah ini berasal dari manusia, maka jika ada manusia lain yang punya ide lebih brilian maka akan dipakai. Hal itu bergantung pada penguasanya. Contoh di Jogja, Sekaten bisa saja ada atau tidak. Bisa dipangkas waktunya, bisa juga diperpanjang. Semua tergantung Ngersa Dalem. Sekarang, bandingkan dengna ibadah yang Tuhan ciptakan. Solat, misalnya. Waktu dan tata caranya jelas. Tidak bisa diganti, tidak bisa dikuarangi, tidak bisa ditiadakan dan lain sebagainya. Semua tata cara itu terpatri dalam buku-buku. Berbeda dengan ibadah dengan bentuk budaya, bisa ada silang pendapat antara orang satu dan lainnya karena tata cara ibadah ini bisa dimodifikasi. Maka ibadah dalam bentuk budaya ini rentan keos. Perbedaan pendapat yang berujung perpecahan. Berbeda dengan ibadah dari Tuhan Yang Maha Adil, tidak bisa keos dan tidak bisa ditawar-tawar karena semua sudah ada aturan dan termaktub dalam kitab.

 Jadi, acara-acara budaya tersebut amat dekat sekali dengan yang namanya kurafat. Kurafat itu kalo gak salah intinya bertentangan dengan keimanan. Namun jika kondisi keimanan masyarakat kita sudah sangat baik. Artinya dia melakukan hal itu hanya sebagai tontonan wisata. Dia tidak percaya tuah dan berkah yang diberikan benda-benda itu seperti kebo bule di Solo atau gunungan sekaten di Jogja. Dia beriman dan percaya hanya kepada Allah. Dan saat ditanya mengapa Anda melakukan hal itu, mereka menjawab: ini bukan apa-apa hanya untuk menghibur. Maka mungkin menurut saya itu sah-sah saja. Mereka melakukan sebagai satu jualan kepada turis yang berakhir pada pundi-pundi di kantong mereka.

Well, intinya Indonesia ini dengan segala kekurangannya lebih dinamis. Lebih berwarna dan lebih asik tentunya. Cuaca dan makanan cukup bersahabat. Hanya beberapa hal saja yang kurang bersahabat. Pejabat, masyarakat dan transportasi. Kalo pejabat mah gak usah diomong, dia sih emang ngeselin. Kita akui bahwa ada masyarakat kita yang masih menganggap turis sebagai ancaman sehingga mereka kurang helpful terhadap turis. Ada lagi yang menganggap turis sebagai peluang. Peluang untuk dikibulin. Seperti kecurangan yang terjadi di Bali saat para turis menukar uang. Dengan lincah sang penjaga money changer menyelipkan selembar uang rupiah yang seharusnya menjadi bagian si turis. Untuk lebih jelasnya bisa Anda nonton youtube.

Masalah transportasi juga jadi kendala. Kalo transportasi antar kota sudah oke. Banyak kota di Indonesia yang bisa dijajaki dengan kereta api dan pesawat. Yang jadi masalah adalah saat turis sampai di kota tersebut. Tidak ada transportasi yang rapi jali dan tepat jadwal yang bisa mengantarkan mereka ke tempat-tempat tujuan wisata. Kemudahan transportasi seperti ini baru bisa ditemui di kota Jogja dengan Trans Jogja nya. Salut deh sama Jogja. Btw, sudah lama juga nih gak nengokin bakmi jawa pak Harjogeno di pasar jalan Paris.  Bakmi dengan porsi jumbo dan wajib ngantri 10 sampai 20 orang setiap kali beli memang gak ada lawan. Apalagi bakmi goreng nyemeknya. Apalagi pas makan kegigit irisan ayam kampong yang besar-besar. Haduuhhh…

Dear temen-temen di kementerian pariwisata. Peluang sangat bannyak. Masalah ada di publikasi dan kemasan saja. Saya belum pernah nonton sendra tari Ramayana di Prambanan Jogja. Entah apakah sudah bilingual atau belum. Btw, jadi ngebayangin enaknya nonton Prambanan di malam hari dibawah sinar purnama.

Lanjut. Seandainya Ludruk atau Ketoprak di Surabaya bisa bilingual. Artinya ada sebuah teknologi yang bisa menyajikan ludruk dalam bahasa Inggris atau bahas lain. Yah semacan subtitle kalo neyetel dvd mah. Mungkin hal ini bisa jadi daya tarik sendiri. Kan kasian bule-bule nonton Ludruk cuma bisa liat kostum, dengar logat jawa timuran yang khas, tapi gak ngerti maksud lawakannya.

Walhasil, Indonesia masih punya kesempatan untuk menggaet turis lebih banyak. Dan jangan salah, nyamannya turis di Indonesia berkaitan secara tidak langsung dengan ekonomi kita. Semua itu saling berkait. Begitupun takdir. Seperti dalam bukunya Tere Liye. So, mari kita berdoa untuk Indonesia kita agar lebih nyaman lagi. Kalo turis sudah bisa nyaman, berarti masyarakatnya sudah semakin berkembang.

 PS:

Sebetulnya saya memang pengen menulis tulisan yang terinspirasi dari buku itu, namun karena pulang selalu tepar jadi gak sempet nulis. Tapi sebagi karena suport Njonja Momon alias Moniq, waktu keadaan mabok tape ketan, saya pun menyempatkan diri menulis ini tulisan. Now your turn to write, Madam.

Pengen Pulang Kampung!

Baru kemarin (17/06 ) saya beranjak ke Purworejo untuk mengahidiri pernikahan seorang teman lawas dan kental. Cerita hidup saya dan dia hampir sama. Itu yang membuat saya merasa punya kedekatan lebih. Selamat ya Sant, semoga berkah senantiasa menyelimuti kehidupan berumah tangga dan semoga tak ada lagi cerita sedih. Hehe.

Beranjak ke Purworejo menggunakan bus malam. Hitung-hitung nostalgia. Sepertinya terakhir saya naik bus malam itu tahun 2012. Sebelumnya saat menuntut ilmu di Jogja, bus malam adalah transportasi andalan pulang pergi saat libur tiba. Bus malam itu bagai sebuah text, dia memiliki makna yang beragam di dalamnya. Kadang bermakna baik kadang tidak. Ya, karena banyak sekali konteks yang terjadi saat saya naik bus malam. Ah, sudah, kita lanjut..

Kemarin saat beranjak ke purworejo rasanya cuma saya yang punya konteks liburan atau berkunjung. Yang lain koteksnya pulang. Seperti biasa saya selalu bercakap-cakap dengan seatmate / teman sebangku (haha. Ngarang) tentang segala hal. Yang paling terkini adalah pilpres dan salah satu pertanyaan adalah: Bapak pulang atau berkunjung?.

Kebanyakan penumpang adalah perantau yang mengadu nasib di Jakarta. Mereka ke daerah ya dalam rangka pulang. Bapak di sebelah saya, dia pulang dalam rangka istirahat menjelang puasa. Dia rehat sejenak dari kesibukan kerja dan menyapa keluarga di rumahnya di Klaten. Atau jika ada yang bisa dicat atau diberes-bereskan sedikit di rumahnya.

Mendengar kata-kata si bapak, saya pun makin yakin memang salah satu keuntungan punya kampung itu adalah kita punya tempat untuk benar-benar men-charge otak dan tenaga. Memang sih aktivitas itu semua bisa digantikan dengan jalan-jalan. Tapi bagi saya, jalan-jalan itu biasanya hasilnya capek. Otak fresh tapi tidak dengan tenaga.

Saat pulang kampung biasanya orang membuang semua atribut karier-nya. Otak otomatis disetting dalam keadaan off dari segala bentuk pekerjaan. Yang ada adalah saya ingin menikmati suasana ini. Tubuh dan otak serasa rileks. Mengobrol dengan orang tua tentang segala hal. Mencicipi masakan orang tua. Atau bagi yang punya keluarga bisa mengobrol dengan istri dan bercanda dengan anak. Benar-benar rileks.

Saya sendiri gak punya kampung. Gak ada rumah yang biasa saya kunjungi dalam waktu yang lama dan saya bebas berbuat apa saja tanpa perlu eweuh pkeweuh. Tanpa perlu merepotkan orang lain. Bukan tidak bersyukur, tapi wajar lah saya punya keinginan. Makanya kalo saya dikasih list spesifikasi jodoh sama Allah SWT salah satunya saya minta adalah yang berbeda kota atau daerah dengan saya. Biar saya dan insyaAllah anak saya bisa pulang kampung. Tapi kembali lagi, yang terbaik itu pilihan Allah SWT dan Dia amat sangat tahu mana yang terbaik untuk kita.

Kenapa Harus “Nyampah”

Tahun 2008 waktu itu facebook dan flickr, jejaring social berbasis foto, kalo sekarang instagram, sedang boming-bomingnya. Di tahun yang sama sebuah jejaring social buatan local mencoba ikut tampil, namanya Koprol.com. Bersyukur saya pernah menjadi bagian walaupun secara amat tidak langsung saat peluncuran Koprol.com.

Koprol.com

Koprol adalah jejaring sosial yang dibuat oleh Satya Witoelar, anak dari Pak Wimar Witoelar. Jika melihat model jejaring social sekarang ini, facebook, twitter, foursquare, dan instagram, Koprol.com pada tahun 2008 sudah mengadopsi teknologi yang dipakai jejaring social tersebut. Waktu itu, saat facebook masih tebatas pada berbagi status, koprol.com sudah memiliki fasilitas berbagi status dan check-in. Fasilitas ini yang membuat foursquare boming pada 2009.

Buat saya, koprol.com adalah beyond. Artinya di atas rata-ata. Kalo melihat tren jejaring social sekarang ini, saya berpikir bahwa Mas Satya waktu itu sangat kreatif. Mampu melihat kebutuhn dna minat manusia di waktu mendatang. Terbukti kini hampir semua jejaring social memiliki fasilitas check-in. Fasilitas- fasilitas yang koprol.com miliki pada saat itu sudah sekelas path saat ini. Kadang saya berpikir bahwa path adalah wujud penyempurnaan koprol. Lalu, apa latar belakang penanaman fasilitas check-in di koprol.com?

Check In

Saya mengetahui koprol.com dari pak Wimar. Ada hal yang menarik saat pak Wimar mengenalkan koprol kepada kami. Waktu itu pak Wimar bercerita bahwa orang memiliki banyak sekali teman dan kita juga sering bepergian, begitu pun teman kita. Suatu saat kita pasti pernah ngalamin berada di tempat yang sama dengan teman lama kita dalam waktu yang sama. Contoh, misalnya kita makan di PIM, seminggu setelah makan kita bertemu teman dan mengobrol. Teman kita kemudian bercerita bahwa dia juga ada di PIM pada waktu itu. Nah, ini lah kenapa koprol.com memiliki fasilitas check in.

Fasilitas check in pada waktu itu sangat berguna untuk mendeteksi keberadaan teman di dekat kita. Selain itu, kalau tidak salah, koprol.com punya fasilitas yang membuat kita bisa melihat teman-teman mana yang sedang berada di dekat tempat kita. Misal, saat kita pergi ke bandara ke terminal 1 C, lalu kita buka peta di koprol.com. Nanti di peta tersebut akan menunjukan siapa saja teman koprol kita yang sedang berada di terminal 1 C dan tidak hanya itu, jika peta di zoom out maka akan terlihat teman kita yang check in di tempat yang dekat dengan kita. Misalnya teman kita yang sedang berada di terminal 3.

Perbedaan koprol.com dengan facebook pada waktu itu adalah tujuan. Menurut saya koprol jauh lebih manusiawi dan lebih asik. Kenapa? Jika facebook menenggelamkan kita dalam dunia antah berantah atau dalam kata lain membuat kita anti-sosial, koprol.com justru sebaliknya. Koprol membuat dan memudahkan kita untuk bertemu muka atau bersosialisasi secara nyata. Simplenya, koprol itu memudahkan dan mendorong kita bersilaturahmi.

Nyampah yang Berguna

Beberapa waktu lalu seorang teman yang sudah lama tidak bertemu menelpon. Dalam sebuah percakapan dia bilang bahwa saya alay karena tukang “nyampah”. Nyampah itu maksdunya seringkali berbagi segala macam di jejaring sosial termasuk salah satunya check in.

Ada lagi seorang teman yang memutuskan untuk bermusuhan dengan jejaring sosial kemudian memilih hidup di dunia nyata. Bukan lagi di dunia maya. Karena menurut dia, dunia maya membuat kita menjadi anti-sosial.

Saya, memilih untuk tetap tinggal di dunia maya dan tetap nyampah. Buat saya, orang yang bilang alay orang yan nyampah adalah orang yang tidak tahu kenapa ada fasilitas nyampah di jejaring sosial. Seperti yang sudah saya tulis, fasilitas nyampah atau check in maksudnya adalah fasilitas yang disematkan dengna tujuan mulia. Yaitu membuat seseorang bertemu muka atau silaturahmi. Bukan sekadar pamer atau gaya-gayaan atau sohor-sohoran.

Hasilnya

Saya pernah mengalami dua kejadian yang berkaitan efek dari nyampah.

Pertama. Satu waktu ternyata saya pernah berada di satu tempat dan satu waktu dengan saudara sepupu saya. Saat itu saya sedang mengantar sepupu saya yang lain ke terminal 1 A Soetta untuk pulang ke Lampung sedangkan sepupu saya sedang di terminall 1 B untuk tebang ke Bali. Tapi akhirnya kami tidak bertemu. Nobody Check in.

Kedua. Seorang teman check in di sebuah tempat ngopi di daerah Pangpol dan tak lupa dia mengunggah foto tempat itu. Tempatnya asik sekali. Sangat vintage. Buat saya yang suka ngopi, check in teman saya tadi amat berguna untuk saya menambah daftar tempat ngopi yang asik. Jika teman saya gak check in, mungkin saya gak pernah tau.

Jadi, nyampah ternyata punya beragam manfaat, ya. Kalo orang ngatain alay buat orang yang tukang nympah, saya mau ngatain pelit buat orang yang jarang nyampah. Pelit informasi. Hehe.

Selamat nyampah.