Bahagia Bersamamu, tapi Merana Tanpanya

Sebuah nomer mengirim pesan ke ponsel Dita.

“Kapan  kamu berangkat?”

Sebuah pesan singkat berisi pertanyaan singkat. Kuputuskan untuk membalas pesannya dengan singkat juga.

“Besok”

Jengkel rasanya menerima sms darinya. Setelah 10 bulan tidak pernah lagi berkomunikasi tiba-tiba hadir hanya dengan pesan sesederahana itu. Sudahlah, itu hanya kenangan yang tidak perlu lagi diungkit bahkan diingat.

Ada rasa penyesalan sebenarnya membalas pesan itu. Tapi, entahlah. Ada dorongan yang bersembunyi dibalik relung-relung hati yang memerintahkan untuk segera mebalas. Dan ada tiupan ke dalam sanubari untuk menunggu balasannya lagi. Oh Tuhan… Apa ini. Perasaan apa ini. Rindukan aku padanya.

Kulanjutkan memilah barang yang akan kubawa besok. Lewat jendela kamar, kutahu diluar sudah mulai hujan. Titik air yang dicurahkan Tuhan untuk manusia di bumi-Nya membuat batinku kembali tidak nyaman. Hujan menyimpan banyak cerita tentang aku dan dia karena hujan selalu hadir disetiap langkahku bersama dia. Dan hujan ini membuat aku tertidur lebih cepat.

***

Aku duduk di sebuah kursi panjang deretan paling belakang. Dekat dengan kantor kepala kereta api. Aku suka duduk di sini. Dari sini aku bisa melihat dengan leluasa suasana stasiun. Selagi aku menikmati suasana ini, sebuah pesan masuk dalam ponselku. Sebelum aku membacanya, aku berharap dia yang mengirim pesan.

“Dit, sorry ya say. Gw gak bisa nganter lo. Maaf banget. Gw speechless, Dit. Gak tau harus ngasih ucapan apa sama elo. Bener-bener gak nyangka akhirnya nyampe juga yak e fase hidup yang kayak gini. Overll I’ll send you the best wishes. And ABSOLUTLY I’ll miss you so bad. Mmuuuuuaaachh”

Ternyata bukan dia. Pesan itu dari Nina. Sahabat kentalku. Sahabat yang sudah kuanggap sebagai kakak dan juga adik.

Baca pesan Nina membuat dadaku memburuh. Mataku menarawang entah kemana. Tatapanku kosong. Hanya batinku beraktivitas. Kusadari dan kualami bagaimana dahsyatnya sang waktu berjalan. Aku telah melewati banyak hal. Dan hal itu mungkin akan terulang atau bahkan akan terlewatkan begitu saja. Dan aku memilih agar segala hal itu terlewat begitu saja. Aku ingin merasakan sebuah pengalaman baru.

Namun sebuah bayangan datang menghampiri otak lalu melaju ke dalam batin dan membuat batin ini seolah-olah berkata “yang lain boleh terlewatkan, tapi enggak dengan yang ini”. Bayangan itu adalah dia, Dito.

Aku hela nafas panjang. Mataku kembali kosong. Tapi tak terlalu lama. Sebuah pesan mampir lagi di ponsel ku. Ternyata Dito.

“Jangan lupa jaga kesehatan biar bahagia gak lari kemana-mana. Selamat jalan. Semoga selamat sampai di tujuan”

Nafasku makin cepat. Jengkel sekali aku menerima pesan itu. Kali ini aku tidak akan membalasnya. Ingin sekali aku bertemu Dito lalu bertanya pada dia dengan berteriak untuk apa dia mengirim pesan seperti itu. Setelah itu aku akan pukul dadanya sekuat-kuatnya agar rasa jengkel hilang.

Di tengah amarah ku yang memuncak terselip sebuah pertanyaan. Darimana Dito tahu aku berangkat malam ini. Sedang kereta tujuan Malang ada yang berangkat di pagi dan sore hari. Aku segera menuduh Nina yang memberikan info kepada Dito. Tanpa tunggu lama aku mengirim pesan kepada Nina meminta konfirmasi tentang ini. Tanpa tunggu waktu lama juga Nina segera membalas pesanku.

“Boro-boro. Semenjak dia gak hub sama lo, dia juga gak pernah sekali-kali juga hubungin gw. Dia kayak ilang dibawa Nyi Roro Kidul. BTW doi apa kabar ya??”

Aku yakin Nina tidak bohong. Aku juga yakin jika Dito saat ini ada di sini. Aku segera berdiri dari kursi itu menuju pintu tempat para calon penumpang masuk ke dalam area peron. Ketika mataku sedang mencari-mencari, sebuah tangan menyergap lenganku.

“Kamu nyariin siapa?”

Ah.. ternyata Rian.

“Nyariin kamu. Beli air mineral kok lama banget?” kataku

“Tadi beli pulsa dulu di seberang stasiun” jawab Rian sembari menggiringku ke tempat kami duduk tadi.

Aku kembali duduk di tempat tadi, tapi nafasku belum bisa kembali duduk dengan tenang. Nafasku tetap saja cepat. Sampai terkadang aku harus menarik nafas panjang untuk mencoba menormalkannya. Namun ada yang lebih sulit aku buat normal, mataku. Entah mengapa, mataku sulit sekali untuk diam.

Sekuat tenaga aku menahan mata ini. Sulit sekali. Mataku selalu mencoba mencari-cari.  Tapi selalu saja nihil. Dan aku mulai tersadar. Dito hanyalah masa lalu. Tidak perlu lagi aku mencarinya atau bahkan bertemu dengannya atau bahkan melihat wajahnya. Tatapanku kembali kosong. Batinku bergemuruh.

Aku masukan kedua ujung bibir kedalam mulut. Mataku berair. Air mukaku berubah. Aku benar-benar bingung apa yang membuat mood-ku jadi berubah drastis. Bukankah tadi aku sedang marah atas tingkah Dito. Tapi mengapa sekarang kelabu seolah bergantung di pelupuk mata saat aku tidak  mendapati Dito di stasiun ini.

Pengeras suara di stasiun berbunyi memberikan pengumuman bahwa kereta yang akan kunaiki sebentar lagi tiba. Mendengar suara khas lonceng pembukaan pengumuman itu mengiringi air mataku yang tiba-tiba jatuh. Aku tertunduk. Suara lonceng itu benar-benar menyayat hati ini. Suara lonceng itu menyadarkanku. Aku tidak akan pernah bisa bertemu Dito lagi.

Melihat keadaanku, Rian pun berujar “Nanti di Malang kamu bisa ikut kursus masak biar kamu ada kegiatan. Jadi gak keingetan rumah terus” sembari memencet hidungku.

“ Ayok, ke peron.” Ajak Rian sembari menggandeng tanganku.

“yuuk…” Jawabku sembari berusaha menyemburkan sedikit senyum.

Kereta datang dengan angkuhnya seperti menyuruh diriku untuk mengatakan selamat tinggal pada semua kenangan. Aku pun terpengaruh. Kudekap erat-erat lengan Rian sambil menunggu kereta benar-benar berhenti.

Seperti biasanya aku memilih duduk di dekat jendela. Rian sedang menaruh barang-barang di bagasi dan mencoba mengecilkan temperature  ac tepat di atas kepala kami. Ini musim hujan, jadi ac di kereta ini terasa lebih dingin.

Kurapatkan mukaku ke kaca jendela. Aku lihat langit di luar stasiun mulai dihiasi kilatan petir. Sebentar lagi hujan pikirku. Selagi asyik memandangi langit, aku tertergun melihat sebuah badan berbalut jumper abu-abu jalan meninggalkan stasiun. Itu Dito.

Aku yakin sekali. Jumper itu aku yang membelikannya. Dan Dito sayang sekali dengan jumper itu. Pernah suatu waktu Dito rela kembali ke sebuah café untuk mengambil jumper yang tertinggal. Padahal aku dan Dito sudah hampir setengah jam berkendara. Saat itu ada hal yang membuat aku benar-benar dibuat meleleh oleh Dito.

“Bukan masalah beli yang baru, beb. Jumper itu bukti perhatian kamu sama aku. Barang yang kamu beliin pertama kali dan yang memang bener-bener aku butuhin. Itu tandanya kamu tahu kebutuhan aku. Itu tandanya kamu perhatian sama aku sedetail mungkin. Itu tandanya pencarianku uda berakhir”

“ Maksudnya?” tanyaku penasaran

“Cukup kamu. Dan aku berdoa semoga kamu saja yang nanti nemenin aku sampe tua” jawab Dito. Dito lalu meneruskan kata-katanya dengan logat meniru seorang guru. “ Dan biar bisa nemenin kamu sampe tua , ini ada dua telinga, dua mata, dua tangan, dua kaki, dan satu hati untuk jagain kamu. Terutama kesehatan kamu”,  jawab Dito

Dito… dito.. manusia itu memang sangat konsen dengan kesehatanku. Aku ingat sekali saat dia mencarikan obat mual di malam buta dan mengirimkan ke rumahku saat itu juga.

Badan Dito semakin menghilang namun ingatan tentangnya semakin kuat. Aku ingat benar bau parfum Dito yang kadang ikut menempel di jumper abu-abu itu. Bau parfum itu membuatku betah membenamkan wajah dipunggung Dito saat dibonceng olehnya.

Wajahku semakin menempel di kaca. Air mataku kembali mengalir. Dan sebuah rasa ikut juga mengalir di dalamnya. Sebuah rasa rindu. Rindu cara dia menjadikan aku ratu dihatinya. Rindu kepolosan dia mencintaiku apa adanya. Kereta akan segera berangkat. Aku berkata lirih “I miss you, Dito”.

Rian yang melihatku wajahku tidak beranjak dari kaca mencoba mengintip wajahku dari samping. Aku sadar akan hal itu. Tapi aku tidak mau memperlihatkan rasa sedih ini di depan Rian. Aku pun segera memeluk Rian sembari mengelap air mataku di sweaternya. Rian pun segera bereaksi. Dia usap-usap rambutku dengan lembut.

“Nanti di Malang kita tinggal di rumah Mamah dulu. Nanti setelah kita beres milih-milih furniture baru kita tempatin rumah baru. Aku pengen nanti yang ngerancang isinya kita berdua. Gak apa-apa kan?” ujar Rian memberi pengumuman sembari tetap mengelus-elus rambutku.

Ah Rian.. Entah apa yang membuat dia begitu sayang kepadaku. Namu yang aku tahu cuma satu, aku tidak dapat menolak rasa sayang itu.

“Terserah kamu sayang. Mau dibawa kemana juga aku nurut. Kan aku uda jadi milik kamu” jawabku sambil medongakkan kepala ke atas mencoba memperlihatkan senyumku. Senyum menyambut kebahagiaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s