Es Teh Manis; Sang Fenomenal

Susah sekali sepertinya mencari orang yang tidak sama sekali mengenal es the. Minuman pasaran yang di mana saja bisa ditemui. Minuman ini paling enak dan nikmat diminum saat matahari sedang poll-poll-an nge-gas panasnya atau pas lagi buka puasa. Bayangkan, the berwarna keemasan yang manis dengan wangi melati yang sedap mengalir dingin melewati tenggorokan. Hmmmmm nyesss…

Jaman modern seperti ini banyak muncul minuman dingin. Dari yang berkarbonasi, alami, ekstrak rasa buah, sampai yang mengandung ion dan semua minuman itu mudah dibeli di mini market yang bertebaran di berbagai daerah dalam keadaan dingin.

Baru saja saya lewat di sebuah warung di pinggir jalan raya di kota Serpong. Panas, ngebul, dan debu semua campur jadi satu membuat tenggorokan minta yang dingin-dingin. Di salah satu sudut warung itu ada tempat duduk plastic. Di atasnya duduk beberapa orang mengenakan wear pack perusahaan logistic. Satu tangan mereka memegang segelas es the yang bulir-bulir sudah menempel di dinding gelas, dan satu tangan lagi memegang tuhan 9 centi berkepala merah yang konon katanya sumber inspirasi.

Sekarang, boleh lah sedikit agak ngilmiah sedikit. Kita bahas tentang representasi konteks. Apa sih perasaan atau tujuan atau motivasi orang yang menghisap racun-racun yang iklannya ngajarin kita untuk semangat. Saya sebagai mantan hamba tuhan 9 senti itu merasakan rasa santai, rileks, dan mencari inspirasi saat menyembahnya. Dan kebanyakan para ahli hisap pun merasakan hal yang sama. Nah, dari sini kita bisa ambil kesimpulan bahwa, orang yang sedang menyembah tuhan 9 centi merepresenatasikan rasa santai, rileks, atau mencari inspirasi. Orang merokok adalah teks, sedang rasa santai atau mencari inspirasi adalah konteks.

Lihat dan perhatikan betapa berharganya segelas es the manis. Dia disandingkan dengan seusuatu yang mencerminkan kebahagiaan, kesantaian atau pencarian inspirasi/ilham. Adakah orang meminum mizo**, atau po*ariswe*t, coc* co*a atau bahkan t*h bot*l yang juga sama-sama teh sambil merokok. Jarang sekali. Namun hampir rata-rata orang yang sedang menikmati es the melakukan itu.

Mengapa es the begitu berharga. Padahal minuman lain lebih modern, lebih keren kemasannya, dan lebih mahal harganya. Jawabannya adalah karya. Karya itu butuh usaha. Es teh itu harus dibuat dan dibuatnya harus fresh atau istilanya made by order. Es the itu harus diracik. Terlalu pekat nanti asam, terlalu manis membuat mual. Ini yang membuat es teh menjadi spesial. Perlu seni untuk membuatnya.

Sesuatu yang sifatnya baru dan dikerjakan dengan tangan kita sendiri, sekecil apapun itu, ia akan menjadi berharga. Itu. (gaya Mario Teguh)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s