Seorang Kawan Berkebutuhan Khusus

Belum lama ini, tepatnya tanggal 1 atau 2 April diperingati Hari Anak Berkebutuhan Khusus sedunia. Hal ini saya ketahui dari tulisan seorang ibu di Kompasiana yang anaknya ditakdirkan menjadi anak berkebutuhan khusus. Yang saya ingat dari tulisan si ibu adalah, anak berkebutuhan khusus itu cenderung aktif namun ada juga yang cenderung pasif.

Hari Minggu kemarin (7/4) saya jagong manten ke tetangga. Selagi bersantap makan, ada seorang anak dengan wajah yang tidak biasa duduk di sebelah saya. Maaf jika cara saya menggambarkan anak itu salah. Saya tidak tahu bagaimana harus menyebut anak-anak itu. Saya juga tidak tahu apakah dia termasuk kategori anak berkebutuhan khusus atau tidak. Namun menurut pengakuan eyangnya dia berkebutuhan khusus. (CMIIW)

Anak itu memakai kemeja batik dipadu celana denim dan sepatu sport wana putih bersih,sepertinya masih baru. Dia duduk di sebelah saya dengan diantar seorang tetangga dekat. Anak itu pun sama dengan saya, sedang akan menyantap hidangan kondangan. Saya terus saja melihat ke arah dia. Mungkin karena merasa dilihatin terus dia pun menengok kea rah saya. Dan saat wajahnya sudah bertemu wajah saya dia tersenyum dan mengangguk. Persis. Persis sekali seperti seorang yang sudah dewasa yang ingin menawari saya untuk ikut makan.

Saya menerima sinyal-sinyal yang tidak biasa dari anggukan anak itu. Sinyal yang saya tangkap adalah dia dewasa sebelum waktunya. Amat jarang seorang anak melakukan hal itu. Kebiasaan anak-anak adalah menghindar dari tatapan orang dewasa asing. Namun dia berbeda. Dia sepertinya sudah layak menjadi partner saya mengobrol di acara itu. Seperti kawan saja. Saya pun sempat berpikir dia berumur tua namun berbadan anak kecil.

Pertemuan saya tidak lama dengan anak itu. Saya pun pamit pulang. Saat saya pamit, saya bertemu dengan ibu dan eyangnya si anak itu. Ibu dari anak itu adalah seorang teman kakak saya yang waktu SMP pernah beberapa kali main ke rumah. Dari eyangnya saya tahu dia berkebutuhan khusus dan dari ibunya saya tahu bahwa anak itu berumur 9 tahun dan dia sudah hapal setengah dari juz ke- 30 dalam Alquran.

Saya sempat berpikir apakah tepat dia dikatakan berkebutuhan khusus dengan kelebihan special seperti itu. Kelebihan yang mungkin orantuanya saja tidak bisa memilikinya. Mungkin dia lebih cocok dikatakan anak berkelebihan khusus.

Entah, ada berapa jumlah anak seperti dia. Saya tidak terlalu paham apakah anak berkebutuhan khusus lebih banyak sisi kurangnya atau justru kita yang terlalu picik melihat mereka. Memberi nama berdasarkan musabab. Bukankah kebutuhan khusus adalah musabab dari sebuah sebab, yakni berkelebihan di atas rata-rata sehingga memerlukan perlakuan khusus. So, kenapa tidak mengambil dari sebabnya, mereka itu memiliki kelebihan khusus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s