Memikat dengan Musik

Siapa yang tak kenal degan Ramayana atau Robinson Departemen Store, tempat belanja baju paling komplit dengan harga yang miring. Lalu, apa kira-kira hal yang paling khas dari tempat belanja yang jika lebaran penuh sesak dengan manusia pencari fitrah. House music. Ya. House music adalah jenis music dengan beat tinggi yang cocok untuk dipakai ajojing, kalo kata orang dulu. Saya juga tidak tahu entah kenapa music model begini dinamakan house music. Padahal musik model begini sering distel di tempat ajeb-ajeb, tapi kenapa dibilang musik rumah.

Well, saya tidak mau membahas tentang house music, tapi membahas tentang toko baju tersebut. House music yang dimainkan di toko tersebut biasanya diselingi dengan suara MC atau penyiar radio yang memberikan pengarahan kepada pengunjung toko. Unik memang dan saya pun baru terpikir, mungkin si pemilik toko ini ingin membawa suasana dugem ke tokonya dengan menaruh seorang DJ di sana. Hmmm.. Saya jadi tertarik untuk mencari tahu lebih latar belakang si pemilik toko membawa konsep ini dan si DJ yang bekerja di sana. Kok mau-maunya kerja di sana. Padahal menurut saya suara si DJ ini memang khas sekali dengan DJ yang ada di tempat clubbing beraliran house music.

Kembali ke topik. Toko baju ini seringkali terlihat lengang saat hari-hari biasa. SPG-nya lebih banyak duduk-duduk dan mengobrol. Kadang sambil ngemil rujak sembai rumpi-rumpi. Untuk beberapa waktu si DJ kadang memutar musika atau lagu pop yang sedang happening saat ini. Biasanya top 40-nya music Indonesia. Biasanya lebih spesifik lagi kebanyakan yang diputar adalah lagu anak band. Tidak heran, karena kebanyakan pekerjanya adalah perempuan yang notabene nge-fans sama band tersebut. Sebutlah Ungu, Noah, Letto, D’ Massiv dan sebagainya. Atau memutar lagu-lagu mellow-nya Rosa, Ckara Khan, Terry dan sebagainya. Maklum kebanyakan pekerjanya lagi dimabuk cinta.

Musik-musik yang dipasang akan berubah drastis saat memasuki bulan puasa. Akan dipasang lagu-lagu religius, macam sholawatan dan lagu religus lain yang dibawakan oleh band-band ibu kota. Oh iya, ternyata konon katanya lagu-lagu yang dipasang adalah hasil request dari perkerja di toko itu. Jadi mereka mengirim sms ke si DJ meminta lagu atau musik tertentu.

Macam-macam cara orang menarik minta pelanggan. Dan music adalah salah satunya. Musik menjadi ciir khas atau branding untuk toko atau sebuah produk. Musik juga bisa menggambarkan siapa target market toko tersebut. Walhasil, banyak orang yang enggan membeli baju di toko tersebut karena kesan. Walaupun model dan merek baju yang ia cari ada di sana, tapi dia lebih memilih membeli baju di toko lain. Toko yang memutar lagu yang kesannya lebih elit, jazz misalnya.

Saya ingat saat ponakan kecil saya sakit. Dia harus ke dokter A dan tidak bisa ke dokter lain. Kenapa? Alasannya sepele, karena di dokter itu mengoleksi banyak majalah Bobo. Pernah dia dibawa ke dokter berbeda namun tidak kunjung sembuh. Lucu ya, kadang manusia itu memutuskan pilihannya bukan atas dasar pertimbangan matematika tapi lebih ke pertimbangan perasaan. Tentunya, jika produk yang dijual bersifat personal use, bukan keperluan dagang sebuah perusahaan yang pertimbangannya adalah untung-rugi.

Alhasil, tulisan ini Cuma sekadar berbagi perspektif. Gak ada yang terlalu penting. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s