Kata siapa? Katavlam.

Agak bingung juga menentukan untuk menuliskan pengalaman ini atau tidak. Karena tulisan ini akan menggunakan banyak kata “saya”. Sebenarnya saya agak jengah menulis sesuatu tentang diri saya. Kalo kata temen saya mah “emang situ seleb?”. Haha.  Tapi rasa iri dengan teman-teman yang sering menulis tentang dirinya dan juga kosongnya tulisan di blog yang berkategori tentang pengalaman pribadi bikin saya tertarik juga nulis model tulisan seperti itu.

Beberapa hari lalu, sebelum saya menderita tengeng alias salah bantal, saya sudah terlebih dahulu menderita struk ringan di rahang saya. Mulut gak bisa dibuka. Kalo makan mulut harus didongkrak dulu biar nasi bisa masuk. Repotnya, kalo uda pas buka puasa. Biasalah, nafsu menggebu untuk sapu bersih kudapan di depan mata. Lupa kalo mulut Cuma bisa mangap seperempat doang. Jadilah saya teriak gara-gara sakit. Dan buka puasa pun terasa lebih nikmat. Selain itu juga ada berbagai kenikmatan lagi. Misal pas gosok gigi atau pas ada makanan yang nyelap di gigi. Masya Allah… ampuuun dah. Tapi ada juga hikmahnya. Saya makannya jadi sedikit-sedikit dan ngunyahnya jadi lebih lama. Cara makan begini konon katanya bagus untuk penceranaan.

Penyakit aneh yang saya gak tahu penyebabnya ini punya skill deffense yang cukup hebat. Ini penyakit rela bertahan selama 4 hari. Saya bukan tipe manusia latah obat. Sakit dikit minum obat, nyeri dikit minum obat. Wadalah, tapi kali ini saya nyerah.

Alhamdulillah ada satu nama sepupu saya di WA. Sepupu saya ini bukan dokter tapi ngerti lah masalah kesehatan dikit-dikit mah. Mungkin karena dia kerja di rumah sakit juga kali yah dan didukung juga background pendidikan dia sebagai Bidan. Setelah chit-chat atau konsultasi, tersebutlah nama sebuah obat. Katavlam.

Ya saya pun segera mencari obat ini. Ternyata tulisan yang sepupu saya kasih itu berbeda. Yang bener tulisannya itu “cataflam”. Masih menurut sepupu saya, Mega namanya, catavlam itu obat anti inflamasi. Inflamasi adalah reaksi tubuh terhadap radang yang salah satu bentuknya berupa pembengkakan. Nah, jadi menurut Mega, apa yang saya alami itu bukan struk ringan melainkan pembengkakan yang terjadi akibat ketidaksempurnaan tumbuhnya si anak bungsu.

Harga obat ini cukup lumayan kalo menurut saya. Dua lembar uang dua ribu dan selembar  uang seribu untuk satu kapsul. Alhamdulillah dengan izin Sang Maha Memiliki Alam Raya dan Seluruh Isinya , mulut saya kembali normal. Hanya dengan empat butir katavlam yang diminum setelah berbuka dan saat sahur.

Yah… Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk pembaca. Tapi untuk pembaca yang sedang mengalami penyakit ini, jangan buru-buru beli obatnya. Tunda 2-3 hari aja, biar ngerasa gimana nikmatnya makan dengan mulut nganga seperempat. Hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s