Pengemis dan si Mbah Pemanggul Karung di Beringharjo

Mungkin ini tulisan usang tentang mulianya hati seorang nenek tua yang lebih memilih memanggul  karung dengan berat puluhan kilo ketimbang duduk termangu membawa mangkok di jalan raya, tapi tulisan ini lebih daripada itu.

Siapa yang tak suka, kerja sedikit dengan penghasilan banyak. Mungkin ini lah hal yang melekat pada diri orang pengemis. Di bulan suci ini kita melihat fenomena local, diserbunya ibu kota dengan para pengemis yang datang dari berbagai daerah. Saking enaknya kue usaha ini, di salah satu masjid terbesar di Jakarta bahkan ada pengemis sampai  jambak-jambakan berebut daerah kekuasaan. Gak mungkin merela rela sampai sebegitu kerasnya kalau bukan karena pendapatan yang menggiurkan.

Saya sendiri pernah melihat dengan mata kepala sendiri satu pengemis di sebuah perempatan di kota Yogyakarta. Kebetulan kerabat saya memiliki toko kelontong persis di dekat perempatan itu. Toko kelontong kerabat saya ini letaknya di Hook (untuk ilustrasi, lihat gambar). Bagian toko yang mengarah ke jalan Pendage ini jika malam cukup gelap.

Peta

Denah Toko Kelontong

Nah, setiap malam si pengemis ini membuka semua atributnya baju dan celana compang-campingya termasuk perban dengan obat merah buatan. Setelah itu dia masuk ke toko kerabat saya dan menukarkan uang recehnya dengan uang pecahan besar di toko saya. Tidak banyak memang yang ditukarkan, sekitar 40 – 50 ribu. Setelah beres tukar-menukar si  pengemis ini lalu pulang dengan motor jemputan.

Bayangkan betapa jauhnya perbandingannya. Namun, yang menggelitik bagi saya adalah bagaimana cara para si Mbah ini tidak pernah tergiur sedikit pun untuk menjadi pengemis. Padahal jelas mereka bisa dan mampu. Saya jadi teringat dengan sebuah pepatah “bergaul sama tukang minyak wangi, ya ikut wangi”. Dari sini saya memiliki asumsi, jika saja di Beringharjo itu si mbah pemanggul karung Cuma satu atau dua orang, mungkin mereka tergiur menjadi pengemis.  Sepandai-pandainya manusia memiliki prinsip, suatu saat bisa luluh juga.

Nah, apa pasal si mbah ini bisa bertahan untuk tetap memanggul? Menurut terawangan saya, hal itu karena manusia-manusia dengan prinsip dan idealisme yang sama berkumpul dalam satu komunitas. Di Beringharjo mungkin jika  kita Tanya satu-satu si mbah ini, mereka semua akan menjawab “emoh” untuk mengemis. Inilah yang menjadi keyakinan saya mengapa si mbah ini tetap setia menjalani profesinya. Bahkan bisa jadi mereka akan malu jika menyerah dengan idealismenya. Mungkin akan ditertawakan oleh sesama pemanggul karung dan dikatai pecundang.

Konon, anak cucu si mbah-mbah pemanggul karung ini banyak yang sukses di Jakarta. Namun lagi-lagi mungkin prinsip dan rasa malu menjadi factor utama mengapa mereka enggan melepas pekerjannya. Intisarinya, lagi-lagi bukti lingkungan benar-benar mempengaruhi kualitas diri pribadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s