Untung, Jawa!

Akhir Maret 2014 kemarin saya memutuskan untuk melangkahkan kaki mencari sedikit pencerahan di utara Tangerang. Sebenarnya sih uda aras-arasen untuk pergi ke sana karena memang tujuannya gak sesuai. Awalnya tujuan ke gugusan pulau di utara Jakarta itu untuk berkemah. Menikmati bintang di langit Jakarta dari Pulau Seribu. Tapi ya sudahlah daripada bête liburan panjang gak kemana-mana untung jawa pun gak masalah.

Untung jawa adalah sebuah pulau yang masuk dalam administrasi DKI Jakarta, tapi lebih dekat dengan Tangerang. Di pulau ini hidup lah manusia pada umumnya. Gak beda jauh dengan desa-desa lain yang ada di darat. Ada sekolah, puskesmas, masjid,  dermaga, dan yang pasti ada pantai dan kapal-kapal.

Mungkin dulu untung jawa ini dihuni oleh para nelayan, namun semenjak tahun 1997 para nelayan di untung jawa mulai banting stir ke bisnis wisata. Dari menyewakan kamar-kamar, sampai berbisnis water sport macam di Tanjung Benoa Bali. Salah seorang warga sekitar, namanya Pak Jalal, mengatakan bahwa semenjak krismon orang-orang mulai melirik untung jawa menjadi destinasi wisata. Pak Jalal juga bilang kalo dulu lebih mudah cari ikan daripada wisatawan, tapi sekarang lebih mudah cari wisatawan daripada cari ikan.

Hal yang saya suka dan menurut saya unik dari Pulau Untung Jawa adalah burung-burungnya. Namanya Pulau Rambut. Sebuah pulau yang terletak bersebelahan dengan pulau untung jawa. Di pulau rambut ini tidak ada penghuninya. Karena pulau ini digunakan untuk swaka marga satwa khusunya burung. Jadi, kalo kita berada di pulau Untung Jawa, terutama saat sunrise dan sunset menjelang, kita bisa liat sekawanan burung terbang bebas di langitnya. Haduuuh. Saya jadi inget saat pulang snorkeling dari pulau rambut. Merebahkan badan dengan pelampung menunggu sunset. Di atas saya langit biru dan kawanan burung berseliweran. Alamaaak…

Hal lain yang saya suka dari Untung Jawa adalah masyrakatnya yang asik. Mereka murah senyum dan senang bercerita. Intinya, mereka senang menerima tamu. Pernah kan ke tempat wisata yang orang di tempat itu memperlakukan tamu seperti musuh. Nah, saya tidak menemukannya di Untung Jawa. Pada saya sudah cakep, artinya saya sudah bangun dari laut, berbilas dengan air tawar dan ganti baju plus pake sarungan, saya nongkrong di warung pak jalal untuk menyantap indomie rebus soto. Babeeuuhhh. Mantap pisan bro. Saya benar-benar nongkrong. DUduk sembari ngobrol ngalor-ngidul dengan Pak Jalal yang notabene saya kenal karena beli indomie.

Warung pak jalal masuk dalam kategori warung paling happening di Untung Jawa. Yang bikin happening adalah tv 29 inch yang ditaro di depan warung beserta sound sistemnya yang besar. Pada jam 7 malam, warung ini biasa menyetel sinetron TBNH, tau kan? Tapi berbeda urusan kalo ada pertandingan bola. Pas banget waktu saya ke sana ada pertandingan Liverpool kontra Tottenham. Keduanya bukan club favorit, tapi tetep asik ditonton. Nah, saya nonton pertandingan itu beserta wisatawan lain dan penduduk sekitar. Karena saya make sarung saya sampe dikira yang punya warung. Tapi satu lagi yang asik, harga makanan dan minuman di sini cm beda 1000 sampai 2000. Bahkan cemilan model bengbeng dan chocolatos harganya sama.

Malam itu saya menginap di sebuah kamar dengan harga 250 ribu saat long weekend. Katanya kalo hari biasa, 50 ribu juga disabet. Untuk menimati makan malam ala laut, saya harus berjalan kea rah pantai barat. Di sinilah ada semacam plasa yang pinggirnya semuanya tukang ikan bakar. Harganya semua hampir sama. Yang membedakan adalah rasa. Beruntung saya makan di tempat yang hasil olahannya cukup enak. Namanya Ikan Bakar Bu Basri, Spesial Bumbu 1000 Goyangan. Unik ya? Ini sebenarnya bukan nama resmi. Nama itu muncul saat kami tawar menawar dengan ibu Basri ini.

“Bu, kalo di Pulau Seribu gini yang khas ikannya dimasak apa?” Tanya saya.

“Dibakar dong..,” jawab si ibu.

“Wah, bu kalo dibakar mah uda biasa”

“Beda.. di sini mah bumbunya paling sedep”

“Bedanya dmn bu?”

“Bumbunya special!!”

“Wah… Spesial bumbu pulau seribu, Bu, ya?”

“Pasti! Spesial seribu goyangan…” Hahah. Si Ibu terbahak.

“Hahaha. Masih kuat goyang emang, bu?”

Begitulah kira-kira percakapan saya dengan bu Basri.

 

Esok Pagi di Pulau Untung Jawa

Subuh buta saya bangun. Ya. Mau gak mau bangun karena kamar saya persis di sebelah masjid. Tapi saya bersyukur saya bisa melihat sunrise. Pagi itu mungkin pagi pertama saya melihat dengan jelas bagaimana salah satu ciptaan Tuhan Yang Maha Baik ini menyapa bumi Pulau Untung Jawa. Saya melihat matahari muncul dari horizon di sebelah timur. Nah, tempat melihat sunrise paling kece adalah di pantai timur.

Selepas melihat sunrise, saya berajalan mengelilingi pulau. Menyusuri jalan kon-blok lebar 80 cm. Melihat aktivitas warga pulau dan wisatawan yang sepertinya punya ketertarikan yang sama dengan saya. Dan langkah kaki pun menjejak pantai barat setelah badan bercucuran peluh. Di sana ada sebuah gedung serba guna bergaya kolonial.  Di dekatnya ada deretan sepeda. Di salah satu sepeda ada sebuah bacaan yang berbunyi ” SEWA SEPEDA. RP 5000/ JAM”. Tau gitu mah, naik sepeda aja.

Lelah berjalan-jalan, saya kembali ke kamar. Yang lain bangun mendengar saya masuk kamar. Setelah bangun mereka pun beranjak keluar mencari sarapan.  Saya, kembali tidur. Tapi baru saja 30 menit tidur, mereka sekonyong-konyong masuk kamar dan bangunin saya.

“Mar, bangun! Siap-siap kita snorkeling di Pulau Pari. Kapalnya uda nungguin!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s