Banderol Pertemanan

Pinjem dari: tumblr.com (entah punya siapa)

Ada satu teori komunikasi yang mengatakan bahwa komunikasi itu bersifat transaksional. Maksudnya, seseorang gak akan berkomunikasi kalor dia tidak punya kepentingan. Komunikasi dua arah akan terjadi jika masing-masing kepentingan tercover. Contoh, pernah kan anda ditanya seseorang lalu Anda tidak menjawab apa-apa. Diamnya Anda adalah karena Anda merasa pertanyaan atau pernyataan lawan bicara tersebut tidak penting. Tidak ada manfaat atau keuntungan yang diambil dari menjawab atau menimbalinya. Hal ini kemudian membuat simpulan bahwa informasi itu sangat mahal.

Informasi adalah salah satu dari tujuan dibangunnya komunikasi. Contoh, saat kita ingin menanyakan sebuah alamat maka yang kita butuhkan dari lawan bicara adalah informasi. Sedangkan tujuan kedua adalah tindakan / kepatuhan. Contoh, kita haus dan minta diambilkan minuman. Kedua hal itu, informasi dan tindakan, berharga amat mahal. Kembali lagi ke teori di atas, saking mahalnya orang gak akan memberikan informasi atau bertindak jika dari keduanya tidak menghasilkan apa-apa. Namun bagaimana dengan orang yang memberitahu alamat, dia kan tidak menerima apa-apa? Nah, bukankah saat kita memberitahu alamat tersebut ada terbesit di benak kita untuk menolong? Dan dari pertolongan itu kita berharap pahala atau dibalas dengan kebaikan setimpal oleh orang lain bila satu saat kita menanyakan alamat? Itu semua adalah kepentingan kita.

What Friends Are For

Pasti pernah mendengar kata-kata itu. Kemudian galau dengan kata-kata itu saat pertemanan kemudian harus dibatasi jarak. Jarak dalam artian sebenarnya dan artian tidak sebenarnya. Lalu, menganggap “pertemanan adalah ee-nya banteng”. Ini yang mungkin kita rasakan saat SMA dan mungkin sampai sekarang.

Fenomena tersebut biasanya muncul saat teman yang selalu ada saat kita butuhkan menjadi sulit diajak bicara karena kesibukannya. Sejurus kemudian teman tersebut seolah kita anggap ditelan bumi. Kita merasa hidup pada akhirnya memang masing-masing. Menyelamatkan diri masing-masing. Yang berharga hanyalah aku dan keluargaku. Begitulah kurang lebihnya.

Setelah beberapa lama sang teman tidak sengaja bertemu lalu mereka mengobrol tentang banyak hal. Tentang pekerjaannya, tentang rumah tangganya, tentang keluarganya, dan macem-macem obrolan. Kadang sampai segala macam rahasia perusahaan tempat dia bekerja diumbar. Bahkan sering kali teman membuka aib profesi, keluarga, dan usahanya demi menyelamatkan teman kita dari kejadian yang gak enak. Contoh, saat seorang pria meminta nasihat teman perempuannya terkait hubungan atau kelakuan pasangannya. Dalam kondisi ini, tidak jarang temannya yang wanita ini membuka trik-trik wanita saat menjalankan sebuah hubungan. Dan berlaku sebaliknya.

Segala macam informasi, aib dan rahasia yang diumbar pada saat ngobrol itu lah yang menunjukkan betapa mahalnya seorang teman. Bayangkan adakah orang yang sukarela membuka aibnya tanpa syarat. Tidak ada sedikit pun manfaat yang teman kita dapatkan dari tindakan membuka aibnya. Justru sebaliknya, kita yang mendapatkan manfaatnya. Hanya teman yang mau melakukan itu. Hal ini tidak akan pernah terjadi pada orang yang baru kita temui. Apalagi jika dikaitkan dengan teori komunikasi yang tadi disebutkan.

Jadi, menurut saya, pertemanan itu tidak hanya dinilai dari keberadaan dia saat kita butuhkan. Tapi juga dari bagaimana dia menjadikan informasi yang dia ketahui juga menjadi informasi yang harus kita ketahui.

Superrr sekali.. Hehehe.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s