Pengen Pulang Kampung!

Baru kemarin (17/06 ) saya beranjak ke Purworejo untuk mengahidiri pernikahan seorang teman lawas dan kental. Cerita hidup saya dan dia hampir sama. Itu yang membuat saya merasa punya kedekatan lebih. Selamat ya Sant, semoga berkah senantiasa menyelimuti kehidupan berumah tangga dan semoga tak ada lagi cerita sedih. Hehe.

Beranjak ke Purworejo menggunakan bus malam. Hitung-hitung nostalgia. Sepertinya terakhir saya naik bus malam itu tahun 2012. Sebelumnya saat menuntut ilmu di Jogja, bus malam adalah transportasi andalan pulang pergi saat libur tiba. Bus malam itu bagai sebuah text, dia memiliki makna yang beragam di dalamnya. Kadang bermakna baik kadang tidak. Ya, karena banyak sekali konteks yang terjadi saat saya naik bus malam. Ah, sudah, kita lanjut..

Kemarin saat beranjak ke purworejo rasanya cuma saya yang punya konteks liburan atau berkunjung. Yang lain koteksnya pulang. Seperti biasa saya selalu bercakap-cakap dengan seatmate / teman sebangku (haha. Ngarang) tentang segala hal. Yang paling terkini adalah pilpres dan salah satu pertanyaan adalah: Bapak pulang atau berkunjung?.

Kebanyakan penumpang adalah perantau yang mengadu nasib di Jakarta. Mereka ke daerah ya dalam rangka pulang. Bapak di sebelah saya, dia pulang dalam rangka istirahat menjelang puasa. Dia rehat sejenak dari kesibukan kerja dan menyapa keluarga di rumahnya di Klaten. Atau jika ada yang bisa dicat atau diberes-bereskan sedikit di rumahnya.

Mendengar kata-kata si bapak, saya pun makin yakin memang salah satu keuntungan punya kampung itu adalah kita punya tempat untuk benar-benar men-charge otak dan tenaga. Memang sih aktivitas itu semua bisa digantikan dengan jalan-jalan. Tapi bagi saya, jalan-jalan itu biasanya hasilnya capek. Otak fresh tapi tidak dengan tenaga.

Saat pulang kampung biasanya orang membuang semua atribut karier-nya. Otak otomatis disetting dalam keadaan off dari segala bentuk pekerjaan. Yang ada adalah saya ingin menikmati suasana ini. Tubuh dan otak serasa rileks. Mengobrol dengan orang tua tentang segala hal. Mencicipi masakan orang tua. Atau bagi yang punya keluarga bisa mengobrol dengan istri dan bercanda dengan anak. Benar-benar rileks.

Saya sendiri gak punya kampung. Gak ada rumah yang biasa saya kunjungi dalam waktu yang lama dan saya bebas berbuat apa saja tanpa perlu eweuh pkeweuh. Tanpa perlu merepotkan orang lain. Bukan tidak bersyukur, tapi wajar lah saya punya keinginan. Makanya kalo saya dikasih list spesifikasi jodoh sama Allah SWT salah satunya saya minta adalah yang berbeda kota atau daerah dengan saya. Biar saya dan insyaAllah anak saya bisa pulang kampung. Tapi kembali lagi, yang terbaik itu pilihan Allah SWT dan Dia amat sangat tahu mana yang terbaik untuk kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s