Negeri van Oranje

Waktu itu di sebuah toko buku.

Wah! ada buku baru. Seru nih.

Seperti biasa saya yang katanya hobi baca buku punya parameter dangkal dalam menilai buku bagus, cover-nya. Ada buku kecil berwarna oranye. Di atasnya ada lingkaran warna biru yang menghiasi hampir ¼ cover. Di dalam bulatan itu ada garis-garis putih membentuk rumah kincir angin.

Buku itu bercerita tentang pertemanan. Pertemanan 5 pemacul ilmu di negeri londo. Seperti layaknya buku bertema friendship, perbedaan latar belakang tokohnya menjadi sumber keseruan sekaligus konflik. Konflik batin maupun konflik percintaan. Membaca buku ini membawa saya ke jaman SD waktu rajin jadi follower kakak-kakak saya yang addicted by Enid Blyton dengan 5 sekawannya. Saya yakin kesukaan Lintang pada buku Enid Blyton adalah representasi dari salah seorang penulisnya. Oya, setelah sekian lama baca buku 5 sekawan, saya baru tau hari ini kalo Enid Blyton itu perempuan.

Kalo buat penilaian, saya yang lagunya masih kayak bocah SMP lugu ini yang masih gampang dibuai sebuah bacaan motivasi membuat buku ini berhasil menciptakan blink-blink di otak saya merasakan serunya sekolah di negeri orang. Belanda. Entah kenapa semenjak sebuah kejadian yang terjadi di hidup saya membuat orientasi saya berubah, dari yang awalnya pengen jadi seorang professional menjadi pengen sekolah ke Belanda. Untuk menuntut ilmu? Bisa iya, bisa tidak. Karena salah satu khayalan saya saat ke Belanda adalah:

Saat saya sedang boring membaca buku kuliah di perpustakaan, iseng-iseng saya bermain ke arena buku sejarah di sebuah perpustakaan tertua di Belanda. Deretan buku terlewati, sepertinya tidak ada yang menarik. Sampailah saya ke sebuah rak. Di sana ada buku tua dan tebal. Saya yang suka sama hal berbau jadul penasaran membukanya. Setelah mengebet beberapa halaman, saya tersadar ternyata buku ini berisi kumpulan surat jalan yang harus dibawa kapal-kapal VOC saat membawa komoditas dari Indonesia ke negerinya. Yang membuat saya bergidik adalah, selain buku itu memuat surat jalan juga memuat laporan tenggelamnya kapal mana saja dari Indonesia yang membawa komoditas ke Belanda berikut kemungkinan koordinatnya. Berbekal keterangan buku itu, saya balik ke Indonesia untuk menggalinya.

Ngayal banget ya. Dan jelas 5 sekawan banget ya. Pantas enggak pernah kesampean ke Belanda.

Novel berjudul Negeri van Oranje ini bercerita juga tentang tempat-tempat wisata di Belanda dan beberapa negara di Eropa yang menjadi buruan para pelancong. Cerita-cerita itu membuat saya geregetan pengen jagi menteri pariwisata. Karena apa yang ada di sana menurut saya jauh banget sama yang ada di Indonesia. Saya mencoba menglasifikasikan tempat-tempat wisata tersebut. Dan ternyata novel itu tidak baru, cetakan pertama tahun 2009. Berarti saya yang ketinggalan. hehe.

Pertama, wisata Bangunan. Orang-orang pada cabut ke Eropa paling banyak kayaknya emang pengen nemuin sebuah bangunan. Ada bangunan yang bernilai sejarah karena pernah dipakai buat ini dan itu. Atau bangunan yang pernah ditinggali si ini dan si itu. Atau lagi bangunan yang dirancang oleh seorang arsitek legendaris. Setelah menemukan bangunan itu mereka berfoto. Cukup dan mereka rasanya uda seneng bener bisa foto di depan bangunan itu. Ada beberapa bangunan yang bisa dimasuki karena menyajikan memorabilia tentang tokoh atau sejarah bangunan tersebut. Kalo gak ada ya cukup banci foto aja.

Kedua, wisata pertunjukan. Kayaknya pertunjukan paling banyak di Eropa berupa drama atau konser musik. Itu pun konon dengan harga tiket masuk yang selangit.

Ketiga, wisata alam. Entahlah, di novel itu tidak disebutkan jelas detail kenapa pantai ini bagus dan lainnya. Yang saya ketahui wisata alam di Eropa gak jauh dari salju, pantai, danau, dan sungai. Sama sih kayak di Indo, cuma di Indo kan lebih beragam.

Keempat, wisata festival. Di Eropa banyak sekali festival-festival yang diadakan dalam rangka menyambut hari ini dan itu. Seperti festival bunga tulip, festival nimpukin tomat di spanyol, festival matador, dan lainnya.

Sekarang kita bandingkan dengan Indonesia. Wuih, jauh banget brur! Indonesia ini kaya raya.  Mau wisata apa? Banyak bangunan bersejarah di Indonesia. Belum rumah adat asli Indonesia. Wisata pertunjukan? Berlimpah ruah. Dari musik saja contohnya, di Indonesia ini apapun genre musiknya baik asli Indonesia ataupun luar ada festivalnya. Jazz, ada Java Jazz. Blues, ada Jakarta International Blues Festival, Reggae ada tapi namanya saya gak tau. Belum lagi musik daerah yang amat sangat bisa menjadi wisata pertunjukan. Ada festival bambu nusantara yang sempat saya tonton di Bandung waktu itu. Segala hal bermaterial bambu dari mulai perkakas dapur sampai musik ada di sana. Angklung salah satunya yang kemarin berkolaborasi dengan Dwiki Darmawan.

Masih bicara masalah wisata pertunjukan. Pertunjukan drama, musik dan tari seperti tari barong di Bali dengan nilai seni tinggi kayaknya gak akan ditemui selain di Indonesia. Belum tari-tari lain yang amat bisa dan saya yakin menyedot banyak perhatian. Jaipong, Tayub, Bedhoyo Ketawang, Saman, dan banyak jenis tari lain amat bisa dijual menjadi konsumsi para wisatawan.

Belum lagi wisata minuman keras. Di Eropa sepertinya yang terkenal hanya bir, wine, dan aneka jenis minuman beralkohol berat lain seperti merek yang banyak beredar di club-club. Di Indonesia, walaupun minuman keras masih tabu dan tidak elok juga dosa, tapi perkembangannya cukup signifikan. Dari mulai minuman keras modern sampai yang tradisional ada.  Yang mulai campur Autan sampai campur buah juga ada. Tape ketan bekas lebaran tahun kemarin juga masih bisa buat kepala berat (iya, gak Niq?).

Ada lagi wisata budaya. Seperti acara Sekaten di Jogja dan Solo, upacara Kasodo di Bromo, dan Ruwatan Gembel di dataran tinggi Dieng Wonosobo. Nah, untuk masalah wisata ini saya agak kurang setuju. Acara-acara budaya dan adat macam itu di Indonesia erat kaitannya dengan konsep ketuhanan. Artinya leluhur dulu membuat acara itu dengan maksud ibadah. Seperti Sekaten dan Kasodo, maksudnya adalah bersyukur pada sang kuasa dengan rezeki-rezeki yang telah diberikan. Namun jika kita seorang muslim, maka tata cara ibadah, bersyukur salah satunya, sudah diajarkan oleh Sang Maha Menggemgam Alam Raya ini. Ibadah-ibadah di luar itu terancam mengurangi eklusivitas Tuhan. Sedangkan Tuhan itu harus eklusif.

Ibadah-ibadah tersebut diciptakan oleh manusia, berasal dari manusia. Seolah-olah Tuhan tidak mengajarkan bagaimana cara bersyukur. Nah, kalo begitu, Tuhan yang kita yakini dan percayai belum sempurna. Wong dia gak ngajarin kita bersyukur. Kalo Tuhan itu gak sempurna buat apa disembah? Kita percaya dan kita yakini segala hal di dunia ini dari bangun tidur sampai (maaf) cebok sudah ada aturan dan tata caranya. Jika hal kecil saja sudah diajarkan masak yang hal penting seperti bersyukur gak diajarin.

Juga, coba kita perhatikan, ibadah-ibadah yang berbalut budaya ini dari tahun ke tahun berubah model dan harinya. Jangan heran karena ibadah ini berasal dari manusia, maka jika ada manusia lain yang punya ide lebih brilian maka akan dipakai. Hal itu bergantung pada penguasanya. Contoh di Jogja, Sekaten bisa saja ada atau tidak. Bisa dipangkas waktunya, bisa juga diperpanjang. Semua tergantung Ngersa Dalem. Sekarang, bandingkan dengna ibadah yang Tuhan ciptakan. Solat, misalnya. Waktu dan tata caranya jelas. Tidak bisa diganti, tidak bisa dikuarangi, tidak bisa ditiadakan dan lain sebagainya. Semua tata cara itu terpatri dalam buku-buku. Berbeda dengan ibadah dengan bentuk budaya, bisa ada silang pendapat antara orang satu dan lainnya karena tata cara ibadah ini bisa dimodifikasi. Maka ibadah dalam bentuk budaya ini rentan keos. Perbedaan pendapat yang berujung perpecahan. Berbeda dengan ibadah dari Tuhan Yang Maha Adil, tidak bisa keos dan tidak bisa ditawar-tawar karena semua sudah ada aturan dan termaktub dalam kitab.

Jadi, acara-acara budaya tersebut amat dekat sekali dengan yang namanya kurafat. Kurafat itu kalo gak salah intinya bertentangan dengan keimanan. Namun jika kondisi keimanan masyarakat kita sudah sangat baik. Artinya dia melakukan hal itu hanya sebagai tontonan wisata. Dia tidak percaya tuah dan berkah yang diberikan benda-benda itu seperti kebo bule di Solo atau gunungan sekaten di Jogja. Dia beriman dan percaya hanya kepada Allah. Dan saat ditanya mengapa Anda melakukan hal itu, mereka menjawab: ini bukan apa-apa hanya untuk menghibur. Maka mungkin menurut saya itu sah-sah saja. Mereka melakukan sebagai satu jualan kepada turis yang berakhir pada pundi-pundi di kantong mereka.

Well, intinya Indonesia ini dengan segala kekurangannya lebih dinamis. Lebih berwarna dan lebih asik tentunya. Cuaca dan makanan cukup bersahabat. Hanya beberapa hal saja yang kurang bersahabat. Pejabat, masyarakat dan transportasi. Kalo pejabat mah gak usah diomong, dia sih emang ngeselin. Kita akui bahwa ada masyarakat kita yang masih menganggap turis sebagai ancaman sehingga mereka kurang helpful terhadap turis. Ada lagi yang menganggap turis sebagai peluang. Peluang untuk dikibulin. Seperti kecurangan yang terjadi di Bali saat para turis menukar uang. Dengan lincah sang penjaga money changer menyelipkan selembar uang rupiah yang seharusnya menjadi bagian si turis. Untuk lebih jelasnya bisa Anda nonton youtube.

Masalah transportasi juga jadi kendala. Kalo transportasi antar kota sudah oke. Banyak kota di Indonesia yang bisa dijajaki dengan kereta api dan pesawat. Yang jadi masalah adalah saat turis sampai di kota tersebut. Tidak ada transportasi yang rapi jali dan tepat jadwal yang bisa mengantarkan mereka ke tempat-tempat tujuan wisata. Kemudahan transportasi seperti ini baru bisa ditemui di kota Jogja dengan Trans Jogja nya. Salut deh sama Jogja. Btw, sudah lama juga nih gak nengokin bakmi jawa pak Harjogeno di pasar jalan Paris.  Bakmi dengan porsi jumbo dan wajib ngantri 10 sampai 20 orang setiap kali beli memang gak ada lawan. Apalagi bakmi goreng nyemeknya. Apalagi pas makan kegigit irisan ayam kampong yang besar-besar. Haduuhhh…

Dear temen-temen di kementerian pariwisata. Peluang sangat bannyak. Masalah ada di publikasi dan kemasan saja. Saya belum pernah nonton sendra tari Ramayana di Prambanan Jogja. Entah apakah sudah bilingual atau belum. Btw, jadi ngebayangin enaknya nonton Prambanan di malam hari dibawah sinar purnama.

Lanjut. Seandainya Ludruk atau Ketoprak di Surabaya bisa bilingual. Artinya ada sebuah teknologi yang bisa menyajikan ludruk dalam bahasa Inggris atau bahas lain. Yah semacan subtitle kalo neyetel dvd mah. Mungkin hal ini bisa jadi daya tarik sendiri. Kan kasian bule-bule nonton Ludruk cuma bisa liat kostum, dengar logat jawa timuran yang khas, tapi gak ngerti maksud lawakannya.

Walhasil, Indonesia masih punya kesempatan untuk menggaet turis lebih banyak. Dan jangan salah, nyamannya turis di Indonesia berkaitan secara tidak langsung dengan ekonomi kita. Semua itu saling berkait. Begitupun takdir. Seperti dalam bukunya Tere Liye. So, mari kita berdoa untuk Indonesia kita agar lebih nyaman lagi. Kalo turis sudah bisa nyaman, berarti masyarakatnya sudah semakin berkembang.

PS:

Sebetulnya saya memang pengen menulis tulisan yang terinspirasi dari buku itu, namun karena pulang selalu tepar jadi gak sempet nulis. Tapi sebagi karena suport Njonja Momon alias Moniq, waktu keadaan mabok tape ketan, saya pun menyempatkan diri menulis ini tulisan. Now your turn to write, Madam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s