Kota Itu dan Waktu Maghrib

Waktu beranjak maghrib. Suasana kota itu masih memperlihatkan keteduhan. Kalian pasti menebak hujan baru saja turun bukan. Lalu jalan-jalan basah memantulkan cahaya lampu jalanan. Bukan –  bukan. Sore itu langit bersih. Para awan nan menawan sedang asik mengobrol santai di ufuk barat. Menutupi sinar  matahari yang akan tenggelam. Tidak ada rona merah senja. Yang ada hanya warna biru mendominasi langit. Lalu memantul ke permukaan. Warnanya membuat ego manusia terjun. Tenang sekali. Semua manusia terlihat tersenyum. Mereka tidak ingin melewatkan senja yang begitu apik. Bukan tak bisa marah atau cemberut. Tapi eman-eman rasanya melewati maghrib begini indah dengan omelan atau bahkan gerutu dalam hati.

Maghrib itu khas sekali. Kota itu seringkali membuncahkan maghrib seperti itu. Membuat orang betah berlama-lama duduk melihat langit. Membuat para maniak game yang berdekam dalam kamar sepanjang hari tergerak untuk keluar rumah. Maghrib seperti itu membuat orang tua marah karena anaknya enggan masuk rumah. Mereka lebih memilih berada di luar sampai warna biru itu berubah menjadi gelap.

Saya pun menikmati itu tapi tidak ikut tersenyum. Saya hanya bisa membayangkan saat senyum saya mengembang waktu itu, saat masih bisa menikmati maghrib di kota itu dengan mudahnya. Waktu mata saya masih menatap semua objek dalam warna yang beragam. Tidak semua memang. Kadang satu warna saja, kadang hitam-putih, kadang bahkan hitam saja. Tapi maghrib di kota itu bisa membuat warna itu kembali muncul dengan mudah.

Kota itu penuh dengan crayon alami. Saya bisa memilih warna sesuka hati. Crayon itu berserakan di alun-alun, di batas kota, di pasar, dan tempat lain. Kala mata saya hanya bisa melihat satu warna, maka saya akan pergi ke salah satu tempat itu dan saya pastikan akan ada warna tambahan di mata saya.  Mudah sekali.

Menyenangkan sekali membayangkan saya menikmati maghrib itu. Hari ini saat melewati maghrib di kota itu mata saya kembali penuh warna, tapi tidak dengan otak saya. Otak saya berwarna abu-abu. Mata ini nyaman menimati maghrib itu tapi tidak dengan otak saya. Saya berusaha keras memerintah otak agar segera sinkron dengan mata. Tapi hal itu enggan terwujud.  Saya rindu, rindu otak dan mata ini bisa sinkron.

Kota itu dan maghrib itu segera meninggalkan saya. Oh, tidak. Saya yang segera meninggalkan kota itu. Ban mobil itu terus berputar. Karet  yang melingkar di dalam mata saya sepertinya mulai afkir. Ada air yang rembas di sela-selanya. Walau begitu saya tetap berharap ban mobil itu bisa berhenti. Tak apalah otak dan mata ini tidak bisa sinkron, tapi setidaknya saya bisa membayangkan bibir saya yang mudah mengembang. Mungkin ini resikonya. Saat umur dan karakter sama tidak imbangnya dengan mata dan otak. Bayangkan saat kita harus menikmati sesuatu yang kita tidak suka. Karena penolakan kita akan hal itu membuat kita mati. Ini bukan lagi tuntutan umur, ini tuntutan perut dan tuntutan sosial.

Tuntutan-tuntutan itu datang karena manusia diberikan tuhan sebuah kemampuan. Kemampuan menganalisis, kemampuan memprediksi. Kita bisa membacanya dengan kemampuan menilai buruk atau kemampuan berprasangka buruk. Andai Tuhan tidak memberi itu kepada manusia, maka tidak akan ada tuntutan sosial macam begini. Termasuk tidak akan ada juga pekerjaan yang saya geluti ini. Tapi sampai kapan mau menuntut Tuhan, Dia benar-benar otoriter. Dia tidak bisa diatur. Bahkan sampai kita merengek-rengek menangis tujuh hari tujuh malam, Dia tetap tidak bisa diatur. Pun karena hal itu Dia disebut Tuhan. Jika dia mudah sekali berubah pikiran. Maksud saya merubah takdir, maka apa bedanya Dia dengan kita. Tahu kan galau? Tuhan itu antigalau. So, tidak ada kelakuan yang dapat bisa kita lakukan selain menerima.

Entah apa karet di dalam mata saya mulai membaik. Air nya berhenti merembas. Sekarang mata dan perasaan saya mulai tidak sinkron. Seharusnya perasaan-persaan itu terpilah. Yang satu berjalan menuju otak yang satu menuju mata. Kini keduanya lumpuh. Tak ada lagi rembas air. Sudah tidak ada lagi yang bisa rembas. Untunglah perasaan ini masih ada.

Saya masih berharap ban itu berhenti. Biarkan saya menikmati bayangan senyum mengembang di wajah saya saat menikmati maghrib itu. Setidaknya mata saya berwarna saat membayangkan itu. Dan saya semakin sadar, tampaknya saat saya bisa menikmati maghrib di kota itu, saat itu lah puncak kebahagiaan saya. Saat tidak ada tuntutan umur, tuntutan sosial, tuntutan perut. Saat mata sinkron dengan otak, perasaan sinkron dengan mata.

Catatan:

Tulisan hanya fiksi belaka. *percaya gak? Hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s