Bandung-Semarang

Bandung-Semarang

Dua kota yang dulu saya tidak pernah berpikir bisa merasakan hidup di sana. Namun berpikir untuk menjelajah kota tesebut ada. Bersyukur karena Tuhan Yang Maha Baik sudah menakdirkan saya bisa menikmati hidup di dua kota itu.

Keduanya punya keunikan masing-masing. Semarang itu kota yang menyenangkan karena banyak tempat bersejarah. Buat saya yang suka segala hal berbau antik dan jadul, Semarang itu menyenangkan. Ada berbagai tempat nongkrong dan tempat makan yang erat kaitannya sama jaman kolonial dulu. Ada Tugu Muda dengan latar Lawang Semu, ada gereja Belenduk, ada IBC (ikan Bakar Cianjur) yang memakai bangunan lama di daerah kota tua, ada brux the bistro yang menggunakan rumah jaman dulu di kawasan jalan rinjani. Kawasan rinjani ini ada di dataran tinggi, sehingga dari sini bisa melihat gemerlap lampu kota Semarang.

Satu hal yang saya suka dari Semarang, kontur kota Semarang seperti Kota Lampung, berundak-undak. Sehingga kita mudah menemui spot asik untuk nongkrong melihat keriuhan di kota. Spot yang paling saya suka di Semarang adalah kalo jalan dari Tembalang menuju ke Undip bawah yaitu daerah Gombel dan jalan Diponegoro yang meliuk-liuk yang di kanan-kiri nya tersebar banyak bangunan rumah belanda. Dan satu lagi, Semawis. Semawis adalah singkatan dari Semarang Wisata. Semawis adalah jalananan yang disulap jadi pusat kuliner kaki lima. Uniknya, jalan yang dipakai adalah jalana yang berada di pecinan. Sayang foto-foto saya waktu di Semarang banyak yang hilang.

Semawis Sumber Foto: tilulas.com

Bandung itu kota yang penuh pengalaman. Ada banyak aktivitas di kota ini. Di kota ini menurut saya ada banyak orang yang memiliki kesenanga aneh dan mereka berkumpul. Jadi, hobi yang awalnya terlihat aneh menjadi unik karena ternyata banyak peminatnya. Di kota ini saya tahu musik Shoegaze jadi ada selalu dalam playlist. Saya tahu skinhad, britpop, gank motor, bobotoh, dan lain-lain di kota ini. Tidak hanya itu, saya pun tahu istilah Gigs dari kota ini. Maka saya kadang menjuluki Bandung itu New York-nya Indonesia. Segala macam komunitas dari yang “benar” sampe “enggak bener” ada di situ dan mereka saling tahu dan saling maklum sehingga semua terkesan bebas.

Bandung dan Semarang memang penuh kesan. Punya banyak cerita. Tapi cerita itu gak bisa tercipta kalo enggak melewati hal-hal yang biasa saja.

____

Akhir-akhir ini orang rumah sudah jarang di rumah. Rumah berkamar 5 ini sudah seperti bangunan kost. Tidak ada maka bersama, tidak ada keluar bersama, konsumsi air masing-masing. Kalaupun penduduknya datang biasanya sibuk di kamar masing-masing. Kalo jam waktu makan, paling titip-titipan makanan.

Kondisi tersebut membuat saya inget jama kost. Terutama jaman tinggal di Bandung. Kondisinya hampir mirip. Saya tinggal di rumah kakak dan keluarga kecilnya yang kalo pulang kampung ke Jakarta bisa sebulan. Sama seperti sekarang, kalo kondisi rumah lengkap masalah makan bukan persoalan. Sudah tersedia, sudah ada yang masak, dan yang pasti sudah ada yang beliin. Hehe. Tapi kalo kondisi sepi, mau gak mau kembali jadi anak kost.

Kemarin saat saya ke mini market, saya melihat nuget. Makanan yang pernah menemani waktu masih ngekost.

Bandung dan Semarang adalah dua kota yang tinggal di masa yang sama, masa kuliah. Dengan status anak kuliah otomatis masalah financial pun mepet. Saya harus berputar otak untuk bisa hidup di Bandung dan tetap bisa berkunjung ke semarang. Karena tanpa penghasilan tambahan maka agar yang nge-pas tersebut bisa ada selisih diperlukan usaha pengurangan konsumsi. Baik itu konsumsi nongkrong dan konsumsi makan.

Yang paling seru adalah saat mengurangi konsumsi makan. Saya tetap makan 3 kali sehari namun saya hanya beli makan untuk satu kali makan. Saya inget saat beli rendang dan soto ayam yang harus saya bagi tiga bagian. Satu bagian untuk masing-masing waktu makan. Bagi saya saat itu yang penting makan nasi. Misalnya, hari Senin saya beli rendang dan kuah ayam seharga 7ribu perak. Nasi masak sendiri. Beli rendang jam 10 dimakannya jam 12, jam 4 sore menjelang kuliah dan sepulang kuliah.Begitu pun yang terjadi pada soto ayam.

Kadang saya juga suka memanjakan lidah dengan makan ayam goreng atau sate ayam. Untuk sate ayam saya membaginya menjadi tiga bagian juga. Tiga tusuk buat makan malam, empat tusuk buat makan pagi, tiga tusuk buat makan siang. Nanti makan malam setelah sampai kampus sekitar jam 7. Proses ini saya lakukan jika saya mau makan enak di kampus sembari nongkrong sama teman-teman.

Semua makan tersebut bisa bertahan dengan teknik pendinginan dan pemanasan. Hehe. Jadi setiap selesai makan langsung masuk kulkas. Nanti kalo mau dimakan lagi baru dihangatkan.

Yang paling geli itu kalo uda menu nuget. Sebungkus nuget itu saya jatah perhari 3 nuget untuk satu kali makan. Makannya ya Cuma nasi, nuget sama saos biar ada rasaya. Kadang saya bikin nuget asam manis. Tumis bawang putih (kebetulan kalo bumbu dapur selalu disediakan), masukan saos tomat, masukan sedikit air, terus masukan nuget dalam potonga dadu yang uda digoreng sebelumnya. Dengan teknik itu, satu bungkus nuget itu bisa dikonsumsi 1,5 – 2 hari. Kegelian saat makan nuget itu terjadi pada saat perut dan mulut masih pengen ngunyah tapi jatah nuget untuk makan kali itu sudah habis. Rasanya ingin nambah satu lagi, tapi inget jatah. Jadinya, untuk nambah satu nuget itu rasaya seperti mau nambah istri lagi (padahal satu aja belum), penuh pertimbangan.

Over all, saya bersykur banget pernah melewati masa-masa itu. Masa-masa yang melahirkan cerita, masa-masa yang penuh kesan, masa-masa yang menambah warna dalam hidup saya, masa-masa yang penuh pelajaran. Masa-masa yang melahirka kenangan. Masa-masa yang penuh pengalaman. Mungkin tidak menyenangkan saat harus mengatur konsumsi, tapi pengalaman hidup di dua kota itu lunas membayarnya. Pengalaman hidup di dua kota itu selalu menyenangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s