Orang Jakarta di Mata Orang Jawa

Orang Jakarta di Mata Orang Jawa

Gak kerasa, baru kemarin (03/04) saya melakukan perjalanan ke Jogja dan Solo. Perjalanan dalam rangka kerja dan cari inspirasi. Perjalanan yang harus ditempuh selama 15 jam membuat struktur tulang-belulang bergeser, mungkin, 0,5 mm dari tempatnya. Maklum, perjalanan kali ini saya lakuka dengan membawa mobil pribadi. Menggunakan kendaraan minibus, tepatnya Kijang Kapsul seri LGX bensin yang sukses menguras kocek bensin setara tiket pesawat, yakni Rp. 450.000. Tapi berapa pun kocek yang harus keluar, karena perjalanan dilakukan bareng-bareng tetap jadi seru.

Keseruan lain adalah saat kami berhenti di alun-alun kota Berebes. Di kota yang terkenal denga telor asin dan bawang ini saya beristirahat sambil menyeruput sajian khas di sana, teh poci. Sajian teh di dalam poci yang kita tuangkan sendiri ke cangkir kecil berisi gula batu sebagai pemanis ini punya harga yang gak masuk akal. Bukan tentang mahalnya saja tapi tentang pengaturan harganya. Sepoci teh dengan dua cangkir kosong berisi gula batu dihargai Rp. 14.000. Nah, pas saya tanya berapa harga satu teh poci, eh si penjual menjawab harga diatur per cangkir. Satu cangkir seharga 7.000 perak. Hah?! Saya jadi geleng-geleng sendiri. Idealnya, satu poci teh plus satu cangkir kosong dihargai 10.000. Kemudian cangkir berikutnya dihargai 3000 perak. Dengan perhitungan seperti ini harga terlihat masuk akal, karena satu poci teh secara logika visual lebih besar ketimbang cangkir. Dengan harga yang si mas jual, logika saya masih gak bisa jalan. Berarti kalo saya pesen cangkir 4 buah, saya harus membayar Rp 28.000 untuk sepoci teh. Harga yang fantastis untuk sepoci teh yang isinya Cuma daun teh sama air panas.

alun-alun kota berebes. Gambar pinjem dari: http://andinibrebes.blogspot.com/2010/04/brebes-malam-hari.html

Harga-harga fantastis untuk benda sepele memang sering terjadi di kawasan wisata. Bahasa kasarnya “ngegetok harga”. Karena lihat yang beli mobilnya pelat B, wajarlah kalo dikasih harga agak tinggi. Para wisatawan pun tampaknya memang ikhlas bin pasrah dengan harga yang digetok. Alasannya Cuma satu, “yah, sekali-kali. Gak tiap hari ini. Itung-itung bagi-bagi rejeki”. Maka dari itu, saya yakini pada saat itu saya lagi digetok harga. Saya pun sama seperti wisatawan lain, “yah, sekali-kali. Gak tiap hari ini. Itung-itung bagi-bagi rejeki”. Tapi, ada satu hal yang bikin saya gak ikhlas. Pada saat saya pertama kali memesan dan mulai obrolan basa-basi, “buka sampe jam berapa?” dan obrolan lain, si penjual mulai kepo dengan status saya. Jalan-jalan kah atau kerja kah, dari mana kah, dan lainnya. Setelah dia mengetahui status saya sebagai orang jakarta,  si penjual pun mulai ceramah tentang orang jawa tengah yang apik-apik.

“kalo orang jawa tengah mah kalo mas tanya pasti dikasi tahu yang bener. Kalo orang Jakarta mah, kalo kita nanya disasarin,” kata si Penjual.

Dan ada seabrek aib orang Jakarta yang dia lontarkan. Termasuk cerita dia dipalak, duit abis, ditolong orang, yang nolong orang jawa, dia dikasih makan, terus dikasih ongkos pulang, dan diujung cerita dia bilang kalo Jakarta itu kota kejam. Dia lebih memilih hidup kota kelahirannya yang menurut dia lebih bersahabat. Persis seperti film Alm Benyamin S yang episode sepatu yang bawa sial. Yang di film itu terkenal lagu “eh, abang pulang bakul nasi goyang-goyang” dan seterusnya.

Buat saya yang lahir di Jakarta, saya gak terima kalo orang yang tinggal di Jakarta dinilai gak punya itikad baik. Jakarta memang tidak nyaman untuk hidup, bagi saya. Tapi tidak berarti orag Jakarta tidak baik. Saya kok malah cenderung menilai si Penjual dengan dua hal. Pertama, dia looser. Gak kuat hidup di bawah tekanan. Kedua, itu gimmick marketting. Dengan cerita sedih dan menyedihkan itu dia berharap kami gak keberatan bayar lebih barang dagangnnya, karena satu, kami kasihan atau berempati dengan nasibnya. Dua, kami membayar harga lebih karena kekejaman kami, orang Jakarta, yang pernah malak dia.

Hmmm…. Logika si penjual emang gak jalan. Harusnya kalo mau ngegetok harga, kita sebagai pembeli dibaik-baik-in. Ini sih udah diomongin, digetok pulak.  Nah kita yang beli mau-mau aja bayar. Yaa.. mungkin kami sedang lelah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s