“Pah, kok gak bobo bareng Miru lagi?”

Sebuah es krim mendarat di tangan Miru. Bocah kecil berumur 6 tahun itu memilih es krim dengan rasa strowberi bercampur cokelat dan vanila. Tak kalah dengan Miru, Azmi memilih eskrim rasa durian bercampur vanila. Mereka pun mencari sebuah tempat duduk kosong untuk menikmati es krim itu. Kebetulan di deretan sebelah sana ada bangku yang kosong. Bangku yang terbuat dari semen yang berdiri di tengah terotoar yang sengaja dibuat agak lebar. Trotoar itu selain sebagai pembatas jalan juga menjadi taman kecil. Tumbuh rumput-rumput kecil di sekitar bangku-bangku kokoh itu.

Di sebrang tempat Miru dan Azmi duduk, ada sebuah pusat pertokoan yang menjual buku-buku dengan harga murah. Hampir 3 jam Miru dan Azmi berkeliling di tempat itu. Mencari buku yang Miru inginkan. Maklum, Miru sudah mulai belajar membaca. Dia sedang senang-senangnya mengeja setiap kalimat yang ia lihat dimanapun. Azmi hampir saja kuwalahan menemani Miru berjalan-jalan. Namun, wajah Miru dibuat oleh sang kuasa seperti karet super lentur. Ekspresi mukanya bisa berubah-ubah sesuai keadaan hatinya dan aktivitas yang ia kerjakan. Tak heran jika Azmi betah melihat Miru berusaha mengeja setiap huruf. Gaya Miru mengeja huruf seerti seorang profesor yang kepusingan memikirkan sebuah teori.

Senja sebentar lagi tiba. Langit sudah mulai memudarkan panasnya. Berbagai aktivitas menusia di sana sudah mulai merendah. Beberapa toko sudah mau tutup. Waktu menunjukan jam 5.30 sore. Langit kota itu sudah mulai menjadi jingga. Miru dan Azmi masih menikmati es krim yang mereka beli. Banyak tawa terdengar dari percakapan mereka. Beberapa permainan kecil mereka lakukan. Sekedar bermain tebak-tebakan kata lewat awalan alfabet. Kebahagiaan yang sempurna terjadi bawah naungan langit jingga di kota P.

Azmi dan Miru sepertinya cukup lelah bermain. Mereka terdiam menatap kosong ke depan. Sebuah andong lewat di depan mereka. Seketika itu juga, Miru yang tangannya masih memegang keresek berisi semua buku barunya berkata

“Pah, nanti pulangnya naik kuda ya..” kata Miru dengan muka memelas.

“Mmm.. Gak bisa” jawab Azmi

“Kenapa?” tanya Miru.

“Karena Papah belum bisa bawa kuda, Miru sayang”

“Kan ada yang nyetil”

“Nah, kalo ada yang nyetir itu namanya Andong, sayang. Bukan kuda” jawab ayah sambil mengusap rambut Miru.

“Iya.. Maksudnya Andong” Jawa Miru sambil tertawa. Pipinya yang tembem membuat Azmi gemas lalu mencubit pipi Miru.

“Pah..” panggil Miru kepada Azmi.

“Iya…”

“Papah kapan sih udahan sibuknya di Jakarta? ”

“Emang kenapa sayang?”

” Miru pingin bobo sama papah lagi. Miru pengen didongengin lagi sama papah”

“Lho, emang mamah gak pernah dongeng, Nak?”

” tapi Miru kangen dongengnya papah”

Azmi seperti kehilangan nyawa. Kepala Miru bersender pasrah di paha Azmi. Seolah anak itu memiliki tingkat kangen yang tak terbendung lagi.

“Gini Miru” Azmi mencoba memulai kaa-kata dengan nada yang biasa. Azmi mencoba menutup kesedihannya. “Papah itu sebenarnya gak sibuk di Jakarta. Papah di Jakarta sedang berobat agar sakit papah bisa cepet sembuh. Nanti kalo uda sembuh, papah bisa bobo lagi bareng Miru” Jawab Azmi dengan sambil senyum. Senyum yang berat.

“Kalo gitu malam ini papah bobo sama Miru lagi kan? Sama mamah juga. Kan papah pulangnya baru besok. Iya kan?”

“Mmmm. Gini Miru, sakit papah ini menular. Jadi kalo papah belum sembuh terus bobo sama Miru sama mama nanti mamanya bisa ketularan sakit papah”

“Lha terus sekarang papah deket-deket Miru, nanti Miru keluaran..”

“Enggak sayang, sakitnya menular kalo malam tiba”

“Terus papah tidur di mana malem ini?”

“Papah tidur di hotel sayang”

Wajah Miru seketika berubah lesu mendengar Azmi tidak akan tidur dengannya malam ini. Waktu beranjak malam. Azmi dan Miru menyempatkan sholat sebentar di Mushola kecil di dekat pusat pertokoan itu.

Azmi pun menpati janjinya. Azmi mengantar Miru pulang dengan menggunakan Andong. Rumah tempat Miru tinggal tidak terlalu jauh dari tempat itu. Hanya setengah jam perjalanan menggunakan Andong.

Miru bahagia sekali bisa naik Andong. Melewati beberapa tempat bersejarah dan terkenal di kota itu. Wajah miru bergerak ke sana kemari melihat segala apa yang ia bisa lihat. bangunan tua bersejarah yang indah dengan dekorasi lampu yang menawan. Dan banyak hal lagi yang ia lihat. Dan yang tak pernah terlewatkan adalah reklame dengan huruf-huruf yang selalu ia eja dan selalu ia konfirmasi kebenarannya kepada Azmi, papahnya.

Azmi menyusun senyum diwajahnya. Dalam hatinya ia bersyukur diberikan anak secerdas dan selucu Miru. Namun kenyataannya besok Azmi harus kembali ke Jakarta. Malam ini, malam terkahir Azmi bermain dengan Miru, anaknya. Anak satu-satunya yang ia cintai. Anak yang ia dapatkan, ia rawat dengan kerja keras. Kaki jadi kepala, kepala jadi kaki. Berpeluh menimba rezeki demi untuk menjaga amanah yang diberikan oleh Sang Maha Menguasai seluruh alam raya. Tak pernah sedikitpun keluh kesah yang Azmi lontarkan kepada Tuhannya. Bagaimanapun capeknya bekerja. Karena dia tahu ada seorang anak yang harus dinafkahi.

Diamnya Azmi terusik oleh Miru yang pertanyaannya tak kunjung dijawab oleh Azmi.

“Papah.. Ngeliatin apa sih. Aku tanya dari tadi gak dijawab” protes Miru

“Oh iya, papah lagi bingung. Itu bacanya apa ya?” Kata Azmi sembil menunjuk sebuah papan reklame di depan sebuah toko batik.  Sebuah cara Azmi mencoba mengalihkan kesedihannya.

“Papah.. Aku capek” kata Miru sembari menyenderkan kepalanya di paha Azmi. Azmi pun tidak membuang kesempatan. Ia elus rambut anak itu dengan lembut. Dengan penuh kasih sayang.

Beberapa detik setelah itu, kantong keresek yang Miru pegang sedari tadi jatuh ke lantai andong. Miru tertidur di paha sang ayah. Andong berbelok ke kanan. Ke sebuah jalan yang di kanan kirinya terdapat berbagai warung tenda yang menjual berbagai makanan. 500 meter lagi Andong akan sampai ke rumah di mana Miru tinggal bersama ibunya. Semakin mendekati rumah, semakin tajam mata Azmi menatap anaknya yang tertidur. Dalam hatinya Azmi berdoa.

“Rabbi.. Maafkan jika nikmat yang Engkau berikan tidak bisa hamba gunakan untuk menjaga amanahMu. Rabb, jika ini bukan takdirmu, sampai titik darah terakhir hamba akan pertahankan ini. Namun, Engkau yang mengerti dan tahu mana yang terbaik untuk hambanya. Hamba ikuti takdirMu. Rabb. Hanya Engkau tempat hamba menggantungkan segala harapan. Ya Rabb, hamba yakin Engkau akan menjaga Miru. Hamba serahkan Miru kepadaMu. Tolong jaga dia ya Rabb. Dan jika hamba boleh meminta, jangan Engkau limpahkan kepada Miru cobaan seperti ini”

Sebuah air dari mata seorang ayah yang tulus mencintai anaknya jatuh dan semakin deras saat Azmi semakin tajam melihat muka anaknya.

“I love you, Miru” Kata Azmi lirih sembari mengecup kening anaknya.

Andong sampai di depan sebuah rumah bergaya Artdeco. Azmi segera melap membayar Andong dan turun menggendong Miru menuju kamarnya. Setelah menaruh Miru di atas ranjang, Azmi duduk disamping Miru. Sekali lagi ia tatap tajam-tajam wajah anak itu. Buah hatinya, buah cintanya dengan Ruruh. Gadis berparas ayu yang suntingnya tujuh tahun lalu yang sedang mengamati Azmi dari pintu kamar Miru. Mengetahui hal itu, Azmi segera keluar dari kamar itu menuju teras rumah. Tak lupa kecupan singkat didaratkan di kening dan pipi Miru.

Azmi duduk di sebuah bangku tua di teras rumah itu. Sembari melap sisa air matanya, Ruruh datang membawa air teh hangat untuk Azmi.

“Gimana Mas. Sudah puas main sama Miru?” tanya Ruruh sambil menaruh cangkir di depan Azmi.

“Lumayan” Jawab Azmi singkat.

“Diminum dulu tehnya mas. Nanti keburu dingin” Ruruh mempersilakan Azmi meminum tehnya.

Selepas Azmi menyeruput tehnya, Azmi bertanya pada Ruruh.

“Boleh aku ajak Miru nginep di hotel malam ini?”

“Miru uda tidur, Mas. Lagian dia kayaknya kecapekan”. Jawab Ruruh

“Satu malam aja”. Azmi memelas.

“Mas.. Kita sudah punya kesepakatan”

Azmi terdiam. Dia tahu dia tidak bisa melanggar kesepakatan itu. Nanti selepas SD, Miru baru boleh ikut Azmi ke Jakarta. Sebuah waktu yang lama. Azmi menghela nafas dalam.

“Kalo gitu aku pamit dulu. Terima kasih, Ruruh” Kata Azmi sambil berdiri.

“Aku juga terima kasih, mas. Oya, tadi Miru gak kamu beliin mainan kan?” tanya Ruruh. Azmi dengan Ruruh juga telah bersepakat bahwa pendidikan Miru sampai SD ditentukan Ruruh.

“Enggak..” Jawab Azmi singkat sembari melangkahkan kaki keluar rumah. Sebenarnya besar sekali keinginan Azmi membelikan mainan kepada Miru. Namun Azmi mengerti kesepakatan itu. Tidak mungkin Ruruh memberikan pendidikan yang salah untuk Miru. Azmi tahu bagaimana sayangnya Ruruh kepada Miru.

Azmi berjalan kakai menyusuri jalan itu ke hotelnya yang kurang lebihnya berjarak 1 km dari rumah Ruruh. Di perjalanannya Azmi membatin. Ini adalah takdrinya. Takdir yang masih membingungkan dirinya. Hanya karena jarak pernikahan ini harus bubar. Padahal Azmi di Jakarta semata-mata mencari rezeki untuk menghidupi Ruruh, seorang yang Azmi putuskan menjadi teman hidupnya. Azmi adalah seorang pria pekerja keras yang tidak terlalu memperdulikan pasangan hidup. Namun saat bertemu Ruruh, luluh lah hati Azmi. Tak perlu buang waktu lama, Azmi segera menikahi Ruruh. Sayangnya, Ruruh yang anak semata wayang tidak bisa mengikuti Azmi ke Jakarta karena ibu Ruruh dalam keadaan renta yang perlu penjagaan.

Azmi padahal sudah menyanggupi untuk berkunjung setiap weekend. Namun pekerjaan yang padat membuat janji Azmi tidak bisa selalu dipenuhi. Di sisi lain, Ruruh sangat mendambakan suami yang bisa hadir setiap saat di hidupnya. Awalnya, Ruruh berusaha menikmati keadaannya. Namun setelah Miru berusia dua tahun, Ruruh membuat keputusan untuk berpisah dengan Azmi.

Azmi sebenarnya tidak habis pikir dengan Ruruh, tapi Azmi juga mengerti keadaannya. Dia tidak dapat selalu bersama Ruruh dan Miru. Dan Azmi berharap, Ruruh dapat penggantinya. Namun ternyata sampai sekarang Ruruh tak kunjung mendapat ganti. Secara diam-diam sebenarnya Ruruh merasa menyesal membuat keputusan itu. Namun keputusan sudah diambil.

Advertisements

Bahagia Bersamamu, tapi Merana Tanpanya

Sebuah nomer mengirim pesan ke ponsel Dita.

“Kapan  kamu berangkat?”

Sebuah pesan singkat berisi pertanyaan singkat. Kuputuskan untuk membalas pesannya dengan singkat juga.

“Besok”

Jengkel rasanya menerima sms darinya. Setelah 10 bulan tidak pernah lagi berkomunikasi tiba-tiba hadir hanya dengan pesan sesederahana itu. Sudahlah, itu hanya kenangan yang tidak perlu lagi diungkit bahkan diingat.

Ada rasa penyesalan sebenarnya membalas pesan itu. Tapi, entahlah. Ada dorongan yang bersembunyi dibalik relung-relung hati yang memerintahkan untuk segera mebalas. Dan ada tiupan ke dalam sanubari untuk menunggu balasannya lagi. Oh Tuhan… Apa ini. Perasaan apa ini. Rindukan aku padanya.

Kulanjutkan memilah barang yang akan kubawa besok. Lewat jendela kamar, kutahu diluar sudah mulai hujan. Titik air yang dicurahkan Tuhan untuk manusia di bumi-Nya membuat batinku kembali tidak nyaman. Hujan menyimpan banyak cerita tentang aku dan dia karena hujan selalu hadir disetiap langkahku bersama dia. Dan hujan ini membuat aku tertidur lebih cepat.

***

Aku duduk di sebuah kursi panjang deretan paling belakang. Dekat dengan kantor kepala kereta api. Aku suka duduk di sini. Dari sini aku bisa melihat dengan leluasa suasana stasiun. Selagi aku menikmati suasana ini, sebuah pesan masuk dalam ponselku. Sebelum aku membacanya, aku berharap dia yang mengirim pesan.

“Dit, sorry ya say. Gw gak bisa nganter lo. Maaf banget. Gw speechless, Dit. Gak tau harus ngasih ucapan apa sama elo. Bener-bener gak nyangka akhirnya nyampe juga yak e fase hidup yang kayak gini. Overll I’ll send you the best wishes. And ABSOLUTLY I’ll miss you so bad. Mmuuuuuaaachh”

Ternyata bukan dia. Pesan itu dari Nina. Sahabat kentalku. Sahabat yang sudah kuanggap sebagai kakak dan juga adik.

Baca pesan Nina membuat dadaku memburuh. Mataku menarawang entah kemana. Tatapanku kosong. Hanya batinku beraktivitas. Kusadari dan kualami bagaimana dahsyatnya sang waktu berjalan. Aku telah melewati banyak hal. Dan hal itu mungkin akan terulang atau bahkan akan terlewatkan begitu saja. Dan aku memilih agar segala hal itu terlewat begitu saja. Aku ingin merasakan sebuah pengalaman baru.

Namun sebuah bayangan datang menghampiri otak lalu melaju ke dalam batin dan membuat batin ini seolah-olah berkata “yang lain boleh terlewatkan, tapi enggak dengan yang ini”. Bayangan itu adalah dia, Dito.

Aku hela nafas panjang. Mataku kembali kosong. Tapi tak terlalu lama. Sebuah pesan mampir lagi di ponsel ku. Ternyata Dito.

“Jangan lupa jaga kesehatan biar bahagia gak lari kemana-mana. Selamat jalan. Semoga selamat sampai di tujuan”

Nafasku makin cepat. Jengkel sekali aku menerima pesan itu. Kali ini aku tidak akan membalasnya. Ingin sekali aku bertemu Dito lalu bertanya pada dia dengan berteriak untuk apa dia mengirim pesan seperti itu. Setelah itu aku akan pukul dadanya sekuat-kuatnya agar rasa jengkel hilang.

Di tengah amarah ku yang memuncak terselip sebuah pertanyaan. Darimana Dito tahu aku berangkat malam ini. Sedang kereta tujuan Malang ada yang berangkat di pagi dan sore hari. Aku segera menuduh Nina yang memberikan info kepada Dito. Tanpa tunggu lama aku mengirim pesan kepada Nina meminta konfirmasi tentang ini. Tanpa tunggu waktu lama juga Nina segera membalas pesanku.

“Boro-boro. Semenjak dia gak hub sama lo, dia juga gak pernah sekali-kali juga hubungin gw. Dia kayak ilang dibawa Nyi Roro Kidul. BTW doi apa kabar ya??”

Aku yakin Nina tidak bohong. Aku juga yakin jika Dito saat ini ada di sini. Aku segera berdiri dari kursi itu menuju pintu tempat para calon penumpang masuk ke dalam area peron. Ketika mataku sedang mencari-mencari, sebuah tangan menyergap lenganku.

“Kamu nyariin siapa?”

Ah.. ternyata Rian.

“Nyariin kamu. Beli air mineral kok lama banget?” kataku

“Tadi beli pulsa dulu di seberang stasiun” jawab Rian sembari menggiringku ke tempat kami duduk tadi.

Aku kembali duduk di tempat tadi, tapi nafasku belum bisa kembali duduk dengan tenang. Nafasku tetap saja cepat. Sampai terkadang aku harus menarik nafas panjang untuk mencoba menormalkannya. Namun ada yang lebih sulit aku buat normal, mataku. Entah mengapa, mataku sulit sekali untuk diam.

Sekuat tenaga aku menahan mata ini. Sulit sekali. Mataku selalu mencoba mencari-cari.  Tapi selalu saja nihil. Dan aku mulai tersadar. Dito hanyalah masa lalu. Tidak perlu lagi aku mencarinya atau bahkan bertemu dengannya atau bahkan melihat wajahnya. Tatapanku kembali kosong. Batinku bergemuruh.

Aku masukan kedua ujung bibir kedalam mulut. Mataku berair. Air mukaku berubah. Aku benar-benar bingung apa yang membuat mood-ku jadi berubah drastis. Bukankah tadi aku sedang marah atas tingkah Dito. Tapi mengapa sekarang kelabu seolah bergantung di pelupuk mata saat aku tidak  mendapati Dito di stasiun ini.

Pengeras suara di stasiun berbunyi memberikan pengumuman bahwa kereta yang akan kunaiki sebentar lagi tiba. Mendengar suara khas lonceng pembukaan pengumuman itu mengiringi air mataku yang tiba-tiba jatuh. Aku tertunduk. Suara lonceng itu benar-benar menyayat hati ini. Suara lonceng itu menyadarkanku. Aku tidak akan pernah bisa bertemu Dito lagi.

Melihat keadaanku, Rian pun berujar “Nanti di Malang kamu bisa ikut kursus masak biar kamu ada kegiatan. Jadi gak keingetan rumah terus” sembari memencet hidungku.

“ Ayok, ke peron.” Ajak Rian sembari menggandeng tanganku.

“yuuk…” Jawabku sembari berusaha menyemburkan sedikit senyum.

Kereta datang dengan angkuhnya seperti menyuruh diriku untuk mengatakan selamat tinggal pada semua kenangan. Aku pun terpengaruh. Kudekap erat-erat lengan Rian sambil menunggu kereta benar-benar berhenti.

Seperti biasanya aku memilih duduk di dekat jendela. Rian sedang menaruh barang-barang di bagasi dan mencoba mengecilkan temperature  ac tepat di atas kepala kami. Ini musim hujan, jadi ac di kereta ini terasa lebih dingin.

Kurapatkan mukaku ke kaca jendela. Aku lihat langit di luar stasiun mulai dihiasi kilatan petir. Sebentar lagi hujan pikirku. Selagi asyik memandangi langit, aku tertergun melihat sebuah badan berbalut jumper abu-abu jalan meninggalkan stasiun. Itu Dito.

Aku yakin sekali. Jumper itu aku yang membelikannya. Dan Dito sayang sekali dengan jumper itu. Pernah suatu waktu Dito rela kembali ke sebuah café untuk mengambil jumper yang tertinggal. Padahal aku dan Dito sudah hampir setengah jam berkendara. Saat itu ada hal yang membuat aku benar-benar dibuat meleleh oleh Dito.

“Bukan masalah beli yang baru, beb. Jumper itu bukti perhatian kamu sama aku. Barang yang kamu beliin pertama kali dan yang memang bener-bener aku butuhin. Itu tandanya kamu tahu kebutuhan aku. Itu tandanya kamu perhatian sama aku sedetail mungkin. Itu tandanya pencarianku uda berakhir”

“ Maksudnya?” tanyaku penasaran

“Cukup kamu. Dan aku berdoa semoga kamu saja yang nanti nemenin aku sampe tua” jawab Dito. Dito lalu meneruskan kata-katanya dengan logat meniru seorang guru. “ Dan biar bisa nemenin kamu sampe tua , ini ada dua telinga, dua mata, dua tangan, dua kaki, dan satu hati untuk jagain kamu. Terutama kesehatan kamu”,  jawab Dito

Dito… dito.. manusia itu memang sangat konsen dengan kesehatanku. Aku ingat sekali saat dia mencarikan obat mual di malam buta dan mengirimkan ke rumahku saat itu juga.

Badan Dito semakin menghilang namun ingatan tentangnya semakin kuat. Aku ingat benar bau parfum Dito yang kadang ikut menempel di jumper abu-abu itu. Bau parfum itu membuatku betah membenamkan wajah dipunggung Dito saat dibonceng olehnya.

Wajahku semakin menempel di kaca. Air mataku kembali mengalir. Dan sebuah rasa ikut juga mengalir di dalamnya. Sebuah rasa rindu. Rindu cara dia menjadikan aku ratu dihatinya. Rindu kepolosan dia mencintaiku apa adanya. Kereta akan segera berangkat. Aku berkata lirih “I miss you, Dito”.

Rian yang melihatku wajahku tidak beranjak dari kaca mencoba mengintip wajahku dari samping. Aku sadar akan hal itu. Tapi aku tidak mau memperlihatkan rasa sedih ini di depan Rian. Aku pun segera memeluk Rian sembari mengelap air mataku di sweaternya. Rian pun segera bereaksi. Dia usap-usap rambutku dengan lembut.

“Nanti di Malang kita tinggal di rumah Mamah dulu. Nanti setelah kita beres milih-milih furniture baru kita tempatin rumah baru. Aku pengen nanti yang ngerancang isinya kita berdua. Gak apa-apa kan?” ujar Rian memberi pengumuman sembari tetap mengelus-elus rambutku.

Ah Rian.. Entah apa yang membuat dia begitu sayang kepadaku. Namu yang aku tahu cuma satu, aku tidak dapat menolak rasa sayang itu.

“Terserah kamu sayang. Mau dibawa kemana juga aku nurut. Kan aku uda jadi milik kamu” jawabku sambil medongakkan kepala ke atas mencoba memperlihatkan senyumku. Senyum menyambut kebahagiaan.