Bapak Tua yang Memikat

Kondisi cuaca yang gak menentu (mulai nyalahin cuaca) membuat banyak gerombolan semut yang makin lincah mondar-mandir di tenggorokan saya. Gatell abisss.Praktek  menyalahkan cuaca ini jangan ditiru ya. Karena mungkin yang bikin tenggorokan gatel adalah beberapa malam kemarin saya sempat begadang. Begadang dengerin curhatan teman lama.

Kondisi tenggorokan yang gak enak itu mulai menjalar ke seluruh tubuh. Entahlah, semacam mau flu gak jadi, seluruh badan saya berasa gak enak. Perasaan suhu tubuh panas tapi enggak. Perasaan hawa dingin tapi enggak juga. Pokoknya badan jadi gak enak. Mau ngapa-ngapain males. Bawaannya pengen goler-goleran di kasur sambil kepoin instagram. Hehe.

Tapi saya harus tetap berusaha ngurangin sakitnya. Minum madu, jamu, makanin jeruk, dan berbagai cara saya lakukan. Ada efeknya tapi ga terlalu. Kebetulan, suatu malam saya ketemu seorang teman. Saya ceritakan apa yang saya rasakan. Mendengar cerita saya, teman saya langsung menyarankan saya untuk mengonsumsi jahe.

Aha!! Itu dia jawabannya, Jahe!. Walaupun tetap yang menyembuhkan adalah Allah, bukan jahe.

Saat teman saya menyarankan itu, saya berpikir kok bisa ya saya lupa. Padahal saya adalah orang yang sering menyarankan mengonsumsi jahe kepada siapa saja yang lagi terjangkit model begini. Yaaa begitulah manusia kadang lupa. dan itulah guna silaturahmi  dan teman-teman yang baik.

Saya pun mencari yang jual wedang jahe. Kebetulan tidak jauh dari rumah ada yang jual STMJ. Artinya dia pasti jual wedang jahe.

Gerobak wedang jahe ini nangkring di depan sebuah toko yang setengah tutup. Gerobaknya tidak besar. Di depan gerobaknya ditempel spanduk yang bertuliskan “STMJ” yang menutupi hampir seluruh bagian depan gerobak. Jadi si penjualnya tidak bisa terlihat dari depan.

Saya pun masuk ke working spacenya. DI atas gerobaknya tidak terdapat banyak macam alat. Ada beberapa butir telur ayam kampung, madu di botol sedang, beberapa gelas bergagang,  ciduk deri batok kelapa, dan sekaleng susu kental manis.  Working space yang sangat sederhana. Saya membatin, semudah ini jualan STMJ.

DI sana saya dilayani seorang Bapak yang usianya mungkin 50an. Berawak sedikit gemuk. Tingginya pas dengan gerobaknya. Rambut cukuran ala jaman dulu yang ga pernah mau dicukur cepak atau mohawk. Kata mbah saya, orang yang cukur gaya anak sekarang itu pada jaman dia cuma tentara doang. Mbah saya juga bilang, kalo ada orang yang cukur model begitu tapi bukan tentara bisa ditangkep. Haha. Mbah saya ini emang kreatif.

Saya langsung memesan segelas wedang jahe untuk dibawa pulang. Di sana ada seorang pelanggan yang cukup intens ngeliatin saya. Setelah sepertinya dia mengumpulkan tenaga, niat, dan keberanian akhirnya dia menyapa saya.

Singkat cerita dia adalah teman kakak saya waktu SMA. Dia terakhir liat saya mungkin waktu saya kelas 3 SD. Percakapan saya dengan dia berakhir dengan saling bertanya nama. Oh iya, pada saat saya bercakap dengan dia, si penjual wedang hanya duduk mendengarkan.  Tidak ikut bersuara. Dia baru bersuara setelah saya berucap tentang dunia yang tidak selebar daun kelor. Karena kejadian seperti ini pernah saya alami di Bandara. Saat saya dan Ibu saya akan menjemput saudara yang baru pulang umroh, seorang satpam menghampiri saya dan ibu. Dia langsung bertanya kepada Ibu saya apakah Ibu saya itu ibu dari temannya (ribet amat ya, banyak kata-kata ibunya). Temannya di sini ternyata lagi-lagi kakak saya. Satpam tersebut adalah teman kakak saya sekolah waktu masih tinggal di sebuah daerah di Sumatera.

 

Saya pun pulang dari sana. Tentu dengan berucap terima kasih. Besok malamnya saya kembali lagi ke sana. Tentunya untuk membeli wedang jahe lagi. Baru saja saya turun dan belum bicara sepatah kata pun, dia langsung menyapa dengan sedikit senyum.

“Mas, Mar. Bungkus atau minum disini?” ujar si Bapak penjual wedang dengan suara berat dan logat jawa yang kental.

Mendengar dia menyebut nama saya, saya jadi berpikir kapan saya kenalan sama si Bapak itu. Setahu saya malam yang lalu saya tidak pernah kenalan. Setelah saya telaah dengan seksama dan hati-hati (gaya anggota DPR) saya baru inget, rupanya dia curi dengar percakapan saya kemarin. Hmmmm (sudah kuduga).

Pada saat dia menyapa saya, ada semacam sinyal nyaman dan kebaikan yang saya tangkap. Begini, pernah kan kita senang mengenal seseorang. Kemudian jika seorang itu datang kita dengan penuh sumringah menyapanya. Nah, perasaan itula yang dia lemparkan kepada saya saat menyapa. Seperti seorang Mbah menyapa cucunya.

Lalu, apa yang saya rasakan? Saya merasa nyaman sekali membeli wedang jahe di situ. Saya merasa dia peduli dengan saya, pelanggannya. Menyebut nama memang membuat suatu trik komunikasi yang sudah lama dilakukan untuk mengakrabkan diri. Trik itu kadang berhasil, tapi kadang tidak. Terutama buat yang menyebut nama dengan tidak ikhlas. Keliatan dan kerasa pasti kalo apa yang dia lakukan menyimpan maksud-maksud tertentu.

Tapi, apa yang si Bapak lakukan ini beda. Pada saat dia menyebut nama saya ada pesan khusu yang tertangkap. Sebuah pesan rindu. Maksudnya rindu kedatangan saya untuk membeli sebagai motif bisnis dan rindu kedatangan saya karena saya akan membeli dagangan dia yang mana keuntungannya bisa untuk menghidupi keluarganya. Ngerti gak?  Gini, simpelnya si Bapak itu bilang begini:

“Alhamdulillah Mas Mar datang. Hari ini dagangan saya laku. Artinya saya bisa kasih makan untuk keluarga saya. Secara tidak langsung kedatangan mas Mar membuat keluarga saya bisa makan. Terima kasih, Mas”

Jadi, si Bapak itu merasa kedatangan kita sebagai sebuah bala bantuan untuk menghidupi keluarganya. Sehingga Ia sangat senang dan ikhlas melayani kita. Tidak seperti pedagang lain yang sepertinya butuh tidak butuh dengan pelanggannya.

Hikmahnya, kesederhanaan itu memang membuat segalanya jadi indah. Bapak itu dagang dengan sederhana dan dengan tujuan sederhana, memenuhi kewajiban sebagai suami menghidupi keluarganya. Ia tidak berniat beli Harley, kamera mirrorless, dari hasil keuntungannya.

Hikmah yang lain adalah, memang personal itu more selling then corporations. Saya tidak peduli dengan bentuk gerobak, penataan tempat duduk atau bahkan nama dari usaha STMJ si Bapak itu. Asal dan karena tahu yang jual saya In syaa Allah membelinya. Sekalipun ia mengganti nama usahanya dan bentuk gerobaknya.

Gak heran kan kalo kita kadang pernah mengejar seseorang sampai ke daerah lain hanya karena cocok. Contohnya tukang pijet. Banyak tukang pijet yang skill-nya sama tapi kita tetap memburu tukang pijet langganan karena hanya satu kata, cocok.  Dan itulah salah satu keistimewaan gaya jualan ala timur. Menjadikan kesederhanaan dan keramahan sebagai alasan tertinggi keputusan membeli.

Advertisements

Para Penyuka Hujan

Tidak semua orang suka dengan hujan. Beberapa orang malah menggerutu jika hujan turun. Padahal hujan adalah berkah.  Saya teringat kata-kata teman saya sang penangkap air hujan. Beliau adalah pegiat lingkungan hidup yang sedang fokus menangkap air hujan dengan membuat banyak lubang biopori dan mengajarkan ke orang-orang di lingkungan dia.

Dia pernah bilang banyak orang mengeluh saat hujan turun karena ketakutan banjir melanda. Selain orang awam, aparat pemerintah juga sama. Kalo jakarta banjir pasti yang disalahkan curah hujan. Padahal menurut dia yang salah itu manusianya yang tidak bisa menggunakan air hujan dengan bijak. Well, sampai saat ini saya setuju dengan pendapat dia.

Berbeda lagi dengan sebagian orang yang saya panggil dengan sebutan para penyuka hujan. Mereka adalah orang yang senang dan mendapat kebahagiaan saat hujan turun. Buat saya, mereka, para penyuka hujan adalah orang diberikan Tuhan kenikmatan luar biasa.Saat hujan turun mereka akan dihinggapi sebuah perasaan yang sulit untuk dideskripsikan. Sebuah perasaan nyaman, tenang, relaks. Walopun diawal biasanya mereka juga mengeluh dalam hati tapi kelamaan mereka bisa menikmati hujan dengan relaks.

dsc_0796

Sehabis Hujan di Thirty Three Brew Surabaya

Selain perasaan yang hinggap, saat melihat titik air hujan jatuh membentur bumi atau saat melihat begitu banyaknya air yang turun di langit, ada semacam pikiran yang mengawang terbang.  Anehnya pikiran itu secara otomatis terset dalam kondisi yang menyenangkan dan menenangkan. Seruwet apapun masalah yang dihadapi,  saat hujan turun otak ini seolah enggan diajak berpikir keras dan njilmet.

Beberapa juga ada yang teringat masa lalu saat hujan turun. Ada beberapa orang yang beruntung mendapati momen-momen bahagianya selalu ditemani hujan. Belum lagi momen tersebut terselip sebuah soundtrack. Sehingga momen tersebut sangat melekat di pikiran. Momen itu tersimpan terus dan menunggu untuk di-callback saat hujan dan soundtrack itu berputar. Itu memang masa lalu namun tidak bisa dipungkiri dan tidak bisa dibohongi bahwa saat itu lah kita sedang dalam kondisi paling nyaman dan paling bahagia. Gak heran kalo masa lalu itu tersimpan terus.

Dalam salah satu lagu musical Laskar Pelangi ada lirik seperti ini:

Hmmm.. aku suka sekali bau hujan

Mengapa bau hujan bisa wangi ya?

(sing)

Sumber bau harum dari minyak aksiri

Diproduksi tumbuhan kemudian diserap

Oleh bebatuan dan tanah lalu dilepas keudara

Pada saat hujan turun.. Oooh..

Hujan secara ilimiah memang membawa rasa nyaman. Makanya saya bilang beruntung orang yang bisa menikmati hujan. Artinya orang itu dipersilakan tuhan untuk menikmati karyanya yang ajaib. Tidak heran jika banyak artis yang memakai kata-kata hujan sebagai liriknya. Dan, semua lagunya yang memakai hujan sebagai tema adalah lagu yang memang cocok didengar saat hujan. Contohnya Efek Rumah Kaca menggunakan hujan dalam dua lagunya, Desember dan Hujan Jangan Marah. Hujan itu jika diibaratkan dengan bumbu adalah garam. Hujan memiliki pengaruh signifikan untuk setiap momen. Momen-momen yang kita lalui akan semakin terekam dan teringat ketika hujan turun.

dsc_0789

Selagi Hujan di Thirty Three Brew Soerabaja

Kembali, mereka para penyuka hujan biasanya akan memfokuskan melihat titik air saat menghantam bumi, atau saat titik air di jendela, atau jalanan yang basah. Mereka tidak melakukan apa-apa hanya melihat dan terdiam. Menikmati dan meresapi cuaca sejuknya, suara rintiknya, dan bau tanah yang tersiram air hujan. Menerawang tentang sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan namun hanya bisa dirasakan, menenangkan…

*mohon maaf kalo alurnya agak ga jelas.

Jadi, Mau yg Gimana?

“Jadi, Mau yg Gimana?” adalah pertanyaan seorang teman yang umurnya lebih tua dari saya. Katakanlah paruh baya. Tapi dia teman.  Dia adalah salah satu teman yang seringkali menggambarkan tentang bagaimana enaknya menikah. Bukan enak yang macem-macem ya. Tapi enak dalam artian menikah membuat menjalani hidup jauh terasa lebih mudah dan lebih hidup. Inget selogan rokok, bikin hidup jadi hidup.

Saya yang ditanya seperti itu cuma bisa diam. Bukan tidak punya jawaban tapi bingung mau mulai menjawabnya dari mana. Sebenarnya  jawaban laki-laki tentang wanita idaman semua sama. Tapi semua itu Cuma keinginan. Kenyataannya jodoh itu Tuhan  yang ngatur.

Jawabannya sebenarnya Saya terbuka dengan siapa pun wanita yang memang ditentukan Tuhan jadi jodoh saya. Terus kok kenapa sulit banget kayaknya. Sebetulnya tidak sulit Cuma saya dalam keadaan yang membuat saya ada dalam posisi penuh pertimbangan.

Satu, Ibu saya sudah ditinggal suaminya dan sudah semakin menua. Tentu seorang Ibu memiliki persaan tersendiri terhadap pasangan anaknya. Saya ingin pasangan saya nanti bisa berbaur bahkan menjadi teman ibu saya. Saya ingin keberadaan istri saya nanti menjadi kebahagaiaan buat ibu saya. Terlebih melihat kondisi beliau, agak berat bagi saya untuk berpisah rumah dengan beliau.  Walaupun jujur saat berumah tangga saya tidak ingin menyatu dengan keluarga manapun. Itu jika kondisi finansial memadai. Hehe

Lalu, ada ponakan saya yang baru dintinggal ibunya. Ibunya itu kakak kandung saya. Ponakan saya masih smp dan sd. Masih dalam umur-umur yang membutuhkan perhatian. Saya sebagai paman setidaknya memiliki kewajiban untuk memantau mereka. Namun saya kurang cekatan dalam bergaul dengan anak-anaka. Nah makanya saya ingin sekali punya istri yang bisa berbaur dengan anak-anak. Gimana ya? Contoh singkatnya, saya ingin istri yang kalo dia dateng ke rumah ponakan saya, mereka merasa senang.

Memang tidak semua yang Kita inginkan menjadi kenyataan. Saya juga tidak ngoyo untuk mencari yang dapat memenuhi semua keinginan. Kalo pun tidak mendapatkan yang seperti itu ya mau gimana lagi. Yang terpenting dia berjodoh dengan saya. Terus jadi yang seperti apa? Cari yang jodoh.

Sekali lagi saya terbuka-terbuka saja. Karena permit-nya sudah terbuka.  Cuma jadi agak lucu saja, saat saya masih tidak banyak pertimbangan, saat ayah dan kakak saya masih hidup, kriteria jodoh saya terbatas. Sekarang saat tidak ada batasan memilih jodoh, pertimbangannya sudah banyak. Yaa mau gimana lagi, cuma  sayang  aja “dulu” permit-nya terbatas. Tapi sudah lah saya cuma bisa heran dan amaze, hidup itu benar-benar unik cara kerjanya.

Oya saran saya, bagi yang masih jomblo dan masih punya orang tua lengkap, nikah dah buru-buru karena nanti jika sudah tidak ada salah satunya terutama Ibu akan timbul banyak pertimbangan.

“Ah itu mah lo aja terlalu lebay?”

Oke lah, let say saya emang lebay. Tapi coba dah tanya yang senasib seperti saya. Walaupun akhirnya nikah juga pasti terbesit pertimbangan-pertimbangan seperti saya.

Orang Jakarta di Mata Orang Jawa

Orang Jakarta di Mata Orang Jawa

Gak kerasa, baru kemarin (03/04) saya melakukan perjalanan ke Jogja dan Solo. Perjalanan dalam rangka kerja dan cari inspirasi. Perjalanan yang harus ditempuh selama 15 jam membuat struktur tulang-belulang bergeser, mungkin, 0,5 mm dari tempatnya. Maklum, perjalanan kali ini saya lakuka dengan membawa mobil pribadi. Menggunakan kendaraan minibus, tepatnya Kijang Kapsul seri LGX bensin yang sukses menguras kocek bensin setara tiket pesawat, yakni Rp. 450.000. Tapi berapa pun kocek yang harus keluar, karena perjalanan dilakukan bareng-bareng tetap jadi seru.

Keseruan lain adalah saat kami berhenti di alun-alun kota Berebes. Di kota yang terkenal denga telor asin dan bawang ini saya beristirahat sambil menyeruput sajian khas di sana, teh poci. Sajian teh di dalam poci yang kita tuangkan sendiri ke cangkir kecil berisi gula batu sebagai pemanis ini punya harga yang gak masuk akal. Bukan tentang mahalnya saja tapi tentang pengaturan harganya. Sepoci teh dengan dua cangkir kosong berisi gula batu dihargai Rp. 14.000. Nah, pas saya tanya berapa harga satu teh poci, eh si penjual menjawab harga diatur per cangkir. Satu cangkir seharga 7.000 perak. Hah?! Saya jadi geleng-geleng sendiri. Idealnya, satu poci teh plus satu cangkir kosong dihargai 10.000. Kemudian cangkir berikutnya dihargai 3000 perak. Dengan perhitungan seperti ini harga terlihat masuk akal, karena satu poci teh secara logika visual lebih besar ketimbang cangkir. Dengan harga yang si mas jual, logika saya masih gak bisa jalan. Berarti kalo saya pesen cangkir 4 buah, saya harus membayar Rp 28.000 untuk sepoci teh. Harga yang fantastis untuk sepoci teh yang isinya Cuma daun teh sama air panas.

alun-alun kota berebes. Gambar pinjem dari: http://andinibrebes.blogspot.com/2010/04/brebes-malam-hari.html

Harga-harga fantastis untuk benda sepele memang sering terjadi di kawasan wisata. Bahasa kasarnya “ngegetok harga”. Karena lihat yang beli mobilnya pelat B, wajarlah kalo dikasih harga agak tinggi. Para wisatawan pun tampaknya memang ikhlas bin pasrah dengan harga yang digetok. Alasannya Cuma satu, “yah, sekali-kali. Gak tiap hari ini. Itung-itung bagi-bagi rejeki”. Maka dari itu, saya yakini pada saat itu saya lagi digetok harga. Saya pun sama seperti wisatawan lain, “yah, sekali-kali. Gak tiap hari ini. Itung-itung bagi-bagi rejeki”. Tapi, ada satu hal yang bikin saya gak ikhlas. Pada saat saya pertama kali memesan dan mulai obrolan basa-basi, “buka sampe jam berapa?” dan obrolan lain, si penjual mulai kepo dengan status saya. Jalan-jalan kah atau kerja kah, dari mana kah, dan lainnya. Setelah dia mengetahui status saya sebagai orang jakarta,  si penjual pun mulai ceramah tentang orang jawa tengah yang apik-apik.

“kalo orang jawa tengah mah kalo mas tanya pasti dikasi tahu yang bener. Kalo orang Jakarta mah, kalo kita nanya disasarin,” kata si Penjual.

Dan ada seabrek aib orang Jakarta yang dia lontarkan. Termasuk cerita dia dipalak, duit abis, ditolong orang, yang nolong orang jawa, dia dikasih makan, terus dikasih ongkos pulang, dan diujung cerita dia bilang kalo Jakarta itu kota kejam. Dia lebih memilih hidup kota kelahirannya yang menurut dia lebih bersahabat. Persis seperti film Alm Benyamin S yang episode sepatu yang bawa sial. Yang di film itu terkenal lagu “eh, abang pulang bakul nasi goyang-goyang” dan seterusnya.

Buat saya yang lahir di Jakarta, saya gak terima kalo orang yang tinggal di Jakarta dinilai gak punya itikad baik. Jakarta memang tidak nyaman untuk hidup, bagi saya. Tapi tidak berarti orag Jakarta tidak baik. Saya kok malah cenderung menilai si Penjual dengan dua hal. Pertama, dia looser. Gak kuat hidup di bawah tekanan. Kedua, itu gimmick marketting. Dengan cerita sedih dan menyedihkan itu dia berharap kami gak keberatan bayar lebih barang dagangnnya, karena satu, kami kasihan atau berempati dengan nasibnya. Dua, kami membayar harga lebih karena kekejaman kami, orang Jakarta, yang pernah malak dia.

Hmmm…. Logika si penjual emang gak jalan. Harusnya kalo mau ngegetok harga, kita sebagai pembeli dibaik-baik-in. Ini sih udah diomongin, digetok pulak.  Nah kita yang beli mau-mau aja bayar. Yaa.. mungkin kami sedang lelah.

Hai Kamu..

Hai Kamu.

Hai kamu.. Iya. Kamu. Kamu yang entah ada di mana. Kamu yang entah kapan datang. Kamu yang entah kapan tak sengaja bertemu. Kamu yang entah sudah bertemu namun pura-pura tidak tahu. Di mana pun kamu, jelasnya saya belum bertemu kamu.

Entah saya yang kurang gigih mencari atau kamu yang bersembunyi sepenuh hati.

Kamu yang entah di mana saya akan menemukanmu. Entah di sini, atau di sana di tempat hidup yang mulai abadi.

Mungkin saya terlalu hati-hati sehingga kamu sulit untuk dicari. Tidak. Saya tidak hati-hati.Tapi ada hal yang memiliki nama serupa. Dia memiliki syarat yang tidak bisa saya cerna denga akal. Dia memang akan selalu kontra denga akal, tapi saya tak mengapa mengikuti dia kali ini. Karena memang untuk hal ini dia adalah penentu. Ya. Masalah persaan itu buka domain akal. Tahu kan area siapa itu?

Siapapun kamu, kamu adalah orang yang mampu menaklukan sang pemilik domain perasaan. Seperti apa kamu, dia tidak bisa mendekripsikan karena hati tidak seperti akal. Tidak bisa berpikir logis. Hati tidak tahu seperti apa kamu, hobi apa, seperti apa wajah kamu, dari keluarga mana, kerja di mana, dan pertanyaan lain tentang kamu. Hati hanya tahu kamu adalah orang yang bisa meluruhkanya dengan berbagai sisi baik mu.
Tidak ada kriteria, tidak ada syarat. Hati memilih dengan caranya.
Siapapun kamu, saya yakin kamu ada. Saya yakin kamu pun mencari saya. Atau kamu sudah bertemu namun tidak melihat saya.
Siapapun kamu, saya berdoa dan berharap bisa bertemu di sini. Di dunia ini. Menikmati hidup layaknya manusia biasa. Menghadapai masalah layaknya manusia biasa.
Hai kamu.. Baik-baik di sana. Di mana pun kamu berada.

Bukan Sekadar Tajuk Rencana

Buku "Pers Orde Baru; Tinjauan Isi Kompas dan Suara Kaya" tulisan Rizal Mallarangeng

Buku “Pers Orde Baru; Tinjauan Isi Kompas dan Suara Kaya” tulisan Rizal Mallarangeng

Ngulik-ngulik tentang media dan segala atributnya adalah hal yang menyenangkan. Bagaimana tidak,  media adalah bentuk penyihir moderen. Hanya saja media tidak bisa serta merta merubah kelinci menjadi kerbau atau merubah daun menjadi uang. Media memiliki power untuk menjadikan orang ganteng yang tadinya Cuma jadi pajangan saat jadi pager bagus di kondangan mejadi orang yang senantiasa diminta foto bersama setiap ketemu masyarakat. Begitulan media. Saat orang ganteng main sinetron semuanya tetiba berubah.

Hal yang tidak kalah menarik adalah konflik. Inget konflik jaman SMA atau jaman kuliah saat kita ber-gank? Konflik sekecil apapun menjadi hal yang menarik untuk dibahas. Media pun dalam menjalankan operasionalnya tidak terlepas dari berbagai konflik. Yang paling hangat dan seksi adalah tentang tingkat objektivitas media terhadap realitas yang berkaitan baik secara langsung maupun tidak dengan pemilik media atau orientasi ideologi dan politik pemiliknya. Contoh mudahnya adalah perang Baratayudha media biru dan merah saat Pemilu 2014 lalu.

Bentuk lain dari konflik operasional media adalah tentang keberadaan tajuk rencana dalam sebuah media terutama koran. Sebuah buku berjudul “Pers Orde Baru; Tinjauan Kompas dan Suara Karya” adalah buku yang berisi skripsi Rizal Malarangeng yang dibimbing oleh Ashadi Siregar. Kedua orang ini  dan skripsinya adalah produk yang lahir dari sebuah Kampus di Jalan Sosio-Yustisia di Jogjakarta. Sebuah yang setiap sudut nongkrongnya punya cerita berbeda-beda namun punya satu kenangan, BERKESAN.

Buku tersebut di sala satu bab-nya menuliskan tentang perlunya keberadaan tajuk rencana dalam sebuah koran. Tajuk rencana menurut bapak Taylor mengingatkan saya dengan fungsi dan tugas logo. Logo adalah mahluk dengan bentuk paling kecil berukutan 1×1 cm yang bentuk dan warnanya wajib merepresentasikan perusahaan atau organisasi atau orang yang diwakilinya.  Pun tajuk rencana. Tajuk rencana adalah “reflects the reputation and integrity of the publication, as well as the will of corporations”  (Taylor, 1995).

Logo dan tajuk rencan bak saudara kembar. Fungsi dan tujuannya hampir sama. Bedanya, tajuk rencana berbentuk tulisan sedang logo berbentuk bidang dan warna. Keberadaan logo begitu penting bagi organisasi, selain sebagai identitas yang tujuannya adalah membedakan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lain, logo juga  sebagai model representasi dari organisasi. Maskudnya, seorang dapat melihat perusahaan dan segala isinya dari logonya. Logo mencerminkan kualitas dan asal organisasi. Tak heran jika perusahaan rela merogoh kocek dalam-dalam demi logo. Perusahaan menginginkan logo dibuat oleh orang atau perusahaan pembuat logo terpercaya.

Sama seperti logo, tajuk rencana juga menjadi cerminan media tersebut. Jika kita ingin melihat bagaimana pandangan media tersebut terhadap sebuah isu, bacalah tajuk rencana. Teks-teks yang dimuat dalam tajuk rencana juga dapat menunjukan bagaimana kecendrungan ideologi dan politik media tersebut. Begitu pentingnya tajuk rencana, maka perlakuan perusahaan media terhadapnya tidak berbeda dengan perlakuan media terhadap logo. Tajuk rencana harus dibuat oleh orang-orang profesional. Lagi-lagi menurut Taylor, “… you won’t get to write editorials until your hair begin to gray”. Artinya, hanya wartawan-wartawan senior dan loyal yang dapat dipercaya menulis editorial.

you won’t get to write editorials until your hair begin to gray

you won’t get to write editorials until your hair begin to gray

Konflik Tajuk Rencana

Pertanyannya adalah penting kah tajuk rencana dimuat sebuah media? Penting atau tidak pentingnya tajuk rencana adalah diskusi menarik karena hal ini berkaitan dengan duit dan idealisme.

Pertanyaan selanjutnya, seberapa besar efek muat-tidaknya tajuk rencana dengan oplah koran? Salah satu tujuan media dalah mencari keuntungan. Jika tidak memakai tajuk rencana saja laris lalu buat apa memuatnya.

Tajuk rencana adalah views. Artinya berisi opini media tentang sebuah isu yang berfungsi mendorong daya pikir pembaca dan mengajaknya berbincang-bincang tentang sesuatu sebelum pendapat umum mengenai sesuatu itu terbentuk (Arpan dalam Malarangeng, 2010). Selain pendapar Prof. Arpan ada pendapat lain terkait funsgi tajuk rencana. Namun kita tetap dapat menyimpulkan bahwa fungsi tajuk rencana terutama memang membentuk opini pembaca ke arah yang dianggap benar, baik dan perlu oleh penulis dan institusi pers bersangkutan. Jadi, jadi yang dilakukan melalui tajuk rencana bukan hanya to express melainkan juga to impress, bahkan terkadang to supress (Mallarangeng, 2010)

Dengan fungsi yang begitu mulia tajuk rencana seharusnya menjadi rubrik paling penting dan paling laris untuk dibaca. Sehingga berkonsekuensi dengan oplah media. Semakin baik media menulis tajuk rencan, semakin baik oplahnya. Itu logika sederahananya. Namun, menurut Arpan (dalam Mallarangeng, 2010) tajuk rencana adalah rubrik yang paling sedikit diperhatikan pembaca. Namun tajuk memiliki efektivitas yang tidak bisa diabaikan. Meskipun pembacanya sedikit, tajuk bisa berpengaruh dalam proses pembuatan keputusan, dan para pemimpin masyarkat sadar akan kehadirannya sehingga para pemimpinlah yang pertama-tama memberikan perhatian kepada isi tajuk (Hohenberg dalam Mallarangeng, 2010).

Melihat tajuk lebih banyak dibaca oleh para pemimpin, maka tajuk rencana seperti berlian. Hanya orang-orang tertentu yang punya selera tinggi yang menginginkannya. Kalo parodi slogan rokok, “Tajuk Rencan, Pemimpin Punya Selera”.

Kembali ke pertanyaan. Apakah tajuk rencana penting dimuat? Menurut Tjipta Lesmana bentuk tajuk yang terlalu akademis tidak memperlihatkan sikap tegas hanya membawakan “opini karet”:

Hasil dari cara penulisan yang analitis, panjang dan kurang mampu menunjukkan sikap biasanya adalah opini yang tidak tegas atau “opini karet”. Mungkin ada motif bagi penulisnya untuk menyembunyikan sikap sebenarnya terhadap masalah yang ditulis di balik analisa yang bertele-tele itu (Lesmana, 1985)

Dalam buku tersebut Rizal memberikan gambaran yang baik mengenai mengapa tajuk ditulis dengan bertele-tele. Salah satunya adalah faktor situasi politik yang berlaku di tempat media itu berada. Di Indonesia, situasi politik masa orde baru membuat sangat  mempersulit ruang gerak media. Sehingga hal ini berimbas pada gaya penulisan tajuk. Bagaimanapun dapur harus tetap mengepul. Maka mengaburkan sikap menjadi strategi untuk tetap mengepulkan asap di dapur namun tidak  menggadaikan idealisme dengan harga obral.

Maka tidak heran jika dalam Nazaruddin Najib mengakhiri polemik tentang perlu tidaknya tajuk dimuat di media dengan pernyataan berikut:

“Titik pangkal saya menyarankan agar supaya tajuk rencana tidak ada ialah karena terbata-batanya kemerdekaan pers dirasakan dewasa ini sehingga membikin tajuk overbodig, berlebih-lebihan, tak  berguna” (dalam Mallarengeng, 2010)

Pernyataan Nazaruddin tersebut memperlihatkan bahwa yang menjadi masalah bukan pada keberadaan tajuk rencana, namun pada situasi politik yang berlaku. Situasi politik yang berlaku yang mengekang kebebasan pers adalah penyakit yang mempengaruhi kesehatan isi tajuk rencana. Logo yang menggunakan warna merah itu tidak salah, namun menjadi masalah saat negara Bojong Koret mengharamkan warna merah.

Keberadaan tajuk rencana saja menimbulkan polemik. Namun dengan memandang sesuatu tidak dari satu arah saja, maka polemik tersebut bisa diminimalisir konfliknya.  Begitu pun masalah hidup. Milih-milih jodoh itu menimbulkan polemik, tapi coba lihat dari arah lain. Misalnya dari arah seorang tukang masak masakan padang.

“Kalo mau dapet rendang yang bagus itu masaknya lama, perlu kesabaran”

Terus hubungannya??

Negeri van Oranje

Waktu itu di sebuah toko buku.

Wah! ada buku baru. Seru nih.

Seperti biasa saya yang katanya hobi baca buku punya parameter dangkal dalam menilai buku bagus, cover-nya. Ada buku kecil berwarna oranye. Di atasnya ada lingkaran warna biru yang menghiasi hampir ¼ cover. Di dalam bulatan itu ada garis-garis putih membentuk rumah kincir angin.

Buku itu bercerita tentang pertemanan. Pertemanan 5 pemacul ilmu di negeri londo. Seperti layaknya buku bertema friendship, perbedaan latar belakang tokohnya menjadi sumber keseruan sekaligus konflik. Konflik batin maupun konflik percintaan. Membaca buku ini membawa saya ke jaman SD waktu rajin jadi follower kakak-kakak saya yang addicted by Enid Blyton dengan 5 sekawannya. Saya yakin kesukaan Lintang pada buku Enid Blyton adalah representasi dari salah seorang penulisnya. Oya, setelah sekian lama baca buku 5 sekawan, saya baru tau hari ini kalo Enid Blyton itu perempuan.

Kalo buat penilaian, saya yang lagunya masih kayak bocah SMP lugu ini yang masih gampang dibuai sebuah bacaan motivasi membuat buku ini berhasil menciptakan blink-blink di otak saya merasakan serunya sekolah di negeri orang. Belanda. Entah kenapa semenjak sebuah kejadian yang terjadi di hidup saya membuat orientasi saya berubah, dari yang awalnya pengen jadi seorang professional menjadi pengen sekolah ke Belanda. Untuk menuntut ilmu? Bisa iya, bisa tidak. Karena salah satu khayalan saya saat ke Belanda adalah:

Saat saya sedang boring membaca buku kuliah di perpustakaan, iseng-iseng saya bermain ke arena buku sejarah di sebuah perpustakaan tertua di Belanda. Deretan buku terlewati, sepertinya tidak ada yang menarik. Sampailah saya ke sebuah rak. Di sana ada buku tua dan tebal. Saya yang suka sama hal berbau jadul penasaran membukanya. Setelah mengebet beberapa halaman, saya tersadar ternyata buku ini berisi kumpulan surat jalan yang harus dibawa kapal-kapal VOC saat membawa komoditas dari Indonesia ke negerinya. Yang membuat saya bergidik adalah, selain buku itu memuat surat jalan juga memuat laporan tenggelamnya kapal mana saja dari Indonesia yang membawa komoditas ke Belanda berikut kemungkinan koordinatnya. Berbekal keterangan buku itu, saya balik ke Indonesia untuk menggalinya.

Ngayal banget ya. Dan jelas 5 sekawan banget ya. Pantas enggak pernah kesampean ke Belanda.

Novel berjudul Negeri van Oranje ini bercerita juga tentang tempat-tempat wisata di Belanda dan beberapa negara di Eropa yang menjadi buruan para pelancong. Cerita-cerita itu membuat saya geregetan pengen jagi menteri pariwisata. Karena apa yang ada di sana menurut saya jauh banget sama yang ada di Indonesia. Saya mencoba menglasifikasikan tempat-tempat wisata tersebut. Dan ternyata novel itu tidak baru, cetakan pertama tahun 2009. Berarti saya yang ketinggalan. hehe.

Pertama, wisata Bangunan. Orang-orang pada cabut ke Eropa paling banyak kayaknya emang pengen nemuin sebuah bangunan. Ada bangunan yang bernilai sejarah karena pernah dipakai buat ini dan itu. Atau bangunan yang pernah ditinggali si ini dan si itu. Atau lagi bangunan yang dirancang oleh seorang arsitek legendaris. Setelah menemukan bangunan itu mereka berfoto. Cukup dan mereka rasanya uda seneng bener bisa foto di depan bangunan itu. Ada beberapa bangunan yang bisa dimasuki karena menyajikan memorabilia tentang tokoh atau sejarah bangunan tersebut. Kalo gak ada ya cukup banci foto aja.

Kedua, wisata pertunjukan. Kayaknya pertunjukan paling banyak di Eropa berupa drama atau konser musik. Itu pun konon dengan harga tiket masuk yang selangit.

Ketiga, wisata alam. Entahlah, di novel itu tidak disebutkan jelas detail kenapa pantai ini bagus dan lainnya. Yang saya ketahui wisata alam di Eropa gak jauh dari salju, pantai, danau, dan sungai. Sama sih kayak di Indo, cuma di Indo kan lebih beragam.

Keempat, wisata festival. Di Eropa banyak sekali festival-festival yang diadakan dalam rangka menyambut hari ini dan itu. Seperti festival bunga tulip, festival nimpukin tomat di spanyol, festival matador, dan lainnya.

Sekarang kita bandingkan dengan Indonesia. Wuih, jauh banget brur! Indonesia ini kaya raya.  Mau wisata apa? Banyak bangunan bersejarah di Indonesia. Belum rumah adat asli Indonesia. Wisata pertunjukan? Berlimpah ruah. Dari musik saja contohnya, di Indonesia ini apapun genre musiknya baik asli Indonesia ataupun luar ada festivalnya. Jazz, ada Java Jazz. Blues, ada Jakarta International Blues Festival, Reggae ada tapi namanya saya gak tau. Belum lagi musik daerah yang amat sangat bisa menjadi wisata pertunjukan. Ada festival bambu nusantara yang sempat saya tonton di Bandung waktu itu. Segala hal bermaterial bambu dari mulai perkakas dapur sampai musik ada di sana. Angklung salah satunya yang kemarin berkolaborasi dengan Dwiki Darmawan.

Masih bicara masalah wisata pertunjukan. Pertunjukan drama, musik dan tari seperti tari barong di Bali dengan nilai seni tinggi kayaknya gak akan ditemui selain di Indonesia. Belum tari-tari lain yang amat bisa dan saya yakin menyedot banyak perhatian. Jaipong, Tayub, Bedhoyo Ketawang, Saman, dan banyak jenis tari lain amat bisa dijual menjadi konsumsi para wisatawan.

Belum lagi wisata minuman keras. Di Eropa sepertinya yang terkenal hanya bir, wine, dan aneka jenis minuman beralkohol berat lain seperti merek yang banyak beredar di club-club. Di Indonesia, walaupun minuman keras masih tabu dan tidak elok juga dosa, tapi perkembangannya cukup signifikan. Dari mulai minuman keras modern sampai yang tradisional ada.  Yang mulai campur Autan sampai campur buah juga ada. Tape ketan bekas lebaran tahun kemarin juga masih bisa buat kepala berat (iya, gak Niq?).

Ada lagi wisata budaya. Seperti acara Sekaten di Jogja dan Solo, upacara Kasodo di Bromo, dan Ruwatan Gembel di dataran tinggi Dieng Wonosobo. Nah, untuk masalah wisata ini saya agak kurang setuju. Acara-acara budaya dan adat macam itu di Indonesia erat kaitannya dengan konsep ketuhanan. Artinya leluhur dulu membuat acara itu dengan maksud ibadah. Seperti Sekaten dan Kasodo, maksudnya adalah bersyukur pada sang kuasa dengan rezeki-rezeki yang telah diberikan. Namun jika kita seorang muslim, maka tata cara ibadah, bersyukur salah satunya, sudah diajarkan oleh Sang Maha Menggemgam Alam Raya ini. Ibadah-ibadah di luar itu terancam mengurangi eklusivitas Tuhan. Sedangkan Tuhan itu harus eklusif.

Ibadah-ibadah tersebut diciptakan oleh manusia, berasal dari manusia. Seolah-olah Tuhan tidak mengajarkan bagaimana cara bersyukur. Nah, kalo begitu, Tuhan yang kita yakini dan percayai belum sempurna. Wong dia gak ngajarin kita bersyukur. Kalo Tuhan itu gak sempurna buat apa disembah? Kita percaya dan kita yakini segala hal di dunia ini dari bangun tidur sampai (maaf) cebok sudah ada aturan dan tata caranya. Jika hal kecil saja sudah diajarkan masak yang hal penting seperti bersyukur gak diajarin.

Juga, coba kita perhatikan, ibadah-ibadah yang berbalut budaya ini dari tahun ke tahun berubah model dan harinya. Jangan heran karena ibadah ini berasal dari manusia, maka jika ada manusia lain yang punya ide lebih brilian maka akan dipakai. Hal itu bergantung pada penguasanya. Contoh di Jogja, Sekaten bisa saja ada atau tidak. Bisa dipangkas waktunya, bisa juga diperpanjang. Semua tergantung Ngersa Dalem. Sekarang, bandingkan dengna ibadah yang Tuhan ciptakan. Solat, misalnya. Waktu dan tata caranya jelas. Tidak bisa diganti, tidak bisa dikuarangi, tidak bisa ditiadakan dan lain sebagainya. Semua tata cara itu terpatri dalam buku-buku. Berbeda dengan ibadah dengan bentuk budaya, bisa ada silang pendapat antara orang satu dan lainnya karena tata cara ibadah ini bisa dimodifikasi. Maka ibadah dalam bentuk budaya ini rentan keos. Perbedaan pendapat yang berujung perpecahan. Berbeda dengan ibadah dari Tuhan Yang Maha Adil, tidak bisa keos dan tidak bisa ditawar-tawar karena semua sudah ada aturan dan termaktub dalam kitab.

Jadi, acara-acara budaya tersebut amat dekat sekali dengan yang namanya kurafat. Kurafat itu kalo gak salah intinya bertentangan dengan keimanan. Namun jika kondisi keimanan masyarakat kita sudah sangat baik. Artinya dia melakukan hal itu hanya sebagai tontonan wisata. Dia tidak percaya tuah dan berkah yang diberikan benda-benda itu seperti kebo bule di Solo atau gunungan sekaten di Jogja. Dia beriman dan percaya hanya kepada Allah. Dan saat ditanya mengapa Anda melakukan hal itu, mereka menjawab: ini bukan apa-apa hanya untuk menghibur. Maka mungkin menurut saya itu sah-sah saja. Mereka melakukan sebagai satu jualan kepada turis yang berakhir pada pundi-pundi di kantong mereka.

Well, intinya Indonesia ini dengan segala kekurangannya lebih dinamis. Lebih berwarna dan lebih asik tentunya. Cuaca dan makanan cukup bersahabat. Hanya beberapa hal saja yang kurang bersahabat. Pejabat, masyarakat dan transportasi. Kalo pejabat mah gak usah diomong, dia sih emang ngeselin. Kita akui bahwa ada masyarakat kita yang masih menganggap turis sebagai ancaman sehingga mereka kurang helpful terhadap turis. Ada lagi yang menganggap turis sebagai peluang. Peluang untuk dikibulin. Seperti kecurangan yang terjadi di Bali saat para turis menukar uang. Dengan lincah sang penjaga money changer menyelipkan selembar uang rupiah yang seharusnya menjadi bagian si turis. Untuk lebih jelasnya bisa Anda nonton youtube.

Masalah transportasi juga jadi kendala. Kalo transportasi antar kota sudah oke. Banyak kota di Indonesia yang bisa dijajaki dengan kereta api dan pesawat. Yang jadi masalah adalah saat turis sampai di kota tersebut. Tidak ada transportasi yang rapi jali dan tepat jadwal yang bisa mengantarkan mereka ke tempat-tempat tujuan wisata. Kemudahan transportasi seperti ini baru bisa ditemui di kota Jogja dengan Trans Jogja nya. Salut deh sama Jogja. Btw, sudah lama juga nih gak nengokin bakmi jawa pak Harjogeno di pasar jalan Paris.  Bakmi dengan porsi jumbo dan wajib ngantri 10 sampai 20 orang setiap kali beli memang gak ada lawan. Apalagi bakmi goreng nyemeknya. Apalagi pas makan kegigit irisan ayam kampong yang besar-besar. Haduuhhh…

Dear temen-temen di kementerian pariwisata. Peluang sangat bannyak. Masalah ada di publikasi dan kemasan saja. Saya belum pernah nonton sendra tari Ramayana di Prambanan Jogja. Entah apakah sudah bilingual atau belum. Btw, jadi ngebayangin enaknya nonton Prambanan di malam hari dibawah sinar purnama.

Lanjut. Seandainya Ludruk atau Ketoprak di Surabaya bisa bilingual. Artinya ada sebuah teknologi yang bisa menyajikan ludruk dalam bahasa Inggris atau bahas lain. Yah semacan subtitle kalo neyetel dvd mah. Mungkin hal ini bisa jadi daya tarik sendiri. Kan kasian bule-bule nonton Ludruk cuma bisa liat kostum, dengar logat jawa timuran yang khas, tapi gak ngerti maksud lawakannya.

Walhasil, Indonesia masih punya kesempatan untuk menggaet turis lebih banyak. Dan jangan salah, nyamannya turis di Indonesia berkaitan secara tidak langsung dengan ekonomi kita. Semua itu saling berkait. Begitupun takdir. Seperti dalam bukunya Tere Liye. So, mari kita berdoa untuk Indonesia kita agar lebih nyaman lagi. Kalo turis sudah bisa nyaman, berarti masyarakatnya sudah semakin berkembang.

PS:

Sebetulnya saya memang pengen menulis tulisan yang terinspirasi dari buku itu, namun karena pulang selalu tepar jadi gak sempet nulis. Tapi sebagi karena suport Njonja Momon alias Moniq, waktu keadaan mabok tape ketan, saya pun menyempatkan diri menulis ini tulisan. Now your turn to write, Madam.