Rekreasi Murah via Film Televisi

Jika kemarin akibat bonusan paket data saya sudah “teracuni” dengan musik indie sekarang giliran saya kembali “teracuni” dengan film televisi (FTV) yang syutingnya banyak di luar Jakarta, semacam di Jogja, Solo,  Bali, Magelang, dan Wonosobo.  Tapi tunggu dulu, FTV yang saya tonton yang keluaran tahun 2005 sampai 2014. Mengapa? Nah, ini yang perlu disimak.

FTV yang tayang pada tahun-tahun tersebut diproduksi oleh DSX (Dharmawangsa Studi 10) Production atau Screenplay  yang mana menurut saya agak serius dalam menyusun naskah ceritanya dan urusan pengambilan gambar (DOP). Gak seperti FTV saat ini yang ceritanya terlalu monoton. Selalu bertema remaja, bercerita tentang si kaya dan miskin, banyak diperankan artis berwajah blasteran, dan asal ketika ngambil gambar. Saya selalu perhatikan dari bagaimana mereka menata lampu yang, ah sudahlah.. menurut saya mah ga banget. Dan cenderung asal dalam urusan setting.

Berbeda dengan FTV karya dua rumah produksi yang saya sebutkan barusan. Saya cukup concern dengan bagaimana cara mereka mengambil gambar. Cara mereka mengambil gambar sangat menarik. Mereka dapat mengeksplorasi sudut-sudut yang dapat menggambarkan keunikan tempat tersebut. Contohnya saat syuting di jogja, mereka sering syuting di tempat-tempat yang khas dan dapat menunjukkan ke khas-annya. Seperti bagaimana mereka mengambil gambar saat si artis sedang makan di angkringan, alun-alun, Maliboro, Stasiun Tugu dan tempat lain. Cara mengambil gamabarnya tidak asal, cukup dipikirkan agar-agar penonton bisa menikmati atmosfer tempat tersebut.

Scene Makan Gudeg

Selain itu, ceritanya pun menurut saya lebih dewasa. Walaupun kadang ga masuk akal. Tetapi inti dari cerita itu mengajarkan sesuatu kepada penontonnya. Kemudian, dari sisi pemain juga cukup mendukung. Pemain-pemainnya bisa mewakili kedewasaan cerita yang dibuat seperti Ramon Y Tungka, Surya Saputra, Atiqah Hasiholan, Prisia Nasution, Kinariyosih, dan lainnya. Dan kebanyakan pemainnya berwajah sangat nusantara. Juga, para pemainnya cukup total terlihat dari bagaimana mereka menggunakan logat jawa yang bisa dibilang hampir sama dengan aslinya.

Scene Keluarga Kusir Delman sedang Ngobrol di Teras Rumah

 

Dari segi backsound-pun cukup baik tidak asal-asalan karena menggunakan backsound yang khas sesuai dengan daerah tersebut. Backsound-nya ya, bukan OST-nya. Kalo OST-nya mah kadang gak banget. Yang paling menarik buat saya adalah bagaimana mereka mengambil karakter sederhana tapi mengena. Seperti kusir andong, penjual gudeg, kurir, supir taksi, pengamen, dan lain-lain. Juga bagaimana mereka memilih rumah pemian utama pria dan wanita yang sangat jawa sekali. Kesemua itu barpadu menjadi tontonan menarik.

Interior Rumah Surya Saputra dalam FTV

Kebetulan saya pernah beberapa kali ngobrol dengan salah satu sutradara FTV tersebut. Kata beliau, bukti keseriusan menggarap FTV ditunjukkan dengan bagaimana mereka bekerjasama dengan seniman-seniman yang ada di tempat tersebut menjadi pemeran pembantu. Makanya tidak heran jika ada karakter-karakter yang tidak terlalu terkenal namun sangat total perannya, ya gimana gak total mereka seniman bro.

Waktu dan Roda yang Berputar

Kadang waktu begitu luang kadang juga sangat sempit. Kadang kita harus 16 jam di luar rumah. Kadang hampir 20 jam ada di rumah. Semuanya tentu karena keperluan dan berbagai urusan yang membuat kita harus ada di rumah atau di luar rumah.

Ada beberapa kondisi yang membuat kita selalu ada di rumah. Ga bisa engga memang harus di rumah karena urusannya harus diselesaikan di rumah. Dalam kondisi demikian rumah kadang sudah tidak berasa rumah lagi, tapi berasa seperti kantor. Sebagaimana normalnya manusia normal, orang butuh hiburan. Lagi-lagi karena paketan data yang membonusi streaming berbagai video di sebuah aplikasi membawa saya ke film-film FTV tersebut. Film FTV kini menjadi teman dikala malam menjelang istirahat. Biar rumah masih terasa sebagai rumah ga lagi sebagai kantor.

Menonton FTV itu cukup menghibur, cukup mengurangi stress kerena selain ya emang kita seneng nonton sandiwara, kita juga dibawa ke daerah-daerah yang menarik. Seolah-olah seperti sedang mengajak kita jalan-jalan. Dan entah mengapa saya selalu teringat ritme hidup normal seseorang pekerja atau orang di desa-desa. Saya ingat ketika ke sebuah desa di sebuah kecamatan di Lampung, kecamatan Pringsewu. Di sana semua televisi menyala pada rata-rata pada malam hari. Biasanya yang mereka tonton hiburan yang berbau sandiwara seperti sinetron atau film box office yang diulang-ulang. Bagi mereka yang tidak punya televisi biasanya nimbrung dengan yang punya.

Kita kaum urban mungkin lebih akrab dengan internet sebagai media penghibur, tapi televisi bagi mereka yang di desa menjadi hiburan utama. Bagi mereka menonton televisi itu rekreasi. Dan itu yang saya rasakan saat ini. Kadang saya senyum-senyum sendiri melihat polah saya. Tapi memang ga bohong, saya suka sekali saat malam menjelang karena saya tahu pekerjaan akan segera selesai dan sebentar lagi saya akan rekreasi jalan-jalan ke Jogja atau Bali lewat FTV.

Btw sebetulnya inti dari tulisan adalah sekarang saya sedang gandrung nonton ftv. Cerita tentang ngobrol dengan sutradara ftv dan membuat analisa perbandingan kualitas FTV A dengan FTV B itu cuma biar kelihatan keren aja..

 

Advertisements

Novel Mulai Mau Berteman Lagi

Sebelum membaca tulisan ini, Anda boleh dengarkan lagu Adhitya Sofyan yang Sesuatu di Yogyakarta. Atau Bersenjagurau, atau Sampai jadi Debu, atau Tiga Pagi.

Saya baru saja membereskan membaca novel Dilan. Norak ya?! Padahal udah dari kapan-kapan nge-hits tapi baru dibaca sekarang. Oke, biar gak terlalu norak saya mau bikin pembenaran atau.. ah ga tau apa itu namanya tapi yang jelas begini:

Saya itu sudah familiar dengan karya Pidi Baiq dari jaman sejak pindah ke Bandung. Saya berkenalan dengan Pidi Baiq (biar keliatan akrab) berawal dari The Panas Dalam. Perkenalan saya berlanjut dengan membaca buku-bukunya. Drunken monster dan lain-lain yang sebenernya saya sendiri ga pernah baca bukunya. Saya beli tapi saya ga baca. 

Cukup. Cukup saya membuat pembenaran.

Beberapa bulan ini saya mulai akrab lagi dengan novel. Dulu pernah akrab tapi karena dia pernah bikin masalah, saya jadi musuhan dengan novel. Sekarang sudah baikan lagi.

Beberapa minggu ini saya sudah menghabiskan 3 novel. Lumayan tebal. Yang terakhir novel Dilan yang baru saja selesai saya baca. Tahu apa yang saya rasakan setelah membaca novel-novel tersebut? Nah ini sebenarnya yang saya mau bahas.

Sudah 3 novel saya baca dan sudah 3 kali saya merasakan hal yang sama. Saat saya akan segera selesai membaca setiap novel saya merasa seperti liburan seru bareng teman yang akan segera berakhir. Senang tapi ada perasaan bgmn yaa.. Kalo tidak salah saya pernah menulisnya di blog ini tentang waktu maghrib setelah jalan-jalan.

Apapun, perasaan itu adalah perasaan tidak terlalu mengenakkan. Lebaynya: seprti sepi mulai menempel di ujung kaki. Semakin halaman demi halaman dibuka, sepi itu semakin menjalar manuju kepala. Saya merasakan sepi berjalan dari ujung jari kaki, melwati betis, naik ke perut, kemudian ke ulu hati. Di ulu hati yang paling menyengat terasa.  Sampai akhirnya dia naik ke dada dan sampai lah dia ke kepala berbarengan dengan habisnya halaman novel terebut. Dan  di situ juga akal kita seolah menepuk-nepuk pipi. Dia bilang: sadar woy! Mungkin kykanya elo emang kesepian deh.

Begitu kurang lebihnya kalo dari sisi lebay. Tapi yang mau saya katakan adalah novel kini menjadi teman saya. Saat novel itu habis saya merasa kehilangan teman. Mungkin kamu yang baca ini  melihat saya seperti kesepian. Kalo memang seperti itu, kamu salah besar. Saya tinggal dan hidup di tengah keluaga yang hangat tapi  memang saya suka mengeksplorasi sisi lain dari diri saya.  Ngerti gak?! Gini  perhatikan paragraf berikut:

Kamu tau Glen Fredly? Kalo ga tau berarti kamu ga asik. Lanjut aja ke paragraf di bawah ini. Kamu pikir mentang-mentang Glen sering nyiptain lagu galau terus seluruh hidupnya galau terus. Ya kagak lah. Hidup Glen bahagia (kayaknya). Dia punya banyak teman, banyak kerjaan, banyak karya, banyak manggung. Tapi memang dia suka menggali sisi mellownya dia. Paham kan sekarang.

Saya lebih senang bercerita dan mendengarkan cerita ketimbang membaca. Tapi sekarang, tak ada telinga yang mau mendengar cerita saya. Tak ada juga cerita yang bisa saya dengar.

Lah! Katanya tinggal di keluarga yang hangat? Kok ga punya telinga?

Kamu yang bertanya itu pasti yang ga tau Glen Fredly. Gini, bukan telinga asal telinga, bukan cerita sembarang cerita. Yang saya mau dengar itu cerita dari Milea. Dan telinga yang saya butuhkan itu telinganya Milea. Milea-nya saya.

Milea saya sekarang lagi Temporary Inactive. Akibatnya jadi lah saya sekarang memilih untuk bercerita ke telinga saya sendiri. Dan otomatis telinga saya hanya mendengar cerita dari mulut saya. Ceritanya ya yang ada di novel itu.

Oh iya biar ada gambarnya, sekarang saya punya tempat baca novel baru. Bisa sambil ngopi plus bisa liat sungai. Asyik kan. Ini tempatnya.

By The Way, sebenarnya saya sedikit malu. Di umur yang tidak remaja lagi ini masih saja (kadang) curhat lewat tulisan. Macam ABG yang nulis diary. Biarlah. Anda anggap saja masa remaja saya kurang bahagia. Santai saja..

Emergency Call

Kita selalu punya emergency call kita sendiri. Seseorang yang kita datangi atau hubungi hanya disaat pundak dan kepala kita terbebani dengan berat yang sepertinya kita tidak sanggup untuk memikulnya.

emergencycall-300x200

Sebenarnya bukan kita tidak sanggup memikulnya, bukankah Allah sudah memberi cap paten bahwa manusia akan senantiasa bisa menghadapi masalahnya. Tetapi memilih mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu adalah yang membuat beban makin besar dan menumpuk. Semua terasa penting untuk diselesaikan.

Saat sudah memilih mana yang harus diselesaikan tidak serta merta masalah menjadi berkurang. Barang tentu masalah berikutnya yang harus diselesaikan tetap terpikirkan. Saat itulah kita mulai merasa bahwa sepertinya masalah tidak kunjung usai.  Saat itu juga kita butuh siraman air sejuk yang membuat langkah menjadi lebih mantap dan pikiran menjadi lebih tenang. Di saat itu kita butuh emergency call.

Kita selalu memiliki seseorang yang kita datangi untuk memberikan guyuran air itu. Orang itu memang aneh. Dia selalu punya cara membuat kita menjadi teduh. Dia juga selalu tidak pernah keberatan untuk mendengar keluh kesah. Tanpa dibayar.  Dan yang lebih aneh lagi dia seperti tidak pernah punya masalah dalam hidupnya. Entah terbuat dari apa manusia itu. Dan yang lebih membuat saya berpikir hebat adalah apa saja yang telah dia hadapi dalam hidupnya sehingga bisa sampai level seperti itu. Ada hal yang lebih aneh lagi, semua kata-katanya kita dengar dan kita turuti.

Beruntung saya memiliki emergency call yang sangat baik. Nasehatnya tidak pernah menjauhkan saya dari Tuhan. Seorang emergency call yang sederhana. Tinggal di rumah petakan bersama istri dan anaknya. Yang jika kita lihat hanya dari fisiknya dan materi yang ia miliki rasanya tidak pas dia untuk memberikan nasehat kepada kita. Plafon kontrakannya saja ditutupi terpal. Dia bilang, “ kalo pakai triplek mahal dan ribet. Kalo ini tinggal dibentang, ketutup semuanya. Anti air lagi.” Ujarnya sambil sedikit bercanda. Namun saya yakin bukan tentang mahalnya sebuah triplek. Di raknya berjejer buku-buku agama tebal yang harganya tidak murah.

Terkadang aga sedih melihatnya. Tapi bagaimana bisa saya sedih, dia saja yang bertahun tinggal di sana tidak pernah menunjukkan kesedihannya. Dia terlihat enjoy dengan kehidupannya. Sikap postifinya menular kepada siapa pun yang datang. Sehingga walaupun amat sangat sederhana, saya betah berlama-lama di rumah petak itu.

1032147-animaccord-s-masha-and-bear-worldwide-multi-platform-hit

Ga ide lagi mau kasih foto apa. Kasih foto ini aja, entah nyambung atau enggak.

Dari sana saya selalu pulang membawa oleh-oleh. Sebuah energi baru untuk mengarungi kehidupan. Ini dia uniknya, dia tidak pernah memberi energi yang meletup-letup atau membakar. Energi yang dia berikan semacam keteduhan.

Sepulang dari sana kita kan dibuatnya menurunkan standar yang kadang berlebih.  Standar berlebih untuk sesuatu yang akhirnya kita sadar amat sangat tidak penting untu menentukan standar begitu tinggi untuk hal itu. Dan dia akan membuat kita sangat kecil dan lemah. Dengan merasa kecil dan lemah kita otomatis akan berada dalam kondisi bersyukur. Dari sana  kita bisa melangkah lebih tenang tidak dengan kepala menunduk atau mendongak. Biasa saja, lurus ke depan.

Bapak Tua yang Memikat

Kondisi cuaca yang gak menentu (mulai nyalahin cuaca) membuat banyak gerombolan semut yang makin lincah mondar-mandir di tenggorokan saya. Gatell abisss.Praktek  menyalahkan cuaca ini jangan ditiru ya. Karena mungkin yang bikin tenggorokan gatel adalah beberapa malam kemarin saya sempat begadang. Begadang dengerin curhatan teman lama.

Kondisi tenggorokan yang gak enak itu mulai menjalar ke seluruh tubuh. Entahlah, semacam mau flu gak jadi, seluruh badan saya berasa gak enak. Perasaan suhu tubuh panas tapi enggak. Perasaan hawa dingin tapi enggak juga. Pokoknya badan jadi gak enak. Mau ngapa-ngapain males. Bawaannya pengen goler-goleran di kasur sambil kepoin instagram. Hehe.

Tapi saya harus tetap berusaha ngurangin sakitnya. Minum madu, jamu, makanin jeruk, dan berbagai cara saya lakukan. Ada efeknya tapi ga terlalu. Kebetulan, suatu malam saya ketemu seorang teman. Saya ceritakan apa yang saya rasakan. Mendengar cerita saya, teman saya langsung menyarankan saya untuk mengonsumsi jahe.

Aha!! Itu dia jawabannya, Jahe!. Walaupun tetap yang menyembuhkan adalah Allah, bukan jahe.

Saat teman saya menyarankan itu, saya berpikir kok bisa ya saya lupa. Padahal saya adalah orang yang sering menyarankan mengonsumsi jahe kepada siapa saja yang lagi terjangkit model begini. Yaaa begitulah manusia kadang lupa. dan itulah guna silaturahmi  dan teman-teman yang baik.

Saya pun mencari yang jual wedang jahe. Kebetulan tidak jauh dari rumah ada yang jual STMJ. Artinya dia pasti jual wedang jahe.

Gerobak wedang jahe ini nangkring di depan sebuah toko yang setengah tutup. Gerobaknya tidak besar. Di depan gerobaknya ditempel spanduk yang bertuliskan “STMJ” yang menutupi hampir seluruh bagian depan gerobak. Jadi si penjualnya tidak bisa terlihat dari depan.

Saya pun masuk ke working spacenya. DI atas gerobaknya tidak terdapat banyak macam alat. Ada beberapa butir telur ayam kampung, madu di botol sedang, beberapa gelas bergagang,  ciduk deri batok kelapa, dan sekaleng susu kental manis.  Working space yang sangat sederhana. Saya membatin, semudah ini jualan STMJ.

DI sana saya dilayani seorang Bapak yang usianya mungkin 50an. Berawak sedikit gemuk. Tingginya pas dengan gerobaknya. Rambut cukuran ala jaman dulu yang ga pernah mau dicukur cepak atau mohawk. Kata mbah saya, orang yang cukur gaya anak sekarang itu pada jaman dia cuma tentara doang. Mbah saya juga bilang, kalo ada orang yang cukur model begitu tapi bukan tentara bisa ditangkep. Haha. Mbah saya ini emang kreatif.

Saya langsung memesan segelas wedang jahe untuk dibawa pulang. Di sana ada seorang pelanggan yang cukup intens ngeliatin saya. Setelah sepertinya dia mengumpulkan tenaga, niat, dan keberanian akhirnya dia menyapa saya.

Singkat cerita dia adalah teman kakak saya waktu SMA. Dia terakhir liat saya mungkin waktu saya kelas 3 SD. Percakapan saya dengan dia berakhir dengan saling bertanya nama. Oh iya, pada saat saya bercakap dengan dia, si penjual wedang hanya duduk mendengarkan.  Tidak ikut bersuara. Dia baru bersuara setelah saya berucap tentang dunia yang tidak selebar daun kelor. Karena kejadian seperti ini pernah saya alami di Bandara. Saat saya dan Ibu saya akan menjemput saudara yang baru pulang umroh, seorang satpam menghampiri saya dan ibu. Dia langsung bertanya kepada Ibu saya apakah Ibu saya itu ibu dari temannya (ribet amat ya, banyak kata-kata ibunya). Temannya di sini ternyata lagi-lagi kakak saya. Satpam tersebut adalah teman kakak saya sekolah waktu masih tinggal di sebuah daerah di Sumatera.

 

Saya pun pulang dari sana. Tentu dengan berucap terima kasih. Besok malamnya saya kembali lagi ke sana. Tentunya untuk membeli wedang jahe lagi. Baru saja saya turun dan belum bicara sepatah kata pun, dia langsung menyapa dengan sedikit senyum.

“Mas, Mar. Bungkus atau minum disini?” ujar si Bapak penjual wedang dengan suara berat dan logat jawa yang kental.

Mendengar dia menyebut nama saya, saya jadi berpikir kapan saya kenalan sama si Bapak itu. Setahu saya malam yang lalu saya tidak pernah kenalan. Setelah saya telaah dengan seksama dan hati-hati (gaya anggota DPR) saya baru inget, rupanya dia curi dengar percakapan saya kemarin. Hmmmm (sudah kuduga).

Pada saat dia menyapa saya, ada semacam sinyal nyaman dan kebaikan yang saya tangkap. Begini, pernah kan kita senang mengenal seseorang. Kemudian jika seorang itu datang kita dengan penuh sumringah menyapanya. Nah, perasaan itula yang dia lemparkan kepada saya saat menyapa. Seperti seorang Mbah menyapa cucunya.

Lalu, apa yang saya rasakan? Saya merasa nyaman sekali membeli wedang jahe di situ. Saya merasa dia peduli dengan saya, pelanggannya. Menyebut nama memang membuat suatu trik komunikasi yang sudah lama dilakukan untuk mengakrabkan diri. Trik itu kadang berhasil, tapi kadang tidak. Terutama buat yang menyebut nama dengan tidak ikhlas. Keliatan dan kerasa pasti kalo apa yang dia lakukan menyimpan maksud-maksud tertentu.

Tapi, apa yang si Bapak lakukan ini beda. Pada saat dia menyebut nama saya ada pesan khusu yang tertangkap. Sebuah pesan rindu. Maksudnya rindu kedatangan saya untuk membeli sebagai motif bisnis dan rindu kedatangan saya karena saya akan membeli dagangan dia yang mana keuntungannya bisa untuk menghidupi keluarganya. Ngerti gak?  Gini, simpelnya si Bapak itu bilang begini:

“Alhamdulillah Mas Mar datang. Hari ini dagangan saya laku. Artinya saya bisa kasih makan untuk keluarga saya. Secara tidak langsung kedatangan mas Mar membuat keluarga saya bisa makan. Terima kasih, Mas”

Jadi, si Bapak itu merasa kedatangan kita sebagai sebuah bala bantuan untuk menghidupi keluarganya. Sehingga Ia sangat senang dan ikhlas melayani kita. Tidak seperti pedagang lain yang sepertinya butuh tidak butuh dengan pelanggannya.

Hikmahnya, kesederhanaan itu memang membuat segalanya jadi indah. Bapak itu dagang dengan sederhana dan dengan tujuan sederhana, memenuhi kewajiban sebagai suami menghidupi keluarganya. Ia tidak berniat beli Harley, kamera mirrorless, dari hasil keuntungannya.

Hikmah yang lain adalah, memang personal itu more selling then corporations. Saya tidak peduli dengan bentuk gerobak, penataan tempat duduk atau bahkan nama dari usaha STMJ si Bapak itu. Asal dan karena tahu yang jual saya In syaa Allah membelinya. Sekalipun ia mengganti nama usahanya dan bentuk gerobaknya.

Gak heran kan kalo kita kadang pernah mengejar seseorang sampai ke daerah lain hanya karena cocok. Contohnya tukang pijet. Banyak tukang pijet yang skill-nya sama tapi kita tetap memburu tukang pijet langganan karena hanya satu kata, cocok.  Dan itulah salah satu keistimewaan gaya jualan ala timur. Menjadikan kesederhanaan dan keramahan sebagai alasan tertinggi keputusan membeli.

Para Penyuka Hujan

Tidak semua orang suka dengan hujan. Beberapa orang malah menggerutu jika hujan turun. Padahal hujan adalah berkah.  Saya teringat kata-kata teman saya sang penangkap air hujan. Beliau adalah pegiat lingkungan hidup yang sedang fokus menangkap air hujan dengan membuat banyak lubang biopori dan mengajarkan ke orang-orang di lingkungan dia.

Dia pernah bilang banyak orang mengeluh saat hujan turun karena ketakutan banjir melanda. Selain orang awam, aparat pemerintah juga sama. Kalo jakarta banjir pasti yang disalahkan curah hujan. Padahal menurut dia yang salah itu manusianya yang tidak bisa menggunakan air hujan dengan bijak. Well, sampai saat ini saya setuju dengan pendapat dia.

Berbeda lagi dengan sebagian orang yang saya panggil dengan sebutan para penyuka hujan. Mereka adalah orang yang senang dan mendapat kebahagiaan saat hujan turun. Buat saya, mereka, para penyuka hujan adalah orang diberikan Tuhan kenikmatan luar biasa.Saat hujan turun mereka akan dihinggapi sebuah perasaan yang sulit untuk dideskripsikan. Sebuah perasaan nyaman, tenang, relaks. Walopun diawal biasanya mereka juga mengeluh dalam hati tapi kelamaan mereka bisa menikmati hujan dengan relaks.

dsc_0796

Sehabis Hujan di Thirty Three Brew Surabaya

Selain perasaan yang hinggap, saat melihat titik air hujan jatuh membentur bumi atau saat melihat begitu banyaknya air yang turun di langit, ada semacam pikiran yang mengawang terbang.  Anehnya pikiran itu secara otomatis terset dalam kondisi yang menyenangkan dan menenangkan. Seruwet apapun masalah yang dihadapi,  saat hujan turun otak ini seolah enggan diajak berpikir keras dan njilmet.

Beberapa juga ada yang teringat masa lalu saat hujan turun. Ada beberapa orang yang beruntung mendapati momen-momen bahagianya selalu ditemani hujan. Belum lagi momen tersebut terselip sebuah soundtrack. Sehingga momen tersebut sangat melekat di pikiran. Momen itu tersimpan terus dan menunggu untuk di-callback saat hujan dan soundtrack itu berputar. Itu memang masa lalu namun tidak bisa dipungkiri dan tidak bisa dibohongi bahwa saat itu lah kita sedang dalam kondisi paling nyaman dan paling bahagia. Gak heran kalo masa lalu itu tersimpan terus.

Dalam salah satu lagu musical Laskar Pelangi ada lirik seperti ini:

Hmmm.. aku suka sekali bau hujan

Mengapa bau hujan bisa wangi ya?

(sing)

Sumber bau harum dari minyak aksiri

Diproduksi tumbuhan kemudian diserap

Oleh bebatuan dan tanah lalu dilepas keudara

Pada saat hujan turun.. Oooh..

Hujan secara ilimiah memang membawa rasa nyaman. Makanya saya bilang beruntung orang yang bisa menikmati hujan. Artinya orang itu dipersilakan tuhan untuk menikmati karyanya yang ajaib. Tidak heran jika banyak artis yang memakai kata-kata hujan sebagai liriknya. Dan, semua lagunya yang memakai hujan sebagai tema adalah lagu yang memang cocok didengar saat hujan. Contohnya Efek Rumah Kaca menggunakan hujan dalam dua lagunya, Desember dan Hujan Jangan Marah. Hujan itu jika diibaratkan dengan bumbu adalah garam. Hujan memiliki pengaruh signifikan untuk setiap momen. Momen-momen yang kita lalui akan semakin terekam dan teringat ketika hujan turun.

dsc_0789

Selagi Hujan di Thirty Three Brew Soerabaja

Kembali, mereka para penyuka hujan biasanya akan memfokuskan melihat titik air saat menghantam bumi, atau saat titik air di jendela, atau jalanan yang basah. Mereka tidak melakukan apa-apa hanya melihat dan terdiam. Menikmati dan meresapi cuaca sejuknya, suara rintiknya, dan bau tanah yang tersiram air hujan. Menerawang tentang sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan namun hanya bisa dirasakan, menenangkan…

*mohon maaf kalo alurnya agak ga jelas.

Jadi, Mau yg Gimana?

“Jadi, Mau yg Gimana?” adalah pertanyaan seorang teman yang umurnya lebih tua dari saya. Katakanlah paruh baya. Tapi dia teman.  Dia adalah salah satu teman yang seringkali menggambarkan tentang bagaimana enaknya menikah. Bukan enak yang macem-macem ya. Tapi enak dalam artian menikah membuat menjalani hidup jauh terasa lebih mudah dan lebih hidup. Inget selogan rokok, bikin hidup jadi hidup.

Saya yang ditanya seperti itu cuma bisa diam. Bukan tidak punya jawaban tapi bingung mau mulai menjawabnya dari mana. Sebenarnya  jawaban laki-laki tentang wanita idaman semua sama. Tapi semua itu Cuma keinginan. Kenyataannya jodoh itu Tuhan  yang ngatur.

Jawabannya sebenarnya Saya terbuka dengan siapa pun wanita yang memang ditentukan Tuhan jadi jodoh saya. Terus kok kenapa sulit banget kayaknya. Sebetulnya tidak sulit Cuma saya dalam keadaan yang membuat saya ada dalam posisi penuh pertimbangan.

Satu, Ibu saya sudah ditinggal suaminya dan sudah semakin menua. Tentu seorang Ibu memiliki persaan tersendiri terhadap pasangan anaknya. Saya ingin pasangan saya nanti bisa berbaur bahkan menjadi teman ibu saya. Saya ingin keberadaan istri saya nanti menjadi kebahagaiaan buat ibu saya. Terlebih melihat kondisi beliau, agak berat bagi saya untuk berpisah rumah dengan beliau.  Walaupun jujur saat berumah tangga saya tidak ingin menyatu dengan keluarga manapun. Itu jika kondisi finansial memadai. Hehe

Lalu, ada ponakan saya yang baru dintinggal ibunya. Ibunya itu kakak kandung saya. Ponakan saya masih smp dan sd. Masih dalam umur-umur yang membutuhkan perhatian. Saya sebagai paman setidaknya memiliki kewajiban untuk memantau mereka. Namun saya kurang cekatan dalam bergaul dengan anak-anaka. Nah makanya saya ingin sekali punya istri yang bisa berbaur dengan anak-anak. Gimana ya? Contoh singkatnya, saya ingin istri yang kalo dia dateng ke rumah ponakan saya, mereka merasa senang.

Memang tidak semua yang Kita inginkan menjadi kenyataan. Saya juga tidak ngoyo untuk mencari yang dapat memenuhi semua keinginan. Kalo pun tidak mendapatkan yang seperti itu ya mau gimana lagi. Yang terpenting dia berjodoh dengan saya. Terus jadi yang seperti apa? Cari yang jodoh.

Sekali lagi saya terbuka-terbuka saja. Karena permit-nya sudah terbuka.  Cuma jadi agak lucu saja, saat saya masih tidak banyak pertimbangan, saat ayah dan kakak saya masih hidup, kriteria jodoh saya terbatas. Sekarang saat tidak ada batasan memilih jodoh, pertimbangannya sudah banyak. Yaa mau gimana lagi, cuma  sayang  aja “dulu” permit-nya terbatas. Tapi sudah lah saya cuma bisa heran dan amaze, hidup itu benar-benar unik cara kerjanya.

Oya saran saya, bagi yang masih jomblo dan masih punya orang tua lengkap, nikah dah buru-buru karena nanti jika sudah tidak ada salah satunya terutama Ibu akan timbul banyak pertimbangan.

“Ah itu mah lo aja terlalu lebay?”

Oke lah, let say saya emang lebay. Tapi coba dah tanya yang senasib seperti saya. Walaupun akhirnya nikah juga pasti terbesit pertimbangan-pertimbangan seperti saya.

Orang Jakarta di Mata Orang Jawa

Orang Jakarta di Mata Orang Jawa

Gak kerasa, baru kemarin (03/04) saya melakukan perjalanan ke Jogja dan Solo. Perjalanan dalam rangka kerja dan cari inspirasi. Perjalanan yang harus ditempuh selama 15 jam membuat struktur tulang-belulang bergeser, mungkin, 0,5 mm dari tempatnya. Maklum, perjalanan kali ini saya lakuka dengan membawa mobil pribadi. Menggunakan kendaraan minibus, tepatnya Kijang Kapsul seri LGX bensin yang sukses menguras kocek bensin setara tiket pesawat, yakni Rp. 450.000. Tapi berapa pun kocek yang harus keluar, karena perjalanan dilakukan bareng-bareng tetap jadi seru.

Keseruan lain adalah saat kami berhenti di alun-alun kota Berebes. Di kota yang terkenal denga telor asin dan bawang ini saya beristirahat sambil menyeruput sajian khas di sana, teh poci. Sajian teh di dalam poci yang kita tuangkan sendiri ke cangkir kecil berisi gula batu sebagai pemanis ini punya harga yang gak masuk akal. Bukan tentang mahalnya saja tapi tentang pengaturan harganya. Sepoci teh dengan dua cangkir kosong berisi gula batu dihargai Rp. 14.000. Nah, pas saya tanya berapa harga satu teh poci, eh si penjual menjawab harga diatur per cangkir. Satu cangkir seharga 7.000 perak. Hah?! Saya jadi geleng-geleng sendiri. Idealnya, satu poci teh plus satu cangkir kosong dihargai 10.000. Kemudian cangkir berikutnya dihargai 3000 perak. Dengan perhitungan seperti ini harga terlihat masuk akal, karena satu poci teh secara logika visual lebih besar ketimbang cangkir. Dengan harga yang si mas jual, logika saya masih gak bisa jalan. Berarti kalo saya pesen cangkir 4 buah, saya harus membayar Rp 28.000 untuk sepoci teh. Harga yang fantastis untuk sepoci teh yang isinya Cuma daun teh sama air panas.

alun-alun kota berebes. Gambar pinjem dari: http://andinibrebes.blogspot.com/2010/04/brebes-malam-hari.html

Harga-harga fantastis untuk benda sepele memang sering terjadi di kawasan wisata. Bahasa kasarnya “ngegetok harga”. Karena lihat yang beli mobilnya pelat B, wajarlah kalo dikasih harga agak tinggi. Para wisatawan pun tampaknya memang ikhlas bin pasrah dengan harga yang digetok. Alasannya Cuma satu, “yah, sekali-kali. Gak tiap hari ini. Itung-itung bagi-bagi rejeki”. Maka dari itu, saya yakini pada saat itu saya lagi digetok harga. Saya pun sama seperti wisatawan lain, “yah, sekali-kali. Gak tiap hari ini. Itung-itung bagi-bagi rejeki”. Tapi, ada satu hal yang bikin saya gak ikhlas. Pada saat saya pertama kali memesan dan mulai obrolan basa-basi, “buka sampe jam berapa?” dan obrolan lain, si penjual mulai kepo dengan status saya. Jalan-jalan kah atau kerja kah, dari mana kah, dan lainnya. Setelah dia mengetahui status saya sebagai orang jakarta,  si penjual pun mulai ceramah tentang orang jawa tengah yang apik-apik.

“kalo orang jawa tengah mah kalo mas tanya pasti dikasi tahu yang bener. Kalo orang Jakarta mah, kalo kita nanya disasarin,” kata si Penjual.

Dan ada seabrek aib orang Jakarta yang dia lontarkan. Termasuk cerita dia dipalak, duit abis, ditolong orang, yang nolong orang jawa, dia dikasih makan, terus dikasih ongkos pulang, dan diujung cerita dia bilang kalo Jakarta itu kota kejam. Dia lebih memilih hidup kota kelahirannya yang menurut dia lebih bersahabat. Persis seperti film Alm Benyamin S yang episode sepatu yang bawa sial. Yang di film itu terkenal lagu “eh, abang pulang bakul nasi goyang-goyang” dan seterusnya.

Buat saya yang lahir di Jakarta dan tinggal di Jakarta kyaknya ga semua orang Jakarta seperti itu. Jakarta memang tidak nyaman untuk hidup, bagi saya. Tapi tidak berarti orag Jakarta tidak baik. Saya kok malah cenderung menilai itu gimmick marketting. Dengan cerita sedih dan menyedihkan itu dia berharap kami gak keberatan bayar lebih barang dagangnnya, karena satu, kami kasihan atau berempati dengan nasibnya. Dua, kami membayar harga lebih karena kekejaman kami, orang Jakarta, yang pernah malak dia. Haha 😀

Hmmm…. Logika si penjual emang gak jalan. Harusnya kalo mau ngegetok harga, kita sebagai pembeli dibaik-baik-in. Ini sih udah diomongin, digetok pulak.  Nah kita yang beli mau-mau aja bayar. Yaa.. mungkin kami sedang lelah.