Riziq Minallah (Rezeki Datangnya dari Allah)

Riziq Minallah (Rezeki Datangnya dari Allah)

gambar: pinjem dari http://hidayahzolkiffly.blogspot.com/

Frasa Riziq Minallah adalah hal yang tidak asing bagi saya dan orang lain berketurunan arab khusunya Yaman  di Indonesia. Frasa ini seringkali diucapkan saat kami mendapatkan nikmat. Misalnya, beli mobil, beli rumah, usaha sukses, dapet penghargaan dari perusahaan dan lainnya. Contoh:

Seorang bernama Jamal datang ke acara kondangan (resepsi pernikahan) menggunakan mobil baru. Saat selesai memarkir mobilnya, Jamal bertemu dengan Hasan dan terjadilah percakapan.

Hasan: Wah…!!! mobil baru nih, Mal!

Jamal     : Alhamdulillah, Riziq Minallah..

Contoh 2:

Jamal datang ke toko hasan yang lagi hectic banget sama costumer. Dan terjadilah percakapan:

Jamal     : MasyaAllah, toko ente rame ya, San!

Hasan    : Riziq Minallah..

Saat saya masih kecil, kata-kata ini seringkali saya dengar dari Ayah saya saat ia bertemu teman-temannya. Dulu, saat saya bertanya tentang arti Riziq Minallah, Ayah Cuma menjawab bahwa jawaban itu adalah jawaban yang bagus yang diajarkan kakek saya. Intinya kata-kata itu gak jauh sama Alhamdulillah. Ayah saya menjelaskan sebatas itu saja. Tidak menjelaskan filosofinya.

Setelah besar dan bertemu banyak orang yang mengerti dalam berbagai hal terutama agama, saya baru tahu apa filosofi Riziq Minallah.

Menurut orang yang ngerti agama itu, manusia itu sebenarnya hidup dalam keadaan miskin.  Kemudian Allah lah yang membuat kita kaya lewat rezeki yang diberikan. Pada dasarnya, saat kita membeli sesuatu sebenarnya kita membeli menggunakan uang Allah. Artinya rezeki yang Allah berikan.

Ucapan Riziq Minallah adalah ucapan yang agung. Ucapan itu sebagai bentuk pengakuan bahwa mobil yang baru dan usaha yang lancar adalah semata-mata datang atau diberikan oleh Allah.  Ucapan itu adalah bentuk pengakuan bahwa kami ini orang kecil dan lemah yang tanpa izin dari Allah kami tidak bisa berbuat apa-apa.  Ucapan itu adalah alternatif untuk menurunkan kadar riya dan kesombongan. Dan, yang terpenting adalah ucapan itu sebagai bentuk akidah paling tinggi. Bahwa segala yang miliki di dunia ini sejatinya milik Allah. Seperti ucapan Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun. Segala sesuatu adalah milik Allah dan kembali ke Allah.

Hasilnya, saya seneng lahir dalam keluarga keturunan yang punya budaya yang begitu agung. Walaupun ada beberapa budaya yang masih gak masuk di hati, seperti budaya dalam perjodohan tetapi saya tetap salut dengan budaya mengucapkan Riziq Minallah. Kata-kata singkat tetapi dalam makna.

Terakhir, saya bingung dengan teman-teman yang skeptis dengan  Arab dan budayanya. Kalo memang budaya itu baik, kenapa ditentang?! Iya gak?!

Kota Itu dan Waktu Maghrib

Waktu beranjak maghrib. Suasana kota itu masih memperlihatkan keteduhan. Kalian pasti menebak hujan baru saja turun bukan. Lalu jalan-jalan basah memantulkan cahaya lampu jalanan. Bukan –  bukan. Sore itu langit bersih. Para awan nan menawan sedang asik mengobrol santai di ufuk barat. Menutupi sinar  matahari yang akan tenggelam. Tidak ada rona merah senja. Yang ada hanya warna biru mendominasi langit. Lalu memantul ke permukaan. Warnanya membuat ego manusia terjun. Tenang sekali. Semua manusia terlihat tersenyum. Mereka tidak ingin melewatkan senja yang begitu apik. Bukan tak bisa marah atau cemberut. Tapi eman-eman rasanya melewati maghrib begini indah dengan omelan atau bahkan gerutu dalam hati.

Maghrib itu khas sekali. Kota itu seringkali membuncahkan maghrib seperti itu. Membuat orang betah berlama-lama duduk melihat langit. Membuat para maniak game yang berdekam dalam kamar sepanjang hari tergerak untuk keluar rumah. Maghrib seperti itu membuat orang tua marah karena anaknya enggan masuk rumah. Mereka lebih memilih berada di luar sampai warna biru itu berubah menjadi gelap.

Saya pun menikmati itu tapi tidak ikut tersenyum. Saya hanya bisa membayangkan saat senyum saya mengembang waktu itu, saat masih bisa menikmati maghrib di kota itu dengan mudahnya. Waktu mata saya masih menatap semua objek dalam warna yang beragam. Tidak semua memang. Kadang satu warna saja, kadang hitam-putih, kadang bahkan hitam saja. Tapi maghrib di kota itu bisa membuat warna itu kembali muncul dengan mudah.

Kota itu penuh dengan crayon alami. Saya bisa memilih warna sesuka hati. Crayon itu berserakan di alun-alun, di batas kota, di pasar, dan tempat lain. Kala mata saya hanya bisa melihat satu warna, maka saya akan pergi ke salah satu tempat itu dan saya pastikan akan ada warna tambahan di mata saya.  Mudah sekali.

Menyenangkan sekali membayangkan saya menikmati maghrib itu. Hari ini saat melewati maghrib di kota itu mata saya kembali penuh warna, tapi tidak dengan otak saya. Otak saya berwarna abu-abu. Mata ini nyaman menimati maghrib itu tapi tidak dengan otak saya. Saya berusaha keras memerintah otak agar segera sinkron dengan mata. Tapi hal itu enggan terwujud.  Saya rindu, rindu otak dan mata ini bisa sinkron.

Kota itu dan maghrib itu segera meninggalkan saya. Oh, tidak. Saya yang segera meninggalkan kota itu. Ban mobil itu terus berputar. Karet  yang melingkar di dalam mata saya sepertinya mulai afkir. Ada air yang rembas di sela-selanya. Walau begitu saya tetap berharap ban mobil itu bisa berhenti. Tak apalah otak dan mata ini tidak bisa sinkron, tapi setidaknya saya bisa membayangkan bibir saya yang mudah mengembang. Mungkin ini resikonya. Saat umur dan karakter sama tidak imbangnya dengan mata dan otak. Bayangkan saat kita harus menikmati sesuatu yang kita tidak suka. Karena penolakan kita akan hal itu membuat kita mati. Ini bukan lagi tuntutan umur, ini tuntutan perut dan tuntutan sosial.

Tuntutan-tuntutan itu datang karena manusia diberikan tuhan sebuah kemampuan. Kemampuan menganalisis, kemampuan memprediksi. Kita bisa membacanya dengan kemampuan menilai buruk atau kemampuan berprasangka buruk. Andai Tuhan tidak memberi itu kepada manusia, maka tidak akan ada tuntutan sosial macam begini. Termasuk tidak akan ada juga pekerjaan yang saya geluti ini. Tapi sampai kapan mau menuntut Tuhan, Dia benar-benar otoriter. Dia tidak bisa diatur. Bahkan sampai kita merengek-rengek menangis tujuh hari tujuh malam, Dia tetap tidak bisa diatur. Pun karena hal itu Dia disebut Tuhan. Jika dia mudah sekali berubah pikiran. Maksud saya merubah takdir, maka apa bedanya Dia dengan kita. Tahu kan galau? Tuhan itu antigalau. So, tidak ada kelakuan yang dapat bisa kita lakukan selain menerima.

Entah apa karet di dalam mata saya mulai membaik. Air nya berhenti merembas. Sekarang mata dan perasaan saya mulai tidak sinkron. Seharusnya perasaan-persaan itu terpilah. Yang satu berjalan menuju otak yang satu menuju mata. Kini keduanya lumpuh. Tak ada lagi rembas air. Sudah tidak ada lagi yang bisa rembas. Untunglah perasaan ini masih ada.

Saya masih berharap ban itu berhenti. Biarkan saya menikmati bayangan senyum mengembang di wajah saya saat menikmati maghrib itu. Setidaknya mata saya berwarna saat membayangkan itu. Dan saya semakin sadar, tampaknya saat saya bisa menikmati maghrib di kota itu, saat itu lah puncak kebahagiaan saya. Saat tidak ada tuntutan umur, tuntutan sosial, tuntutan perut. Saat mata sinkron dengan otak, perasaan sinkron dengan mata.

Catatan:

Tulisan hanya fiksi belaka. *percaya gak? Hehe.

Banderol Pertemanan

Pinjem dari: tumblr.com (entah punya siapa)

Ada satu teori komunikasi yang mengatakan bahwa komunikasi itu bersifat transaksional. Maksudnya, seseorang gak akan berkomunikasi kalor dia tidak punya kepentingan. Komunikasi dua arah akan terjadi jika masing-masing kepentingan tercover. Contoh, pernah kan anda ditanya seseorang lalu Anda tidak menjawab apa-apa. Diamnya Anda adalah karena Anda merasa pertanyaan atau pernyataan lawan bicara tersebut tidak penting. Tidak ada manfaat atau keuntungan yang diambil dari menjawab atau menimbalinya. Hal ini kemudian membuat simpulan bahwa informasi itu sangat mahal.

Informasi adalah salah satu dari tujuan dibangunnya komunikasi. Contoh, saat kita ingin menanyakan sebuah alamat maka yang kita butuhkan dari lawan bicara adalah informasi. Sedangkan tujuan kedua adalah tindakan / kepatuhan. Contoh, kita haus dan minta diambilkan minuman. Kedua hal itu, informasi dan tindakan, berharga amat mahal. Kembali lagi ke teori di atas, saking mahalnya orang gak akan memberikan informasi atau bertindak jika dari keduanya tidak menghasilkan apa-apa. Namun bagaimana dengan orang yang memberitahu alamat, dia kan tidak menerima apa-apa? Nah, bukankah saat kita memberitahu alamat tersebut ada terbesit di benak kita untuk menolong? Dan dari pertolongan itu kita berharap pahala atau dibalas dengan kebaikan setimpal oleh orang lain bila satu saat kita menanyakan alamat? Itu semua adalah kepentingan kita.

What Friends Are For

Pasti pernah mendengar kata-kata itu. Kemudian galau dengan kata-kata itu saat pertemanan kemudian harus dibatasi jarak. Jarak dalam artian sebenarnya dan artian tidak sebenarnya. Lalu, menganggap “pertemanan adalah ee-nya banteng”. Ini yang mungkin kita rasakan saat SMA dan mungkin sampai sekarang.

Fenomena tersebut biasanya muncul saat teman yang selalu ada saat kita butuhkan menjadi sulit diajak bicara karena kesibukannya. Sejurus kemudian teman tersebut seolah kita anggap ditelan bumi. Kita merasa hidup pada akhirnya memang masing-masing. Menyelamatkan diri masing-masing. Yang berharga hanyalah aku dan keluargaku. Begitulah kurang lebihnya.

Setelah beberapa lama sang teman tidak sengaja bertemu lalu mereka mengobrol tentang banyak hal. Tentang pekerjaannya, tentang rumah tangganya, tentang keluarganya, dan macem-macem obrolan. Kadang sampai segala macam rahasia perusahaan tempat dia bekerja diumbar. Bahkan sering kali teman membuka aib profesi, keluarga, dan usahanya demi menyelamatkan teman kita dari kejadian yang gak enak. Contoh, saat seorang pria meminta nasihat teman perempuannya terkait hubungan atau kelakuan pasangannya. Dalam kondisi ini, tidak jarang temannya yang wanita ini membuka trik-trik wanita saat menjalankan sebuah hubungan. Dan berlaku sebaliknya.

Segala macam informasi, aib dan rahasia yang diumbar pada saat ngobrol itu lah yang menunjukkan betapa mahalnya seorang teman. Bayangkan adakah orang yang sukarela membuka aibnya tanpa syarat. Tidak ada sedikit pun manfaat yang teman kita dapatkan dari tindakan membuka aibnya. Justru sebaliknya, kita yang mendapatkan manfaatnya. Hanya teman yang mau melakukan itu. Hal ini tidak akan pernah terjadi pada orang yang baru kita temui. Apalagi jika dikaitkan dengan teori komunikasi yang tadi disebutkan.

Jadi, menurut saya, pertemanan itu tidak hanya dinilai dari keberadaan dia saat kita butuhkan. Tapi juga dari bagaimana dia menjadikan informasi yang dia ketahui juga menjadi informasi yang harus kita ketahui.

Superrr sekali.. Hehehe.

 

Asli se-asli-aslina Backpacker

Asli se-asli-aslina Backpacker

Buat yang nunggu postingan Magel Kaman Pahele edisi 3 alias edisi final, harap bersabar ya. Postingan ini gak jauh-jauh temanya dari jalan-jalan. Tau dong backpacker? Katanya mah jalan-jalan murah. Murah sagala-gala. Murah transportasi, murah penginapan dan murah makanan. Tapi, akhir-akhir ini jika membuka situs tentang backpacker, kebanyakan isinya adalah informasi tentang tempat wisata baru atau cari teman backpack. Jarang sekali yang mem-posting tentang penginapan murah atau transportasi murah dll.

Perkembangan trend backpacker yang agak sedikit berubah ini sah-sah saja dan normal karena kondisi ekonomi masyarkat Indonesia yang membaik sehingga biaya perjalanan dalam kondisi normal cukup terukur. Kalo perjalanan normal bisa, kenapa harus backpack. Kondisi sarana dan prasarana juga mendukung. Gampangnya, daripada naek kereta ekonomi murah tapi takut tindak kriminal mending naik pesawat. Harga beda dikit tapi jelas cepat. Jika kondisi sarana prasarana sangat baik untuk apapun kelasnya, mungkin masih banyak peminat moda transportasi dan penginapan tarif rakyat jelata.

Pertanyaannya, apakah masih bisa melakukan perjalanan dengan semurah mungkin. Amat bisa terutama untuk makanan. Kalo untuk transportasi dan penginapan banyak pertimbangan untuk memilih yang tidak murah karena terkait kenyamanan dan kecepatan. Tapi untuk makanan amat bisa. Karena terjamin murah dan enak. Dan ini, Cuma ada di Indonesia. Makan satu hari hanya dengan 20.000 rupiah.

Tahu kan gorengan. Tempe goring, tahu goring, ubi, pisang, dan genk-nya. Nah, ini adalah cara agar perjalanan kita bener-bener backapacker. Dulu, waktu gorengan 500 perak per satuannya, kita bisa makan cuma dengan rp. 10.000 perhari. Sarapan, makan siang, dan makan malam full gorengan. Makanlah pada masing-masing waktu sebanyak 5 pcs gorengan. Totalnya sekali makan rp. 6.000. Yang seribu buat beli air mineral dalam gelas. Usahan makan yang ngenyangin dan bergizi. Pilihan bisa jatuh pada 3 pcs bala-bala/bakwan biar kenyang, 1 pcs pisang  biar bergizi , dan 1 pcs ubi agar pencernaan lancer.

Hal seperti itu sudah saya praktekkan jaman kuliah di Bandung tempo kemarin.  Jangan tanya soal kenyang karena ini menyangkut kapasitas perut. Yang insya Allah pasti, kita dapat bertahan hidup. Yah, gak lapar-lapar amat lah.

Ada tips untuk Anda para pemburu gorengan. Kalo di Jabodetabek, ada 2 tipe penjual gorengan. Tipe pertama, penjual gorengan dengan gerobak cantik atau pikulan busuk. Sebut saja gorengan legal. Gerobaknya biasanya bersih, kelimis, dan kinclong. Terbuat dari alumunium atau kayu yang dipelitur mengkilat. Atau pikulan busuk bin gembel yang tempat naruh gorengannya di atas besi bekas kipas angin. Gorengan di penjual tipe pertama ini biasanya kecil-kecil. Enak mah enak, tapi kurang nendang.

Gorengan tipe kedua. Nah, inilah gorengan yang harus Anda sambangi. Biasanya dijual berbarengan dengan warung kopi, tukang nasi uduk, tukang gado-gado atau warung-warung lain. Intinya, gorengan ini hanya sebatas pelengkap saja, bukan komoditas utama jualannya. Makanya, gorengan ini bisa disebut juga gorengan ilegal. Biasanya gorengan ini yang jual ibu-ibu dan biasanya gorengannya besar-besar. Namanya ibu-ibu, mungkin saat dia memotong bahan inget anak dan suaminya kalo kelaparan di jalan.  Jadilah dia jualan gorengan pake perasaan. Gak terlalu money oriented.

Silakan mencoba…

Pengemis dan si Mbah Pemanggul Karung di Beringharjo

Mungkin ini tulisan usang tentang mulianya hati seorang nenek tua yang lebih memilih memanggul  karung dengan berat puluhan kilo ketimbang duduk termangu membawa mangkok di jalan raya, tapi tulisan ini lebih daripada itu.

Siapa yang tak suka, kerja sedikit dengan penghasilan banyak. Mungkin ini lah hal yang melekat pada diri orang pengemis. Di bulan suci ini kita melihat fenomena local, diserbunya ibu kota dengan para pengemis yang datang dari berbagai daerah. Saking enaknya kue usaha ini, di salah satu masjid terbesar di Jakarta bahkan ada pengemis sampai  jambak-jambakan berebut daerah kekuasaan. Gak mungkin merela rela sampai sebegitu kerasnya kalau bukan karena pendapatan yang menggiurkan.

Saya sendiri pernah melihat dengan mata kepala sendiri satu pengemis di sebuah perempatan di kota Yogyakarta. Kebetulan kerabat saya memiliki toko kelontong persis di dekat perempatan itu. Toko kelontong kerabat saya ini letaknya di Hook (untuk ilustrasi, lihat gambar). Bagian toko yang mengarah ke jalan Pendage ini jika malam cukup gelap.

Peta

Denah Toko Kelontong

Nah, setiap malam si pengemis ini membuka semua atributnya baju dan celana compang-campingya termasuk perban dengan obat merah buatan. Setelah itu dia masuk ke toko kerabat saya dan menukarkan uang recehnya dengan uang pecahan besar di toko saya. Tidak banyak memang yang ditukarkan, sekitar 40 – 50 ribu. Setelah beres tukar-menukar si  pengemis ini lalu pulang dengan motor jemputan.

Bayangkan betapa jauhnya perbandingannya. Namun, yang menggelitik bagi saya adalah bagaimana cara para si Mbah ini tidak pernah tergiur sedikit pun untuk menjadi pengemis. Padahal jelas mereka bisa dan mampu. Saya jadi teringat dengan sebuah pepatah “bergaul sama tukang minyak wangi, ya ikut wangi”. Dari sini saya memiliki asumsi, jika saja di Beringharjo itu si mbah pemanggul karung Cuma satu atau dua orang, mungkin mereka tergiur menjadi pengemis.  Sepandai-pandainya manusia memiliki prinsip, suatu saat bisa luluh juga.

Nah, apa pasal si mbah ini bisa bertahan untuk tetap memanggul? Menurut terawangan saya, hal itu karena manusia-manusia dengan prinsip dan idealisme yang sama berkumpul dalam satu komunitas. Di Beringharjo mungkin jika  kita Tanya satu-satu si mbah ini, mereka semua akan menjawab “emoh” untuk mengemis. Inilah yang menjadi keyakinan saya mengapa si mbah ini tetap setia menjalani profesinya. Bahkan bisa jadi mereka akan malu jika menyerah dengan idealismenya. Mungkin akan ditertawakan oleh sesama pemanggul karung dan dikatai pecundang.

Konon, anak cucu si mbah-mbah pemanggul karung ini banyak yang sukses di Jakarta. Namun lagi-lagi mungkin prinsip dan rasa malu menjadi factor utama mengapa mereka enggan melepas pekerjannya. Intisarinya, lagi-lagi bukti lingkungan benar-benar mempengaruhi kualitas diri pribadi.