Pantai di Balik Hutan

Saya sudah sampai di depan hutan yang tidak terlalu pekat. Diujung hutan ada pantai yang terlihat samar. Saya ingin ke pantai itu. Dari kejauhan dan kesamaran saja aura menyengkannya sudah berhembus. Tapi hutan itu lumayan membuat saya ragu. Mungkin nanti di perjalanan ada macan menerkam atau ular yang mematuk. Tapi bukankah semua itu hanya kemungkinan yang bisa terjadi dan tidak.

Saya sudah di sini. Saya sudah memilih. Memilih untuk mengunjungi pantai ini. Saya tidak tahu apakah dia benar indah atau hanya hoax.

______

Selepas subuh, seperti biasa, saya iseng membuka instagram mellihat berbagai foto berseliweran di linimasa. Melihat apakah ada yang menarik. Dan ternyata memang masih sama saja. Biasa saja. Tidak ada yang menarik. Dan bukankah memang akan selalu begitu. Sesuatu yang terus menerus kita lihat atau berada di samping kita lama kelamaan akan biasa saja.

Tapi ini berbeda. Saat saya melihat sebuah foto pantai yang bersmbunyi dibalik batang-batang pohon pinus. Pantai itu terlihat Indah walaupun dipotret dari kejauhan. Ah, tapi jangan-jangan hoax. Mungkin saja editan. Tapi ada sebuah bisikan yang memaksa.

“Ayo kesana. Lihat pantai itu. Itu indah. Pasti.”

Sebentar. Saya harus betul-betul yakin dulu jika bisikan datang dari kanan, bukan dari kiri. Saya siapkan perbekanalan dahulu baru saya bawa bisikan itu ke malam yang sangat larut. Di tengah malam yang larut. Di saat kepala merendah, serendah-rendahnya, biasanya otak lebih ramah diajak berpikir. Tidak cukup sehari-dua hari. Sampai 10 hari, barulah otak dan hati sinkron. Butuh waktu begitu lama untuk sinkron karena bukan saya yang melakukannya, melainkan DIA yang memiliki pantai itu, sehingga akal dan hati tidak memiliki jawaban lain.  Mereka (berarti saya) sudah memilih. Memilih pantai itu untuk dihampiri.

______

Saya belum bisa memastikan hutan itu hoax atau bukan terkecuali jika saya sudah melewati hutan itu. Keraguan pun muncul, namun akal dan hati yang sudah bersepakat, mereka mengingatkan kembali. Kami (berati saya) sudah memilih. Tidak pernah ada kamus mundur kecuali jika itu kehendak-Nya.

Perbekalan sudah siap. Bismillah.

Hutan sudah saya masuki. Tidak ada macan dan ular apalagi singa. Hutan itu memerintahkan rengit-rengit bernama keraguan untuk mengeroyok secara membabi-buta dari sana dan sini. Syukur, akal dan hati selalu mengingatkan. Mereka berkata:

Dia yang memiliki pantai itu sudah meyakinkan kami untuk memilih. Jalan terus!

Semakin rengit itu mengigit semakin keras suara mereka berkata: Jalan Terus!

Rengit menyerah. Saya pun sampai di ujung hutan. Perbatasan antara hutan dan pantai. Senyum saya mengembang lebar sekali.

Pantai Oke

Pantai itu berpasir putih halus tanpa satu pun jejak kaki, seperti tak pernah terjamah. Air lautnya membiru bening, meneduhkan mata yang melihatnya. Tidak ada ombak besar. Hanya riak-riak kecil yang mempermanis bentuk airnya. Di sebelah kanan, ada pohon kelapa yang lebat daunnya dan penuh buahnya. Meneduhkan siapapun orang yang ada di bawahnya dan menghilangkan dahaga orang yang meminum buahnya.

Suara burung bersautan tidak lebay. Manis terdengar telinga. Juga suara gesekan pohon kelapa yang tertiup angin sepoi. Angin yang dapat membuat orang tertidur. Di ufuk barat, matahari mulai akan tenggelam. Sinarnya tidak menusuk mata tapi sebaliknya membuat betah berlama-lama melihatnya.

Intuisi saya tidak salah. Oh, bukan, DIA sang pemilik pantai yang memberikan intuisi itu yang tidak salah. Pantai itu menyenangkan, dan bukan sekadar itu. Matahari, pohon kelapa, dan angin sepoi membuat keindahannya hampir sempurna.

Semakin menyenangkan rasanya jika saya bisa bersandar di bawah pohon kelapa, di atas hamparan pasir putih yang halus, menikmati kelapa dan senja berteman angin sepoy, sembari seperempat membiarkan telapak kaki saya terhempas riak-riak kecil air laut. Tapi saya tidak bisa. Saya tidak bisa menikmati kesenangan itu. Ada plang, yang ukurannya tidak besar, bertuliskan

PENGUNJUNG DILARANG KE PANTAI.

Seketika itu akal dan hati menjadi riweuh. Mereka bersautan menawarkan berbagai alibi, alasan, jawaban, cerita dan segala hal kepada saya. Sampai akhirnya tidak terbendung lagi dan saya blank. Tidak ada apa-apa. Tidak ada yang saya pikirkan. Saya hanya bisa menatap plang itu dalam-dalam.

Sampai akhirnya sang pemilik pantai datang. DIA berkata lembut,

Bukankah kau sudah melihat keindahan di sini? Lebih indah daripada apa yang selama ini kau lewati?

Syukrilah..

Syukurilah.. Intuisi mu tak salah. Pantai ini memang ada, indah dan menyenangkan.

AKU tahu dan mengerti apa yang kau inginkan, karena semua itu AKU yang memberikannya kepadamu.

Tapi syukurilah kesenangan dan keindahan yg seadanya saat ini. Nanti aku tambahkan kesenangamu. Mungkin nanti AKU akhirnya akan menyabut plang itu.

Tapi Syukurilah dulu..  Intuisimu tak salah. Bukankah kau sudah melihat keindahan di sini? Ini lebih menyengkan dan indah daripada apa yang selama ini kau lewati, kan?

Intuisi saya tidak salah. Oh, bukan. Ralat. Dia yang memberi intuisi dan yang tidak salah. Keyakinan saya tidak sia-sia. Senyum saya masih mengembang.

Bekal ini masih utuh. Tidak tersentuh. Ini untuk pantai itu dan masih untuk pantai itu.

SIP

 

Advertisements

Nenteng Peci

Ceritanya selepas shalat ashar. Langit sangat cerah tapi hujan turun. Tidak deras, tapi butir hujannya sepertinya besar-besar sehingga saat membentur bumi sebentar saja sudah basah. Tapi langit masih tetap cerah, terang menderang.

Dari kejauhan saya lihat seorang kakek tua pulang dari surau. Dia berjalan agak cepat untuk menghindari hujan yg mungkin saja bisa jadi sangat deras sebentar lagi. Ya! Dia ingin sampai di rumah lebih awal agar jika hujan akhirnya turun deras dia tidak kena basahannya. Artinya dia sedang menghindari air.

Sebagaimana orang menghindari air hujan, seharusnya orang berusaha untuk menghalau kepalanya agar tidak terkena air hujan dengan bermacam cara. Pakai kantong kresek atau benda lain. Syukur-syukur ada payung. Tapi, si kakek tua malah melakukan hal yg bertentangan. Saat hujan itu turun saya melihat kepala si kakek terbuka tanpa penutup apa pun sedangkan di tangannya dia memegang pecinya. 

Kita punya kesimpulan. Pertama, si kakek tua sedang menghindari hujan. Kedua, normalnya manusia kalo mau menghindari hujan dia akan menutup kepala. Ketiga, si kakek punya peci. Jadi, apa pasal si kakek yg sedang menghindari hujan yg seharusnya menutup kepalanya, dan dia memiliki peci yg bisa menutup kepalanya, tapi tidak digunakan?  

Pensaran? Saya sih enggak. Karena udah tau jawabannya.

Peci M Iming (url: bisnis.com/bandung/posts/2014/04/03/505688/kopiah-m-iming_ilustrasi_bisnisjabar)

Lelaki yg sering ke masjid buat Shalat Jumat biasanya familiar dengan peci ini. Tentu familiar karena banyak orang yg pake. Tapi bukan itu yg saya maksud. Pada saat shalat jumat banyak pedagang dadakan yg menjual asesoris ibadah salah satunya peci itu. Biasanya peci ditata sedenikian rupa, ditumpuk selang-seling  seperti display makanan padang, kemudian si pedagang seringkalo menyikat peci dengan sikat halus. Sedemikian berharganya peci itu sampai harus ditritmen seperti itu. Pasti ada sesuatu yg spesial dari peci itu. 

Telisik punya telisik, ternyata peci hitam puny perasaan yg sensitif. Saking sensitifnya harus disikat dengan sikat yg lembut. Bukti sensitif yg lain adalah peci itu ga boleh kena air. Sekali kena air berantakan sudah pola beludrunya. Sehingga hitamnya tidak lagi merata tapi blentang-blentong dan ga bisa balik lagi mau diapain juga.. Nah ini dia kenapa si kakek tersebut lebih rela rambutnya terkena air. 

Seberharga itukah sebuah peci sampai harus mengorbanakan kepala? Saya juga bingung pada awalnya tapi akhirnya saya mengerti. Harga peci hitam beludru yg sangat simpel itu, yg biasa dipakai Soekarno dan Ridwan Kamil, tertanyata harga tembus 200.000 lebih. Jadi yaa wajar..

Riziq Minallah (Rezeki Datangnya dari Allah)

Riziq Minallah (Rezeki Datangnya dari Allah)

gambar: pinjem dari http://hidayahzolkiffly.blogspot.com/

Frasa Riziq Minallah adalah hal yang tidak asing bagi saya dan orang lain berketurunan arab khusunya Yaman  di Indonesia. Frasa ini seringkali diucapkan saat kami mendapatkan nikmat. Misalnya, beli mobil, beli rumah, usaha sukses, dapet penghargaan dari perusahaan dan lainnya. Contoh:

Seorang bernama Jamal datang ke acara kondangan (resepsi pernikahan) menggunakan mobil baru. Saat selesai memarkir mobilnya, Jamal bertemu dengan Hasan dan terjadilah percakapan.

Hasan: Wah…!!! mobil baru nih, Mal!

Jamal     : Alhamdulillah, Riziq Minallah..

Contoh 2:

Jamal datang ke toko hasan yang lagi hectic banget sama costumer. Dan terjadilah percakapan:

Jamal     : MasyaAllah, toko ente rame ya, San!

Hasan    : Riziq Minallah..

Saat saya masih kecil, kata-kata ini seringkali saya dengar dari Ayah saya saat ia bertemu teman-temannya. Dulu, saat saya bertanya tentang arti Riziq Minallah, Ayah Cuma menjawab bahwa jawaban itu adalah jawaban yang bagus yang diajarkan kakek saya. Intinya kata-kata itu gak jauh sama Alhamdulillah. Ayah saya menjelaskan sebatas itu saja. Tidak menjelaskan filosofinya.

Setelah besar dan bertemu banyak orang yang mengerti dalam berbagai hal terutama agama, saya baru tahu apa filosofi Riziq Minallah.

Menurut orang yang ngerti agama itu, manusia itu sebenarnya hidup dalam keadaan miskin.  Kemudian Allah lah yang membuat kita kaya lewat rezeki yang diberikan. Pada dasarnya, saat kita membeli sesuatu sebenarnya kita membeli menggunakan uang Allah. Artinya rezeki yang Allah berikan.

Ucapan Riziq Minallah adalah ucapan yang agung. Ucapan itu sebagai bentuk pengakuan bahwa mobil yang baru dan usaha yang lancar adalah semata-mata datang atau diberikan oleh Allah.  Ucapan itu adalah bentuk pengakuan bahwa kami ini orang kecil dan lemah yang tanpa izin dari Allah kami tidak bisa berbuat apa-apa.  Ucapan itu adalah alternatif untuk menurunkan kadar riya dan kesombongan. Dan, yang terpenting adalah ucapan itu sebagai bentuk akidah paling tinggi. Bahwa segala yang miliki di dunia ini sejatinya milik Allah. Seperti ucapan Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun. Segala sesuatu adalah milik Allah dan kembali ke Allah.

Hasilnya, saya seneng lahir dalam keluarga keturunan yang punya budaya yang begitu agung. Walaupun ada beberapa budaya yang masih gak masuk di hati, seperti budaya dalam perjodohan tetapi saya tetap salut dengan budaya mengucapkan Riziq Minallah. Kata-kata singkat tetapi dalam makna.

Terakhir, saya bingung dengan teman-teman yang skeptis dengan  Arab dan budayanya. Kalo memang budaya itu baik, kenapa ditentang?! Iya gak?!

Kota Itu dan Waktu Maghrib

Waktu beranjak maghrib. Suasana kota itu masih memperlihatkan keteduhan. Kalian pasti menebak hujan baru saja turun bukan. Lalu jalan-jalan basah memantulkan cahaya lampu jalanan. Bukan –  bukan. Sore itu langit bersih. Para awan nan menawan sedang asik mengobrol santai di ufuk barat. Menutupi sinar  matahari yang akan tenggelam. Tidak ada rona merah senja. Yang ada hanya warna biru mendominasi langit. Lalu memantul ke permukaan. Warnanya membuat ego manusia terjun. Tenang sekali. Semua manusia terlihat tersenyum. Mereka tidak ingin melewatkan senja yang begitu apik. Bukan tak bisa marah atau cemberut. Tapi eman-eman rasanya melewati maghrib begini indah dengan omelan atau bahkan gerutu dalam hati.

Maghrib itu khas sekali. Kota itu seringkali membuncahkan maghrib seperti itu. Membuat orang betah berlama-lama duduk melihat langit. Membuat para maniak game yang berdekam dalam kamar sepanjang hari tergerak untuk keluar rumah. Maghrib seperti itu membuat orang tua marah karena anaknya enggan masuk rumah. Mereka lebih memilih berada di luar sampai warna biru itu berubah menjadi gelap.

Saya pun menikmati itu tapi tidak ikut tersenyum. Saya hanya bisa membayangkan saat senyum saya mengembang waktu itu, saat masih bisa menikmati maghrib di kota itu dengan mudahnya. Waktu mata saya masih menatap semua objek dalam warna yang beragam. Tidak semua memang. Kadang satu warna saja, kadang hitam-putih, kadang bahkan hitam saja. Tapi maghrib di kota itu bisa membuat warna itu kembali muncul dengan mudah.

Kota itu penuh dengan crayon alami. Saya bisa memilih warna sesuka hati. Crayon itu berserakan di alun-alun, di batas kota, di pasar, dan tempat lain. Kala mata saya hanya bisa melihat satu warna, maka saya akan pergi ke salah satu tempat itu dan saya pastikan akan ada warna tambahan di mata saya.  Mudah sekali.

Menyenangkan sekali membayangkan saya menikmati maghrib itu. Hari ini saat melewati maghrib di kota itu mata saya kembali penuh warna, tapi tidak dengan otak saya. Otak saya berwarna abu-abu. Mata ini nyaman menimati maghrib itu tapi tidak dengan otak saya. Saya berusaha keras memerintah otak agar segera sinkron dengan mata. Tapi hal itu enggan terwujud.  Saya rindu, rindu otak dan mata ini bisa sinkron.

Kota itu dan maghrib itu segera meninggalkan saya. Oh, tidak. Saya yang segera meninggalkan kota itu. Ban mobil itu terus berputar. Karet  yang melingkar di dalam mata saya sepertinya mulai afkir. Ada air yang rembas di sela-selanya. Walau begitu saya tetap berharap ban mobil itu bisa berhenti. Tak apalah otak dan mata ini tidak bisa sinkron, tapi setidaknya saya bisa membayangkan bibir saya yang mudah mengembang. Mungkin ini resikonya. Saat umur dan karakter sama tidak imbangnya dengan mata dan otak. Bayangkan saat kita harus menikmati sesuatu yang kita tidak suka. Karena penolakan kita akan hal itu membuat kita mati. Ini bukan lagi tuntutan umur, ini tuntutan perut dan tuntutan sosial.

Tuntutan-tuntutan itu datang karena manusia diberikan tuhan sebuah kemampuan. Kemampuan menganalisis, kemampuan memprediksi. Kita bisa membacanya dengan kemampuan menilai buruk atau kemampuan berprasangka buruk. Andai Tuhan tidak memberi itu kepada manusia, maka tidak akan ada tuntutan sosial macam begini. Termasuk tidak akan ada juga pekerjaan yang saya geluti ini. Tapi sampai kapan mau menuntut Tuhan, Dia benar-benar otoriter. Dia tidak bisa diatur. Bahkan sampai kita merengek-rengek menangis tujuh hari tujuh malam, Dia tetap tidak bisa diatur. Pun karena hal itu Dia disebut Tuhan. Jika dia mudah sekali berubah pikiran. Maksud saya merubah takdir, maka apa bedanya Dia dengan kita. Tahu kan galau? Tuhan itu antigalau. So, tidak ada kelakuan yang dapat bisa kita lakukan selain menerima.

Entah apa karet di dalam mata saya mulai membaik. Air nya berhenti merembas. Sekarang mata dan perasaan saya mulai tidak sinkron. Seharusnya perasaan-persaan itu terpilah. Yang satu berjalan menuju otak yang satu menuju mata. Kini keduanya lumpuh. Tak ada lagi rembas air. Sudah tidak ada lagi yang bisa rembas. Untunglah perasaan ini masih ada.

Saya masih berharap ban itu berhenti. Biarkan saya menikmati bayangan senyum mengembang di wajah saya saat menikmati maghrib itu. Setidaknya mata saya berwarna saat membayangkan itu. Dan saya semakin sadar, tampaknya saat saya bisa menikmati maghrib di kota itu, saat itu lah puncak kebahagiaan saya. Saat tidak ada tuntutan umur, tuntutan sosial, tuntutan perut. Saat mata sinkron dengan otak, perasaan sinkron dengan mata.

Catatan:

Tulisan hanya fiksi belaka. *percaya gak? Hehe.

Banderol Pertemanan

Pinjem dari: tumblr.com (entah punya siapa)

Ada satu teori komunikasi yang mengatakan bahwa komunikasi itu bersifat transaksional. Maksudnya, seseorang gak akan berkomunikasi kalor dia tidak punya kepentingan. Komunikasi dua arah akan terjadi jika masing-masing kepentingan tercover. Contoh, pernah kan anda ditanya seseorang lalu Anda tidak menjawab apa-apa. Diamnya Anda adalah karena Anda merasa pertanyaan atau pernyataan lawan bicara tersebut tidak penting. Tidak ada manfaat atau keuntungan yang diambil dari menjawab atau menimbalinya. Hal ini kemudian membuat simpulan bahwa informasi itu sangat mahal.

Informasi adalah salah satu dari tujuan dibangunnya komunikasi. Contoh, saat kita ingin menanyakan sebuah alamat maka yang kita butuhkan dari lawan bicara adalah informasi. Sedangkan tujuan kedua adalah tindakan / kepatuhan. Contoh, kita haus dan minta diambilkan minuman. Kedua hal itu, informasi dan tindakan, berharga amat mahal. Kembali lagi ke teori di atas, saking mahalnya orang gak akan memberikan informasi atau bertindak jika dari keduanya tidak menghasilkan apa-apa. Namun bagaimana dengan orang yang memberitahu alamat, dia kan tidak menerima apa-apa? Nah, bukankah saat kita memberitahu alamat tersebut ada terbesit di benak kita untuk menolong? Dan dari pertolongan itu kita berharap pahala atau dibalas dengan kebaikan setimpal oleh orang lain bila satu saat kita menanyakan alamat? Itu semua adalah kepentingan kita.

What Friends Are For

Pasti pernah mendengar kata-kata itu. Kemudian galau dengan kata-kata itu saat pertemanan kemudian harus dibatasi jarak. Jarak dalam artian sebenarnya dan artian tidak sebenarnya. Lalu, menganggap “pertemanan adalah ee-nya banteng”. Ini yang mungkin kita rasakan saat SMA dan mungkin sampai sekarang.

Fenomena tersebut biasanya muncul saat teman yang selalu ada saat kita butuhkan menjadi sulit diajak bicara karena kesibukannya. Sejurus kemudian teman tersebut seolah kita anggap ditelan bumi. Kita merasa hidup pada akhirnya memang masing-masing. Menyelamatkan diri masing-masing. Yang berharga hanyalah aku dan keluargaku. Begitulah kurang lebihnya.

Setelah beberapa lama sang teman tidak sengaja bertemu lalu mereka mengobrol tentang banyak hal. Tentang pekerjaannya, tentang rumah tangganya, tentang keluarganya, dan macem-macem obrolan. Kadang sampai segala macam rahasia perusahaan tempat dia bekerja diumbar. Bahkan sering kali teman membuka aib profesi, keluarga, dan usahanya demi menyelamatkan teman kita dari kejadian yang gak enak. Contoh, saat seorang pria meminta nasihat teman perempuannya terkait hubungan atau kelakuan pasangannya. Dalam kondisi ini, tidak jarang temannya yang wanita ini membuka trik-trik wanita saat menjalankan sebuah hubungan. Dan berlaku sebaliknya.

Segala macam informasi, aib dan rahasia yang diumbar pada saat ngobrol itu lah yang menunjukkan betapa mahalnya seorang teman. Bayangkan adakah orang yang sukarela membuka aibnya tanpa syarat. Tidak ada sedikit pun manfaat yang teman kita dapatkan dari tindakan membuka aibnya. Justru sebaliknya, kita yang mendapatkan manfaatnya. Hanya teman yang mau melakukan itu. Hal ini tidak akan pernah terjadi pada orang yang baru kita temui. Apalagi jika dikaitkan dengan teori komunikasi yang tadi disebutkan.

Jadi, menurut saya, pertemanan itu tidak hanya dinilai dari keberadaan dia saat kita butuhkan. Tapi juga dari bagaimana dia menjadikan informasi yang dia ketahui juga menjadi informasi yang harus kita ketahui.

Superrr sekali.. Hehehe.