Orang Jakarta di Mata Orang Jawa

Orang Jakarta di Mata Orang Jawa

Gak kerasa, baru kemarin (03/04) saya melakukan perjalanan ke Jogja dan Solo. Perjalanan dalam rangka kerja dan cari inspirasi. Perjalanan yang harus ditempuh selama 15 jam membuat struktur tulang-belulang bergeser, mungkin, 0,5 mm dari tempatnya. Maklum, perjalanan kali ini saya lakuka dengan membawa mobil pribadi. Menggunakan kendaraan minibus, tepatnya Kijang Kapsul seri LGX bensin yang sukses menguras kocek bensin setara tiket pesawat, yakni Rp. 450.000. Tapi berapa pun kocek yang harus keluar, karena perjalanan dilakukan bareng-bareng tetap jadi seru.

Keseruan lain adalah saat kami berhenti di alun-alun kota Berebes. Di kota yang terkenal denga telor asin dan bawang ini saya beristirahat sambil menyeruput sajian khas di sana, teh poci. Sajian teh di dalam poci yang kita tuangkan sendiri ke cangkir kecil berisi gula batu sebagai pemanis ini punya harga yang gak masuk akal. Bukan tentang mahalnya saja tapi tentang pengaturan harganya. Sepoci teh dengan dua cangkir kosong berisi gula batu dihargai Rp. 14.000. Nah, pas saya tanya berapa harga satu teh poci, eh si penjual menjawab harga diatur per cangkir. Satu cangkir seharga 7.000 perak. Hah?! Saya jadi geleng-geleng sendiri. Idealnya, satu poci teh plus satu cangkir kosong dihargai 10.000. Kemudian cangkir berikutnya dihargai 3000 perak. Dengan perhitungan seperti ini harga terlihat masuk akal, karena satu poci teh secara logika visual lebih besar ketimbang cangkir. Dengan harga yang si mas jual, logika saya masih gak bisa jalan. Berarti kalo saya pesen cangkir 4 buah, saya harus membayar Rp 28.000 untuk sepoci teh. Harga yang fantastis untuk sepoci teh yang isinya Cuma daun teh sama air panas.

alun-alun kota berebes. Gambar pinjem dari: http://andinibrebes.blogspot.com/2010/04/brebes-malam-hari.html

Harga-harga fantastis untuk benda sepele memang sering terjadi di kawasan wisata. Bahasa kasarnya “ngegetok harga”. Karena lihat yang beli mobilnya pelat B, wajarlah kalo dikasih harga agak tinggi. Para wisatawan pun tampaknya memang ikhlas bin pasrah dengan harga yang digetok. Alasannya Cuma satu, “yah, sekali-kali. Gak tiap hari ini. Itung-itung bagi-bagi rejeki”. Maka dari itu, saya yakini pada saat itu saya lagi digetok harga. Saya pun sama seperti wisatawan lain, “yah, sekali-kali. Gak tiap hari ini. Itung-itung bagi-bagi rejeki”. Tapi, ada satu hal yang bikin saya gak ikhlas. Pada saat saya pertama kali memesan dan mulai obrolan basa-basi, “buka sampe jam berapa?” dan obrolan lain, si penjual mulai kepo dengan status saya. Jalan-jalan kah atau kerja kah, dari mana kah, dan lainnya. Setelah dia mengetahui status saya sebagai orang jakarta,  si penjual pun mulai ceramah tentang orang jawa tengah yang apik-apik.

“kalo orang jawa tengah mah kalo mas tanya pasti dikasi tahu yang bener. Kalo orang Jakarta mah, kalo kita nanya disasarin,” kata si Penjual.

Dan ada seabrek aib orang Jakarta yang dia lontarkan. Termasuk cerita dia dipalak, duit abis, ditolong orang, yang nolong orang jawa, dia dikasih makan, terus dikasih ongkos pulang, dan diujung cerita dia bilang kalo Jakarta itu kota kejam. Dia lebih memilih hidup kota kelahirannya yang menurut dia lebih bersahabat. Persis seperti film Alm Benyamin S yang episode sepatu yang bawa sial. Yang di film itu terkenal lagu “eh, abang pulang bakul nasi goyang-goyang” dan seterusnya.

Buat saya yang lahir di Jakarta, saya gak terima kalo orang yang tinggal di Jakarta dinilai gak punya itikad baik. Jakarta memang tidak nyaman untuk hidup, bagi saya. Tapi tidak berarti orag Jakarta tidak baik. Saya kok malah cenderung menilai si Penjual dengan dua hal. Pertama, dia looser. Gak kuat hidup di bawah tekanan. Kedua, itu gimmick marketting. Dengan cerita sedih dan menyedihkan itu dia berharap kami gak keberatan bayar lebih barang dagangnnya, karena satu, kami kasihan atau berempati dengan nasibnya. Dua, kami membayar harga lebih karena kekejaman kami, orang Jakarta, yang pernah malak dia.

Hmmm…. Logika si penjual emang gak jalan. Harusnya kalo mau ngegetok harga, kita sebagai pembeli dibaik-baik-in. Ini sih udah diomongin, digetok pulak.  Nah kita yang beli mau-mau aja bayar. Yaa.. mungkin kami sedang lelah.

Advertisements

Bandung-Semarang

Bandung-Semarang

Dua kota yang dulu saya tidak pernah berpikir bisa merasakan hidup di sana. Namun berpikir untuk menjelajah kota tesebut ada. Bersyukur karena Tuhan Yang Maha Baik sudah menakdirkan saya bisa menikmati hidup di dua kota itu.

Keduanya punya keunikan masing-masing. Semarang itu kota yang menyenangkan karena banyak tempat bersejarah. Buat saya yang suka segala hal berbau antik dan jadul, Semarang itu menyenangkan. Ada berbagai tempat nongkrong dan tempat makan yang erat kaitannya sama jaman kolonial dulu. Ada Tugu Muda dengan latar Lawang Semu, ada gereja Belenduk, ada IBC (ikan Bakar Cianjur) yang memakai bangunan lama di daerah kota tua, ada brux the bistro yang menggunakan rumah jaman dulu di kawasan jalan rinjani. Kawasan rinjani ini ada di dataran tinggi, sehingga dari sini bisa melihat gemerlap lampu kota Semarang.

Satu hal yang saya suka dari Semarang, kontur kota Semarang seperti Kota Lampung, berundak-undak. Sehingga kita mudah menemui spot asik untuk nongkrong melihat keriuhan di kota. Spot yang paling saya suka di Semarang adalah kalo jalan dari Tembalang menuju ke Undip bawah yaitu daerah Gombel dan jalan Diponegoro yang meliuk-liuk yang di kanan-kiri nya tersebar banyak bangunan rumah belanda. Dan satu lagi, Semawis. Semawis adalah singkatan dari Semarang Wisata. Semawis adalah jalananan yang disulap jadi pusat kuliner kaki lima. Uniknya, jalan yang dipakai adalah jalana yang berada di pecinan. Sayang foto-foto saya waktu di Semarang banyak yang hilang.

Semawis Sumber Foto: tilulas.com

Bandung itu kota yang penuh pengalaman. Ada banyak aktivitas di kota ini. Di kota ini menurut saya ada banyak orang yang memiliki kesenanga aneh dan mereka berkumpul. Jadi, hobi yang awalnya terlihat aneh menjadi unik karena ternyata banyak peminatnya. Di kota ini saya tahu musik Shoegaze jadi ada selalu dalam playlist. Saya tahu skinhad, britpop, gank motor, bobotoh, dan lain-lain di kota ini. Tidak hanya itu, saya pun tahu istilah Gigs dari kota ini. Maka saya kadang menjuluki Bandung itu New York-nya Indonesia. Segala macam komunitas dari yang “benar” sampe “enggak bener” ada di situ dan mereka saling tahu dan saling maklum sehingga semua terkesan bebas.

Bandung dan Semarang memang penuh kesan. Punya banyak cerita. Tapi cerita itu gak bisa tercipta kalo enggak melewati hal-hal yang biasa saja.

____

Akhir-akhir ini orang rumah sudah jarang di rumah. Rumah berkamar 5 ini sudah seperti bangunan kost. Tidak ada maka bersama, tidak ada keluar bersama, konsumsi air masing-masing. Kalaupun penduduknya datang biasanya sibuk di kamar masing-masing. Kalo jam waktu makan, paling titip-titipan makanan.

Kondisi tersebut membuat saya inget jama kost. Terutama jaman tinggal di Bandung. Kondisinya hampir mirip. Saya tinggal di rumah kakak dan keluarga kecilnya yang kalo pulang kampung ke Jakarta bisa sebulan. Sama seperti sekarang, kalo kondisi rumah lengkap masalah makan bukan persoalan. Sudah tersedia, sudah ada yang masak, dan yang pasti sudah ada yang beliin. Hehe. Tapi kalo kondisi sepi, mau gak mau kembali jadi anak kost.

Kemarin saat saya ke mini market, saya melihat nuget. Makanan yang pernah menemani waktu masih ngekost.

Bandung dan Semarang adalah dua kota yang tinggal di masa yang sama, masa kuliah. Dengan status anak kuliah otomatis masalah financial pun mepet. Saya harus berputar otak untuk bisa hidup di Bandung dan tetap bisa berkunjung ke semarang. Karena tanpa penghasilan tambahan maka agar yang nge-pas tersebut bisa ada selisih diperlukan usaha pengurangan konsumsi. Baik itu konsumsi nongkrong dan konsumsi makan.

Yang paling seru adalah saat mengurangi konsumsi makan. Saya tetap makan 3 kali sehari namun saya hanya beli makan untuk satu kali makan. Saya inget saat beli rendang dan soto ayam yang harus saya bagi tiga bagian. Satu bagian untuk masing-masing waktu makan. Bagi saya saat itu yang penting makan nasi. Misalnya, hari Senin saya beli rendang dan kuah ayam seharga 7ribu perak. Nasi masak sendiri. Beli rendang jam 10 dimakannya jam 12, jam 4 sore menjelang kuliah dan sepulang kuliah.Begitu pun yang terjadi pada soto ayam.

Kadang saya juga suka memanjakan lidah dengan makan ayam goreng atau sate ayam. Untuk sate ayam saya membaginya menjadi tiga bagian juga. Tiga tusuk buat makan malam, empat tusuk buat makan pagi, tiga tusuk buat makan siang. Nanti makan malam setelah sampai kampus sekitar jam 7. Proses ini saya lakukan jika saya mau makan enak di kampus sembari nongkrong sama teman-teman.

Semua makan tersebut bisa bertahan dengan teknik pendinginan dan pemanasan. Hehe. Jadi setiap selesai makan langsung masuk kulkas. Nanti kalo mau dimakan lagi baru dihangatkan.

Yang paling geli itu kalo uda menu nuget. Sebungkus nuget itu saya jatah perhari 3 nuget untuk satu kali makan. Makannya ya Cuma nasi, nuget sama saos biar ada rasaya. Kadang saya bikin nuget asam manis. Tumis bawang putih (kebetulan kalo bumbu dapur selalu disediakan), masukan saos tomat, masukan sedikit air, terus masukan nuget dalam potonga dadu yang uda digoreng sebelumnya. Dengan teknik itu, satu bungkus nuget itu bisa dikonsumsi 1,5 – 2 hari. Kegelian saat makan nuget itu terjadi pada saat perut dan mulut masih pengen ngunyah tapi jatah nuget untuk makan kali itu sudah habis. Rasanya ingin nambah satu lagi, tapi inget jatah. Jadinya, untuk nambah satu nuget itu rasaya seperti mau nambah istri lagi (padahal satu aja belum), penuh pertimbangan.

Over all, saya bersykur banget pernah melewati masa-masa itu. Masa-masa yang melahirkan cerita, masa-masa yang penuh kesan, masa-masa yang menambah warna dalam hidup saya, masa-masa yang penuh pelajaran. Masa-masa yang melahirka kenangan. Masa-masa yang penuh pengalaman. Mungkin tidak menyenangkan saat harus mengatur konsumsi, tapi pengalaman hidup di dua kota itu lunas membayarnya. Pengalaman hidup di dua kota itu selalu menyenangkan.

Benar-Benar Baik atau Baik yang Sebenarnya

Suatu saat saya bertemu sebuah keluarga. Keluarga ini saya temui untuk tujuan memindah alihkan usaha yang gak kepegang. Senang sekali melihat keluarga ini. Keluarga yang hangat menerima setiap orang. Salah satu alasan saya menentukan keluarga ini adalah karena mereka baik. Beberapa kali saya ke rumahnya dan beberapa kali juga saya menemui beberapa tetangga yang sedang main ke rumahnya. Artinya, keluarga ini memiliki hubungan yang baik dengan tetangganya. Sekali lagi, mereka orang baik.

Keluarga ini memiliki anak buah yang nantinya akan menjalankan usaha yang akan dipindahalihkan ini. Saat sang istri mencoba memanggil anak buahnya. Namun si anak buah ini baru muncul setelah beberapa kali panggilan. Mungkin si istri kesal karena si anak buahnya tidak cepat menyahut. Keluarlah sebuah kata yang menurut saya tidak enak didengar.

Melihat perlakuan seperti itu membuat saya penasaran. Saya pribadi mewajarkan kemarahan si istri, mungkin saya pun akan begitu. Untuk menghilangkan rasa penasaran, saya mencoba ngobrol dengan si anak buah di waktu yang lain. Dia bercerita bahwa si istri jika ngomel bisa mengeluarkan seluruh isi kebun binatang. Saya gak langsung percaya, saya mencoba memberikan nasihat bahwa mungkin si istri sampai berkata seperti itu karena si anak buah melakukan kesalahan. Si anak buah pun kemudian membenarkan bawa memang dia yang salah. Namun ada hal yang tidak disukai adalah cara si istri marah.

“Kita sih ngeri kita salah, tapi ya jangan kayak itu dong. Emang kita baru kerja sebulan dua bulan” kata si anak buah.

Kebetulan si anak buah ini saya ketahui sendiri memang mengikuti si suami semenjak dia masih jaman kuliah.

The Point

Tadi malam saya ingat sebuah teori komunikasi bahwa manusia akan senantiasa tidak menunjukkan keasliannya kepada orang yang baru dia temui. Mungkin hal itu yang terjadi pada keluarga tadi. Keluarga dia dan anak buahnya sudah ribuan kali bertemu sehingga komunikasinya sudah tidak ada yang ditutup-tutupi lagi. Seandainya saya ada menjadi anak buahnya, mungkin perlakuannya akan sama.

Sekarang, coba kita hubungkan dengan usaha pencarian jodoh. Hehehe. Keluarga tadi adalah contoh di mana pasangan baik hanya kepada orang tertentu. Artinya, pasangan kita amat baik dengan kita tapi tidak dengan orang lain. Apapun yang kita mau dia turuti. Bagaimanapun keadaan kita dia terima tanpa mengeluh, tapi itu hanya berlaku untuk kita bukan untuk orang lain. Seneng sih punya pasangan seperti itu hanya kita mungkin harus tahan dengan omongan orang.

Selain itu, pasangan yang amat baik dengan kita bisa sebetulnya terikat status. Misalnya anak buah sangat baik dengan majikannya. Atau Suami yang baik dengan istrinya karena dia galak. Atau sebaliknya. Artinya baik seperti ini adalah baik dengan syarat. Jika dalam posisi yang terbalik maka terbalik juga kebaikannya. Orang yang baik seperti ini saya coba kategorikan sebagai baik yang gak ikhlas. Dia baik cuma kalo di sana ada kepentingannya. Jadi bisa dibilang baiknya palsu.

Semua orang punya kekurangan dan kelebihan. Beruntung orang yang mendapatkan pasangan yang benar-benar baik dengan kita walaupun dia tidak baik dengan orang lain. Kenapa beruntung? Karena ada pasangan yang justru amat baik dengan orang lain tapi tidak dengan kita.

Namun lebih beruntung lagi orang yang mendapat pasangan yang baik dengan sebenarnya. Dengan kita ataupun dengan orang lain dia tetap baik. Orang seperti ini saya kategorikan sebagai baik yang ikhlas. Apapun kondisi orang yang dia temui, apapun pangkatnya dia tetap baik.

Mendapatkan pasangan yang baik dengan sebenarnya berarti kita mendapatkan dua kenikmatan. Nikmat melihat betapa baiknya dia terhadap kita dan nikmat mendengar komentar baik orang lain dengan pasangan kita.

Semoga saya dan anda mendapatkan pasangan yang baik dengan sebenarnya. Manusia model begini susah dan langka ditemui tapi  at least pasangan kita senantiasa belajar dan berusaha menjadi baik yang sebenarnya.. Amiiin.

Ps. Tulisan ini hanya sekadar analisa dan kategorisasi. Intinya tulisan cuma iseng.

 

 

Untung, Jawa!

Akhir Maret 2014 kemarin saya memutuskan untuk melangkahkan kaki mencari sedikit pencerahan di utara Tangerang. Sebenarnya sih uda aras-arasen untuk pergi ke sana karena memang tujuannya gak sesuai. Awalnya tujuan ke gugusan pulau di utara Jakarta itu untuk berkemah. Menikmati bintang di langit Jakarta dari Pulau Seribu. Tapi ya sudahlah daripada bête liburan panjang gak kemana-mana untung jawa pun gak masalah.

Untung jawa adalah sebuah pulau yang masuk dalam administrasi DKI Jakarta, tapi lebih dekat dengan Tangerang. Di pulau ini hidup lah manusia pada umumnya. Gak beda jauh dengan desa-desa lain yang ada di darat. Ada sekolah, puskesmas, masjid,  dermaga, dan yang pasti ada pantai dan kapal-kapal.

Mungkin dulu untung jawa ini dihuni oleh para nelayan, namun semenjak tahun 1997 para nelayan di untung jawa mulai banting stir ke bisnis wisata. Dari menyewakan kamar-kamar, sampai berbisnis water sport macam di Tanjung Benoa Bali. Salah seorang warga sekitar, namanya Pak Jalal, mengatakan bahwa semenjak krismon orang-orang mulai melirik untung jawa menjadi destinasi wisata. Pak Jalal juga bilang kalo dulu lebih mudah cari ikan daripada wisatawan, tapi sekarang lebih mudah cari wisatawan daripada cari ikan.

Hal yang saya suka dan menurut saya unik dari Pulau Untung Jawa adalah burung-burungnya. Namanya Pulau Rambut. Sebuah pulau yang terletak bersebelahan dengan pulau untung jawa. Di pulau rambut ini tidak ada penghuninya. Karena pulau ini digunakan untuk swaka marga satwa khusunya burung. Jadi, kalo kita berada di pulau Untung Jawa, terutama saat sunrise dan sunset menjelang, kita bisa liat sekawanan burung terbang bebas di langitnya. Haduuuh. Saya jadi inget saat pulang snorkeling dari pulau rambut. Merebahkan badan dengan pelampung menunggu sunset. Di atas saya langit biru dan kawanan burung berseliweran. Alamaaak…

Hal lain yang saya suka dari Untung Jawa adalah masyrakatnya yang asik. Mereka murah senyum dan senang bercerita. Intinya, mereka senang menerima tamu. Pernah kan ke tempat wisata yang orang di tempat itu memperlakukan tamu seperti musuh. Nah, saya tidak menemukannya di Untung Jawa. Pada saya sudah cakep, artinya saya sudah bangun dari laut, berbilas dengan air tawar dan ganti baju plus pake sarungan, saya nongkrong di warung pak jalal untuk menyantap indomie rebus soto. Babeeuuhhh. Mantap pisan bro. Saya benar-benar nongkrong. DUduk sembari ngobrol ngalor-ngidul dengan Pak Jalal yang notabene saya kenal karena beli indomie.

Warung pak jalal masuk dalam kategori warung paling happening di Untung Jawa. Yang bikin happening adalah tv 29 inch yang ditaro di depan warung beserta sound sistemnya yang besar. Pada jam 7 malam, warung ini biasa menyetel sinetron TBNH, tau kan? Tapi berbeda urusan kalo ada pertandingan bola. Pas banget waktu saya ke sana ada pertandingan Liverpool kontra Tottenham. Keduanya bukan club favorit, tapi tetep asik ditonton. Nah, saya nonton pertandingan itu beserta wisatawan lain dan penduduk sekitar. Karena saya make sarung saya sampe dikira yang punya warung. Tapi satu lagi yang asik, harga makanan dan minuman di sini cm beda 1000 sampai 2000. Bahkan cemilan model bengbeng dan chocolatos harganya sama.

Malam itu saya menginap di sebuah kamar dengan harga 250 ribu saat long weekend. Katanya kalo hari biasa, 50 ribu juga disabet. Untuk menimati makan malam ala laut, saya harus berjalan kea rah pantai barat. Di sinilah ada semacam plasa yang pinggirnya semuanya tukang ikan bakar. Harganya semua hampir sama. Yang membedakan adalah rasa. Beruntung saya makan di tempat yang hasil olahannya cukup enak. Namanya Ikan Bakar Bu Basri, Spesial Bumbu 1000 Goyangan. Unik ya? Ini sebenarnya bukan nama resmi. Nama itu muncul saat kami tawar menawar dengan ibu Basri ini.

“Bu, kalo di Pulau Seribu gini yang khas ikannya dimasak apa?” Tanya saya.

“Dibakar dong..,” jawab si ibu.

“Wah, bu kalo dibakar mah uda biasa”

“Beda.. di sini mah bumbunya paling sedep”

“Bedanya dmn bu?”

“Bumbunya special!!”

“Wah… Spesial bumbu pulau seribu, Bu, ya?”

“Pasti! Spesial seribu goyangan…” Hahah. Si Ibu terbahak.

“Hahaha. Masih kuat goyang emang, bu?”

Begitulah kira-kira percakapan saya dengan bu Basri.

 

Esok Pagi di Pulau Untung Jawa

Subuh buta saya bangun. Ya. Mau gak mau bangun karena kamar saya persis di sebelah masjid. Tapi saya bersyukur saya bisa melihat sunrise. Pagi itu mungkin pagi pertama saya melihat dengan jelas bagaimana salah satu ciptaan Tuhan Yang Maha Baik ini menyapa bumi Pulau Untung Jawa. Saya melihat matahari muncul dari horizon di sebelah timur. Nah, tempat melihat sunrise paling kece adalah di pantai timur.

Selepas melihat sunrise, saya berajalan mengelilingi pulau. Menyusuri jalan kon-blok lebar 80 cm. Melihat aktivitas warga pulau dan wisatawan yang sepertinya punya ketertarikan yang sama dengan saya. Dan langkah kaki pun menjejak pantai barat setelah badan bercucuran peluh. Di sana ada sebuah gedung serba guna bergaya kolonial.  Di dekatnya ada deretan sepeda. Di salah satu sepeda ada sebuah bacaan yang berbunyi ” SEWA SEPEDA. RP 5000/ JAM”. Tau gitu mah, naik sepeda aja.

Lelah berjalan-jalan, saya kembali ke kamar. Yang lain bangun mendengar saya masuk kamar. Setelah bangun mereka pun beranjak keluar mencari sarapan.  Saya, kembali tidur. Tapi baru saja 30 menit tidur, mereka sekonyong-konyong masuk kamar dan bangunin saya.

“Mar, bangun! Siap-siap kita snorkeling di Pulau Pari. Kapalnya uda nungguin!”

Mendadak Lampung

Sebuah kerjaan hinggap di depan mata. Dicium dari baunya, kerjaan ini semerbak bau-bau luar kota. Dan benar saja, kerjaannya ke Lampung.  Siapa yang nolak dapet kerjaan ke Lampung walaupun Cuma satu hari. Setelah dapet konfirmasi dari partner perjalanan, saya segera bersiap. Alat snorkeling tak lupa dibawa. Niatnya mau menengok nemo dan kawan-kawan di Pulau Tangkil. Menjelang tengah malam kami berangkat. Keberangkatan tengah malam begini adalah hal yang seru. Kita macam mau operasi rahasia. Segala macam amunisi untuk perut dibawa. Dan yang paling penting adalah kopi.

Perjalanan ke Lampung cukup lancar. Hanya ada satu kendala, yakni ngantuk. Maklum, di kapal kami tidak terlalu bisa tidur nyenyak. Ditambah posisi keberangkatan pada hari biasa, hari beraktivitas. Untuk itu kami rehat sejenak sambil foto-foto di sebuah jalan yang punya pemandangan bagus.

Umk ???????????????????????????????

Alhamdulillah, kami tiba di lampung esok pagi. Tepat saat warga Lampung memulai aktifitasnya. Sesampainya di Lampung, saya segera ketempat tujuan untuk segera menyelesaikan tugas. Berharap semakin cepat selesai pekerjaannya semakin lama senorklingnya. Tapi ternyata alamat yang kami tuju sulitnya minta ampun. Kami sudah sampai di jalan yang benar, tinggal mencari nomor rumahnya. Sudah 7 orang kami tanyakan, tidak ada satu pun yang tahu di mana letak rumah bernomor 20 itu. Sudah hampir 3 jam mencari, rumah yang dituju pun tak kunjung ketemu. Sampai akhirnya, kami singgah di tukang penjual kue Rangi. Tau kue Rangi? Itu kue campuran adonan tepung dan parutan kelapa yang dicetak di cetakan bentuk setengah lingkaran.

Tempat Beli Kue Rangi

Penjual Kue Rangi Bertopi Gaul

Si Abang ini mangkal di sebuah mulut gang. Hampir 3 set kue rangi kita habiskan. Alamat tak kunjung ketemu dan nomor hp orang tersebut tidak diangkat. Si tukang kue rangi pun tidak tahu di mana rumah bernomor 20. Padahal sudah hampir 2 tahun dia jualan di sana. Akhirnya kami sepakat untuk menelpon kembali selepas jam 12 siang. Barangkali orang yang kita tuju sudah bangun. Kami berspekulasi mungkin dia anak dugem yang bangunnya selalu siang. Untuk menunggu jam 12 kami putuskan mencari masjid dan tidur di dalamnya. Dari sini saya simpulkan bahwa saya harus menggantung alat snorkeling.

Masjid Saksi Bisu Kelelahan Kami

Adzan dzuhur membangunkan tidur nyenyak. Kami segera beranjak. Pinginnnya sih beranjak cari tempat lain untuk nerusin tidur. Tapi, kalo kata stiker di masjid IKJ, adakah panggilan yang lebih penting dari panggilan Allah, maka kami pun ikut sholat. Selesai sholat saya berdoa agar orang ini bisa segera di telepon. Saya pun mencoba menelpon kembali. Alhamdulillah gak diangkat lagi. Saat itu juga ingin rasanya menangis. Bener-bener gak jadi snorkeling. Saat itu saya masih berharap, setidaknya ada waktu setengah jam untuk bersatu dengan air laut.  Daripada berlarut dalam kekesalan, akhirnya saya putuskan untuk makan siang.

5 menit mengendarai mobil, kami bertemu sebuah warung nasi kecil. Sederhana sekali. Letaknya agak di atas. Saya harus menaiki beberapa anak tangga. Saya memesan kopi dan teman saya makan nasi. Saya duduk si sebuah kursi dan mager. Di depan saya pemandangan indah barisan bukit-bukit kecil di Lampung. Apa lagi saat sebuah gelas berisi kopi yang wangi mendarat di depan hidung saya. Tau kan gimana rasanya orang baru bangun tidur dengan penuh rasa kecewa disuguhi pemandangan dan kopi nikmat. Ngablau dah kalo begini. Saya hanya diam menikmati pemadangan dan bau-bau khas daerah Lampung. Di tengah keheningan hp saya berbunyi. Pencerahan datang. Saya disuruh kembali ke jalan itu dan menunggu di seberang sebuah rumah sakit.

Makan Siang dulu Bos

Acara makan siang segera diselesaikan. Saya langsung kembali ke jalan tadi dan mencari rumah sakit yang dituju yang sebenarnya dari awal saya sampai di pagi hari sudah saya lihat. Sampai di seberang rumah sakit, saya diperintah menunggu orang tersebut datang . Dia nanti akan menuntun kami ke rumah yang dituju. Gak lama orang itu pun datang, kurang-lebih setengah jam berlalu. Dia menggunakan motor dan saya mengikuti dia dari belakang. Alhamdulillah, kami sampai di rumah yang kami tuju. Sebuah rumah dalam gang yang terletak kurang-lebih 50 meter dari tukang kue rangi. Masya Allah, tukang kue rangi uda 2 tahun apa 2 hari dagang di situ.

Cukup satu jam saya merampungkan pekerjaan. Sore hari ini juga saya harus kembali ke Jakarta. Sisa waktu yang saya miliki saya gunakan untuk mengelilingi kota Lampung. Kota lampung itu unik. Terletak di tidak jauh dari laut namun di dataran yang tinggi. Dari beberapa jalan dan titik di kota lampung kita dapat melihat dengan jelas eloknya laut di teluk Bandar lampung. Mobil kami meliak-liuk menyusuri kota Lampung di siang hari yang tidak terlalu panas.

Salah Satu Jalan di Lampung

Tujuan berikutnya adalah berbelanja oleh-oleh, terutama satu hal yaitu kopi. Saya memang sudah niat untuk melunturkan kangen dengan si Ulu Belu. Kopi pure robusta bean dari Lampung yang tempo hari saya pernah tulis juga. Selain kopi, pastinya kemplang dan pempek. Untuk membeli kopi ulu belu saya harus turun ke Bandar Lampung. Tepatnya ke daerah Tepekong. Daerah Tepekong ini bisa dibilang masuk kawasanan pecinan. Dinamakan Tepekong karena memang di sana ada tempat ibadah orang konghucu yang sering disebut Tepekong. Toko penjual kopi ini tepat berada persis sebelah toko oleh-oleh paling popular di Lampung yakni Toko Yen-yen. Nama tokonya adalah rumah kuning. Di toko ini menjual aneka macam kopi local dan oleh-oleh seperti kemplang. Cuma entah mengapa kondisi toko ini lebih sepi ketimbang sebelahnya. Namun varian kopi yang dijual lebih banyak.

Beres berburu kopi, saatnya berburu pempek. Pempek yang banyak di jual di Lampung umumnya dalam bentuk mini. Di jual dengan harga 1.000 sampai 2.000 rupiah persatuan. Biasanya penjualnya berkeliling membawa pempek di keranjang, beberapa piring kecil plastic, dan sederigen cuka. Namun tukang model keliling ini sudah sulit ditemui. Mereka kebanyakan sudah menempati tempat permanen. Macam tukang gorengan gitu kalo di Jakarta. Saya pun beranjak ke sebuah pasar untuk mencari pempek. Di pertigaan saya lihat ada penjual pempek di gerobak. Saya pun turun dan membelinya untuk dibawa pulang dan gak lupa makan juga di situ. Nah, ada satu dari keunikan tukang pempek di Lampung. Mereka dengan setengah hati memberi kita cuka untuk di bawa pulang, namun sepenuh hati memberikan cuka kepada kita asal makan di situ. Padahal orang Lampung punya tradisi makan pempek dengan menguyup cukanya. Maksudnya, pempek itu tidak dicocol dengan cuka. Tapi dimakan dulu pempeknya baru diminum cukanya. Gak heran jika satu buah pempek bisa menghabiskan 3 piring kecil cuka. Begitulah cara orang Lampung menjual dan menikmati pempek. Masalah rasa mah jangan di tanya. Namanya kota dekat laut, ikannya berlimpah. Makan pempek di Lampung, ya rasa ikan beneran.

Selesai makan pempek berarti waktunya pulang. Namun karena sebentar lagi ashar saya putuskan untuk sholat dulu di masjid Lungsir. Masjid ini adalah masjid raya di kota Lampung. Berada di ketinggian juga. Dari jendela-jendela di masjid ini kita bisa melihat kembali kemolekan teluk Bandar Lampung.

Pemandangan Masjid Lungsir Bandar Lampung

Pemandangan Masjid Lungsir Bandar Lampung

Pemandangan Masjid Lungsir Bandar Lampung

Pemandangan Masjid Lungsir Bandar Lampung

Pemandangan Masjid Lungsir Bandar Lampung

Pemandangan Masjid Lungsir Bandar Lampung

Ajaibnya di masjid ini saya menemukan tukang pempek keliling yang tadi saya bilang sudah sulit ditemui.

?????????????????

Pempek Asli Lampung

Pempek Asli Lampung

Pempek Asli Lampung

Pempek Asli Lampung

Pempek Asli Lampung

Cara Makan Pempek Asli Lampung

Cara Makan Pempek Asli Lampung

Well, waktunya pulang. Wait! Narsis sebentar boleh dong.

?????????????????

?????????????????

?????????????????

Oke, saatnya membelah jalan lintas sumatera Bandar Lampung – Bakauheni ditemani sang senja dan hingar santai lagu-lagu Float.

“Jelajahi waktu ke tempat berteduh hati kala biru…”

1

Membelah Senja

2

Senja di Lampung

Eh, Adzan Maghrib. Kami pun berhenti dulu sejenak bersyukur kepada Sang Khalik untuk rezeki dan kebahagiaan hari ini, kemarin, dan besok. Ahhey!!

Masjid Tempat Sholat Maghrib

Cerita Valentine

Sepulang nguli saya berkunjung ke sebuah pertemuan. Bertemu teman-teman yang khusuk dengerin ceramah. Bahasa gampangnya pengajian.

Beres pengajian seperti biasanya ada kebiasaan buka forum teras. Forum teras ini ajang ngobrol ngalor ngidul para peserta ngaji. Sedang asyik ngobrol, saya lupa bahwa saya bawa coklat di tas. Malam itu pas tanggal 14 Februari. Waktu saya ngambil cokelat untuk memeriksa leleh atau tidak, seorang teman melihat. Namanya Ikhsan.

“ Ente Valentinan, Mar?”

“Yoi dong. Gaul gitu.” Jawab saya enteng

“Orang mah, kalo ente emang bener cinta, kasih mahar, jangan dikasih cokelat!,” kata teman saya meledek.

Mendengar kata-katanya saya langsung terdiam. Kerasa banget keselepet to the max. Saya gak jawab apa-apa dan emang gak bisa jawab apa-apa. Apa yang teman saya bilang adalah kebenaran tertinggi. Tidak bisa dibantah atau diakal-akali jawabannya.

Namun satu hal lagi yang membuat saya terdiam. Cokelat itu buat keponakan saya yang masih TK.

Tahun Baru dengan Ibu

Malam pergantian tahun 2013. Malam itu adalah malam yang paling berkesan untuk saya. Setelah banyak malam perhantian tahun saya nikmati di berbagai kota dan daerah. Melebur bersama hingar bingar manusia dengan berbagai logat dan dialek. Bersyukur saya dapat menikmati malam pergantian tahun di banyak tempat. Banyak pengalaman yang saya rasakan. Uniknya, setelah ditelisik ulang, kebanyakan malam pergantian tahun saya habiskan di jalan protokol di daerah yang saya singgahi. Jadi kepikirian buat ngumpulin foto setiap malam pergantian tahun yang sudah dilewati. Dan mudah-mudahan tahun-tahun berikutnya dapat merasakan pengalaman di kota yang lain.

Sebenarnya saya termasuk orang yang tidak setuju dengan perayaan tahun baru. Bayangkan, jauh di sana ada orang yang sedang membutuhkan bantuan dana untuk biaya pengobatan sedangkan di sini orang membakar uang bahkan sampai miliyaran rupiah untuk kembang api. Entah apa rasanya jika kita yang ada dalam posisi mereka yang membutuhkan. Tapi masalahnya keelokan atraksi kembang api sulit sekali ditolak. Saya tidak habis pikir begitu pintarnya manusia membuat kembang api dengan berbagai efek. Akhirnya, daripada pusing, saya menposisikan diri hanya sebagai penikmat kembang api. Sebisa mungkin menolak memasang bahkan membeli kembang api. That’s small step for ordinarypeople like me.

Yang kedua, karena tanggal 1 adalah tangggal merah. Waktu yang tepat untuk berkumpul bersama teman atau keluarga. Jika saja tanggal 1 tidak merah, saya lebih memilih ada di rumah istrahat. Kita berkumpul bukan karena tahun baru tapi karena libur. Namun tetap saja kadang jadi terkesan merayakan.

Malam tahun baru kali itu malas membalut tubuh dengan kuat. Ajakan untuk keluar dengan ringan ditolak. Hanya ada saya dan ibu di rumah. Cuaca waktu itu cukup dingin dan berangin. Ibu memakai jaket warna kuning favoritnya. Semalaman hanya diisi dengan nonton tv. Sampai jam 12 tiba, saya dan ibu beranjak ke balkon rumah di lantai 2. Berbagai jenis kembang api lalu lalang di langit. Kembang api agak besar ditembakkan dari mall yang terletak di sebelah uatara rumah. Saya mengambil kamera dan memotret beberapa kembang api sedang ibu duduk di kursi plastik menikmati kembang api sambil mendekap tubuhnya sendiri.

Selesai memotret saya lalu duduk di pilar balkon menikmati kembang api bersama ibu. Kami berdua lebih banyak diam. Kadang berbicara sebatas komentar tentang kembang api.

Menikmati malam tahun baru bersama ibu. adalah malam paling berkesan.

10 menit kemudian, ibu pamit turun ke bawah untuk tidur. Saya masih di balkon menikmati sisa-sisa kembang api dan tersadar akan sesuatu.

?????????????????

?????????????????

?????????????????