Jadi, Mau yg Gimana?

“Jadi, Mau yg Gimana?” adalah pertanyaan seorang teman yang umurnya lebih tua dari saya. Katakanlah paruh baya. Tapi dia teman.  Dia adalah salah satu teman yang seringkali menggambarkan tentang bagaimana enaknya menikah. Bukan enak yang macem-macem ya. Tapi enak dalam artian menikah membuat menjalani hidup jauh terasa lebih mudah dan lebih hidup. Inget selogan rokok, bikin hidup jadi hidup.

Saya yang ditanya seperti itu cuma bisa diam. Bukan tidak punya jawaban tapi bingung mau mulai menjawabnya dari mana. Sebenarnya  jawaban laki-laki tentang wanita idaman semua sama. Tapi semua itu Cuma keinginan. Kenyataannya jodoh itu Tuhan  yang ngatur.

Jawabannya sebenarnya Saya terbuka dengan siapa pun wanita yang memang ditentukan Tuhan jadi jodoh saya. Terus kok kenapa sulit banget kayaknya. Sebetulnya tidak sulit Cuma saya dalam keadaan yang membuat saya ada dalam posisi penuh pertimbangan.

Satu, Ibu saya sudah ditinggal suaminya dan sudah semakin menua. Tentu seorang Ibu memiliki persaan tersendiri terhadap pasangan anaknya. Saya ingin pasangan saya nanti bisa berbaur bahkan menjadi teman ibu saya. Saya ingin keberadaan istri saya nanti menjadi kebahagaiaan buat ibu saya. Terlebih melihat kondisi beliau, agak berat bagi saya untuk berpisah rumah dengan beliau.  Walaupun jujur saat berumah tangga saya tidak ingin menyatu dengan keluarga manapun. Itu jika kondisi finansial memadai. Hehe

Lalu, ada ponakan saya yang baru dintinggal ibunya. Ibunya itu kakak kandung saya. Ponakan saya masih smp dan sd. Masih dalam umur-umur yang membutuhkan perhatian. Saya sebagai paman setidaknya memiliki kewajiban untuk memantau mereka. Namun saya kurang cekatan dalam bergaul dengan anak-anaka. Nah makanya saya ingin sekali punya istri yang bisa berbaur dengan anak-anak. Gimana ya? Contoh singkatnya, saya ingin istri yang kalo dia dateng ke rumah ponakan saya, mereka merasa senang.

Memang tidak semua yang Kita inginkan menjadi kenyataan. Saya juga tidak ngoyo untuk mencari yang dapat memenuhi semua keinginan. Kalo pun tidak mendapatkan yang seperti itu ya mau gimana lagi. Yang terpenting dia berjodoh dengan saya. Terus jadi yang seperti apa? Cari yang jodoh.

Sekali lagi saya terbuka-terbuka saja. Karena permit-nya sudah terbuka.  Cuma jadi agak lucu saja, saat saya masih tidak banyak pertimbangan, saat ayah dan kakak saya masih hidup, kriteria jodoh saya terbatas. Sekarang saat tidak ada batasan memilih jodoh, pertimbangannya sudah banyak. Yaa mau gimana lagi, cuma  sayang  aja “dulu” permit-nya terbatas. Tapi sudah lah saya cuma bisa heran dan amaze, hidup itu benar-benar unik cara kerjanya.

Oya saran saya, bagi yang masih jomblo dan masih punya orang tua lengkap, nikah dah buru-buru karena nanti jika sudah tidak ada salah satunya terutama Ibu akan timbul banyak pertimbangan.

“Ah itu mah lo aja terlalu lebay?”

Oke lah, let say saya emang lebay. Tapi coba dah tanya yang senasib seperti saya. Walaupun akhirnya nikah juga pasti terbesit pertimbangan-pertimbangan seperti saya.

Hai Kamu..

Hai Kamu.

Hai kamu.. Iya. Kamu. Kamu yang entah ada di mana. Kamu yang entah kapan datang. Kamu yang entah kapan tak sengaja bertemu. Kamu yang entah sudah bertemu namun pura-pura tidak tahu. Di mana pun kamu, jelasnya saya belum bertemu kamu.

Entah saya yang kurang gigih mencari atau kamu yang bersembunyi sepenuh hati.

Kamu yang entah di mana saya akan menemukanmu. Entah di sini, atau di sana di tempat hidup yang mulai abadi.

Mungkin saya terlalu hati-hati sehingga kamu sulit untuk dicari. Tidak. Saya tidak hati-hati.Tapi ada hal yang memiliki nama serupa. Dia memiliki syarat yang tidak bisa saya cerna denga akal. Dia memang akan selalu kontra denga akal, tapi saya tak mengapa mengikuti dia kali ini. Karena memang untuk hal ini dia adalah penentu. Ya. Masalah persaan itu buka domain akal. Tahu kan area siapa itu?

Siapapun kamu, kamu adalah orang yang mampu menaklukan sang pemilik domain perasaan. Seperti apa kamu, dia tidak bisa mendekripsikan karena hati tidak seperti akal. Tidak bisa berpikir logis. Hati tidak tahu seperti apa kamu, hobi apa, seperti apa wajah kamu, dari keluarga mana, kerja di mana, dan pertanyaan lain tentang kamu. Hati hanya tahu kamu adalah orang yang bisa meluruhkanya dengan berbagai sisi baik mu.
Tidak ada kriteria, tidak ada syarat. Hati memilih dengan caranya.
Siapapun kamu, saya yakin kamu ada. Saya yakin kamu pun mencari saya. Atau kamu sudah bertemu namun tidak melihat saya.
Siapapun kamu, saya berdoa dan berharap bisa bertemu di sini. Di dunia ini. Menikmati hidup layaknya manusia biasa. Menghadapai masalah layaknya manusia biasa.
Hai kamu.. Baik-baik di sana. Di mana pun kamu berada.

Benar-Benar Baik atau Baik yang Sebenarnya

Suatu saat saya bertemu sebuah keluarga. Keluarga ini saya temui untuk tujuan memindah alihkan usaha yang gak kepegang. Senang sekali melihat keluarga ini. Keluarga yang hangat menerima setiap orang. Salah satu alasan saya menentukan keluarga ini adalah karena mereka baik. Beberapa kali saya ke rumahnya dan beberapa kali juga saya menemui beberapa tetangga yang sedang main ke rumahnya. Artinya, keluarga ini memiliki hubungan yang baik dengan tetangganya. Sekali lagi, mereka orang baik.

Keluarga ini memiliki anak buah yang nantinya akan menjalankan usaha yang akan dipindahalihkan ini. Saat sang istri mencoba memanggil anak buahnya. Namun si anak buah ini baru muncul setelah beberapa kali panggilan. Mungkin si istri kesal karena si anak buahnya tidak cepat menyahut. Keluarlah sebuah kata yang menurut saya tidak enak didengar.

Melihat perlakuan seperti itu membuat saya penasaran. Saya pribadi mewajarkan kemarahan si istri, mungkin saya pun akan begitu. Untuk menghilangkan rasa penasaran, saya mencoba ngobrol dengan si anak buah di waktu yang lain. Dia bercerita bahwa si istri jika ngomel bisa mengeluarkan seluruh isi kebun binatang. Saya gak langsung percaya, saya mencoba memberikan nasihat bahwa mungkin si istri sampai berkata seperti itu karena si anak buah melakukan kesalahan. Si anak buah pun kemudian membenarkan bawa memang dia yang salah. Namun ada hal yang tidak disukai adalah cara si istri marah.

“Kita sih ngeri kita salah, tapi ya jangan kayak itu dong. Emang kita baru kerja sebulan dua bulan” kata si anak buah.

Kebetulan si anak buah ini saya ketahui sendiri memang mengikuti si suami semenjak dia masih jaman kuliah.

The Point

Tadi malam saya ingat sebuah teori komunikasi bahwa manusia akan senantiasa tidak menunjukkan keasliannya kepada orang yang baru dia temui. Mungkin hal itu yang terjadi pada keluarga tadi. Keluarga dia dan anak buahnya sudah ribuan kali bertemu sehingga komunikasinya sudah tidak ada yang ditutup-tutupi lagi. Seandainya saya ada menjadi anak buahnya, mungkin perlakuannya akan sama.

Sekarang, coba kita hubungkan dengan usaha pencarian jodoh. Hehehe. Keluarga tadi adalah contoh di mana pasangan baik hanya kepada orang tertentu. Artinya, pasangan kita amat baik dengan kita tapi tidak dengan orang lain. Apapun yang kita mau dia turuti. Bagaimanapun keadaan kita dia terima tanpa mengeluh, tapi itu hanya berlaku untuk kita bukan untuk orang lain. Seneng sih punya pasangan seperti itu hanya kita mungkin harus tahan dengan omongan orang.

Selain itu, pasangan yang amat baik dengan kita bisa sebetulnya terikat status. Misalnya anak buah sangat baik dengan majikannya. Atau Suami yang baik dengan istrinya karena dia galak. Atau sebaliknya. Artinya baik seperti ini adalah baik dengan syarat. Jika dalam posisi yang terbalik maka terbalik juga kebaikannya. Orang yang baik seperti ini saya coba kategorikan sebagai baik yang gak ikhlas. Dia baik cuma kalo di sana ada kepentingannya. Jadi bisa dibilang baiknya palsu.

Semua orang punya kekurangan dan kelebihan. Beruntung orang yang mendapatkan pasangan yang benar-benar baik dengan kita walaupun dia tidak baik dengan orang lain. Kenapa beruntung? Karena ada pasangan yang justru amat baik dengan orang lain tapi tidak dengan kita.

Namun lebih beruntung lagi orang yang mendapat pasangan yang baik dengan sebenarnya. Dengan kita ataupun dengan orang lain dia tetap baik. Orang seperti ini saya kategorikan sebagai baik yang ikhlas. Apapun kondisi orang yang dia temui, apapun pangkatnya dia tetap baik.

Mendapatkan pasangan yang baik dengan sebenarnya berarti kita mendapatkan dua kenikmatan. Nikmat melihat betapa baiknya dia terhadap kita dan nikmat mendengar komentar baik orang lain dengan pasangan kita.

Semoga saya dan anda mendapatkan pasangan yang baik dengan sebenarnya. Manusia model begini susah dan langka ditemui tapi  at least pasangan kita senantiasa belajar dan berusaha menjadi baik yang sebenarnya.. Amiiin.

Ps. Tulisan ini hanya sekadar analisa dan kategorisasi. Intinya tulisan cuma iseng.